Beragama yang Rentan Kekerasan
oleh A. Sihabulmillah

Sejak runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) Amerika Serikat yang merenggut ratusan nyawa manusia tak berdosa, hubungan antaragama (terutama Islam-Kristen) di berbagai belahan dunia merenggang. Suasana saling curiga dan tuduh antarumat beragama pun menjadi pemandangan setiap hari dan tak jarang berujung pada pertumpahan darah.

Tulisan ini dimuat dari Jawa Pos, dari rubrik Kajian, Minggu, 23 Jan 2005


Sejak runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) Amerika Serikat yang merenggut ratusan nyawa manusia tak berdosa, hubungan antaragama (terutama Islam-Kristen) di berbagai belahan dunia merenggang. Suasana saling curiga dan tuduh antarumat beragama pun menjadi pemandangan setiap hari dan tak jarang berujung pada pertumpahan darah.

Fenomena itulah yang menjadi salah satu faktor, yang melatari dialog internasional antaragama di Jogjakarta (6-7/12) baru-baru ini. Dialog tersebut melibatkan 10 negara ASEAN dan empat negara lainnya, yakni Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, dan Timor Timur. Tujuan dialog itu, sebagaimana diungkapkan Dien Syamsuddin, tiada lain adalah untuk mengembangkan saling pengertian dan harmoni di antara komunitas lintas agama di kawasan Asia-Pasifik khususnya dan di dunia umumnya.

Tapi, apakah ketegangan-ketegangan antarumat beragama, seperti kerusuhan di Pattani Thailand, Poso, Palu, Palestina-Israel dan lain-lain, akan bisa reda hanya dengan dialog, yang pesertanya berasal dari elite-elite agama, sementara pelaku tindak kekerasan di akar rumput hampir tidak pernah dilibatkan?

Sulit menjawab pertanyaan tersebut. Sebab, setiap kali ada kekerasan bernuansa agama di tingkat lokal, nasional, regional atau internasional, dengan segera para tokoh lintas agama bertemu dan berdialog untuk mencari solusinya. Tapi, toh kenyataannya kekerasan berbau agama tetap saja terjadi dan terus berulang.

Bagi penulis, dialog lintas agama memang penting, tetapi lebih penting lagi dialog tersebut bisa mengubah sikap beragama seseorang yang cenderung destruktif dan menyulut kekerasan menjadi sikap saling mengasihi dan mengayomi. Menurut penulis, ada beberapa sikap beragama yang semestinya dibuang jauh-jauh dari pemahaman pemeluk agama agar tercipta keharmonisan dan kehidupan saling berdampingan.

Pertama, memperlakukan agama sebagai ideologi. Agama bisa menjadi perekat masyarakat karena memberi kerangka penafsiran dalam pemaknaan hubungan-hubungan sosial, di satu sisi, dan bisa menjadi sumber kekerasan dan perusak tatanan sosial kerena disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau golongan, di sisi lain. Sejauh mana suatu tatanan sosial dianggap sebagai representasi religius yang dikehendaki Tuhan. Masalah tatanan sosial itu akan menjurus ke konflik jika terjadi perbedaan pendapat yang berkaitan dengan masalah ketidakadilan dan kekuasaan.

Apalagi, kalau ada kelompok yang mempunyai pemahaman eksklusif dalam pemaknaan hubungan-hubungan sosial tersebut. Pemaknaan atau penafsiran cenderung menyembunyikan kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok. Penyembunyian kepentingan itu terkait dengan peran ideologi agama, dalam arti sebagai faktor integrasi dan pembenaran dominasi.

Apa yang ditafsirkan dan mendapat pembenaran dari agama adalah hubungan kekuasaan karena setiap tindakan dan setiap kekuasaan selalu mencari legitimasi. (Haryatmoko: 2003).

Kedua, sikap standar ganda. Hugh Goddard, dalam buku monumentalnya, Christians & Muslims: From Double Standards to Mutual Understanding, mencatat, yang membuat hubungan Kristen dan Islam menjadi kesalahpahaman, bahkan menimbulkan suasana saling menjadi ancaman dan permusuhan ialah sikap standar ganda.

Artinya, orang-orang Kristiani atau Islam selalu memakai standar yang berbeda untuk dirinya, yang biasanya standar tersebut bersifat ideal dan normatif untuk agama sendiri, sementara untuk agama lain, menerapkan standar lain, yang lebih realis dan bersifat historis. Melalui standar ganda inilah, muncul prasangka-prasangka teologis, yang memperkeruh hubungan antarumat beragama.

Dalam soal teologi, misalnya, standar yang menimbulkan masalah klaim kebenaran ialah standar bahwa agama kita adalah agama yang paling sejati berasal dari Tuhan, sedangkan agama lain hanyalah konstruksi manusia atau mungkin juga berasal dari Tuhan tapi telah dirusak, dipalsukan oleh ulah manusia. (Munawar Rahman: 2001).

Ketiga, agama dijadikan legitimasi etis hubungan sosial. Sikap tersebut bukan sakralisasi hubungan sosial, tetapi pengklaiman tatanan sosial tertentu yang mendapat dukungan agama tertentu. Identifikasi sistem sosial, politik, ekonomi tertentu dengan dukungan agama tertentu mudah memperkeruh suasana kehidupan beragama dan tak jarang berakhir dengan kekerasan.

Ambil contoh tatanan sosial yang akhir-akhir ini dikampanyekan Amerika Serikat, yakni perang melawanan teroris(me). Bagi sebagian kelompok Islam, kampanye itu tak ubahnya dengan bentuk tatanan sosial yang identik dengan Kristianisme. Karena itu, mereka menolak keras kampanye tersebut. Penolakan itu bukan pertama-tama keberatan terhadap substansi perang melawanan teroris(me), tetapi lebih karena klaim bahwa nilai-nilainya berasal dari agama dan budaya yang berbeda dengan agama yang mereka yakini. Akibatnya, tatanan sosial tersebut bukan menjadi keteduhan hidup, tetapi malah mengarah pada permusuhan dan saling curiga antarumat beragama.

Keempat, klaim kepemilikan agama oleh kelompok sosial tertentu. Pada sikap tersebut, seseorang acap mengidentikkan kelompok sosial tertentu dengan agama tertentu, semisal etnik Jawa atau Aceh yang identik dengan Islam, Bali dengan Hindu, Flores dengan Kristen.

Identitas etnik secara tidak langsung juga digunakan untuk menandai agama atau keyakinan yang dianutnya. Artinya, ketika seseorang berdomisili di kelompok atau etnik tertentu, maka secara otomatis dia dianggap memeluk agama tertentu.

Hal membahayakan dalam sikap itu adalah jika terjadi konflik pribadi atau kelompok karena bisa membuka keran konflik lain, yakni konflik antaragama. Dengan kata lain, konflik lintas agama bukan hanya dipicu perbedaan keyakinan dan agama, tetapi juga dipicu konflik etnik atau kelompok sosial.

Bila empat sikap tersebut melekat kuat dan menghinggapi pemahaman pemeluk agama dalam kehidupan masyarakat, yang multikultural dan multireligion, akan memunculkan sikap fanatisme. Fanatisme, kata Hannah Arendt dalam The Human Condition, adalah bentuk penolakan terhadap yang berbeda dan menjadi lahan subur bagi para pelaku kekerasan yang tak merasa bersalah. Lebih jauh, dia mengatakan, fanatisme adalah musuh besar dari kebebasan. (A. Sihabulmillah)


* A. Sihabulmillah, direktur Institute of Religious and Cultural Thought (IRCT) Jogjakarta dan alumnus PP al-Islah Bungah, Gresik.
Komentar Masuk (2 komentar)
I. Beragama yang rentan Kekerasan, penyebabnya adalah umatnya masing-masing agama:
1. Ali Imran (3) ayat 89: Nabi diarbabankan/dikultuskan/dituhankan.
2. At Tabah (9) ayat 31: Pemuka agama, "ulama', pendeta diarbabankan selain Allah.
3. Al Hajj (22) ayat 31; Arbaban adalah sama dengan musrik, menyimpang dari jalan yang lurus.
4. At Taubah (9) ayat 5: Musrik wajib diperangi oleh ilmu agama yang benar.
5. At Taubah (9) ayat 28: Musrik adalah najis.
6. At Taubah (9) ayat 36: Musrik wajib dibunuh dengan hujjah ilmu kebenaran Allah.
7. At Taubah (9) ayat 113: Musrik jangan dido'akan agar tidak musrik.
8. At Nisaa (4) ayat 48,116: Musrik tidak ada ampunya untuk tidak musrik.

II. Sedangkan para rasulnya/nabinya semua tidak pernah mengarbabankan siapa-siapa, tetapi hanya satu arah yaitu menyampaikan Risalah Tuhan/Allah sejak Adam sampai kiamat:
1. Al Maidah (5) ayat 67: Para rasul diwajibkan menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
2. Al An Aam (6) ayat 124,125: Allah sendiri menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
3. Al A'raaf (7) ayat 62,60: Nuh menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
4. Al Araaf (7) ayat 68,65,66: Hud menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
5. Al A'raaf (7) ayat 79,75: Shaleh menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
6. Al A'raaf (7) ayat 93,88: Syuaib menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
7. Al A'raaf (7) ayat 144,109: Musa menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
8. Al Ahzab (33) ayat 38,39,40: Muhammad atau orang-orang siapa saja wajib menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
9. Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28: Rasul yang dirido'i wajib menyampaikan Risalah Tuhan/Allah.
Sedang penolaknya dari dahulu adalah pemuka agama "ulama" yang tidak pernah menyampaikan Risalah Tuhan/Allah, padahal mereka mengaku-aku "warosatul anbiyaa"
10. Risalah Tuhan/Allah dibawa Musa (Taurat, 7:144,109) = Muhammad melukiskan Risalah Tuhan/Allah diproses manasik haji seluruhnya, tawaf keliling kabah, sa'i antara safa-marwa, wukuf araf, mabit musdalifah, jamarat ula, wusta, aqaba di mina = Yang tidak faham Taurat adalah keledai sesuai Al Jumu'ah (62) ayat 5. Kesimpulannya yang tidak mengerti Taurat sama dengan tidak mengerti Risalah Tuhan/Allah sama dengan tidak mengerti seluruh proses manasik haji adalah kele........ sesuai Al Jumuah (62) ayat 5.

Untuk mengerti semuannya itu bacalah buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
"BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA"
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Penerbit: GOD-A CENTRE
Bonus: "SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)" berukuran 63x60 cm2.
Hasil karya tulis ilmiah penelitian otodidak terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun.

Tersedia ditoko-toko buku distributor tunggal
P.T. BUKU KITA
Tel. 021.78881850
Fax. 021. 78881860

Salamun 'alaikum daiman fi yaumiddin, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
#1. Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal at 2008-12-15 11:25:37

saling curiga antar umat beragama khususnya islam dan kristen memang seakan tiada habisnya, kadang seringkali berujung pada tindak kekerasan. ada saja yang menjadi pemicu terjadinya perselisihan, bahkan hal tersebut ternya hal hal sepele, sungguh sangat menyedihkan.

Dari apa yang telah dipaparkan oleh bpk. sihabulmillah, saya sependapat, tetapi saya pikir para pemimpin agama harus paham benar tentang 4 hal tersebut dengan baik, karena ucapan dari para pemimpin agama inilah yang akan ditangkap oleh para pendengarnya. Para pendengarnya bisa jadi menerima begitu saja ucapan dari pemimpinnya, bisa juga menolak karena dia sendiri memiliki pendapat sendiri.

Bila para pemimpin agama ini sangat mengerti dengan baik ke 4 hal tersebut saya yakin bukan khotbah yang akan memperuncing rasa curiga antar umat beragama, akan tetapi khotbah yang dapat mempererat hubungan sosial antar umat beragama

-----
#2. nico santono at 2005-02-05 22:02:32