Home » Agama » Ateisme » Ryu Hasan: “Tuhan, Antara Ada dan Tiada”
Ryu Hasan
Ryu Hasan

Ryu Hasan: “Tuhan, Antara Ada dan Tiada”

4.75/5 (12)

IslamLib – Bagaimana seorang dokter bedah saraf memandang agama dari sudut pandang pribadinya? Bagaimana agama menjadi pengalaman individual? Novriantoni Kahar mewawancarai dr. Roslan Yusni atau biasa dipanggil Ryu Hasan dalam acara unjuk wicara Agama dan Toleransi yang disiarkan langsung oleh KBR68H dan jaringan radionya.

 

Bagaimana agama mula-mula di-install atau ditanamkan kepada anda pada level keluarga?

Kalau bicara mengenai installment tentang gaya beragama pada saat saya kecil dulu, terus terang saya lahir di tengah keluarga dengan corak keagamaan tradisional yang ketat. Tradisional dalam pengertian cara umum yang dipakai rata-rata orang beragama Islam di Indonesia.

Bapak saya seorang muballigh (juru dakwah agama), ibu saya juga seorang muballighah. Jadi bisa dibayangkan pada saat saya masih kanak-kanak, pada saat baru mulai belajar berbicara, belajar mengingat, saya sudah diharuskan menghafalkan Alquran, menghafalkan hadits, plus standar dogma-dogma dalam agama Islam seperti yang kita kenal semua.

Sehingga pada awalnya, saya menganggap dan memandang agama sebagai sesuatu yang rigid, sebagai sesuatu yang tidak bisa dibantah. Kalau begini salah, begitu benar; begini dapat pahala, begitu dosa.

Pada awalnya, ini semua tidak menimbulkan banyak masalah pada diri saya. Tapi pada saat saya memasuki usia 10-11 tahun, di mana saya mulai bertumbuh dan dengan demikian mulai muncul daya kritis dalam diri saya, saya mulai mempertanyakan banyak hal: mengapa begini dan mengapa begitu. Nah, di sinilah mulai muncul masalah.

Anda dibesarkan dalam kelurga dengan corak keberagamaan tradisonal, tapi anda sudah bisa bersikap kritis terhadap agama pada usia yang cukup dini. Bagaimana itu bisa terjadi?

Karena ada hal-hal yang saya merasa perlu saya pertanyakan, sekaligus mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya itu. Simpel saja, misalnya doktrin tentang percaya pada malaikat. Ada Malaikat Jibril, yang tugasnya membagi wahyu. Lalu saya bertanya: kalau begitu sekarang ini Malaikat Jibril itu tugasnya ngapain?

Nah, seringkali pertanyaan-pertanyaan saya yang simpel seperti itu, dijawab dengan hardikan, dengan nada marah, bahwa bertanya seperti itu adalah dosa. Karena merasa terus dikekang seperti itu, saya bertanya-tanya dalam hati, kalau begitu apakah saya tidak boleh mengusik doktrin-doktrin dasar dalam agama itu?

Pada saat saya kecil dulu juga ditanamkan dogma bahwa agama yang paling bener adalah Islam. Dan orang-orang di luar Islam itu ya tidak masuk hitungan. Maksudnya mereka nanti masuk neraka, apapun amal kebaikan yang mereka lakukan tidak ada pahala sama sekali.

Pada awalnya saya menerima begitu saja, meskipun itu bukan bapak saya yang mengajari seperti itu. Tetapi dalam lingkungan-lingkungan santri tradisional, hal-hal seperti itu masuk dalam pertimbangan saya.

Nah, pada saat saya masih kelas IV SD –saya waktu itu berumur 11 tahun–, ada tetangga saya seorang Katolik, dia baik banget, sekeluarga baik semua. Saya jadi berpikir, masak sih orang yang begini baiknya harus dimasukkan neraka, hanya karena dia Katholik? Saya merasa itu tidak adil banget. Pada saat itu, mulailah muncul pertanyaan: apakah dogma yang saya terima ini sudah benar, atau apakah ada hal-hal yang disembunyikan?

Bagaimana anda mengatasi kebuntuan di level keluarga atas pertanyaan-pertanyaan kritis anda?

Nah, saya mencoba mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan nakal saya itu dengan membaca tulisan dari para beberapa penulis. Misalnya saya ingat ketika kelas VI SD saya sudah membaca tulisan Romo Mangunwijaya. Saya baca juga tulisan M.A.W. Brouwer.

Saya juga senang sekali –dan karena itu seringkali– membaca tulisan almarhum Nurcholish Madjid. Saya juga membaca tulisan di media-media nasional, misalnya Kompas. Saya baca bagian kolom opininya. Nah dengan membaca seperti itu, saya jadi terekspose dengan semacam dissident opinion, pandangan lain yang tidak seperti yang saya terima selama ini, meskipun mereka berbeda agama dengan saya.

Lalu saya merasa, mungkin saya ini termasuk orang yang anti kemapanan. Jadi terhadap hal-hal yang mapan itu saya anggap kurang memuaskan. Saya menganggap orang yang beragama lain itu sama benarnya dengan saya. Dan pandangan seperti ini saya dapat dari seorang “teman”. Dan “teman” saya itu bukan orang sembarangan: yaitu Cak Nur (panggilan akrab almarhum Nurcholish Madjid).

Tulisan-tulisan Cak Nur waktu itu bisa memuaskan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik pikiran saya. Jadi tulisan-tulisan Cak Nur itu sangat memberikan penyegaran bagi saya. Kebetulan ayah saya, dulu adalah temannya Cak Nur.

Sebagai seorang juru dakwah agama Islam, apakah pandangan keagamaan ayah anda sepaham dengan Cak Nur?

Sudah tentu tidak. Bahkan secara eksplisit dia mengatakan: saya tidak sependapat dengan Cak Nur. Secara eksplisit juga dia mengatakan: pandangan Cak Nur ini menyesatkan. Saya sendiri bertanya-tanya: apanya yang menyesatkan? Akhirnya saya banyak berbeda pendapat dengan ayah saya.

Dan ini membuat ibu saya sedih. Ibu saya sering menangis dan menyesalkan pilihan pandangan keagamaan saya, sambil berkata pada saya: kalau kamu berpandangan seperti itu, kamu akan masuk neraka. Sikap dan perkataan ibu saya membuat saya gelisah dan berpikir macam-macam. Tapi saya balik berpikir, apa salah saya berpandangan sesuai dengan pilihan saya, toh saya tetap menghargai ibu dan ayah saya.

Nah, pada saat itu saya sudah mulai menginjak usia SMA. Saya mulai mendapatkan mata pelajaran baru dan dengan demikian saya mendapatkan ilmu-ilmu baru, seperti ilmu tentang hukum kekekalan massa dan energi. Jadi energi ini kekal. Dan ini tidak bisa dibantah. Ini sudah merupakan sebuah hokum dan bisa dibuktikan secara scientific, secara ilmiah. Energi itu kekal, dia cuma berubah saja: ada energi suara, energi panas. Kalau dibilang kekal, berarti tidak ada awal dan akhir.

Lalu saya bertanya: kalau energi itu tanpa awal dan akhir, jadi penciptaan itu seperti apa? Tapi pertanyaa-pertanyaan saya seperti ini akan dimentahkan dengan perkataan bahwa pikiran saya seperti itu adalah pikiran orang sesat. Hal-hal seperti ini akhirnya membuat saya berpikir sekaligus membenarkan pendapat orang bahwa agama itu mengungkung manusia, membuat manusia tidak bisa maju ilmu pengetahuannya. Itu kesimpulan sementara saya pada saat itu.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.