Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Agama » Ateisme » Ryu Hasan: “Tuhan, Antara Ada dan Tiada”
Ryu Hasan

Ryu Hasan: “Tuhan, Antara Ada dan Tiada”

4.85/5 (34)

Komentar Anda tentang kekerasan yang mengatasnamakan Islam?

Saya setuju bahwa Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan kekerasan. Nabi Muhammad melakukan perang karena diperangi, karena hal-hal yang bersifat politis dan mengharuskan peperangan. Tidak boleh melakukan kekerasan kepada orang lain, sekalipun orang itu tidak sesuai dengan keimanan kita.

Keimanan tidak bisa dipaksa-paksakan. Dan argumentasi kita tentang keimanan, memang saya juga sepakat, bahwa keimanan —meskipun itu sesuatu yang tidak dijangkau, kita memerlukan argumentasi atau hujjah-hujjah rasional. Tujuannya untuk menegaskan keimanan saya sendiri, bukan untuk menjatuhkan keimanan orang lain.

Tapi masalah kekerasan, itu harus kita lawan. Tidak bisa kita melanggar aturan, melanggar undang-undang, ya harus kita lawan. Orang berbeda keyakinan kok dikepruki. Kalau memakai logika bahwa orang yang berbeda keyakinan boleh dikepruki, ya yang dikepruki itu boleh ngepruki balik.
Siapa yang menentukan proses manusia menjadi janin? Jawaban scientific dan jawaban agamanya bagaimana?

Dulu, saat yang namanya ilmu biologi itu tidak diketahui dengan jelas, maka timbullah anggapan-anggapan bahwa seperti ini, seperti itu. Kitab-kitab Islam klasik juga sudah bicara: pada usia 2-3 bulan, kemudian ditiupkan ruhnya, kemudian ada daging berubah menjadi tulang, tulang menjadi daging. Lho, itu kan anggapan. Setelah ilmu berkembang, eh ternyata tidak begitu.

Kalau pertanyaan Pak Niko tadi, kenapa orang bersenggama itu kok tidak selalu jadi, banyak faktor yang menetukan. Satu, yang namanya ovum atau sel telur wanita itu selama 1 bulan penuh itu, dia hanya siap dibuai selama 3 hari. Kalau pas 3 hari tidak terjadi senggama ya nggak jadi.

Kemudian faktor kesehatan sperma juga sangat menetukan. Ya memang 2 juta, tapi kalau loyo semua ya nggak bisa jadi. Banyak hal dan faktor yang menyebabkan sperma itu jadi apa ndak. Lha terus siapa yang ngatur gitu? Hukum alam. Ini sunnatullâh. Dan hukum alam, sunnatullâh, sangat-sangat konsekuen.

Kalau begitu kita mengabaikan intervensi langsung Tuhan?

Saya mengimani Tuhan itu yang transenden, bukan Tuhan yang imanen, yang terlibat. Tuhan melakukan sesuatu nunggu do’a dari manusia, masak iya? Ini pemahaman saya tentang Tuhan, tentang Allah; masak iya sih Allah itu nunggu surat permintaan, delivery order, kalau dimintai do’a baru melakukan. Bagi saya, Tuhan ya tidak begini dan tidak begitu. Terus peran Tuhan di mana? Peran Tuhan menentukan hukum-hukumnya yang sudah konsisten itu dijalani. Kita jalani menurut hukum-hukum-Nya.

Coba bayangkan, kalau Tuhan itu tidak konsisten, manusia tidak akan bisa menemukan apapun. Demikian konsistennya Tuhan, orang akhirnya bisa meneliti bahwa panas yang diperlukan untuk menaikkan 1 gram air menjadi 1 derajat celcius lebih tinggi itu namanya 1 kalori. Karena diamati mulai zaman Nabi Adam sampai Adam Malik meninggal kemarin tetap seperti itu. Sehingga manusia bisa mengambil kesimpulan: oh, 1 kalori itu seperti ini. Kemudian dengan konsistennya Tuhan kita juga bisa menemukan pesawat terbang.

Coba kalau Tuhan tidak konsisten, hukum-hukum alam tidak konsisten, sekarang kena angin begini ternyata tidak naik; ternyata di lain waktu pada saat perbedaan tekanan udara bisa menaikkan pesawat —tidak akan menemukan apa-apa. Justru karena kekonsistenan sunnatullâh berupa hukum alam ini, manusia bisa menemukan banyak hal.

Di dunia sekarang ini, kita melihat ada agama, ada sains juga, Kadang-kadang kontradiksi antara agama dan sains itu hampir-hampir mustahil untuk didamaikan. Bagaimana menyikapi hal seperti ini?

Memang pada awalnya, pada saat saya belajar mengenai hal-hal yang bersifat scientific, kemudian menemukan hal-hal yang bertentangan dengan keilmuan yang saya pelajari, dulu saya mencoba melakukan kompromi; mencoba bahwa: “ndak, itu ndak begitu, yang dimaksudkan dalam teks ini itu kira-kira seperti ini.”

Jadi saya mencoba mengkompromikan, apologetic. Tapi pada suatu saat, pada saat sudah betul-betul mentok —ya memang ini bertentangan kok, pada saat itu ya akhirnya saya mencoba lagi mengubah yang namanya pemahaman saya memahami teks-teks yang ada secara kontekstual. Ya memang waktu itu belum ngerti, jadi ya diberikan gambaran begini aja supaya mengerti.

Contohnya?

Contohnya, bahwa banyak kisah-kisah —misalkan dalam al-Qur’an—yang tidak masuk akal.
Misalnya yang ini ya, ada salah satu surat di dalam al-Qur’an tentang al-Fîl, di mana kota Mekkah didatangi, dihujani batu oleh burung ababil. Akhirnya ya memang orang, ada hal, sesuatu itu, mengartikannya seperti al-Fîl itu, kemudian seperti orang-orang yang dimakan ulat, seperti daun yang dimakan ulat. Dari kajian-kajian, banyak yang mengatakan begini, begitu.

Tetapi kajian yang paling cocok dengan pemikiran saya —oh ini bisa masuk akal. Pada saat itu terkenal yang baru —dan memang secara keilmuan kedokteran bisa dipahami, karena pada saat itu yang namanya wabah cacar itu masuk di jazirah Arab. Ya kebetulan saja, waktu itu pasukannya Raja Abrahah tertulat cacar sehingga mukanya seperti daun dimakan ulat. Ini hasil kompromi saya.

Tapi, misalkan, walaupun tidak secara eksplisit dikatakan: Musa itu membelah lautan, tapi kalau dianggap memang al-Qur’an mengatakan begitu, saya pikir ya —yang namanya Nabi Muhammad ini, itu dia mengaku nabi lanjutan dari nabi-nabi sebelumnya. Kalau dia menceritakan hal-hal yang lain, yang berbeda betul, ya nggak dipercaya.

Yang seperti itu bukan wilayah keimanan menurut Anda?

Bukan. Karena kejadian Musa membelah lautan apa ndak itu bisa diverifikasi. Karena itu secara faktual, terjadi apa tidak itu ada. Ada orang mengatakan Nabi Ibrahim itu umurnya 950 tahun. Faktanya tidak ada bukti-bukti arkeologis di mana suatu peradaban, manusia itu usianya itu lebih dari 100 tahun.

Tidak pernah ada. Itu fakta arkeologis, nggak ada. Di Papirus-papirus Mesir, Piramida dikatakan bahwa di situ usia rata-rata raja dan keluarga kerajaan lebih panjang dari pada masyarakat, ya wajar. Tapi, usianya nggak panjang. Mereka itu mati pada usia 40 tahun, 38 tahun, bahkan yang King Thut, Thutankhemein, mati pada usia 18 tahun.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.