Melacak Jejak Liberal di IAIN
oleh Redaksi

Tulisan di bawah ini menyorot Islam Liberal khususnya di IAIN

Dari Sabili, 25 Mei 2002

Satu

Melacak Jejak Liberal di IAIN


IAIN memiliki cita-cita luhur: menghasilkan ulama yang disegani. Namun dalam perkembangannya, malah berubah menjadi sarang pergumulan beragam pemikiran, dengan alasan wacana, ijtihad dan kebebasan berpikir.

"Saya Saidiman, mahasiswa Akidah-Filsafat Fakultas Ushuluddin. Hari ini juga keluar dari Islam." Ucapan lantang itu membuat peserta acara Dialog Publik bertajuk "Jilbab Yes or No: Problematika Pewajiban Berjilbab di UIN Jakarta", Jum'at (24/05), terhenyak. Aula Insan Cita, Ciputat, menjadi senyap seketika. Saidiman bermaksud menanggapi protes keras atas bergulirnya wacana penghapusan pewajiban jilbab. Menurutnya, Islam sangat menjunjung kebebasan bagi siapa pun untuk memaknai kehidupan ini dengan penghayatan keagamaan model apa pun, sesuai dengan tafsir yang diyakininya. Cuma, harus atas dasar pilihannya sendiri dan tidak di bawah paksaan seseorang atau institusi. "Seandainya saya mempunyai keyakinan bahwa orang yang tidak memakai jilbab akan membuat ia masuk neraka, tetap saja saya tidak bisa memaksanya untuk ke surga," tambahnya.

Kasus di atas, cuma sekelumit contoh pergulatan pemikiran yang sedang berkembang di IAIN. Dimulai dari Harun Nasution dengan pemikiran Islam Rasionalnya-yang terinspirasi dari pemikiran Mu'tazilah yang dibawa Washil bin Atha' dan mendapat penetangan habis-habisan oleh para ulama generasi awal, lalu berlanjut dengan Nurcholis Madjid dengan ide-ide sekularisasinya. Dan kini ada Islam Liberal yang juga diawaki oleh sebagian civitas akademika IAIN. Tahun 1986, Munawir Sadzali, yang kala itu menjabat Menteri Agama, mengirim enam orang dosen se-Jawa ke Amerika Serikat mengambil pasca sarjana untuk mata kuliah studi keislaman (Islamic Studies) dengan dalih peningkatan kualitas ulama yang nantinya dihasilkan IAIN.

Hasilnya? Pemikiran-pemikiran nyeleneh dan menyimpang dari mainstream keyakinan Islam terus berkembang dari rahim institusi ini. Apa yang datang dari Barat selalu dicap sebagai ilmiah dan punya metodologi. Padahal, metodologi yang digunakan Barat adalah filsafat yang menggunakan pendekatan sesuai dengan karakter sosial dan sejarah mereka.

Ide pemisahan wilayah publik dan wilayah privat yang diusung kelompok liberal, misalnya, adalah model dikotomi yang berlaku di Barat (agama adalah soal individu, sedang soal publik adalah hak negara). Hal seperti itu, di sana wajar saja. Sebab, agama Kristen yang dianut mayoritas bangsa Eropa tidak mempunyai penjelasan integral tentang berbagai aspek kehidupan.

Pengaruh para dosen alumnus Barat ini diakui Daud Rasyid, pakar hadits yang di masa Harun pernah mengajar di Program Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah. Menurutnya, ide-ide liberal itu dimulai sejak zaman Harun.

Namun pendapat ini ditampik Prof. Endang Soemantri, Rektor IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. "Jangan menganggap kalau dosennya banyak lulusan Barat maka pemikirannya akan menjadi Barat. Kita tetap akan berusaha mempertahankan jati diri yang sudah ada," bantahnya.

Tapi, apa yang terungkap dalam acara Seminar Islam Rasional bertajuk "Membincang Pembaharuan Pemikiran Islam Prof. Dr. Harun Nasution," Kamis (23/05), barangkali membuka mata kita. Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa semester II jurusan Akidah-Filsafat, mempertanyakan rasionalitas dosen-dosen agama. Ia mengaku sering mendapat arahan di kelas untuk berpikir rasional. Tapi ketika terjun langsung di masyarakat, ia bersinggungan langsung dengan cap-cap kafir, murtad, dan lain sebagainya. "Dosen-dosen sih enak, cuma di kampus saja," keluhnya yang disambut tawa hadirin.

Fakta lain, juga diungkapkan oleh Nur Hasanah, Ketua Keputrian LDK-IAIN. Menurutnya, ia tidak banyak mendapatkan nilai-nilai keimanan, akhlak, di bangku kuliah. Yang banyak justru kebebasan berpikir. Ia mencontohkan mata kuliah Teologi Islam yang membebaskan mahasiswa menggali berbagai macam aliran. Sementara dosennya membiarkan semua mengambang dan menyerahkan sepenuhnya pilihan pada mahasiswa. "Ada banyak teman-teman yang malah jadi gamang, Ada banyak juga yang menggali filsafat, kemudian malah tidak shalat. Yang sering didengung-dengungkan adalah bahwa agama itu adalah hak individu," jelasnya.

Ide-ide liberal yang berkembang di IAIN semakin mengkristal dengan munculnya protes atas diwajibkannya jilbab oleh pihak UIN yang dimotori Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Lembaga Studi Arus Demokrasi Indonesia (LS-Adi). Menurut Formaci, seperti diungkapkan beberapa pengurusnya dalam diskusi dengan SABILI, harus ada pemisahan antara wilayah privat yang merupakan hak individu dengan wilayah publik yang merupakan hak umum. Jilbab adalah wilayah privat, yang karenanya tidak boleh diinstitusionalisasikan.

Formaci membuat wacana tandingan sekaligus gerakan menolak campur tangan ke dalam wilayah publik atas nama agama. "Ruang publik harus bebas dari teologial," tegas Iqbal Hasanuddin, Ketua Formaci.

Alasan lain, jilbab mempunyai banyak penafsiran, seperti pendapat bahwa jilbab adalah kultur Arab. "Jika IAIN mewajibkan jilbab, berarti memihak pada salah satu penafsiran dan menolak penafsiran lain. Harus ada kesejajaran tafsir wajib dan tidak wajib atas jilbab. Dalam perspektif civil liberty (kebebasan sipil), IAIN itu milik publik" ujar Iqbal.

Betulkah kewajiban jilbab soal penafsiran saja?

Dalam al-Qur'an, Allah tegas memerintahkan kepada setiap muslimah yang sudah baligh untuk mengenakan jilbab. "Hai Nabi, katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka,'" (QS al-Ahzab: 49). Para ulama sejak generasi sahabat hingga saat ini sepakat tentang wajibnya jilbab. Konsensus ini dikenal dalam khazanah yurisprudensi Islam dengan Ijma', yang merupakan salah satu sumber hukum yang disepakati umat. Sehingga, kewajiban jilbab adalah qath'i (mutlak) dan tidak bisa diinterpretasi lagi.

Kebebasan berpendapat tidak boleh menjadi dalih untuk menafsirkan sesuatu yang sudah baku dalam Islam. Seperti diungkapkan Dr. Daud Rasyid, awalnya kebebasan di IAIN itu disepakati secara salah. Kebebasan dalam Islam itu bukan bebas berpikir semaunya. Harus ada koridor berpikir yang didasarkan pada kaidah al-Qur'an dan Sunnah Rasul dengan bingkai pemahaman ulama. Baru setelah itu diberi kebebasan menelaah berbagai persoalan sehingga tidak bebas tanpa koridor.

Yang menggelikan, Harun Nasution yang selama ini dijadikan kiblat bagi ide-ide liberal oleh kalangan IAIN, masih mengakui adanya koridor dalam penafsiran. Menurutnya, perbedaan yang terjadi di antara ulama itu bukan pada persoalan yang absolut, baik al-Qur'an atau hadits. Perbedaan mereka terletak pada cara menginterpretasi ayat-ayat atau hadits-hadits yang memang terbuka untuk diinterpretasikan.

Kalangan Formaci juga mengaku berijtihad dengan ide-idenya. Untuk diketahui, ijtihad merupakan proses elaborasi terhadap hukum-hukum yang terkandung dalam al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan perangkat bantu yang telah disepakati, semisal ilmu fiqh, ushul fiqh, hadits, bahasa Arab dengan segala cabangnya, dll. Tidak semua orang berhak melakukan proses ijtihad. Ketatnya proses ijtihad inilah yang menjaga kualitas produk hukum yang dihasilkannya dari kemungkinan sesat apalagi menyesatkan.

Tak heran jika Rasulullah saw menjamin bahwa mujtahid yang benar mendapat dua pahala, sedang yang salah tetap mendapat satu pahala (HR Hakim).

Tentang penerapan Syariat Islam, Formaci tegas menolak. "Bagi orang seperti saya, tak setuju. Jika syariat Islam berlaku di IAIN, maka itu akan mengeksekusi orang seperti saya. Teman-teman di HMI, PMII, Forkot, nggak setuju juga," jelas Iqbal Hasanuddin. Hal ini dapat dipahami, sebab menurut mereka segala sesuatu yang datang dari al-Qur'an dan Sunnah harus ditimbang dulu sebelum diterima. "Sami'na wa fakkarna, baru wa atha'na," (kami dengar, kami pikirkan baru kami taati-red) tutur salah seorang pengurus Formaci pada SABILI.

Persoalannya sekarang, bukan sekadar wacana dan diskusi, tapi pemikiran yang sudah diyakini dan sedang bermetamorfosis menjadi sebuah gerakan bernuansa liberal. Model pemikiran liberal yang meniru seniornya, Jaringan Islam Liberal yang dipelopori Ulil Abshar Abdalla juga jauh dari metodologi apalagi orisinalitas. Sangat sulit untuk bisa survive sebagai pemikiran yang disegani.

Banyak kalangan berharap agar masalah protes terhadap pewajiban jilbab ini segera berakhir. "Mudah-mudahan tidak terlalu berkepanjangan," tutur Prof. Nasaruddin Umar, Pembantu Rektor III UIN Syarif Hidayatullah.

Sebagian mahasiswi berpendapat lain lagi. Menurut mereka, tindakan Formaci dan kawan-kawan hanya sekadar mencari sensasi. "Ngapain kita begitu-begitu segala, sudah tahu kita kuliah di IAIN yang Islam," ujar Nisa, mahasiswi semester VI jurusan Manajemen Pendidikan Islam.

Para civitas akademika IAIN se-Indonesia diharapkan dapat serius melahirkan produk ulama yang merupakan ide awal didirikannya IAIN. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Agama Prof Said Agil al-Munawwar. "Agama ini basic. Ini kita kembangkan dalam rangka globalisasi. Mau tidak mau kita harus bersaing," tutur Prof. Said yang juga menjabat Direktur Pasca Sarjana UIN. Akhirnya, semua kalangan harus terus mengingatkan lembaga keilmuan Islam ini, yang diharapkan melahirkan dai-dai yang dapat menjelaskan Islam di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan tuntunan al-Qur'an dan Sunnah. Bukan malah membingungkan masyarakat.

M. Nurkholis Ridwan


Dua

Selamatkan IAIN Dari Liberalisme dan Amoral


Banyak gunjingan miring tentang lembaga pendidikan yang satu ini. Mulai dari paham liberal dan ideologi sekuler sampai kehidupan bebas mahasiswanya. Ada apa sebenarnya dengan IAIN?


Sabili - Sejak pertama kali berdiri, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) khususnya IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta memang tak pernah sepi dari kontroversi. Catatan-catatan kontroversi lembaga pendidikan tinggi yang satu ini berkisah tentang banyak hal, mulai dari aliran pemikiran serta paham ideologi yang marak dan subur di dalamnya.

Layaknya sebuah kampus, wajar-wajar saja jika tumbuh subur berbagai gerakan pemikiran di dalamnya. Namun, pada perkembangannya, hal-hal yang nyeleneh menjadi main stream di kampus ini. Alih-alih hendak melahirkan ulama-ulama pilih tanding, IAIN justru lebih terkenal dengan orang-orang yang "terlalu berani" menafsirkan segala hal. Qur'an dan hadits tidak saja menjadi kajian, tapi berubah menjadi teks yang sangat relatif dan multi terjemah. Dan beredarlah sebuah akronim, IAIN diplesetkan menjadi Ingkar Allah Ingkar Nabi.

Tudingan seperti itu semestinya tak perlu terjadi. Apalagi jika IAIN memegang teguh pada visi dan misi awal didirikannya lembaga pendidikan tinggi Islam ini. Salah satu tujuan didirikannya IAIN adalah, mencetak kader pemimpin umat Islam bagi perjuangan bangsa Indonesia ke depan. Selain itu, dengan menimba ilmu di IAIN, para mahasiswa diharapkan memiliki akhlak dan moral yang baik, berpikir rasional, analitis, berorientasi pada pemecahan masalah serta berpandangan jauh ke depan.

Visi dan misi itu kembali ditekankan pada proses peralihan status institut ke universitas. Tanggal 20 November 2001, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta resmi menjadi Universitas Islam Negeri. Sejak saat itu pengelola UIN Jakarta berobsesi menjadikan IAIN Syarif Hidayatullah sebagai sentral kajian agama Islam di kawasan Asia Tenggara.

"Dengan dibukanya fakultas lain selain fakultas agama, UIN diharapkan menjadi institusi pendidikan Islam bergengsi yang mampu mewadahi kecenderungan masa depan dengan bersendikan agama Islam. Tapi, tidak ketinggalan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern," kata Pembantu Rektor III UIN (IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta), Dr. Nasaruddin Umar.

Tapi nyatanya, cita-cita dan semangat saja tak cukup membuat kampus ini sebagai pendidikan tinggi Islam rujukan. Cita-cita IAIN menelurkan sarjana yang ulama dan ulama yang sarjana, jauh panggang dari api. Perjalanan waktu mencatat, banyak kisah suram yang terjadi dan merebak di kampus IAIN. Dan anehnya, jika diurut-urut, sekian banyak catatan suram ini lahir dan bermula dari pemikiran gila yang berkembang di IAIN. Salah satunya yang saat ini sedang hangat diperbincangkan di kalangan kampus IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta adalah, tuntutan pelepasan wajib jilbab di kampus yang masih menyandang nama Islam ini.

Bersamaan dengan perubahan status IAIN menjadi UIN, beberapa kelompok mahasiswa tergabung dalam organisasi Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) gencar menolak pewajiban jilbab di kampus. Berbagai poster penolakan jilbab ditempel di mana-mana. Bahkan, dalam salah satu poster yang ditempel bergambar ala vignet perempuan telanjang bertuliskan: "Jangan bermimpi membebaskan bangsa jika di kampus kita masih ada ketertindasan."

Tak hanya itu, di forum-forum diskusinya, aktivis Formaci juga kerap menyatakan bahwa ruang publik harus bebas dari pengaruh teologi. Siapa pun, termasuk kampus, menurut mereka haram hukumnya mengatur soal jilbab. "IAIN tak boleh mengatur hak privat. Mau pakai kaos, sandal, celana pendek, topi, tak ada persoalan. Yang penting bisa menerima materi kuliah," tutur Ketua Formaci, Iqbal Hasanuddin.

Tak hanya sang ketua yang nampak gigih, pada umumnya mahasiswa yang tergabung dalam Formaci sangat gigih memperjuangkan idenya. Padahal, menurut Pembantu Rektor II IAIN, Dr. Abuddin Nata, kelompok yang setuju jilbab jauh lebih banyak ketimbang yang tak setuju. "Busana muslim tetap masih eksis hingga saat ini," katanya.

Tentang Formaci yang tak terlalu besar itu dibenarkan pula oleh Nasaruddin. Ia menerangkan wacana yang digulirkan Formaci tak terlalu besar pengaruhnya di lingkungan kampus. Ia juga menambahkan bahwa kampus sulit mengabulkan ide Formaci karena bertabrakan dengan visi dan misi yang sudah menjadi konsensus bersama. "Setiap mahasiswa IAIN harus tunduk pada aturan di IAIN. Meski HAM masalah universal, jangan dijadikan alasan melegitimasi sesuatu yang kontradiktif dengan visi IAIN," sambungnya.

Masalah jilbab adalah satu dari sekian persoalan nyeleneh di kampus ini. Yang lainnya bejibun. Fenomena ini dibenarkan Erni, seorang mahasiswi IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Ia menyatakan pemikiran-pemikiran yang menjungkirbalikkan akal sehat kita sebagai seorang muslim masih banyak dijumpai. Dengan nada risau, Erni mengisahkan, ketika baru masuk dulu, ada alumni menyatakan boleh menyebut Allah dengan Allah nirrajiim (Allah terkutuk) dan syaitan dengan syaitan subhannahu wa ta'ala (syaitan maha suci). Mereka yang nyeleneh ini beralasan tak ada masalah dalam penyebutan itu. Toh secara substansial, menurut merek, tidak berubah. Allah tetap maha Suci dan syaitan tetap terkutuk.

Masih menurut Erni, karena sering berpikir hal-hal yang "gila" seperti itu, maka tak sedikit teman-temannya yang kemudian tak lagi melaksanakan ibadah wajib seperti shalat lima waktu. "Ini karena kita dibiarkan berpikir sebebas-bebasnya tentang apapun juga," tutur Erni

Pendapat Erni dibenarkan Nur Hasanah, Ketua Keputrian LDK IAIN Syarif Hidayatullah. Kunci persoalan ini menurut Nur, karena dosen turut pula membiarkan semuanya mengambang dan menyerahkan sepenuhnya mahasiswa mengambil keputusan, lepas dari nilai-nilai yang selama ini dianut. "Kalau tidak punya basic yang kuat, banyak teman-teman yang malah gamang," katanya.

Tentang kebebasan ini, staf pengajar IAIN Sunan Gunung Djati, Daud Rasyid Sitorus berkomentar, kebebasan dalam Islam bukan bebas berpikir semaunya. Ahli tafsir hadist ini menekankan, ada koridor berdasar kaidah al Qur'an dan as Sunnah yang harus diperhatikan. "Setelah itu, baru diberi kebebasan menelaah berbagai persoalan," tuturnya.

Soal pemikiran yang nyeleneh, sebetulnya bukan barang baru di kampus ini. Jauh sebelum Formaci menolak pewajiban jilbab di kampus, pemikiran kontroversial seperti itu acap didengungkan Harun Nasution. Di era tahun 70-an, mantan rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini sangat terkenal dengan ide-ide kebebasan berpikirnya. Ia memberi kebebasan berpikir yang sebebas-bebasnya kepada seluruh civitas akademika IAIN. Niat awalnya memang untuk menggali pemikiran-pemikiran Islam, tapi apa lacur, tanpa koridor niat itu berubah menjadi liar.

Di satu sisi, meski ada pihak yang menilai positif, namun kebebasan berpikir yang dikembangkan Harun pada gilirannya tak sedikit yang berbenturan dengan ketentuan-ketentuan Islam yang qath'i (baku). Contohnya ketika ia mempermasalahkan soal ketentuan pembagian warisan untuk perempuan. Dalam soal ini, Harun cenderung berpendapat perempuan mempunyai hak yang sama dengan pria. Hal ini jelas bertentangan dengan ketentuan pembagian warisan yang ada dalam al Qur'an dan hadits.

Gayung bersambut. Kebebasan berpikir menyangkut soal keislaman yang dikembangkan mantan rektor IAIN, Harun Nasution, disambut Nurcholis Madjid dengan mengembangkan ide-ide sekuler ke tengah-tengah masyarakat. Terutama di dekade 80-an, melalui berbagai diskusi dan buku-buku yang ditulisnya, Cak Nur, panggilan akrabnya, paling terdepan menghasung pemisahan soal politik dengan masalah agama.

Contohnya adalah saat Cak Nur mengatakan "Islam Yes, Partai Islam No." Sejumlah pihak menilai pernyataan Cak Nur itu jelas-jelas mendorong sekulerisme agama. Padahal politik tidak bisa dipisahkan dengan agama. Politik menyangkut masalah agama dan agama pun menyangkut masalah politik.

Pola pikir liberal dan sekulerisme, tak berhenti pada sosok Harun Nasution dan Cak Nur saja. Pola pikir seperti itu agaknya sangat diminati segelintir civitas akademika IAIN. Bahkan, menurut sejumlah pihak, eksistensi paham ini makin mengkr istal dan menyebar ke seluruh kampus, terutama ke organisasi kemahasiswaan dan forum-forum studi.

Berbagai organisasi kemahasiswaan seperti PMII, HMI, IMM dan forum-forum studi seperti Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), Piramida Circle, Makar, ISAC dan sebagainya, menurut sejumlah pihak, memberi sumbangsih besar pada corak liberalisme ini. Mereka giat dan gencar mengkaji sejumlah faham kontroversial seperti Marxisme, Parenialisme, Sekulerisme dan Rasionalisme. Dari sana kemudian muncul berbagai terminologi baru seperti Mazhab Ciputat, Islam Inklusif, Islam Liberal dan Islam Modern dengan berbagai pola lakunya masing-masing.

Di sisi yang lain, muncul pula gerakan kultural yang berusaha menyeimbangkan pemikiran-pemikiran kelompok liberal yang terlalu berpikir bebas. Mereka adalah mahasiswa yang tergabung ke dalam wadah Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Salah satu tujuan organisasi mahasiswa Islam ini adalah berusaha menyelamatkan IAIN dari imej yang tidak bagus dengan menampilkan akhlak sesuai dengan al Qur'an dan sunnah Nabi. "Kami mau membuktikan bahwa masih ada orang-orang yang peduli akan perbaikan akhlak itu," kata Ahmad Zaky, Ketua LDK IAIN Syarif Hidayatullah.

Dua kubu ini pun, dengan sendirinya memulai "pertarungan" mereka. Tentang adanya "pertarungan" dibenarkan oleh Nasaruddin Umar. Menurutnya, kekuatan LDK dan liberal sama dan seimbang. Namun, mereka sebenarnya kelompok minoritas. Justru kelompok yang mayoritas, kata Nasaruddin adalah mereka yang tidak ke mana-mana atau silent. "Yang silent majority itu tidak marketable sehingga tidak dilirik oleh media," ujar Nasaruddin.

Pendapat Nasaruddin dibenarkan Ketua PMII Komisariat IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Alamsyah M Djafar. Ia membagi kelompok di IAIN menjadi lima. Kelompok silent majority, kelompok yang cenderung literal yang diwakili LDK, kelompok liberal seperti HMI, IMM, kelompok Postra (Post Tradisionalisme NU) yang diwakili oleh PMII dan kelompok Pop yang diwakili UKM seperti Alkaidah, RIAK, Persatuan Musik. "Kelompok pertama (silent) itu yang banyak," katanya.

Dalam perkembangannya, menurut pengamatan sejumlah pihak, liberalisme cenderung membawa perubahan negatif, terutama terhadap akhlak mahasiswa. Lantaran berpikir liberal, mahasiswa cenderung longgar dalam memegang kaidah-kaidah agama. Bahkan tak sedikit dari mereka yang malah menggeluti pekerjaan yang syubhat menurut pandangan agama Islam seperti menggeluti musik-musik keras ala Barat. Atau berpakaian seronok, ketat, bercelana sobek-sobek bahkan tak kurang yang melakukan body piercing (tindik) di berbagai kujur tubuhnya.

Itu belum seberapa. Ada yang lebih parah lagi. Dari hasil investigasi wartawan SABILI di lingkungan kampus IAIN, dijumpai budaya pergaulan bebas. Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya bebas bergandengan tangan tanpa rasa takut dan malu. Tak hanya di IAIN Jakarta, di beberapa kampus IAIN di kota-kota lain pun punya perilaku yang sama. Budaya free sex hampir dengan mudah bisa kita temui di lingkungan kampus ini.

Saat SABILI berkunjung ke rumah penduduk di sekitar kampus IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, banyak di antara mereka menuturkan dengan rasa risih tentang perbuatan amoral mahasiswa IAIN. Ibu Nur Hanifah misalnya, pengelola kos-kosan warga Ciputat ini mengaku di depan rumahnya terhitung sudah empat kali ada mahasiswa IAIN yang digrebek warga saat mereka berbuat mesum. Masih menurut Ibu Nur, mahasiswa itu kadang tak ada rasa takut sedikit pun saat melakukan perbuatan haram itu. Mereka sengaja membuka pintu dengan harapan mengecoh warga agar tak curiga.

Kejadian lebih heboh diceritakan Nur Hasanah. Saat temannya melakukan praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang lokasinya di sekitar Ciputat, ia memasuki salah satu rumah yang kebetulan milik seorang dukun beranak. Dukun itu bercerita dalam satu tahun ada sekitar 10-15 mahasiswi yang minta digugurkan kandungannya. "Harusnya saya yang diberi ilmu agama. Kok malah saya yang mendakwahi kalian. Saya ini bukan pembunuh bayi. Saya ini penolong bayi," ujar Nur Hasanah menirukan sang dukun bayi.

Mirip seperti di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, perbuatan amoral seperti itu terjadi juga di sebagian mahasiswa IAIN Sunan Gunung Djati (SGD), Bandung. Di lingkungan kos-kosan sekitar kampus, tak jarang dijumpai mahasiswa yang tidur di kos mahasiswi.

Menurut sumber SABILI yang dekat dengan IAIN SGD, ada gedung Z yang kerap digunakan untuk melakukan mesum. Petugas kebersihan gedung itu, setiap malam acap menemukan dua atau tiga pasang mahasiswa/i yang asyik bermesum ria. "Ini sungguh memprihatinkan," ujar sumber itu.

Temuan tim SABILI di lapangan betul-betul menggiriskan. SABILI menerima informasi dari seorang yang melakukan penelitian dengan sampel dua apotik di dekat kampus. Diketahui, setiap Sabtu malam, alat kontrasepsi kondom sering terjual habis. Sayang, saat penelitian ini diajukan sebagai skripsi, dosen pembimbingnya menolak penelitian itu. "Dosen khawatir kalau menimbulkan preseden buruk buat mahasiswa," kata sumber itu.

Faktanya sudah jelas. Fenomena seperti ini ternyata tak hanya tejadi di dua kampus itu, tapi terjadi juga di beberapa kampus IAIN seperti IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Nampaknya, imej negatif yang timbul dari liberalisme sudah sangat mendarah daging. Meski demikian, tak ada kata terlambat jika ingin menyelamatkan IAIN yang sudah menjadi aset umat ini. Mulai sekarang, jalin ukhuwah dan satukan barisan, selamatkan IAIN.

Rivai Hutapea
Komentar Masuk (8 komentar)
Maaf sobat, bedakanlah antara pembaruan dengan pemurtadan. Jangan mau jadi mujaddid terlalu cepat dengan mengandalkan akal semata. Akal tidak bisa menjustifikasi wahyu karena akal sangat terbatas. Wahyu adalah kebenaran yang absolut dari Tuhan haqqul yaqin adanya bagi org briman. Kalo mau maju amalkan islam dengan sebenarnya. Cari dalam al-Quran apakah lebih banyak kalimat "afala ta'malun" dengan "afala ta'qilun"
#1. K b W at 2011-06-13 03:34:52
assalamu 'alaikum wr.wb.
saudara-saudaraku semua tak pelak lagi hal semacam diatas pasti akan dan telah terjadi, tidak hanya sekarang, namun hal demikian telah terjadi berabad-abad lamanya. islam adalah agama yang rahmatan lil 'alamin. dengan kejadian-kejadian yang begitu banyak dan mengancam hidup dan kehidupan ummat Islam, maka hal ini seharusnya membuat kita tambah dewasa baik dalam pemikiran, psikologi,keyakinan, komitmen ucapan, komitmen dalam perbuatan tidak hanya dijadikan wacana dan wacana, namun islam sebagai ajaran perlu dan wajib dijustifikasikan dalam keseharian; yakni memiliki keyakinan yang kokoh kepada Tuhan Yang Maha Esa , Allah yang Mencipta, Allah yang memelihara, Allah yang memberi rizki. dengan mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, meyakini hanya dengan mengikuti dan menghidupkan sunnah-nya, maka akan mendapatkan kebahagiaan di Dunia sementara dan akhirat yang selamanya, dan dibuktikan dengan menjaga solat serta membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah dalam solat kedalam kehidupan sehari-hari, dan selalu terus lagi dan lagi meningkatkan kualitas solat kita, karena dengannya, maka kita akan terhindar dari sifat dan perbuatan keji dan mungkar. ditambah dengan selalu ingin tahu kemudian belajar, membaca, menerjemah, mengerti, memahami, mengamalkan, menerima masukan dari orang lain, mengecek dan reecek, dan mengamalkan kembali. lalu bagaimana sedianya kita yang mengaku telah muslim ada hubungan dengan Allah, yaitu merasa dilihat didengar dan diketahui oleh -Nya kapanpun dan dimanapun kita berada. dan tak kalah pentingnya bagaimana kita dapat memuliakan saudara muslim dan menunaikan haknya tanpa kita menuntut hak darinya dan yang paling penting bagaimana beramal semata-mata karena Allah swt dan selalu ada usaha mengajak dengan mendatangi ummat agar beriman dan bertakwa serta taat kepada Allah swt dalam setiap saat dan keadaan, smoga Allah menambah rahmat dan menolong ummat Islam dalam segala urusannya. bagaimana siapkah diri kita untuk mewujudkan hal-hal diatas.....! Insya Allah berjaya.....
#2. ahmad halawi at 2011-04-17 13:45:37
Ya Rabb..
sudah sebegitu dangkaLkah pemikiran kita kpada agama Islam ini?
sehingga perintah aL-Qur'an masih harus dipertentangkan..
Ya ALLOH..
yang membolakbalikkan hati..
tetapkanlah hati ini pada agamaMu...
#3. syaRaH at 2010-02-09 17:14:54
@mahatma: perkataan anda ini merupakan cerminan rendahnya ilmu anda terhadap Islam. Sesungguhnya agama ini tidak tegak melainkan dengan ilmu dan amal. Bagaimana kita mau menang melawan kaum kuffar jika kita malah tasyabbuh (menyerupai) mereka? Kalla tsumma kalla, tidak, sekali kali tidak. Jalan yang terbaik ialah melalui dua cara: tasyfiyah dan tarbiyah. Tasyfiyah yakni mensucikan diri-diri kita, kaum muslimin, dari hal-hal yang berbau bid'ah, khurafat, dan tasyabbuh terhadap kaum kuffar dan tradisi jahiliyyah. Tarbiyah yakni melalui pendidikan, peningkatan ilmiyyah terhadap aqidah, hukum, fiqh, ibadah dan akhlah Islam sesuai dengan Al Qur'an dan As Sunnah MENURUT PEMAHAMAN PARA SHAHABAT DAN PARA SALAFUL UMMAH. Tidak ada keselamatan kecuali kita mengikuti pemahaman para sahabat, berdasarkan sabda Nabi tentang 3 generasi terbaik umat ini, yaitu generasi shahabat, tabi'in, tabiut tabi'in. Dan masih banyak lagi dalil tentang keharusan mengikuti pemahaman shahabat terhadap ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Karena mereka lebih a'lam (mengetahui ilmunya), ahkam (lebih berhukum terhadap hukum Islam), dan aslam (lebih selamat). Tidak syak lagi bahwa inilah yang lebih selamat, yang akan mengangkat kita dari jurang kebingungan atas banyaknya firqoh, golongan dan pemahaman2 yang sesat dan menyesatkan. Wallahu a'lam, dan saya berlindung kepada Allah dari semua keburukan.
#4. abu abdullah at 2008-11-26 05:33:23
assalamualaikum sahabat semua,tau ga KITA umat islam sudah banyak sekali cobaan,saya hanya berpesan,tolong jangan buat perpecahan pada umat islam sendiri,eratkanlah tali persaudaraan di antara kita,selagi kita masih punya niat baik,jangan pernah jadikan kan diri kita sebagai duri bagi umat islam itu sendiri,jangan sampai ALLAH menutup hati kita karena anggapan bahwa kita saja yang merasa benar,... jikaingin mengahancurkan, hancurkan saja orang yang ingin menghancurkan islam.... kita semua sama-sama ingin memasuki surgaNYA ALLAH.
#5. Rifa at 2008-11-25 04:47:51