Apologia: Isu Lama Media Baru
oleh Hairus Salim HS

Sikap negatif di dalam apologia ini beriringan dengan sikap untuk membenarkan ajaran milik sendiri. Semakin mampu menunjukkan kekeliruan paham orang lain, semakin kukuh ia membenarkan ajaran sendiri. Mungkin memang begitu cara bekerja sebuah apologia.

Sewaktu duduk di Sekolah Dasar, saya pernah membaca sebuah buku yang berisi 'dialog' antara seorang kiai dan seorang pendeta. Konon buku itu berasal dari peristiwa 'dialog' nyata, semacam true story, yang terjadi di kawasan Madura. Tak saya ingat persis apa judul buku tersebut. Hanya yang pasti adalah terdapat kata 'dialog' di dalamnya.

Kata 'dialog' dalam buku itu dimaksudkan perdebatan mengenai masalah-masalah teologi semacam status ketuhanan Yesus, doktrin Trinitas, orisinilitas Injil, strategi gerakan kristenisasi, dan lainnya. Dalam beberapa 'dialog' itu, Si Kiai yang mewakili Islam berhasil 'mengalahkan' pendeta yang mewakili umat Kristen. Walhasil Kiai berhasil menunjukkan 'kekeliruan' dan 'kepalsuan' beberapa pokok ajaran yang diyakini si Pendeta, dan pada saat yang bersamaan berhasil menunjukkan validitas ajaran yang diyakininya. Sebaliknya si Pendeta gagal dan menyerah. Konon, sesuai perjanjian, si Pendeta akhirnya masuk Islam. Demikianlah garis besar yang saya ingat dari isi buku itu.

Apologia

Buku yang saya baca sewaktu di Sekolah Dasar itu mungkin bisa dimasukkan sejenis buku apologia. Di dalam pemikiran apologia, keyakinan agama orang lain dinilai secara negatif, baik dari segi sosial-historis maupun teologisnya. Sikap negatif di dalam apologia ini beriringan dengan sikap untuk membenarkan ajaran milik sendiri. Semakin mampu menunjukkan kekeliruan paham orang lain, semakin kukuh ia membenarkan ajaran sendiri. Mungkin memang begitu cara bekerja sebuah apologia. Pertama-tama ia melancarkan dulu pertanyaan terhadap keyakinan orang lain. Dan jika keyakinan orang lain itu diyakini lemah, salah dan keliru, maka hal itu dengan sendirinya memantulkan kebenaran pada keyakinan yang dipegangi. Apologia seringkali menghindar dan mungkin tak pernah punya kehendak untuk langsung mengarahkan pertanyaan kepada diri sendiri, karena kebenaran di dalam apologia makin kuat setelah diketahui ada kekeliruan dan kesalahan pada keyakinan orang lain.

Apologia juga meyakini suatu kebenaran tunggal, dan tidak ada kebenaran lain. Karena itu argumen awal apologia adalah pembelaan. Pembelaan dari keyakinan orang lain yang mengibarkan kebenaran. Bagi apologia, proklamasi kebenaran keyakinan orang lain itu berarti suatu ancaman, suatu pernyataan kekeliruan dan kesesatan bagi kebenaran yang diyakininya. Apologia, dengan demikian, sejenis upaya mempertahankan diri, untuk kemudian melancarkan serangan balik. Dan meraih kemenangan serta akhirnya rasa puas diri. Selintas, iman yang dihasilkan dari persentuhan dengan pemikiran apologia ini kukuh dan kuat, tapi sebenarnyalah ia rapuh. Karena yang dihasilkannya adalah prasangka, rasa paling benar, dan akhirnya kebencian.

Apologia bukan hal baru. Ia telah ada sejak berabad-abad lampau. Apologia juga bukan khas Islam. Ia juga hadir di dalam rentang sejarah pemikiran keagamaan Kristen, Yahudi, Hindu, dan lainnya, serta terus direproduksi hingga kini. Buku yang saya ceritakan di atas jelas bukan satu-satunya. Sangat banyak buku sejenis, dalam beragam bahasa, termasuk Indonesia. Dalam bukunya, The Struggle Islam in Indonesia, B. J. Boland melakukan survei terhadap jenis buku apologia Islam yang beredar di Indonesia tahun 1960-an. Salah satu kesimpulannya, banyak dari buku itu mengutip "penerbitan Kristen" tanpa menyadari seberapa jauh buku-buku yang dikutip itu sendiri sungguh-sungguh mewakili pandangan Kristen. Dan ini mungkin menjadi ciri apologia pula: mengabaikan keberagaman pemikiran di dalam suatu agama dan terus mencari celah yang dianggap menjadi titik lemah dari suatu agama.

Beredar dan meluasnya buku-buku apologis dan polemis tahun 1960-an itu, menurut Bolland, merupakan bagian dari menegangnya hubungan Islam-Kristen sejak pelarangan komunisme tahun 1966 dan menegarnya Orde Baru. Tapi Bolland mencoba memaklumi bahwa apologia Islam itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pemikiran apologia yang berkembang di dalam sejarah kekristenan. Artinya apologia akan melahirkan satu jenis apologia pula. Apologia versus apologia.

Beberapa kalangan, menyebut pertukaran teologis seperti ini sebagai suatu 'dialog'. Sulit diterima pandangan ini. Kenyataannya, apologia lebih sering merupakan suatu penilaian sepihak daripada diskusi yang sehat. Karena itu ia lebih tepat disebut sebagai 'perdebatan', suatu konfrontasi. Dalam kosa kata Arab, mungkin ia lebih kena disebut sebagai mujadalah, suatu bantah membantah, yang dalam tradisi Islam justru dianjurkan untuk dihindari. Mengapa? Karena ia hanya bersemangat untuk saling menyalahkan.

Media Baru Apologia

Sampai sekarang semangat apologia terus diproduksi dan direproduksi, namun medianya telah banyak berubah. Bentuk buku atau pamflet memang masih dibuat, tapi yang favorit sekarang adalah dalam bentuk cakram padat (VCD). Pada Islamic Book Bazaar di Gedung Wanitatama, Yogyakarta, pertengahan Desember 2005 lalu, stand penjualan cakram padat yang berisi ceramah-ceramah 'para apolog' ini dikerubungi banyak pengunjung. Meski bazarnya bertajuk 'buku-buku Islam', tapi yang paling laku dan digemari justru adalah media audio-visual seperti ini.

Isu yang diusung karya-karya apologia tetaplah sama: tentang kepalsuan Injil, ketidakrasionalan doktrin Trinitas, strategi persengkongkolan mengkristenkan umat Islam, dan beberapa tema lainnya. Yang baru, tentu saja dipakainya teknologi film cakram padat ini. Memang dalam teknologi pembuatan film sekarang, kita temukan banyak sekali kemudahan. Dengan peralatan yang cukup murah dan mudah, dengan handycam saja, orang bisa membuat film sederhana. Apalagi jika hanya untuk mengeksplorasi adegan dalam ruang semacam orang berbicara di atas podium dan dihadiri sejumlah audiens.

Berbeda dengan bentuk buku, bentuk cakram padat ini jauh lebih murah, baik dari segi produksi maupun harga jualnya. Dengan demikian, dibanding produknya dalam bentuk buku, apologia via cakram padat ini akan beredar lebih massal dan populer.

Dengan beberapa alasan di atas, saya berpendapat di masa mendatang akan meningkat produksi pemikiran yang apologis ini. Dan itu artinya juga akan meningkat sikap prasangka, rasa benar sendiri, dan juga kebencian. Banyak kalangan mengatakan bahwa karya apologis dan polemis seperti ini hanya ditujukan buat mereka yang setengah intelektual dan malas berpikir. Mereka yang butuh segera jawaban yang sederhana dan tak membutuhkan penalaran yang canggih.

Namun menurut saya, apologia via media visual ini bisa jauh lebih buruk. Membaca buku apapun, termasuk buku apologis—tetaplah merupakan kerja soliter. Artinya suatu proses yang tetap mendesakkan orang untuk—seminim apapun—memikirkan, dan merenungkan apa yang dibacanya. Kebenaran atau keyakinan yang hendak ditangkap di dalamnya tetap melalui proses dialog dan refleksi. Bukan kebenaran yang sudah jadi untuk ditangkap dan didekap.

Proses seperti ini, saya kira, makin memudar dan mungkin bahkan menghilang ketika dihadapkan pada media visual. Dalam media audio-visual, ruang untuk refleksi dan imajinasi makin menyempit. Kebenaran via audio-visual seperti hadir serentak, bulat, dan sudah siap untuk ditangkap. Kadang ia ditonton ramai-ramai bersama seperti sebuah perayaan, makin lengkaplah hilangnya proses perenungan pribadi ini. []



Hairus Salim HS, Pengelola Institut Kajian Agama dan Multikulturalisme (IKAM) Yogyakarta.
Komentar Masuk (4 komentar)

Maaf mas Hairus Salim HS dan Mas Wakhid Hasim saya harus mengatakan bahwa pemikiran anda berdua adalah sebuah kemunduran. Sekarang ini eranya kebebasan berbicara. Apa salahnya "apologi-apologi" tersebut? Selama yang dikemukakan memiliki dasar, apa yang perlu dikhawatirkan?

Jika dasar yang digunakan keliru, bukankah hal itu justru membuka peluang untuk meluruskan pandangan yang salah tersebut? Anda sadari atau tidak, akui atau tidak, salah satu spirit utama dari agama adalah marketing, ya marketing! Mengapa? Karena tanpa proses pemasaran tidak akan ada yang disebut agama.

Bayangkan ada iklan yang bunyinya begini: "Kecap ini sangat lezat dan bergizi tapi ingat kecap lain juga sama enaknya sama gizinya, jadi tidak masalah kalau anda beli kecap ini atau kecap laen". Gak mungkin kan?

Ketika ada lebih dari satu produk sejenis berebut pasar yang sama, perang dagang tidak mungkin dihindari.

Sodara-sodara ini adalah hukum alam, sunnatullah, law of nature. Apakah saya khawatir? Sama sekali tidak!

-----
#1. Ari Puji Prasetiyo at 2006-02-10 05:03:11

Jika memang perbandingan agama dilakukan secara logis dan jujur serta memenuhi kaidah2 keilmuwan dan berdasarkan sumber2 yang shahih, kenapa juga perbandingan agama dianggap sebagai hal yang 'tabu', dianggap sebagai 'pembenaran'terhadap agama sendiri. Kenapa juga kita harus berpikir bahwa Tuhan bisa menerima ibadah kita dengan segala macam cara? Menghadapi atasan saja harus menggunakan aturan dan prosedur yang tepat, apalagi dalam berurusan dengan Tuhan? Setiap manusia berhak mengklaim bahwa agamanya yang terbaik, yang tidak boleh adalah memaksakan kehendak kita kepada orang lain.

#2. Seno Narisworo at 2006-01-31 21:02:43

Wah, saya suka banget sama tulisan mas Salim, bagus sekali. Hal itu tertutama melibatkan analisis media (audio visual) untuk melihat produksi pendapat yang bersifat 'apologis', daripada 'dialogis'. Kritik mas Ali Ghufron kurasa lebih merupakan rasa kecemasan seandainya hipotesis mas Salim "benar terbukti nanti di kemudian hari". Sayangnya, apa mau dikata, memang hal itu banyak terbukti. Maka, kita bisa cemas seperti mas Ali Ghufron. Namun dengan demikian, kita harus terimakasih pada tulisan mas Salim karena telah mengingatkan hal-hal yang mencemaskan ini.

Bukalah beberapa web site mengenai islam dan terrorisme. yang paling mudah searching melalui google yang supercepat dan akurat. Di di situ akan banyak sekali alamat-alamat web site yang tulisannya "ngeri" berkaitan dengan "apologi dan penyalahan islam" atas nama dialog antar agama. atau bahkan yang bukan untuk dialog, tapi memang khusus disediakan mengupas habis islam dan terrorisme dari sisi islam memang sumber terror (baik perilakunya, pengalaman sejarahnya sampai dasar ajaran-ajaranya). tak tanggung-tanggung, diantara web ini (bukalah http//.www.answering-islam.com) bahkan ada yang mengulas islam secara "islami", dalam arti, membaca Islam melalui cara "orang islam membaca dirinya". kongkritnya, dasar analisisnya diambil dari pertama, Qur'an, kedua, Hadits ( 6 hadits kumpulan besar :bukhari, muslim, ahmad, tirmidzi, abu dawud dan nasa'i). plus ditambah kitab-kita awal yang orang islam sendiri jarang baca, misalnya tarikh ibnu hisyam, trikh ibnu jarir dll.

inti kesipulan ulasannya adalah: "ajaran islam memang merupakan kriminal", yang menyetuji perkawinan pada anak-anak, pergundikan melalui legalisasi sengama dengan budak, baik di nikah atau tidak, sekalipun budak itu masih ada suaminya, sekalipun budak itu keluarganya habis mati oleh tentatara islam saat perang, dan lain-lain.

web-web serupa juga banyak. bukalah web-web tentang konlfik dan terror di ambon. web kristen akan menyerang habis islam. web islam menyerang habis kristen. dan anda akan capek mengikuti web-web yang sangat banyak ini.

namun, sehabis aku membaca web answering-islam.com di atas, aku banyak berfikir. fikiranku sama dengan mas salim di atas, mengenai berkembangnya sikap dan keyakinan kebenaran tunggal danmenolak perbedaan, ditandai oleh: sikap apologi, apriori, memantapkan keyakinan dengan mengalahkan orang lain.ntinya tak siap berbeda.

refleksiku kedua, orang islam memang jarang baca sumber islamnya sendiri. siap diantara temant-teman yang sudah baca qur'an lengkap plus kitab 6 diatas dan sejarah-sejarah isalam awal? cari buku sejarah islam awal itu aja sulit di Indonesia, saya sudah cari sulit ketemu. kalau info perpus mana yang punya, dengan senang hati akua kan datangi!

refleksiku ketiga, pendapat seperti, web-web dan juga vcd dll, banyak dimanfaatkan oleh orang: 1) untuk uang, 2) untuk kekuasaan dari orang yang ingin kembali ke status quo, biasanya dari orang yang tersingkir. dalamhal ini kita dapat mengingat berbagai kerusuhan di indonesia, perang amerika lawan irak yang bohong itu, dll, kesemuanya menggunakan teknologi multimedia yang diam-diam kita terpengaruh olehnya.

lalu, memang kita mempunyai pe er bagaimana membangun masyarakat konsumen media yang kritis. ini butuh waktu dan pengorganisasian yang oleh beberapa kawan sudah dilakukan, termasuk LKIS di Yk. makasih mas Salim.

dan, silakan meneruskan!

tabik, wakhit.

#3. wakhit hasim at 2006-01-18 18:01:32

Saya ingin sedikit mengomentari beberapa pendapat Bapak Hairus Salim: Secara umum saya kecewa dengan tulisan ini karena penulis cenderung berfikir negatif dan pendapat-pendapat yang ada dalam tulisan ini tidak didasarkan pada analisa yang logis dengan memaparkan sesuatu yang dibahas secara imbang dari sudut negatif dan positif. Beberapa yang ingin saya komentari:

1. "Dengan beberapa alasan di atas, saya berpendapat di masa mendatang akan meningkat produksi pemikiran yang apologis ini. Dan itu artinya juga akan meningkat sikap prasangka, rasa benar sendiri, dan juga kebencian."

Menurut saya pendapat anda ini harus dibuktikan dengan data-data yang real, dan dengan analisa yang jelas dan logis. Setiap ajaran agama pasti mengajarkan untuk saling menghormati ajaran agama lain. Jadi menurut saya pendapat anda ini terlalu berlebihan, justru dengan perkembangan jaman dan teknologi hal ini tidak akan terjadi.

2. "Banyak kalangan mengatakan bahwa karya apologis dan polemis seperti ini hanya ditujukan buat mereka yang setengah intelektual dan malas berpikir. Mereka yang butuh segera jawaban yang sederhana dan tak membutuhkan penalaran yang canggih."

Kutipan ini seharusnya juga mencantumkan dengan jelas KALANGAN MANA yang mengatakan seperti itu? Bagaimana jika karya apologis ini nantinya dikembangkan oleh orang-orang yang cerdas dan pandai dan semua hasil karyanya tercipta dari data-data yang lengkap dan dengan analisa yang tepat? Bukankah memikirkan yang seperti ini lebih bermanfaat daripada harus pesimis dan berfikir negatif?

3. "Namun menurut saya, apologia via media visual ini bisa jauh lebih buruk. Membaca buku apapun, termasuk buku apologis—tetaplah merupakan kerja soliter. Artinya suatu proses yang tetap mendesakkan orang untuk—seminim apapun—memikirkan, dan merenungkan apa yang dibacanya. Kebenaran atau keyakinan yang hendak ditangkap di dalamnya tetap melalui proses dialog dan refleksi. Bukan kebenaran yang sudah jadi untuk ditangkap dan didekap.

Proses seperti ini, saya kira, makin memudar dan mungkin bahkan menghilang ketika dihadapkan pada media visual. Dalam media audio-visual, ruang untuk refleksi dan imajinasi makin menyempit. Kebenaran via audio-visual seperti hadir serentak, bulat, dan sudah siap untuk ditangkap. Kadang ia ditonton ramai-ramai bersama seperti sebuah perayaan, makin lengkaplah hilangnya proses perenungan pribadi ini."

Saya kira pendapat anda ini belum memasukkan keunggulan-keunggulan media visual. Bukankah Imaginasi,Pererungan pribadi bisa kita lakukan setelah melihat dan mendengarkan paparan dari orang lain yang lebih ahli dalam bidangnya?

Menurut saya :MARI KITA BERFIKIR POSITIF SELALU JIKA KITA INGIN MAJU.

Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan.

#4. M.Ali Ghufron at 2006-01-16 23:01:32