Home » Agama » Ateisme » Ryu Hasan: “Tuhan, Antara Ada dan Tiada”
Ryu Hasan

Ryu Hasan: “Tuhan, Antara Ada dan Tiada”

4.85/5 (33)

Tumbuh dalam keluarga seperti itu, apakah anda mengalami semacam dilema keagamaan dalam diri anda?

Betul. Saya masih merasa tidak enak kalau tidak melaksanakan salat lima waktu, karena sudah dibiasakan sejak kecil; dan kalau tidak salat, saya akan mendapatkan pukulan dengan rotan. Saya waktu itu juga suka sekali membaca Alquran.

Saya gemar sekali ikut lomba MTQ (musabaqah tilawati al-Quran), karena mendapat applause dari teman-teman, mendapat piala dan sebagainya. Itu kenikmatan tersendiri bagi saya. Jadi ada hal-hal yang menyenangkan. Tetapi di lain pihak, saya juga merasa bahwa apa yang didogmakan pada saya itu kok tidak sama dengan kenyataan.

Apakah orangtua berambisi untuk menyelamatkan perjalanan keagamaan anaknya?

Oh ya, itu jelas. Sekarang saya dapat memahami mengapa orangtua saya memutuskan untuk melakukan itu. Pada saat saya duduk di bangku SMP dan mungkin kelakuan saya dinilai semakin menjadi-jadi, guru agama saya juga sering komplain tentang kelakuan saya ketika merespon pelajaran-pelajaran agama di SMP. Tampaknya orangtua saya berpikir bahwa sikap saya ini tidak bisa dibiarkan. Akhirnya, kepada orangtua saya memutuskan harus mendalami agama.

Waktu itu orangtua memutuskan mengirim saya ke beberapa pesantren di Jawa Timur, karena saya besar di Malang. Saya dikirim ke Jombang. Kebetulan waktu masih anak-anak, bapak saya juga di Jombang. Nah, ternyata di salah satu pondok pesantren di Jombang saya tidak bertahan lama. Dua minggu kemudian saya dipulangkan karena bikin onar di sana. Bikin onarya bukan sekadar bikin onar karena saya selalu membantah ketika diberikan pelajaran-pelajaran awal dan pelajaran dasar.

Jadi onarnya bukan nyolong mangga, begitu-begitu ya?

Oh, tidak. Kalau saya flash back sekarang, waktu itu saya sangat mengganggu forum kajian. Saya bisa paham kalau dipulangkan karena setiap saya sering melontarkan berbagai pertanyaan yang aneh bagi santri. Misalnya, saat belajar mengenai rukun Islam, saya bertanya, mengapa seperti itu? Mengapa dibuat rukun-rukun? Apakah sejak zaman Nabi Muhammad ada rukun-rukun seperti itu? Nah, itu yang mungkin dianggap meresahkan. Akhirnya saya dikucilkan. Tapi, ini tidak menjadi jalan keluar.

Akhirnya saya dikembalikan lagi ke pesantren yang lain. Kebetulan ayah saya cukup sabar. Dia mencarikan pesantren lain untuk saya. di pesantren lain sama saja karena saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Yang ada hanya pengulangan dogma-dogma yang sudah didengarkan. Kira-kira begitu. Tapi sekarang ini saya dapat memaklumi karena tidak mungkin juga, awal-awal di pesantren, santri sudah diajarkan ilmu yang aneh-aneh.

Kalau dipikir-pikir ulang, apa fungsi mengulang-ulang dogma agama menurut Anda?

Menururt saya memang dalam agama ada dua hal yang sangat penting, yaitu yang dogma dan ilmu. Dogma bertugas melakukan simplifikasi, menyederhanakan hal-hal yang rumit sehingga mudah dijalankan. Shalat ya begini; ada rukunnya; ada syarat sahnya; ada syarat wajibnya.
Sifat Tuhan itu 20, begitu ya?

Itu simplifikasi. Kalau kita dikatakan bahwa Tuhan itu transenden, beyond imagination, beyond knowledge, orang makin bingung. Bagaimana Tuhan beyond our imagination, beyond our knowledge, tidak terjangkau, tidak begini dan tidak begitu.

Bagaimana merengkuh-Nya?

Nah seperti itu. Kemudian dilakukan simplifikasi seperti itu. Sekarang saya memandangnya seperti itu.

Ada yang menyatakan agama itu tidak logis. Pendapat Anda?

Kalau kita berbicara mengenai logis dan tidak logis, dalam mempelajari agama saya memisahkan dua hal antara apa yang saya imani (keimanan) dan apa yang dinamakan kajian agama. Hal-hal yang pelu diimani, ya diimani saja. Lantas ada pertanyaan, mengapa harus diimani? Itu masalah karena berhubungan dengan hal-hal yang tidak dapat kita buktikan. Contoh, saya mengimani bahwa Allah itu ada. Itu keimanan saya.

Kalau saya disuruh membuktikan keberadaan Allah, ya tidak bisa. Memang keberadaan Allah itu tidak bisa dibuktikan: tidak bisa dibuktikan keberadaan-Nya juga tidak bisa dibuktikan ketidakberadaan-Nya. Itu iman. Itu menurut saya. Artinya, orang disuruh membuktikan keberadaan, tidak bisa. Orang yang mengimani bahwa Allah tidak ada, kalau disuruh membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, juga tidak bisa.

Soal kebanyakan ahli neraka adalah wanita (dari penanya). Sepertinya ungkapan Nabi seperti itu bisa diverifikasi?

Ya, memang.

Wilayah iman atau bukan itu?

Bukan. Saya mengimani bahwa Muhammad itu Nabi. Itu diimani. Tapi apa yang dibicarakan Muhammad itu bisa diverifikasi, bisa diobservasi melalui ilmu. Semua bisa diverifikasi. Yang diimani itu hal-hal yang tidak dapat diverifikasi. Itu diimani.

Kalau begitu apa yang masih tersisa dari keimanan Anda?

Banyak hal. Bahwa al-Qur’an adalah wahyu. Itu diimani. Saya mengimani al-Qur’an adalah wahyu. Mengapa kok diimani? Saya juga tidak bisa memverifikasi apakah itu betul-betul wahyu. Saya mengimani saja bahwa al-Qur’an itu wahyu. Kemudian malaikat itu juga diimani. Banyak, masih banyak yang saya imani. Seandainya kita meneliti secara keilmuan, tidak semuanya akan terjawab oleh ilmu. Jadi, hal-hal yang tidak bisa dijawab adalah hal-hal keimanan.

Sampai batas mana kita bisa menggunakan logika dan akal?

Ada hal-hal yang harus kita pikirkan dalam agama ini. Karena agama ini ranahnya bukan hanya dalam wilayah dari masjid ke masjid, tapi dalam wilayah kultur, sosial, budaya, politik. Dan itu perlu pemikiran dan perlu akal, perlu logika. Yang tidak bisa kita fikirkan adalah keimanan tadi. Dan keimanan sebagai benteng penjaga, ya benar, tapi logika kita ndak boleh dibatasi.

Pemikiran bebas sebebas-bebasnya. Yang dibatasi adalah tindakan. Namun, tindakan dan kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain. Tapi pemikiran, silahkan saja mikir apa saja boleh, wong berpikir itu kan area pribadi, tidak ngutik-ngutik orang lain.

Dimana Anda menghabiskan masa remaja? Kok tidak jadi da’i saja begitu? Kok jadi dokter bedah syaraf?

Itu harapan orang tua saya. Secara eksplisit orang tua saya mengharapkan saya mengikuti jejak beliau. Seorang muballigh itu mulia di mata dia. Saya juga menganggap seorang muballigh itu mulia. Menyampaikan kebenaran itu mulia. Tetapi akhirnya waktu dan keadaan menggiring saya ke arah yang lain. Pada saat saya memasuki usia remaja, berkenalanlah saya dengan hal-hal yang aneh —bukan aneh, tapi dunia mistisme.
Sempat juga mengarungi dunia mistisisme?

Saya sempat melakukan ritual-ritual yang sebetulnya wajar. Dalam kultur masyarakat Jawa, orang puasa terus kemudian melek 3 hari 3 malam, dijalani. Memang ada pengalaman-pengalaman spiritual yang saya dapatkan. Tetapi pada saat saya periksa, ternyata pengalaman spiritual, meskipun laku-nya sama, masing-masing orang beda.

Apanya yang berbeda?

Apapun yang dialami beda-beda, sesuai dengan kulturnya masing-masing.

Apakah mungkin orang bebas dari spiritualitas?

Dalam batas-batas tertentu ndak bisa.

Walaupun orang yang ilmiah-saintis sekalipun?

Sesaintis apapun, seseorang itu akan pernah merasa berharap: “ah, mudah-mudahan ini yang terjadi.” Nah ini akan melibatkan spiritualitas. Pasti.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.