Home » Agama » Ateisme » Tak Ada Fundamentalisme Ateis!

Tak Ada Fundamentalisme Ateis!

3.5/5 (8)

Sejarah tidak pernah mencatat siapa “pendiri” ateisme, sebagaimana Muhammad diakui sebagai pendiri Islam, Buddha sebagai pencetus Buddhisme. Ateisme tidak memiliki doktrin dan ajaran dasar yang tercantum dalam suatu buku suci sebagaimana Alquran di mata umat Muslim dan Alkitab dalam pandangan kaum Kristiani.

Ateisme tidak mengenal konsep “rukun ateisme” maupun “sepuluh perintah Dawkins”. Ateisme tidak memiliki pandangan mengenai satu figur tokoh yang suci dan otoritatif, di mana seluruh perintah dan perilakunya wajib untuk dijalankan dan diikuti oleh seluruh pengikutnya.

Bila ateisme sendiri tidak memiliki sesuatu yang dijadikan ‘dasar’ baik berupa teks maupun figur, lalu bagaimana label fundamentalisme dapat disandingkan dengan ateisme?

Seseorang dapat disebut fundamentalis apabila ia meyakini doktrin dan mengikuti ajaran seorang figur yang disepakati oleh suatu komunitas keagamaan sebagai dasar dari keyakinan mereka secara menyeluruh.

Akan lebih cocok bila kita menempatkan ateisme bukan sebagai ideologi maupun ‘sistem kepercayaan’, namun lebih sebagai penggambaran terhadap posisi seseorang mengenai eksistensi Tuhan.

Sam Harris dalam bukunya A Letter to a Christian Nation mengatakan bahwasanya ateisme sendiri merupakan sebuah kata yang tidak perlu ada. Kita tidak menyebut seseorang yang tidak percaya terhadap astrologi, unicorn, ataupun Harry Potter sebagai seorang a-astrologis, a-unicornis, atau a-Harry Potteris.

Mitos lain yang kerap diasosiasikan dengan ateisme (atau fundamentalisme ateis) antara lain perbuatan yang dilakukan oleh beberapa tokoh komunis, seperti Stalin dan Mao Zedong. Sebagainama diketahui, rezim Stalin dan Mao merupakan dua rezim yang paling berdarah dan kejam sepanjang sejarah manusia.

Mereka tidak segan menghabisi jutaan nyawa rakyat demi mencapai masyarakat yang dicita-citakan. Sikap anti agama Stalin dan Mao yang terinspirasi dari Marx diwujudkan melalui represi terhadap umat bergama di negara mereka, serta penghancuran tempat-tempat ibadah seperti Gereja dan Kuil Buddha.

Namun apakah dengan menyalahkan atesime atas kebiadaban yang mereka perbuat merupakan langkah yang tepat?

Kekejaman yang dilakukan Stalin dan Mao tidak ada kaitannya dengan ateisme. Bukan karena membunuh serta menyiksa seseorang itu tidak sesuai dengan doktrin dan ajaran ateisme, namun karena ateisme tidak memiliki ajaran dan doktrin.

Mengulangi paragraf sebelumnya, ateisme tidak lebih dari penyebutan mengenai posisi seseorang terhadap keberadaan Tuhan. Berkaitan dengan Stalin dan Mao, agaknya kita mengasosiasikan kekejaman mereka sebagai manifestasi dari taklid buta terhadap Marxisme (kontroversi mengenai perilaku Stalin dan Mao apakah sesuai dengan ajaran Marx bukanlah fokus saya dalam tulisan ini).

Sikap yang dogmatis terhadap Marx ini lebih cocok diasosiasikan dengan agama, bukan dengan ateisme. Sebab, sebagaimana umat beragama, Stalin dan Mao juga menjadikan Marx, dan diri mereka sendiri, sebagai figur yang otoritatif dan kebal terhadap kritik.

Selain itu, label fundamentalis ateis juga kerap digunakan untuk menutup pandangan kritis terhadap agama. Ia dipakai untuk mempertahankan status quo, di mana aspek-aspek keagamaan diberi keistimewaan terhadap aspek-aspek non-agama.

Sudah menjadi rahasia umum bahwasanya selama berabad-abad, bahkan hingga sekarang, agama selalu menempati posisi khusus di masyarakat maupun dalam kehidupan bernegara. Agama diberikan privilege yang tidak dimiliki oleh gagasan dan ide-ide manapun.

Bahkan dalam beberapa kasus di Amerika Serikat yang merupakan negara sekular, seseorang dapat melakukan tindakan melawan hukum apabila hukum tersebut diyakini bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya.

Hal inilah yang ditentang oleh para pengusung ateisme. Tokoh-tokoh seperti Richard Dawkins dan Christopher Hitchens mencoba menunjukkan kepada kita bahwa agama tidak berbeda dengan produk budaya lainnya, yang sangat layak untuk dipertanyakan dan dikritisi.

Bahwa doktrin keagamaan, sebagaimana gagasan lainnya, dapat dianulir apabila terbukti bertentangan dengan sains modern. Keyakinan terhadap ajaran agama tertentu tidak lantas memberi seseorang pass card untuk melakukan tindakan melawan hukum, memaksakan sesuatu kepada orang lain, atau mendapatkan keistimewaan tertentu dari negara.

Posisi ketidakpercayaan terhadap eksistensi Tuhan memang tidak secara otomatis menjadikan seseorang berpikir rasional dan terbuka. Tidak sedikit seorang ateis yang, meskipun mendeklarasikan dirinya tidak mempercayai Tuhan, namun bersikap dogmatis terhadap hal-hal lainnya, seperti ideologi politik, mahzab ekonomi, klub olahraga, maupun bangsa dan negaranya.

Namun memberi label ‘fundamentalisme ateis’ karena sikap dogmatis beberapa tokoh-tokohnya akan suatu hal bukanlah sikap yang tepat. Sebagaimana kita tidak mengkategorisasikan seorang Muslim yang sangat fanatik terhadap klub sepakbola tertentu sebagai Muslim fundamentalis, atau menyebut seorang Kristen sebagai Kristen fundamentalis dikarenakan ia bersikap dogmatis terhadap mahzab ekonomi tertentu.

Label fundamentalisme ateis bukan hanya sebutan yang tidak perlu, namun juga sebutan yang sangat tidak tepat karena ateisme tidak memiliki sesuatu yang dipandang fundamental. []

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.