Home » Agama » Ateisme » Binatang Jalang: Asal-Usul Tuhan dan Agama

Binatang Jalang: Asal-Usul Tuhan dan Agama Makalah Diskusi

4.02/5 (110)

IslamLib - Ada banyak sekali aspek yang menarik dari buku Yuval Noah Harari, Sapiens: A Brief History of Humankind (Random House, 2014). Jika Anda seorang Antropolog, bagian-bagian awal buku ini seperti sebuah muhibah ke masa silam yang mengasyikkan. Jika Anda seorang peminat Sains, uraian tentang Revolusi Ilmiah adalah bagian paling menyenangkan untuk disimak.

Jika Anda seorang Ekonom atau seorang peminat studi Ilmu Politik, penjelasan tentang peran uang dan imperium dalam sejarah unifikasi manusia, menjadi bab yang tak boleh dilewatkan. Jika Anda seorang Filsuf dan tertarik dengan isu-isu etika dan teknologi, bagian-bagian akhir dari buku Harari merupakan risalah penting yang patut direnungkan.

Namun, bagi pemerhati agama seperti saya, bagian paling menarik dari buku Harari tentulah penjelasannya tentang sejarah munculnya agama. Uraian Harari tentang isu ini cukup genuine dan penuh kejutan. Sebetulnya, Harari menggunakan data-data yang sama yang biasa dirujuk para sejarawan dan ilmuwan sosial lain. Tapi, cara dia menyajikan data-data itu, mengurainya, dan kemudian men-twist-nya dengan tafsirnya sendiri, memberi kita cakrawala pemahaman baru.

Sejarah agama adalah bagian kecil dari sejarah panjang umat manusia. Tapi, pengaruh agama dalam membentuk peradaban manusia sama sekali tidak kecil. Secara khusus, Harari menyebut peran agama dalam menyatukan manusia sama pentingnya dengan uang dan imperium. Agama, uang, dan imperium, adalah tiga instrumen kunci yang membentuk dan menentukan arah peradaban dunia.

Revolusi Kognitif. Dari mana datangnya agama? Jika Anda menjawabnya dengan “dari Tuhan” atau “dari nabi,” sungguh bukan sebuah jawaban yang memuaskan. Dan, tentu saja, jawaban semacam ini tidak tersedia dalam literatur Ilmu Sejarah.

Jawaban semacam ini bukan hanya tak memuaskan, tapi juga melahirkan ketidakjelasan-ketidakjelasan lain yang menjadi medan perdebatan tak berujung para teolog dan filsuf. Apa itu Tuhan? apakah Tuhan ada? bagaimana keberadaannya? adalah pertanyaan-pertanyaan teologis yang lebih banyak mengaburkan ketimbang menjelaskan. Tak ada gunanya berdebat tentang sesuatu yang bikin kabur.

Harari punya jawaban jitu tentang dari mana datangnya agama dan dari mana asal-usul Tuhan. Menurutnya, jawabannya ada di sebuah fase dalam sejarah manusia yang dia sebut era “revolusi kognitif.” Revolusi kognitif terjadi antara 70 ribu hingga 30 ribu tahun yang lalu.

Ini adalah masa-masa yang sering dirujuk para antropolog dan sejarawan sebagai “tahun-tahun yang menentukan bagi sejarah Bumi.” Menentukan karena pada masa inilah terjadi perubahan besar pada diri salah satu penghuni planet ini: Sapien.

Sebelum masa-masa itu, semua penghuni Bumi memiliki hirarki yang tunduk pada sebuah rantai-makanan (ekosistem) yang ajek selama berjuta-juta tahun. Tidak ada penghuni superior yang bisa melawan ekosistem itu: ikan, reptil, unggas, mamalia, primata, semua tunduk pada hukum besi-nya. Revolusi kognitif mengubah segalanya. Salah satu dari penghuni itu, yang kita kenal dengan sebutan “homo sapien” keluar dari kumpulan yang terbuang.

Istilah “homo sapien” (manusia bijak) sesungguhnya adalah penamaan curang yang sama sekali tidak mewakili perilaku spesies itu. Kata Harari, ini adalah klaim subyektif (self-claim) yang mencerminkan rasa superioritas manusia di atas spesies-spesies lain.

Manusia merasa dirinya sebagai makhluk yang bijak, padahal jika kita simak riwayat Bumi 70 ribu tahun terakhir, yang terjadi adalah rusaknya ekosistem dan punahnya ribuan spesies yang tak pernah ada presedennya dalam sejarah planet ini. Untuk menyebut satu contoh saja: 23 dari 24 spesies unik yang ada di Australia, punah pada masa 10 ribu tahun terakhir, berbarengan dengan ekspansi Sapien di benua itu.

Jika saja Chairil Anwar, penyair agung itu, hidup pada zaman penamaan-penamaan (binomial nomenclature) dan sempat bertemu Carl Linneus (1707-1778), Bapak Taksonomi Modern, mungkin dia akan mengusulkan istilah yang lebih tepat. Nomenklatur yang pas buat menyebut homo sapien adalah “binatang jalang,” bukan “manusia bijak.” Menyimak petualangan manusia selama 70 ribu tahun terakhir, kita tidak bisa mengambil kesimpulan lain untuk menyebut homo sapien selain kata itu.

Tidak ada yang tahu secara pasti mengapa revolusi kognitif itu terjadi pada Sapien (sang binatang jalang). Juga, tak ada yang tahu secara pasti mengapa revolusi itu terjadi pada rentang masa 70-30 ribu tahun yang lalu. Teori yang sangat populer di kalangan ilmuwan mengapa revolusi kognitif muncul pada rentang masa itu adalah karena terjadinya mutasi genetis pada syaraf-syaraf manusia (Sapien), yang memungkinkan mereka berpikir dengan cara yang sama sekali berbeda dengan sebelum-sebelumnya dan berkomunikasi menggunakan sistem bahasa yang sama sekali baru.[1]

Harari menyebutnya “mutasi Pohon Pengetahuan.” Mengapa mutasi ini terjadi pada Sapien dan tidak pada Neanderthal atau spesies-spesies hominid lainnya? Jawabannya sangat evolusionis: “it was a matter of pure chance” alias kebetulan saja.

Jawaban ini mungkin tidak memuaskan Anda. Tapi, perlu dicamkan baik-baik: dalam teori evolusi, kebetulan adalah pembimbing perubahan paling setia. Lagi pula, seperti kata Harari, yang paling penting buat kita bukanlah mencari sebab mengapa mutasi itu terjadi.

Ada jutaan mutasi terjadi sepanjang sejarah makhluk hidup di Bumi. Tak ada yang spesial dengan mutasi. Yang lebih penting untuk kita selidiki adalah konsekuensi-konsekuensi yang terjadi akibat mutasi yang satu ini. Tak pernah ada mutasi sedahsyat mutasi Pohon Pengetahuan.

Salah satu dampak langsung dari mutasi Pohon Pengetahuan adalah munculnya kemampuan berbahasa pada Sapien yang tidak terjadi pada spesies-spesies lain. Bahasa bukanlah unik milik manusia. Setiap hewan (Sapien adalah bagian dari hewan –yang jalang) memiliki bahasa untuk mereka berkomunikasi: lebah, semut, unggas, menggunakan bahasa khusus untuk mereka saling menyampaikan komunikasi.

Bahasa vokal (suara) juga bukan unik milik Sapien. Monyet, kera, gajah, dan lumba-lumba menggunakan beragam suara untuk menyampaikan komunikasi. Yang membedakan bahasa Sapien dari bahasa-bahasa spesies lainnya adalah kelenturannya. Inilah kunci untuk menjawab seluruh teka-teka yang selama ini menjadi persoalan kita: metafisika.

Seekor beo bisa menirukan kata-kata manusia. Tetapi, kita tahu, mimicking adalah hal terbaik yang bisa dicapai beo. Dia tak bisa melakukan lebih dari itu. Dengan fleksibilitasnya, manusia bisa menggunakan dan memanipulasi bahasa untuk melahirkan makna-makna baru. Beberapa kata yang digabungkan sedemikian rupa bisa menghasilkan beragam makna yang diinginkan.

Bahasa manusia yang lentur menghasilkan konsep dan pemahaman yang tak terbatas. Dengan bahasa yang luwes itu, manusia bisa melahirkan konsep-konsep yang nyata dan tidak nyata, menggambarkan yang fiksi dan non-fiksi, merekayasa figur-figur fisik dan metafisik. Dengan kemampuan bahasanya yang tak terbatas, sang Binatang Jalang menciptakan apa saja yang hinggap dalam benaknya: roh, setan, jin, malaikat, dewa, dewi, tuhan, tuhan bapak, tuhan anak, dan seterusnya.

Kekuatan Imajinasi. Konsekuensi berikutnya dari mutasi Pohon Pengetahuan adalah kekuatan imajinasi yang dimiliki manusia. Imajinasi pada mulanya adalah bagian dari memori untuk menyampaikan sebuah pesan. Beberapa spesies hewan memiliki imajinasi yang sederhana tentang pengalaman yang dilaluinya untuk disampaikan kepada temannya yang lain.

Para pakar Zoologi mencatat bahwa seekor monyet bisa menyampaikan sebuah pesan bahaya kepada rekan-rekannya. Jika seekor monyet mendapatkan seekor macan di jalan, dia akan menyampaikan pesan itu kepada teman-temannya agar jangan lewat jalan itu. Tapi, ini hal terbesar yang bisa dilakukan monyet. Sapien bisa melakukan imajinasi yang jauh lebih kompleks dari ini.

Bukan hanya memberikan pesan bahaya jika seseorang melihat macan di jalan, tapi dia akan menjelaskan secara detil di mana lokasinya, ada berapa ekor macan yang dilihat, ukurannya, dan seberapa bahaya ancamannya. Manusia juga bisa menambahkan cerita-cerita lain yang relevan maupun tidak relevan dengan pengalaman yang dilewatinya.

Dengan kekuatan imajinasinya, manusia tak hanya sekedar mampu menyampaikan pesan, tapi juga merekayasa dan mengarang pesan; mengurangi atau melebih-lebihkan pesan itu. Dalam kasus-kasus tertentu, manusia senang menciptakan kisah-kisah yang dia rekayasa dari pengalamannya sendiri, yang dia bumbui dengan drama yang dia ciptakan dari imajinasinya sendiri.

Konsep-konsep di luar dunia inderawi (metafisika), menurut Harari, muncul dari kekuatan imajinasi manusia terhadap pengalaman yang dilewatinya. Jika imajinasi itu disimpan sendiri, ia tak menjadi apa-apa, tapi jika disampaikan dan diceritakan kepada orang lain, ia bisa menjadi dongeng, hikayat, dan kisah suci (yang jika ditulis, menjadi “kitab suci”).

Begitu juga, imajinasi-imajinasi Sapien tentang figur-figur yang dia bayangkan, seperti kuda bersayap, unta berkepala wanita, malaikat terbang, tak akan menjadi masalah jika hayalan itu dia simpan sendiri. Hayalan itu baru akan bermasalah (atau bermakna) jika disampaikan kepada orang lain.

Jika imajinasi ini diterima dan diikuti oleh orang banyak, diceritakan, diagungkan, dan disucikan, pemilik imajinasi itu punya potensi menjadi “nabi.” Seluruh sejarah kenabian (dan agama) bermula dari imajinasi dan pengalaman pribadi seseorang yang diceritakan kepada orang lain.

Ada satu konsep menarik yang disinggung Harari dalam bukunya, yakni “gosip.” Seperti yang kita jumpai sehari-hari, gosip adalah medium paling ampuh untuk menyebarluaskan pesan. Menurut Harari, gosip telah membantu bahasa Sapien berkembang dengan pesat dan berevolusi sedemikian rupa.

Gosip tak hanya berfungsi sebagai penyampai pesan, tapi juga untuk memoles, menambahkan, melebih-lebihkan, dan merekayasa suatu pesan. Gosip tak hanya menceritakan tentang sesuatu yang ada, tapi juga tentang sesuatu yang tidak ada. Konsep-konsep besar seringkali bermula dari sebuah gosip. Gosip tentang Si Pulan yang hobinya bersemedi di dalam goa dan kadang-kadang kesurupan bisa berujung pada munculnya seorang nabi baru.

Imajinasi Kolektif. Bagaimana kita bisa memahami sesuatu yang bermula dari kebetulan dan gosip menjadi hal yang sangat besar dan mempengaruhi kehidupan begitu banyak orang? Bagaimana kita bisa menerima peran suatu lembaga yang terlahir dari “delusi” seseorang bisa menjadi institusi yang begitu kuat dan ampuh dalam menyatukan manusia? Harari punya cara sendiri menjawab pertanyaan ini, dengan memberikan sebuah analogi perusahaan mobil.

Peugeot adalah perusahaan mobil asal Perancis yang sejarah pendiriannya persis seperti sebuah pendirian agama. Ia dimulai dari “delusi” pendirinya, Armand Peugeot (1849-1915). Armand adalah seorang anak pengusaha pengolah besi yang senang melamun dan berkhayal.

Dia berkhayal bahwa suatu ketika manusia bisa bergerak dari suatu tempat ke tempat lain menggunakan kendaraan yang cepat, efisien, dan terjangkau. Setelah menamatkan kuliahnya dan berkunjung ke sebuah perusahaan pembuat sepeda di Inggris, dia bertekad mewujudkan mimpinya.

Bukan soal “khayalan menjadi kenyataan” Armand yang mengusik Harari dalam kasus Peugeot, tapi bagaimana sebuah perusahaan yang bermula dari seorang penghayal kini bisa mengelola 200 ribu pegawai di seluruh dunia, memproduksi lebih dari 1,5 juta unit mobil setiap tahun, dan mengumpulkan pendapatan tak kurang dari 55 miliar Euro? Bagaimana Peugeot sebagai sebuah institusi bertahan dan dipercaya begitu banyak orang? (pertanyaan yang sama sebetulnya bisa kita ajukan kepada Apple, Sonny, Bvlgari, Giorgio Armani, Manchester United, dan Real Madrid).

Jawabannya adalah manajemen mitos. Harari menyebutnya “imajinasi kolektif.” Agar perusahaannya sukses, Armand Peugeot membuat sebuah produk (yakni mobil) dan sejumlah mitos. Lewat tim kreatif dan tim pemasaran yang dibentuknya, Armand berusaha meyakinkan para pembeli potensialnya bahwa mobilnya adalah produk otomotif terbaik, ternyaman, terefisien, dan seterusnya. Tentu saja, sebagian dari promosi ini adalah nyata, tapi sebagian lainnya adalah mitos-mitos yang direkayasa. Mitos-mitos ini perlahan-lahan membentuk suatu bayangan dalam benak pembeli tentang citra Peugeot.

Dengan mengelola mitos, Armand Peugeot berhasil membangun sebuah merek kendaraan yang memiliki pengikut fanatik yang jumlahnya tak kurang dari 1,5 juta orang pertahun. Agama, kata Harari, berjalan dengan logika yang mirip Peugeot.

Para nabi dan pendeta punya kemiripan dengan Armand Peugeot dalam mengelola mitos. Mereka dan penerusnya (kiai, ulama, ustad, dll) berlomba-lomba mempromosikan produk mereka dengan kemasan-kemasan menarik dan gimmick yang membuat orang mau “membeli,” persis seperti Peugeot, Apple, Bvlgari, dan perusahaan-perusahaan modern memasarkan produk mereka.

Imajinasi kolektif tentang sebuah perusahaan yang sudah terbentuk tak akan mudah hilang, kendati para pendirinya sudah meninggal. Musa, Isa, Muhammad, Armand Peugeot, Steve Jobs, boleh saja meninggal, tapi “agama” yang mereka warisi terus bertahan hidup sampai sekarang dan mungkin hingga beberapa generasi mendatang.

Kunci Sukses Agama. Tidak semua perusahaan bisa sukses bertahan. Begitu juga agama. Sepanjang sejarah Sapien, ada ribuan agama pernah diciptakan manusia. Sebagian besar bangkrut dan punah tak berbekas. Hanya sedikit yang bisa bertahan, dan dari yang sedikit ini, hanya kurang dari hitungan jari tangan kita yang benar-benar menuai sukses.

Apa rahasia dan kunci sukses sebuah agama? Mengapa Kristen dan Islam begitu sukses menuai pengikut tapi tidak dengan Zoroaster dan Manicheanisme? Jawabannya tak ada hubungannya dengan metafisika, misalnya “karana diridai Allah” atau “karena agama yang satu itu paling benar.” Para sejarawan tidak tertarik dengan jawaban-jawaban semacam ini. Buat mereka, fakta sejarah lebih penting untuk diungkapkan ketimbang tebakan-tebakan yang tak berdasar.

Menurut mereka, salah satu sebab mengapa Kristen begitu sukses berekspansi di muka Bumi hingga kini menjadi agama terbesar di dunia adalah karena faktor sejarah plus peristiwa acak yang terjadi secara kebetulan. Di dunia di mana manusia tak tahu mana belokan dan mana ujung, segala hal bisa terjadi. Buat kaum Evolusionis, kebetulan adalah ibu dari segala arsitek.

Para sejarawan menulis bahwa kunci sukses agama Kristen terletak pada figur Konstantin, kaisar Romawi yang berkuasa pada abad ke-4 M. Ketika mulai berkuasa, Konstantin menghadapi persoalan serius di kerajaannya. Dia menyaksikan konflik dan perang saudara yang tak berkesudahan. Tiba-tiba ide jenius mampir di kepalanya. “Mungkin sedikit dosis agama bisa mengatasi persoalan yang aku hadapi,” pikirnya.

Pertanyaannya adalah mengapa Konstantin memilih Kristen, padahal di mejanya tersedia beberapa pilihan: Manicheanisme, Mithraisme, Budhisme, Zoroastrianisme, dan yang paling akrab di telinganya, Yahudi? Tak ada yang tahu pasti mengapa kaisar agung itu memilih Kristen.

Para Teolog memberikan penjelasan –yang lagi-lagi– tak memuaskan: karena “hidayah” atau petunjuk dari Allah. Para sejarawan memilih penjelasan lain yang lebih bisa diterima: untuk mereorganisasi kekaisaran Romawi yang semakin besar dan mengatasi konflik internal yang semakin meningkat.

Beragam penjelasan itu sebetulnya tak terlalu penting. Yang penting untuk dicatat adalah fakta bahwa Kristen menuai sukses karena telah dipilih oleh penguasa terkuat di muka Bumi pada saat itu sebagai agama resmi negara (meskipun pengumuman resminya baru terjadi beberapa generasi sesudah Konstantin). Jika bukan Kristen yang dipilih oleh Konstantin, sudah pasti, nasib agama ini memiliki trajektori yang berbeda dari yang kita lihat sekarang.

Penjelasan yang sama kurang-lebih bisa diterapkan pada Islam. Unifikasi kabilah-kabilah Arab yang terpecah merupakan alasan yang kerap kita baca dalam buku-buku sejarah awal pembentukan Islam. Tak pernah ada “ideologi” yang bisa menyatukan klan-klan Arab se-efektif Islam.

Kajian-kajian sosiologis tentang sejarah awal Islam menunjukkan bahwa faktor unifikasi dan motif pragmatis seperti keinginan memperoleh rampasan perang dan budak, merupakan faktor penting mengapa Islam cukup diminati orang-orang Arab dan sekitarnya pada waktu itu.[2]

Penutup. Keberhasilan Kristen dan Islam menjadi agama dengan pengikut terbesar di dunia sekarang ini memiliki konteks kesejarahan yang membuatnya berkembang sedemikian rupa. Para teolog umumnya selalu memberi kredit keberhasilan sebuah agama kepada hal-hal yang bersifat adikodrati (Tuhan).

Tapi, bagi para sejarawan, konteks kesejarahan sangatlah penting untuk menjelaskan setiap peristiwa kemanusiaan (humanness) yang terjadi. Agama adalah peristiwa kemanusiaan yang memiliki dimensi-dimensi non-manusiawi.

Sebagai peristiwa kemanusiaan, agama bisa dijelaskan secara gamblang, asal-usul, sejarah, dan perkembangannya. Bahkan, dimensi-dimensi non-manusiawi yang dalam Filsafat dijelaskan begitu rumit, oleh Harari ditundukkan dalam sebuah penjelasan gamblang dengan bukti-bukti ilmiah yang meyakinkan.

Bagi Harari, konsep-konsep metafisika adalah hasil kreatifitas manusia sebagai konsekuensi dari “revolusi kognitif” dan “mutasi pohon pengetahuan” yang terjadi dalam sejarah panjang evolusi homo sapiens.

----

Makalah diskusi buku Yuval Noah Harari, Sapiens: A Brief History of Humankind (Random House, 2014). Disampaikan di Jaringan Islam Liberal (JIL), 30 Oktober 2015.

Catatan Kaki

[1] Para ahli Biologi biasanya membedakan dua jenis mutasi: yang pertama adalah mutasi spontan (spontaneous), yakni mutasi yang terjadi secara tiba-tiba, biasanya terjadi pada saat replikasi DNA. Tidak semua proses replikasi berjalan mulus. Replikasi yang menyimpang menghasilkan mutasi. Yang kedua adalah mutasi tak langsung (induced), yakni mutasi yang terjadi karena disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, seperti radiasi energi tinggi (ultraviolet dan sinar-X), kimia mutagenis seperti rokok, dan suhu yang tinggi.

[2] Lihat, misalnya, buku-buku berikut: Robert G. Hoyland. In God's Path: The Arab Conquests and the Creation of an Islamic Empire. Oxford University Press, 2015; Fred McGraw Donner. Muhammad and the Believers: At the Origins of Islam. Harvard University Press, 2012; Jonathan P. Berkey. The Formation of Islam: Religion and Society in the Near East, 600-1800. Cambridge University Press, 2003; Hugh Kennedy. The Armies of the Caliphs: Military and Society in the Early Islamic State. Routledge, 2001. Baca juga karya pemikir Maroko Muhammad Abid al-Jabiri, khususnya yang menyangkut pembentukan Islam, seperti Takwin al-‘Aql al-‘Arabi (1982); Bunyah al-‘Aql al-Arabi (1986); dan al-‘Aql al-Siyasi al-‘Arabi (1990).

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.