Home » Agama » Ateisme » Ateisme di Dunia Arab
Muhamad Ali dan Ulil Abshar-Abdalla dalam diskusi tentang Ateisme di JIL. (Foto: IslamLib)
Muhamad Ali dan Ulil Abshar-Abdalla dalam diskusi tentang Ateisme di JIL. (Foto: IslamLib)

Ateisme di Dunia Arab

4.6/5 (5)

IslamLib – Pertanyaan apakah ateisme ada di dunia Arab mudah dijawab: ada. Tapi seberapa besar jumlah dan seperti apa ateisme di dunia Arab sulit dijawab secara pasti dan lengkap.  Sulit menentukan berapa jumlah ateis di dunia Arab karena tidak adanya statistik komprehensif.

Dār al-Iftā’ al-Miṣriyyah membuat laporan bahwa jumlah ateis di Mesir pada Desember 2014 adalah 866, tidak jelas dari mana sumbernya.  Sedangkan yang lain menyebut ateis di Mesir mencapai ribuan.

Untuk Saudi Arabia, WIN-Gallup Internasional menyebutkan 5 persen penduduk Saudi mengaku ateis, dan 19 persen mengaku tidak menjalankan agama, dari sekitar 29 juta penduduk. Mereka adalah sebagian dari ateis yang tersebar di seluruh dunia, yang menggunakan Facebook, Twitter, YouTube dan blogs. Ada ‘Tunisian Atheists’, yang memiliki 10.000 likes, ‘Syirian Atheists Network’, yang memiliki lebih dari 4.000 likes, dan banyak lagi.

Arab Atheist misalnya, mempunyai background: “I’am an Atheist…I Believe in hospitals before churches, good deeds before prayer, and reason before faith.” (Saat ini 1.660 orang likes). Salah satu sisi revolusi Arab yang kurang diperhatikan adalah munculnya Facebook Page dan akun twitter ateis dan agnostik di dunia Arab.

Ateisme tabu secara sosial dan politik di negara-negara Arab. Beberapa pertanyaan yang mengusik kita: sejak kapan ‘ateisme’ ada di dunia Arab? Bagaimana konteksnya dan mengapa menjadi ateis?  Mengapa ateisme Arab tampak makin banyak jumlahnya, dan makin terbuka di dunia?

Ateisme di Arab: Ilhad dan Label-label lain. Ada cukup banyak kata yang dialamatkan untuk ateisme di dunia Arab: zindiq, ilhad, la-diniyyah, la-adriyyah, dahriyyah, kufr, dan irtidad dengan arti dan pemakaian yang berbeda dan tergantung sang pemakai. Kata ilhad paling umum digunakan untuk memberi nama ateisme dulu dan sekarang, meskipun ilhad tidak mengandung kata Tuhan atau anti-Tuhan.

Ilhad lebih luas, mencakup segala pikiran dan perilaku yang dianggap ‘menyimpang’ dari jalan tengah yang lurus, dari din, agama.  Ilhad juga berarti cenderung kepada kezaliman dan keraguan pada Tuhan, yang taken for granted keberadaannya di dunia Arab. Orangnya disebut mulhid (tunggal) atau mulhidun (jamak).

Menurut Dr. Abdurrahman Badawi dalam Dirasah Islamiyyah Min Tarikh al-Ilhad fi al-Islam (1945), ilhad dalam konteks Islam dimulai dari pemikiran murni, sebagiannya menyimpang dari agama karena sebab-sebab fanatisisme kekauman (asyabiyyah qawmiyyah) yang membawa fanatisisme kepada agama nenek moyang mereka yang Majusi, Pemberhala, atau Manaisme, seperti Ibnu Muqaffa.

Sebagian lainnya menjadi zanadiqah karena lari dari tanggung jawab agama untuk mencari jalan-jalan kehidupan yang bebas dan lapang tanpa keraguan pikir seperti penyair Abu Nuwas. Dan sebagian lagi karena dua hal diatas (kesukuan dan kebebasan) seperti Abaan bin Abdul Hamid dan Ibnu al-Rawandi asal Persia. Ketiga jenis ilhad ini tidak sampai membuat mereka ragu akan atau menolak ketuhanan (ilahiyyah).

Sebelumnya zindiq (bentuk tunggal) atau zanadiqah (jamak), dialamatkan kepada orang-orang Manisme atau Manichaeanisme, yang percaya pada dualisme bahwa alam ini memiliki dua asal yaitu nur dan zulmah atau Muslim yang mempertahankan kepercayaan Persia itu, sebagai reaksi mereka melawan keAraban agama Muhammad.

Zindiq juga dialamatkan kepada orang yang menolak dogma Islam, menolak agama positif, dan mengakui moralitas semata. Sebagiannya orang-orang asketik di luar Islam dan dipengaruhi Hindu atau Buddha.

Di zaman Abbasiah, Khalifah Al-Ma’mun yang menjadikan Mutazilah sebaga mazhab resmi, mempersekusi kalangan Sunni yang menolak bahwa Al-Quran diciptakan. Khalifah Mahdi, kemudian, membentuk Shahibul zanaqidah yang bertugas mencari dan mempersekusi zanadiqah.

Pada 783 M, Khalifah Mahdi menghukum mati penyair Basysyar bin Burd, seorang skeptik yang suka berdebat dengan Washil bin ‘Atha, Amr bin ‘Ubayd, dan Salih bin Abdul Quddusy, yang juga dituduh dualis Manicean.

Kata zinqid kemudian melebar kepada siapa saja yang dianggap ahlu al-bid’ah, kepada setiap mulhid, bahkan kepada mereka yang bertentangan dengan mazhab Ahlus Sunnah.

Misalnya, seseorang yang belajar ilmu mantiq atau logika dianggap terpeleset kepada zandaqah karena ia terjerumus pada aksioma-aksioma dan kesimpulan-kesimpulan yang merusak keyakinan agama yang mestinya berujung pada serah diri saja.

Zandaqah juga mengandung arti pengingkaran (kufr) secara batin meski iman secara lahir. Badawi menyebut nama-nama lain yang masuk zanadiqah ini: Abu Ali Said, Abu Ali Raja, Abu Ali al-Nadim, Abu Syakir, dan Hisyam ibn Hakam (Syiah). Ada kalangan fahrasat, kalangan mutakallimun dan sastrawan.

Dari kalangan mutakallimun, ada Ibn Thalut dan Nu’man, keduanya guru Ibn Rawandi yang disebut diatas. Penyair Abu Nuwas tidak percaya jin dan malaikat. Mereka yang tidak mengerjakan fardhu-fardhu seperti puasa, solat dan haji juga masuk zanadiqah, yang ada di Basrah, Kufah, Mekah, Baghdad, dan lain-lain.

Penulis lain Abu al-‘Ala al-Ma’rif memasukkan banyak orang kedalam zanaqidah ini, termasuk penyair Abu Nuwas, Basysyar, Ibnual-Rawandi, dan Al-Hallaj, karena mereka menolak nabi dan kitab suci.

Padahal kata zindiq itu berasal dari Aramaya, Syria klasik, yang artinya ‘orang baik’ (righteous) serupa dengan kata Arab siddiq. Zaddiq masuk ke bahasa Persia menjadi zandiq yang digunakan orang Persia sebelum Islam dan zindiq adalah hasil Arabisasi zandiq itu.

Dalam kasus-kasus lain, kata “la-din” atau “la-diniyyah” digunakan sebagai padanan no-religion, atau non-religious, atau non-agama.  Kata lain yang digunakan adalah dahriyyah, antara lain merujuk pada satu ayat Al-Qur’an yang menggambarkan sekelompok manusia yang tidak percaya pada Tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan manusia.

Belakangan sekulerisme yang dibahasakan menjadi ilmaniyyah di Arab pun diasosiasikan dengan ilhad atau ateisme.

Konteks Arab Klasik dan Pertengahan. Latar belakang Arab pada umumnya adalah kepercayaan pada tuhan-tuhan (jin, ruh, dan sebagainya) yang kemudian disebut “Politeisme”. Agama-agama yang muncul adalah kritik terhadap kepercayaan kepada tuhan-tuhan itu, bukan pada keberadaan tuhan atau teisme.

Di Mekah, ada orang-orang yang dilabel zandaqa yang mempercayai dualisme asal Persia: bisa jadi Manichaesime atau bisa jadi Mazdakisme. Salah satu pengaruh Persia ada di dalam Al-Quran misalnya firdaws, surga.

Selain itu, ada hanafiyyah yang diartikan kecenderungan kepercayaan pada satu tuhan, jalannya Ibrahim, bapak dari orang-orang Arab melalui anaknya Ismail, yang tidak terkait dengan Yahudi ataupun Nasrani.

Sejarah Arab adalah sejarah yang lebih luas dari sekedar produk Arab, tapi sejarah panjang dan jauh wilayah Timur Dekat (the Near East) yang mencakup Mesir, Afrika Utara, dan bahkan Persia.

Abdurrahman Badawi yang disebut di atas, menganggap Ibnu Al-Rawandi sebagai ‘al-mulhid’ karena tulisan-tulisannya dalam Kitab al-Zamradz dan beberapa kitab lainnya.

Kitab lainnya, al-Damigh, memuat kecaman terhadap Al-Quran, penolakan mujizat-mujizat, penolakan ijaz Al-Quran, fungsi akal manusia sebagai satu-satunya metode bagi pengetahuan (bukan nabi-nabi). Islam dan syariat Islam bertentangan dengan akal, kritik kemutawatiran Islam, perkataan manusia itu kejadian yang alami, bukan berasal dari nabi-nabi; ilmu falaq dan musik tidak berasal dari nabi-nabi. (97)

Sesungguhnya kaum Brahmanisme berkata bahwa menurut kami akal itu karunia Allah yang paling besar kepada makhluknya; dengan akal lah diketahui Tuhan dan nikmat-nikmatnya, diketahui benarnya perintah dan larangannya dan ajakan dan peringatannya. (71)

Termasuk dari golongan “Barahimah” (Brahmanisme), seperti ditulis Al-Syahrastany dalam Al-Milal wa al-Nihal,disebut “barahimah” (mereka yang percaya Brahman) karena ia menegasikan nubuwwah sebagai sumber pengetahuan:

1) apa yang disabdakan Nabi bisa jadi masuk akal bisa jadi tidak masuk akal; jika masuk akal maka akal kita sudah cukup mengetahuinya (tanpa Nabi); jika tidak masuk akal maka tidak bisa diterima karena ia keluar dari batas manusia.

2) akal menunjukkan bahwa Allah itu bijak; zat yang bijak disembah oleh makhluk kecuali yang akal tunjukkan. Akal juga menunjukkan bahwa alam ini punya pencipta yang kuasa dan yang bijak, yang memberi nikmat kepada manusia yang harus berterima kasih. Jika kita kita membalas nikmat Tuhan itu, kita akan dapat pahala dan jika mengingkarinya kita dapat hukuman. Semua itu cukup akal tanpa nabi.

3) perintah-perintah ibadah seperti menghadap rumah yang khusus, tawwaf disekelilingnya, sai dan melempar batu, dan mencium batu, semuanya bertentangan dengan akal.

Termasuk ‘mulhid’ menurut Badawi adalah Jabir bin Hayyan, dalam bidang kimia. Ilmu ‘takwin’ (pengadaan) ia anggap sebagai ‘shina’ah’ (penciptaan), sehingga memungkinan proses pada bagian-bagian tanaman dan hewan digunakan dalam penciptaan anggota-anggota tubuh manusia. (Badawi, 189).

Proses alami ini dianggap menegasikan intervensi Tuhan.  Ilmu “al-mizan” (keseimbangan) adalah ilmu penciptaan alamiyah kimiawi yang menyebabkan ada dan tidak ada, tumbuh dan rusak di dalam alam.

“Jika ada jalan menciptakan sesuatu yang alami maka saya akan temukan jalan kedua.” (Badawi, 189)

Ini pandangan produksi manusia dengan penciptaan, human, dan social engineering.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.