Home » Agama » Ateisme » Julia Suryakusuma: “Saya tidak Percaya Agama, tapi Percaya Tuhan”
Julia Indiati Suryakusuma (Foto: youtube.com)
Julia Indiati Suryakusuma (Foto: youtube.com)

Julia Suryakusuma: “Saya tidak Percaya Agama, tapi Percaya Tuhan”

3.43/5 (7)

Agama muncul ketika spiritualitas menurun. Ketika keimanan dan kedekatan manusia pada Tuhan sudah melenceng kemana-mana, agama direkacipta—atau mungkin diturunkan—untuk membentangkan jalan menuju spiritualitas yang hakiki. Tapi sayang, agama kemudian juga menjelma menjadi berhala. Agama lalu turut disembah, dan Tuhan raib entah kemana.

Itulah sekelumit keprihatinan Julia Indiati Suryakusuma, sosiolog dan salah seorang tohoh perempuan yang pernah melontarkan tesis yang menggambarkan konstruksi identitas perempuan pada zaman Orde Baru: state ibuism atau ibuisme buatan negara. Kepada Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal (JIL), penulis buku Sex, Power, and Nation itu menumpahkan keluh kesah keimanannya, Kamis (6/1) kemarin.

 

Mbak Julia, bagaimana pertama kali Anda berkenalan dengan agama?

Saya sebetulnya berasal dari keluarga priayi-Sunda yang Islamnya agak formalistik, cenderung tidak terlalu mendalam. Saya sendiri berlatarbelakang internasional, karena ayah saya seorang diplomat. Jadi sejak kecil saya sudah tersosialisasi dengan pelbagai ragam budaya, bahkan agama.

Bagaimana sekolah Anda waktu kecil?

Pendidikan saya pertama kali di Inggris, di sekolah sekuler, Public School, sekitar tahun 1959-1962. Setelah itu pindah ke Hongaria dan masuk sekolah Katolik dengan lingkungan yang agak agamis. Itu ketika saya masih berumur 6-8 tahun.

Anda tumbuh dalam keluarga Islam. Ketika masuk sekolah Katolik, apa tidak ada konflik batin?Tidak ada sama sekali. Keluarga saya cukup liberal. Apalagi waktu tinggal di Barat, iklim kebebasan itu bisa dirasakan betul. Ketika kembali ke Indonesia, baru iklim tradisionalisme muncul kembali. Apalagi, ketika itu kakek dan nenek saya cukup santri dan menjalankan kaidah Islam yang macam-macam.

Saya dan orang tua pulang-pergi dalam dan luar negeri. Saya pulang dari Hongaria ke Indonesia ketika berumur 9 tahun, sekitar tahun 1965. Lalu saya masuk SD Sumbangsih Setia Budi, Jakarta. SMP juga masih di Sumbangsih, lalu tahun 1968 pindah lagi ke Italia.Bagaimana Anda menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah Katolik tadi?

Saya ketika itu ikut arus saja. Waktu di Italia, tepatnya di Roma yang dekat Paus itu, saya ikut iklim yang menjadi lingkungan saya. Itu salah satu kultur yang saya ikuti. Ketika itu saya merasa no problem, dan orang tua saya juga tidak mempermasalahkannya.

Secara pribadi maupun sebagai sosiolog, minat saya kepada agama memang sangat besar. Ketika saya berumur 9-10 tahun, saya sudah merasa ada yang aneh dalam diri saya.

Saya pandangi diri saya di depan cermin, merasakan keberadaan saya, dan merasa menjadi makhluk dalam tubuh saya. Lalu memandang segenap anggota tubuh saya, terus bertanya pada diri sendiri: siapa kamu ini?! Kalau kamu tidak lahir dari orang tua ini, bukan dari keluarga ini, dan tidak ada stimulus apa-apa, apa jadinya kamu?

Kenapa Anda bertanya begitu?Saya tidak tahu, aneh saja. Ketika itu, saya hanya merasa itu merupakan salah satu pertanyaan yang logis saya tanyakan. Pikir saya kemudian, itu pertanyaan eksistensialis. Tapi ketika ngobrol-ngobrol dengan Frans Parera, dia mengatakan kalau itu sudah bentuk pertanyaan religius, menyangkut origin, asal-usul dari mana kita datang.

Tapi buat saya, sebetulnya itu bukan pertanyaan religius, tapi lebih tepat pertanyaan spirituil. Jadi secara sadar, itulah awal mula pencarian jati diri saya. Jadi saya sudah ke mana-mana, dari ekstrem satu ke esktrem lain.

Apa pengalaman yang menarik ketika belajar di sekolah Katolik itu?

Waktu di sekolah Katolik tadi, saya senang-senang saja. Seumuran itu, kita ikut prayer group. Waktu natal, saya ikut dalam lakon sebagai malaikat Jibril. Ketika itu perasaan saya biasa saja, tidak ada masalah sama sekali.

Pertanyaan-pertanyaan tentang agama, asal usul dari mana datangnya kita, menjadi pertanyaan sepanjang hidup saya, tapi intensitasnya selalu berubah-ubah dan tidak terus menerus.

Anda pernah mengatakan sempat mengalami periode ateis dalam hidup Anda. Bisa diceritakan?

Betul. Itu terjadi waktu saya sedang di sekolah Katolik itu, ha-ha. Ketika itu juga, saya sudah belajar ilmu perbandingan agama. Di sana, kami yang non-Katolik dimasukkan ke kelas Religion B. Yang Religion A, yang nomor satu yang Katolik.

Setelah satu semester belajar perbandingan agama, kami merasa sudah tahu semua yang patut diketahui mengenai perbandingan agama. Terus guru kami, yang sebetulnya guru bahasa Perancis merangkap perbandingan agama, bertanya: “Lantas kalian mau belajar apa, dong?!”

Kami lalu mengacungkan tangan dan mengatakan, “Kami mau belajar filsafat, Miss!” Pengalaman itu, waktu itu rasanya biasa-biasa saja. Tapi kalau sekarang saya pikir-pikir ulang, saya merasa geli juga.

Mbak Julia, ketika pulang ke Indonesia, Anda tentu berhadapan dengan pola keberagamaan yang sedikit berbeda, yang tadi Anda sebut tradisional. Apa yang Anda rasakan waktu itu?

Sebetulnya waktu itu, yang saya anggap sebagai Islam hanya kakek dan nenek saja, ha-ha. Maksudnya, di masa itu, ketika saya kembali dari Italia (tahun 1971), secara sosial, fenomena keberagamaan di masyarakat kita belum seperti sekarang.

Jadi masih cukup sekuler. Dan kita harus mengaitkan masa itu dengan keadaan sosial-politik ketika itu. Dulu, belum ada perbincangan yang ribut-ribut soal kebangkitan agama dan seterusnya.

Sebagai sosiolog, bagaimana Anda melihat fenomena agama saat ini, ketika sudah menjadi simbol-simbol sosial, bahkan identitas kelompok?

Saya kira ini memang perkembangan yang menarik. Kelihatannya, sekarang ini juxtaposition atau pemisahan antara yang sekuler dan non-sekuler itu berlangsung tajam sekali. Dan menurut saya, agama saat ini bukan saja simbol-simbol sosial, tapi juga simbol tradisionalisme dan identitas. Sekarang, rasanya nuansa politik identitas itu kuat sekali.

Apa yang Anda maksud dengan agama sebagai politik identitas?

Politik identitas itu misalnya pemisahan yang amat tajam antara “agama orang itu” dan “agama saya”. Jadi, saya beragama ini, dan mereka bukan. Jadi ada pemisahan yang tajam antara “kami” dan “mereka”.

Pengelompokan berdasarkan agama itu seolah-olah berhadap-hadapan betul secara diametral. Ini mungkin bukan hanya terjadi pada agama, tapi juga kultur dan juga ras. Misalnya, kalau saya seorang feminis, saya juga mungkin akan mengatakan bahwa feminisme itu bagian dari politik identitas.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.