Home » Agama » Ateisme » Ateisme di Dunia Arab
Muhamad Ali dan Ulil Abshar-Abdalla dalam diskusi tentang Ateisme di JIL. (Foto: IslamLib)

Ateisme di Dunia Arab

4.6/5 (5)

Selain itu, Muhammad bin Zakaria al-Razi, dokter, kimiawan, filosof, juga dianggap mulhid. Dalam kitab al-ilm al-Ilahi dan kitab Makhariq al-Anbiyah, Al-Razi berpendapat cukup akal saja mengetahui baik dan buruk tanpa nabi-nabi. Misalnya dalam kitab Al-Thib al-Ruhani:

“Pencipta –yang mulia nama-Nya– telah mengkaruniai kita akal dan mencintai kita dengannya supaya kita mencapai manfaat cepat dan lambat dan bisa mencapai tujuan; akal adalah nikmat Allah yang paling besar dan sesuatu yang paling berguna ..Akal juga bisa mengetahui Tuhan dan nikmat-nikmatnya….” (dalam Al-Badawi, 166).

Tidak ada kelebihan manusia atas manusia lainnya, karena semua sama akal dan budinya. Nabi-nabi juga berbeda dan berselisih sesama mereka meskipun sumbernya satu Allah.

Al-Razi tidak hanya mengkritik Islam, tapi juga mengkritik agama-agama yang ada karena penuh khayalan-khayalan dan pertentangan-pertentangan.

Tentang Yahudi, Al-Razi mengkritik kontradiksi-kontradiksi dalam Taurat. Misalnya tentang Tuhan yang awal dan tidak diciptakan, tetapi di sisi lain Tuhan mengurus angin-angin. Juga penggambaran Tuhan dalam bentuk tubuh manusia, seperti Tuhan umpama Syaikh yang putih rambut dan janggutnya. (Al-Badawi, 171).

Ia kritik juga ketuhanan Trinitas, Majusi, Manaisme, dan kemudian mengambil kesimpulan inkonsistensi kenabian secara keseluruhan. Bagi Al-Razi, perselisihan Al-Qur’an dengan apa yang diyakini Yahudi dan Nasrani mengenai pembunuhan Isa menujukkan bahwa kitab-kitab suci secara umum adalah dusta.

Badawi menganggap Al-Razi sebagai mulhid karena ia menolak kenabian secara umum: ”Kalau banyak kontradiksi dan khayalan, mengapa mayoritas manusia menerima itu  dan hanya sedikit saja yang mengikuti filsuf dan para rasionalis itu?” (173).

Bagi Al-Razi, berpikir tentang Tuhan sama pentingnya dengan berpikir tentang ciptaan-ciptaannya. Al-Razi menulis, “ketika orang-orang itu ditanya dalil-dalil akliyyahnya, mereka langsung marah, menghalalkan darah, dan melarang berpikir.” (173).

Bagi Al-Razi, keberagamaan itu karena faktor taqlid, kekuasaan, kelemahan manusia laki-laki dan perempuan dan anak-anak, dan kontinuitas doktrin sehingga menjadi tradisi. (174)

Menurut Al-Razi, para filsuf menemukan ilmu-ilmu dengan kedalaman pikiran-pikiran dan kelembutan naluriah mereka dalam karya-karya kedokteran, astronomi, hukum, teknik, dan sebagainya, tanpa bantuan nabi-nabi. (180)

Singkatnya, Al-Razi mempercayai adanya tuhan pencipta, tapi tidak mempercayai kenabian dan agama-agama berdasarkan akal yang bebas tanpa taqlid dan kekuasaan. (Badawi, 186).

Sarah Stroumsa menyebut Ibnu Al-Rawandi dan Al-Razi sebagai Freethinkers of Medieval Islam. Associate Professor Teologi di Georgetown University, Paul Heck menyebutnya “skeptics” di zaman Islam klasik yang menurutnya menunjukkan keraguan (doubt) dan kebingungan (confusion) dalam berpikir semata.

Skeptisisme ini tidak sama dengan ateisme. Skeptisisme artinya orang tidak bisa secara meyakinkan membuktikan klaim kebenaran dengan pasti, dan para sarjana Muslim, seperti al-Jahiz (w. 869), al-Amiry (w.992), al-Ghazali (w. 1111), dan Ibnu Taimiyyah (w. 1328) mengakui dan mengalami keraguan-keraguan.

Asy’ariyah misalnya, seperti disebut Ibn Hazm, berpendapat bahwa “seseorang bukanlah Muslim sampai dia ragu akan Allah.” Karena itu, mereka berusaha untuk merasionalisasi iman Islam itu.

Mulhidun dalam ruh Arabiyah ditujukan kepada penolakan pemikiran kenabian dan nabi-nabi, bukan secara langsung menolak Tuhan (sebagaimana dalam peradaban-peradaban lain seperti Yunani dan Barat). Namun demikian, kedua jenis ilhad ini berujung pada penolakan agama.

Sejarah filsafat dalam bahasa Arab (baik oleh kebanyakan Muslim, Yahudi dan Kristen yang berbahasa Arab, di tanah Arab, maupun di belahan lain yang ter-Arabkan) tidak menyinggung ateisme sebagai fokus perhatian mereka.

Karya Al-Ghazali (w.1111), Faysal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-zandaqah, berkutat pada zandaqah, tapi tidak membahas ateisme dalam pengertian tidak bertuhan. Para filsuf Arab lebih berkonsentrasi pada rekonsiliasi akal dan wahyu ketimbang menolak Tuhan.

Sejarah literatur Arab pun memiliki konteks kepercayaan-kepercayaan dan agama-agama, yang tidak berarti anti keberadaan Tuhan.

Bagi Ghassan Abdullah yang menulis “Kaum Rasionalis di Arab”, sekulerisme baru lahir di Arab pada awal abad ke-20. Dengan karya-karya seperti Ali Abdul Raziq, Taha Hussein, Sadiq Jalal al-Azm, Farag Fauda, Muhammad Syahrur, dan Georgy Kanaan, sekulerisme Arab bukanlah sesuatu yang benar-benar baru.

Benih-benih ateistik, baik tersurat maupun tersirat, telah ada sejak lama. Tulisan-tulisan dan kelompok-kelompok diskusi bermunculan aktif di banyak tempat.

Di zaman moderen, karena agama masih begitu kuatnya dalam masyarakat dan politik Arab maka kritik pemikiran keagamaan menjadi sangat krusial. Hanya saja, kebebasan berpikir (free-thought) dalam arti anti keberadaan Tuhan baru dibahas secara terbuka di abad moderen dan lebih-lebih di zaman kontemporer.

Konteks Arab modern dan kontemporer. Kalangan ateis pada abad ini umumnya disebut lawannya sebagai ‘al-mulhidun al-judud’ (new atheists). Nama-nama lain adalah ex-Muslims, Former Muslims, agnostics, atau just atheist. Pengaruh globalisasi dan akses informasi yang cepat dan murah menyebabkan terbukanya individu-individu yang ragu dan menolak agama.

Internet dan media sosial yang dihasilkan membuat yang sendirian menjaditerbuka dan publik. Individu-individu menjadi kolektif dan yang kolektif makin terorganisir. Sense of connectedness dan sense of community menguat.

Karya antropologis Samuli Schielke tentang ‘being a non-believer’ di Mesir kontemporer menarik dan penting. “Non-belief” lebih mencakup ilhad, la-diniyya, dan ateisme, yang tidak selalu sama. Di Mesir, non-belief atau sikap meragukan dan ketidakberagamaan bukanlah sesuatu yang asing di dunia Arab.

Sikap ateistik, agnostik, tidak semata-mata hasil dari pengaruh ateisme Barat sekuler maupun pengaruh Kristen atau Yahudi. Ateisme di Mesir kontemporer merupakan respons ketidakpuasan moral terhadap kebangkitan Islam, meskipun beberapa klaim mereka dipinjam dari terminologi Barat dan global.

Schielke mewancarai tujuh orang yang ia beri nama bukan nama aslinya: Sayyid guru sekolah, Shadiya aktifis LSM, Abd al-Halim karyawan TV negeri, Makkawi aktor teater, Salah pengacara, Layla pengacara dan Fayruz mahasiwa ekonomi dan aktifis LSM.

Fayruz menganggap dirinya Muslim; Layla dan Abd al-Halim menyebut diri masing-masing agnostik; yang lainnya menyebut diri mereka ateis.

Di Mesir, warga harus memilih salah satu agama resmi Islam, Yahudi atau Kristen.  Mayoritas 90% Muslim, minoritas Kristen, yang setelah 1970an membangun gerakan-gerakan revivalis. Jumlah non-believers sedikit tapi penting meskipun tersebar, tidak terorganisir sebagai sebuah gerakan.

Di Mesir, definisi umum ‘non-belief’ adalah jika  mempertanyakan Tuhan dan atau Muhammad. Dalam pembentukan ateisme, bacaaan membawa pengaruh penting, seperti filsafat Arab, mistisisme Islam, filsafat dan teori sosial Eropa seperti Nietzsche dan Marx, karya-karya sekuleris Arab, sastra Arab tahun 1950s dan 1960s, dan buku-buku dunia terjemahan. Mereka juga membaca Al-Quran, hadis dan historiografi Islam  awal.

Bacaan-bacaan ini menjadi grounds, konteks dan latar belakang mengapa mereka menjadi kritikal, agnostik, dan bahkan ateis. Mirip dengan kemunculan ateisme dan teologi liberal di Eropa abad ke-18 dan ke-19 yang seiring dengan kritik terhadap Bibel, maka di Mesir pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 ateisme seiring dengan kritik terhadap Al-Quran dan Muhammad.

Di sini menarik kita kutip beberapa hasil wawancara Schielke dengan masing-masing mereka.

Shadiya: Kami ingin anak kami sekolah tanpa pelajaran agama. Tapi kita tidak akan bisa karena itu hanya di sekolah-sekolah internasional yang mahal.. Kalau masuk sekolah biasa saya bayangkan anak saya akan bertanya:”kok mamah gak pake jilbab?”, “kok mamah tidak solat”. Karena dia masih kecil saya belum bisa katakan saya tidak melakukan itu karena saya tidak percaya Tuhan karena dia akan bercerita kepada teman-temannya dan kita akan dipermasalahkan nanti. Saya gak tahu harus bagaimana.

Namun demikian, Shadiya mengakui ia tinggal di lingkungan budaya Islam: minum teh di rumah tetangga, sebagai budaya ramah kepada tamu. Ia menganggap ateisme sebagai bebas dari rasa takut dan intoleransi. Agama baginya sumber perang dan marjinalisasi banyak orang.

Perhatian Abd al-Halim adalah kemajuan sosial, sains, dan rasionalitas. Dia agnostik, tidak peduli tuhan ada atau tidak ada. Dia menyaksikan ideologi agama yang tidak rasional dan penuh kontradiksi. Makkawi, mantan anggota Ikhwanul Muslimin, karena mereka mengharamkan seni dan melihat kontradiksi-kontradiksi Islam.

Layla juga agnostik tapi spiritualis. Salah dan Sayyid teman yang suka ngobrol bersama mempertanyakan banyak hal dalam Islam, meskipun mereka belum yakin juga tentang masalah penciptaan vs teori evolusi.

Meskipun mereka berbeda, mereka memiliki dua karakteristik yang sama: kejengkelan pada hipokrasi, kontradiksi dan kemalasan orang untuk berdiskusi serius tentang agama; perhatian mereka pada makna dan praktek keadilan (orang beragama bicara adil tapi berperilaku tidak adil).

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.