Home » Agama » Ateisme » Binatang Jalang: Asal-Usul Tuhan dan Agama

Binatang Jalang: Asal-Usul Tuhan dan Agama Makalah Diskusi

4.03/5 (111)

Imajinasi Kolektif. Bagaimana kita bisa memahami sesuatu yang bermula dari kebetulan dan gosip menjadi hal yang sangat besar dan mempengaruhi kehidupan begitu banyak orang? Bagaimana kita bisa menerima peran suatu lembaga yang terlahir dari “delusi” seseorang bisa menjadi institusi yang begitu kuat dan ampuh dalam menyatukan manusia? Harari punya cara sendiri menjawab pertanyaan ini, dengan memberikan sebuah analogi perusahaan mobil.

Peugeot adalah perusahaan mobil asal Perancis yang sejarah pendiriannya persis seperti sebuah pendirian agama. Ia dimulai dari “delusi” pendirinya, Armand Peugeot (1849-1915). Armand adalah seorang anak pengusaha pengolah besi yang senang melamun dan berkhayal.

Dia berkhayal bahwa suatu ketika manusia bisa bergerak dari suatu tempat ke tempat lain menggunakan kendaraan yang cepat, efisien, dan terjangkau. Setelah menamatkan kuliahnya dan berkunjung ke sebuah perusahaan pembuat sepeda di Inggris, dia bertekad mewujudkan mimpinya.

Bukan soal “khayalan menjadi kenyataan” Armand yang mengusik Harari dalam kasus Peugeot, tapi bagaimana sebuah perusahaan yang bermula dari seorang penghayal kini bisa mengelola 200 ribu pegawai di seluruh dunia, memproduksi lebih dari 1,5 juta unit mobil setiap tahun, dan mengumpulkan pendapatan tak kurang dari 55 miliar Euro? Bagaimana Peugeot sebagai sebuah institusi bertahan dan dipercaya begitu banyak orang? (pertanyaan yang sama sebetulnya bisa kita ajukan kepada Apple, Sonny, Bvlgari, Giorgio Armani, Manchester United, dan Real Madrid).

Jawabannya adalah manajemen mitos. Harari menyebutnya “imajinasi kolektif.” Agar perusahaannya sukses, Armand Peugeot membuat sebuah produk (yakni mobil) dan sejumlah mitos. Lewat tim kreatif dan tim pemasaran yang dibentuknya, Armand berusaha meyakinkan para pembeli potensialnya bahwa mobilnya adalah produk otomotif terbaik, ternyaman, terefisien, dan seterusnya. Tentu saja, sebagian dari promosi ini adalah nyata, tapi sebagian lainnya adalah mitos-mitos yang direkayasa. Mitos-mitos ini perlahan-lahan membentuk suatu bayangan dalam benak pembeli tentang citra Peugeot.

Dengan mengelola mitos, Armand Peugeot berhasil membangun sebuah merek kendaraan yang memiliki pengikut fanatik yang jumlahnya tak kurang dari 1,5 juta orang pertahun. Agama, kata Harari, berjalan dengan logika yang mirip Peugeot.

Para nabi dan pendeta punya kemiripan dengan Armand Peugeot dalam mengelola mitos. Mereka dan penerusnya (kiai, ulama, ustad, dll) berlomba-lomba mempromosikan produk mereka dengan kemasan-kemasan menarik dan gimmick yang membuat orang mau “membeli,” persis seperti Peugeot, Apple, Bvlgari, dan perusahaan-perusahaan modern memasarkan produk mereka.

Imajinasi kolektif tentang sebuah perusahaan yang sudah terbentuk tak akan mudah hilang, kendati para pendirinya sudah meninggal. Musa, Isa, Muhammad, Armand Peugeot, Steve Jobs, boleh saja meninggal, tapi “agama” yang mereka warisi terus bertahan hidup sampai sekarang dan mungkin hingga beberapa generasi mendatang.

Kunci Sukses Agama. Tidak semua perusahaan bisa sukses bertahan. Begitu juga agama. Sepanjang sejarah Sapien, ada ribuan agama pernah diciptakan manusia. Sebagian besar bangkrut dan punah tak berbekas. Hanya sedikit yang bisa bertahan, dan dari yang sedikit ini, hanya kurang dari hitungan jari tangan kita yang benar-benar menuai sukses.

Apa rahasia dan kunci sukses sebuah agama? Mengapa Kristen dan Islam begitu sukses menuai pengikut tapi tidak dengan Zoroaster dan Manicheanisme? Jawabannya tak ada hubungannya dengan metafisika, misalnya “karana diridai Allah” atau “karena agama yang satu itu paling benar.” Para sejarawan tidak tertarik dengan jawaban-jawaban semacam ini. Buat mereka, fakta sejarah lebih penting untuk diungkapkan ketimbang tebakan-tebakan yang tak berdasar.

Menurut mereka, salah satu sebab mengapa Kristen begitu sukses berekspansi di muka Bumi hingga kini menjadi agama terbesar di dunia adalah karena faktor sejarah plus peristiwa acak yang terjadi secara kebetulan. Di dunia di mana manusia tak tahu mana belokan dan mana ujung, segala hal bisa terjadi. Buat kaum Evolusionis, kebetulan adalah ibu dari segala arsitek.

Para sejarawan menulis bahwa kunci sukses agama Kristen terletak pada figur Konstantin, kaisar Romawi yang berkuasa pada abad ke-4 M. Ketika mulai berkuasa, Konstantin menghadapi persoalan serius di kerajaannya. Dia menyaksikan konflik dan perang saudara yang tak berkesudahan. Tiba-tiba ide jenius mampir di kepalanya. “Mungkin sedikit dosis agama bisa mengatasi persoalan yang aku hadapi,” pikirnya.

Pertanyaannya adalah mengapa Konstantin memilih Kristen, padahal di mejanya tersedia beberapa pilihan: Manicheanisme, Mithraisme, Budhisme, Zoroastrianisme, dan yang paling akrab di telinganya, Yahudi? Tak ada yang tahu pasti mengapa kaisar agung itu memilih Kristen.

Para Teolog memberikan penjelasan –yang lagi-lagi– tak memuaskan: karena “hidayah” atau petunjuk dari Allah. Para sejarawan memilih penjelasan lain yang lebih bisa diterima: untuk mereorganisasi kekaisaran Romawi yang semakin besar dan mengatasi konflik internal yang semakin meningkat.

Beragam penjelasan itu sebetulnya tak terlalu penting. Yang penting untuk dicatat adalah fakta bahwa Kristen menuai sukses karena telah dipilih oleh penguasa terkuat di muka Bumi pada saat itu sebagai agama resmi negara (meskipun pengumuman resminya baru terjadi beberapa generasi sesudah Konstantin). Jika bukan Kristen yang dipilih oleh Konstantin, sudah pasti, nasib agama ini memiliki trajektori yang berbeda dari yang kita lihat sekarang.

Penjelasan yang sama kurang-lebih bisa diterapkan pada Islam. Unifikasi kabilah-kabilah Arab yang terpecah merupakan alasan yang kerap kita baca dalam buku-buku sejarah awal pembentukan Islam. Tak pernah ada “ideologi” yang bisa menyatukan klan-klan Arab se-efektif Islam.

Kajian-kajian sosiologis tentang sejarah awal Islam menunjukkan bahwa faktor unifikasi dan motif pragmatis seperti keinginan memperoleh rampasan perang dan budak, merupakan faktor penting mengapa Islam cukup diminati orang-orang Arab dan sekitarnya pada waktu itu.[2]

Penutup. Keberhasilan Kristen dan Islam menjadi agama dengan pengikut terbesar di dunia sekarang ini memiliki konteks kesejarahan yang membuatnya berkembang sedemikian rupa. Para teolog umumnya selalu memberi kredit keberhasilan sebuah agama kepada hal-hal yang bersifat adikodrati (Tuhan).

Tapi, bagi para sejarawan, konteks kesejarahan sangatlah penting untuk menjelaskan setiap peristiwa kemanusiaan (humanness) yang terjadi. Agama adalah peristiwa kemanusiaan yang memiliki dimensi-dimensi non-manusiawi.

Sebagai peristiwa kemanusiaan, agama bisa dijelaskan secara gamblang, asal-usul, sejarah, dan perkembangannya. Bahkan, dimensi-dimensi non-manusiawi yang dalam Filsafat dijelaskan begitu rumit, oleh Harari ditundukkan dalam sebuah penjelasan gamblang dengan bukti-bukti ilmiah yang meyakinkan.

Bagi Harari, konsep-konsep metafisika adalah hasil kreatifitas manusia sebagai konsekuensi dari “revolusi kognitif” dan “mutasi pohon pengetahuan” yang terjadi dalam sejarah panjang evolusi homo sapiens.

—-

Makalah diskusi buku Yuval Noah Harari, Sapiens: A Brief History of Humankind (Random House, 2014). Disampaikan di Jaringan Islam Liberal (JIL), 30 Oktober 2015.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.