Al-Kâfi: Suara Kritis atas Hadis
Reportase Tadarus Ramadhan JIL 11 Juli 2013: Mengkaji Kitab Al-Kâfi Karya Al-Kulayni
oleh Prio Pratama

"Demi mempertahankan status kesahihan suatu hadits, menurut Kang Jalal, sikap paradoks pada akhirnya berkembang di kalangan muslim Sunni. Ini, misalnya, dapat dilihat dari bagaimana mereka bersikap terhadap hadits-hadits tertentu yang menceritakan keganjilan perilaku Nabi Muhammad yang nota bene tidak layak dinisbatkan kepada seorang Nabi".

Meskipun pelbagai upaya rekonsiliasi Sunni-Syi’ah di dunia muslim telah banyak mendapat perhatian, namun konflik dan ketegangan antara dua kelompok ini nampaknya belum ada ujungnya. Di Indonesia misalnya, tempat di mana katanya berbagai aliran agama bisa hidup secara berdampingan dalam satu wadah kebangsaan, ternyata konflik kedua kelompok muslim tersebut juga masih sering terjadi danbahkan hingga memakan korban. Kasus terakhir yang kita dengar adalah penyerangan warga Syi’ah di Sampang, Madura. Ini belum menyebut kasus-kasus di luarIndonesia seperti perseteruan politik di Suriah dan Libanon yang konon juga berbuntut kepada konflik panas sektarian Sunni-Syi’ah.

Bermaksud ingin memberi kontribusi pada rekonsiliasi kedua kelompok Islam tersebut, melalui diskusi dan bedah pemikiran Syi’ah, JIL pada bulan Ramadhan tahun ini kembali menggelar Tadarus Ramadhan. Di minggu pertama ini, Tadarus di mulai dengan mengkaji kitab induk rujukan hadits kaum Syi’ah; Kitab Al Kâfi yang ditulis oleh ulama Syi’ah kenamaan Al Kulayni. Dengan dipandu oleh Taufik Damas, dua nara sumber yang hadir pada kesempatan ini adalah Jalaludin Rakhmat sebagai representasi IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia), dan Novriantoni Kahar selaku pembanding dari sudut pandang Sunni.

Novri memulai pembahasan dari sudut penamaan kitab dan efek kritik yang ditimbulkan darinya. Seperti namanya, “Al Kâfi” dalam bahasa Arab berarti “cukup”, maksudnya referensi yang lengkap sehingga mencukupi warga Syi’ah dalam soal perujukan. Makna ini menurut Novri dipertegas dalam satu buku lain karya Syaikh Abd al Rasul al Ghaffar yang menyatakan “…kitab Al Kâfi ini sudah mencukupi untuk perujukan golongan Syi’ah”. Pernyataan seperti ini, lanjut Novri, ternyata mengundang penyimpulan yang keliru berupa serangan-serangan dari kelompok Sunni yang mengira bahwa orang Syi’ah tidak memerlukan pedoman lain selain kitab ini. Padahal, seperti halnya wajar ditemukan pada penulisan buku-buku pada umumnya, ungkapan tersebut tidak lain sebatas pemujaan hiperbolis yang seharusnya ditanggapi secara wajar pula, dan bukannya dengan serangan-serangan.

Sebagai dua sayap besar tradisi Islam, eksistensi tradisi Sunni dan Syi’ah yang berkembang melalui kontestasi sejarah yang panjang bagi Novri mutlak diperlukan agar Islam bisa berjalan seimbang dan terhindar dari ketimpangan. Kehilangan pemahaman terhadap salah satu tradisi ini, demikian Novri menegaskan, akan berujung pada pemahaman Islam yang tidak seimbang. Kalaupun tidak memahami benar salah satunya, setidaknya kita mesti mengerti bagaimana kedua tradisi Islam tersebut dibentuk, demikian Novri.

Meskipun memiliki rujukan primer yang satu, yakni Al Qur’an, tradisi Sunni dan Syi’ah berpisah ketika sampai pada pembicaraan Sunnah. Perpisahan ini bukannya soal pro dan kontra terhadap Sunnah, tapi dalam hal metode perolehan hadist yang notabene merupakan rujukan untuk mengetahui Sunnah Nabi. Jika dalam Sunni kita mengenal Kitab Sahih Bukhari yang merepresentasikan kitab sahih hadits dengan metodenya tersendiri, maka Kitab Al Kâfi yang ditulis Al Kulayni ini merupakan representasi kitab hadits dari tradisi Syi’ah yang sudah tentu memiliki metode sendiri yang pula berbeda.

Nah, menurut Novri,percabangan tradisi Sunni-Syi’ah tersebut di atas dalam hal ini lebih dipicu oleh Sunnah dan bukannya oleh Al Qur’an sendiri. Dengan mengkutip pendapat ulama Suriah kenamaan George Tarabisyi mengenai dua macam versi Islam: yakni Islam Qur’an dan Islam Hadits, Novri mengartikulasikan bagaimana tradisi Islam yang berkembang dan popular di masyarakat, baik dari kalangan Sunni maupun Syi’ah sepenuhnya lebih dibentuk oleh Hadits (Sunnah) dari pada Al Qur’an. Ada banyak sekali tradisi umat Islam yang jika diteliti lebih jauh bukan turunan dari ajaran Al Qur’an, tapi merupakan manifestasi ajaran Hadits, sebut saja semisal sikap terhadap orang yang berpindah keyakinan, shalawat, ziarah kubur, Isra mi’raj dan lain sebagainya. Kalau analisa ini kita terima, kata Novri, maka kita dapat berkesimpulan bahwasanya tradisi Sunni-Syi’ah tidak sepenuhnya berpisah. Lebih dari itu, ada variasi-variasi yang membentuk kedua tradisi tersebut menjadi terlihat berbeda. Variasi-variasi tersebut terakumulasi melalui proses sejarah yang panjang, berakar berurat, dan dikokohkan melalui kompilasi kitab-kitab mu’tabarah yang berbeda dalam tradisi masing-masing sehingga sulit dilepaskan begitu saja secara semena-mena tanpa usaha pemahaman yang serius.

Kembali ke soal Al Kâfi, dengan dorongan kebutuhan terhadap pegangan yang memadai bagi kaum Syi’ah, Al Kulayni menulis kitab ini setebal tidak kurang dari delapan jilid dengan struktur penulisan dimulai dari perkara-perkara pokok terlebih dahulu (Ushul), kemudian dilanjutkan pada persoalan cabang (furu’) dan dilengkapi dengan sejumlah penjelasan (appendix). Di dalamnya, kita akan menemukan betapa sejumlah tradisi memang dibentuk berbeda dengan tradisi Sunni. Novri menyebut beberapa contoh dari variasi tersebut. Dalam soal pendidikan Shalat lima waktu dan puasa untuk anak misalnya, jika dalam tradisi Sunni pendidikan itu dibuat sedikit kaku dan tegas, maka dalam tradisi Syi’ah pendidikan itu lebih beruansa lembut dan sedikit longgar, yakni lebih mementingkan pada pembiasaan. Sunni melihat Sunnah itu dilestarikan lewat hadits-hadits yang diriwayatkan melalui perawi, sementara Syi’ah menilai keturunan nabi (‘ithrah al Nabiy) itulah yang menjadi jalan untuk mereservasi Sunnah beliau.

Di akhir presentasinya, Novri juga menyinggung bahwa isi atu kandungan Al Kâfi dinilai menyimpan legasi Mu’tazilah yang kental. Menurutnya, bisa saja orang beranggapan bahwa Al Kulayni lebih condong kepada kelompok Mu’tazilah dalam cara berpikirnya. Ini misalnya, lanjut Novri, bisa dilacak dalam kitab Al Kâfi pada bab “Kitâb al ‘Ilmi wa al Jahli” (kitab ilmu dan kebodohan). Pada intinya, penelusuran lebih jauh terhadap Al Kâfi mampu membawa umat muslim kepada khazanahpengetahuan baru dari kedua sayap tradisi keislaman Sunni dan Syi’ah.

Sementara itu, Kang Jalal, demikian ia akrab disapa, memulai presentasinya dengan mengemukakan sejumlah perbedaan antara Al Kâfi dan kitab-kitab hadits terkemuka di kalangan Sunni (Kutub al Hadits al Mu’tabarah). Pertama, berbeda dengan kitab-kitab hadits Sunni di mana mereka hanya memuat hadits-hadits yang dinilai sahih, dalam tradisi Islam Syi’ah, tugas para pengumpul hadits hanyalah mengoleksinya saja. Tradisi pengumpulan hadits demikian ini, menurut Kang Jalal, berimplikasi pada jumlah hadits di kalangan Syi’ah jauh lebih besar dibanding hadits di kalangan Islam Sunni. Adalah menjadi tugas para ulama untuk menentukan mana di antara hadits-hadits termaktub itu yang bisa diterima atau tidak. Oleh sebab kitab-kitab hadits Syi’ah tidak melakukan penyaringan hadits, maka kritisi hadits oleh ulama-ulama Syi’ah menjadi telah terbiasa dan tidak lagi dianggap tabu. Ini tentu terdengar kontras dikalangan tradisi Islam Sunni di mana pengkritisian hadits ditabukan dan menjadi momok apabila dilakukan.

Pada era sekarang, di mana hadits telah banyak mengambil alih peranan Al Qur’an dalam pembentukan sikap masyarakat muslim, semangat kritis para ulama Syi’ah terhadap hadits menurut Kang Jalal layak diperhitungkan. Sikap kritis tersebut, misalnya, dapat kita teladani dari bagaimana Al Kulayni dalam muqaddimah kitabnya mengajak umat muslim untuk mengukur hadits-hadits dengan kandungan Al Qur’an; terima hadits ketika ia sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan tolak hadits jika sebaliknya. Tidak seperti anggapan yang berkembang di kalangan Sunni bahwa orang dilarang mengkritik suatu hadits jika Bukhari telah mensahihkannya, di kalangan Syi’ah, pengkritisian hadits menjadi suatu yang telah wajar dilakukan dan memang menjadi tugas para ulama.

Demi mempertahankan status kesahihan suatu hadits, menurut Kang Jalal, sikap paradoks pada akhirnya berkembang di kalangan muslim Sunni. Ini, misalnya, dapat dilihat dari bagaimana mereka bersikap terhadap hadits-hadits tertentu yang menceritakan keganjilan perilaku Nabi Muhammad yang nota bene tidak layak dinisbatkan kepada seorang Nabi. Di satu sisi, umat muslim Sunni ingin mati-matian mempertahankan status kesahihan hadits, namun di sisi yang lain mereka juga berkeberatan menerima cerita-cerita tidak pantas tersebut. Sikap paradoks ini, pada akhirnya, membawa mereka untuk berspekulasi bahwa ada perilaku-perilaku tertentu yang hanya dikhususkan dan dibenarkan untuk Nabi, dan tidak untuk umatnya. Menurut Kang Jalal, spekulasi tersebut tentulah amatlah menggelikan dan tidak bisa diterima. Demikian, sebab perbuatan dosa tetaplah dosa, dan karena itu tentu tidak akan ada perbuatan dosa yang dikhususkan untuk Nabi. Ini bisa terjadi, lagi-lagi berawal dari keengganan umat muslim Sunni untuk mengkritisi hadits yang katanya sudah dianggap sahih, dan sikap seperti ini mestilah diperbaiki.

Kedua, berbeda dengan sejarah penulisan hadits di kalangan muslim Sunni yang terlambat hingga tiga abad lamanya, penulisan hadits di kalangan muslim Syi’ah sudah di mulai dari sejak awal. Selain kitab Al Kâfi, apa yang dikenal sebagai mushaf Fatimah, begitu Kang Jalal menjelaskan, pada dasarnya adalah kumpulan hadits-hadits Nabi yang telah dimulai prosesnya dari sejak awal. Sejarah penulisan dini Hadist Nabi juga diperkuat oleh fakta Abu Rafi’, seorang budak Nabi, dan bahkan Imam ‘Ali Bin Abi Thalib juga telah memulai pekerjaan tersebut. Ini bisa terjadi, karena dalam tradisi Syi’ah Nabi Muhammad tidak dikenal sebagai orang yang buta huruf. Menurut muslim Syi’ah beliau bisa membaca dan menulis dan karenanya ia juga mampu mengajarkan anak, menantu dan keluarganya menulis dan belajar hadits.

Perbedaan ketiga, mengenai perintah untuk berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah yang disebut dalam Sahih Bukhari dengan redaksi kalimat “….mâ in tamassaktum bihimâ lan tadlallû abadâ: Kitaâbullah wa Sunnatî…”. Dalam kitab Al Kâfi, selain hadits ini, juga dimuat hadits dengan redaksi yang sedikit berbeda yakni “ …..Kitâbullah wa ‘Ithrati ahli baytî…”. Menurut penelusuran Kang Jalal, hadits dengan redaksi yang disebut belakangan ini ternyata juga disebut dalam kitab hadist sahih Sunni selain Al Bukhari. Istilah “sunnati” menurut kang Jalal hanya merujuk pada makna Sunnah secara khusus, sementara istilah “ithrathi” lebih bersifat umum karena ia merujuk Sunnah Nabi dan keluarga nabi sebagai penerus Sunnah beliau sekaligus.

Menutup presentasinya, Kang Jalal kembali mengingatkan bahwa betapa pengkajian terhadap kitab Al Kâfi mengingatkan kita untuk mempertimbangkan ulang kritisi hadits. Sistem al Jarh wa al Ta’dîlyang biasa dipakai oleh penulis hadits di kalangan ulama Sunni dalam menentukan derajat kesahihan hadits, menurut Kang Jalal, tidak lagi memadai dan menyimpan banyak masalah. Kang Jalal menyebut salah satu kaidah dalam metode ini yaitu “…al Jarh muqaddam ‘ala al ta’dîl”, artinya yang mencela harus didahulukan dari pada yang memuji perawi hadits.Mengikuti kaidah ini, seandainya dalam setiap hadits ada satu orang yang mencela satu sanadnya, maka ini berarti semua hadits bisa berpotensi menjadi tidak sahih. Untuk itu, ajakan Al Kulayni dalam kitab Al Kâfi untuk mengkritisi hadist dari segi matan (isinya), dan bukan dari segi sanadnya, menjadi sangat relevan dan terasa urgensinya saat ini, terutama di mana kebenaran dan klaim-klaim agama ditantang berhadap-hadapan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Wallahu A’lam Bisshawab.

Komentar Masuk (0 komentar)
Belum ada komentar