Home » Agama » Ateisme » Tak Ada Fundamentalisme Ateis!

Tak Ada Fundamentalisme Ateis!

3.5/5 (8)

IslamLib - We are all atheists about most of the gods that societies have ever believed in. Some of us just go one god further,” ungkap Richard Dawkins.

Dawkins merupakan pakar biologi asal Inggris jebolan Universitas Oxford. Namanya telah dikenal publik sejak tahun 1976 ketika ia menerbitkan buku The Selfish Gene yang mentransformasikan evolusi biologi. Buku tersebut menjadi best seller, terjual lebih dari 2 juta kopi.

Sejak karyanya yang ke 9, The God Delusion (2006), Dawkins tampil sebagai salah satu figur ateis yang paling dikenal dunia saat ini. Bersama Sam Harris dan Christopher Hitchens, mereka dijuluki sebagai trio ‘ateis baru’.

Gagasan-gagasan yang dibawa oleh tokoh ateis baru ini seringkali kontroversial. Kritik keras yang mereka lancarkan terhadap agama terkesan anti agama. Karena sikapnya ini mereka mendapat penolakan luas, bukan hanya dari kalangan fundamentalis agama, tetapi juga dari tokoh-tokoh agama yang moderat. Bahkan dari kalangan ateis sendiri.

Peter Higgs, fisikawan peraih hadiah Nobel 2013, bahkan melabeli mereka dengan sebutan fundamentalis ateis. Meski menyebut dirinya sebagai ateis, namun Higgs keberatan dengan sikap ‘anti-agama’ yang ditunjukkan oleh Dawkins dan rekan-rekannya.

Namun, benarkah label fundamentalis ateis merupakan julukan yang tepat? Untuk memahaminya mari telusuri makna  dari dua kata tersebut: fundamentalisme dan ateisme.

Fundamentalisme berasal dari kata dasar fundamental memiliki arti bersifat pokok atau mendasar. Para fundamentalis selalu berpretensi mengembalikan sagala hal pada kesepakatan umum suatu ideologi maupun kepercayaan yang dianutnya.

Mereka umumnya menolak reinterpretasi dan kontekstualisasi teks maupun ajaran yang dianggap sudah mapan. Sikap-sikap fundamentalis ini bisa kita jumpai di hampir semua agama dan ideologi.

Kita sering mendengar istilah fundamentalisme agama, corak keberagamaan yang strict dan kaku. Tekstual. Kalangan fundamentalis agama selalu menekankan pentingnya kembali kepada teks dan ajaran yang dibawa oleh para pendiri agama tersebut. Mereka menentang keras berbagai macam reinterpretasi dan kontekstualisasi.

Kelompok Islam fundamentalis selalu mengampanyekan pentingnya menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai panduan hidup secara menyeluruh. Begitu pula dengan kalangan fundamentalis Kristen yang menekankan pentinganya menjadikan Alkitab sebagai landasan bagi kehidupan seseorang.

Pengejewantahan dari pemahaman keagamaan yang fundamentalis ini tidak sulit kita temui. Negara Arab Saudi misalnya masih menerapkan hukum Syariat yang diyakini merupakan hukum yang sesuai dengan dasar agama Islam, yakni Alquran dan Sunnah Nabi.

Hukuman potong tangan bagi pencuri, rajam bagi orang yg melakukan hubungan seks sebelum menikah, serta kewajiban perempuan memakai pakaian tertutup merupakan beberapa di antara hukum yang dilaksanakan di negara tersebut.

Di Indonesia sendiri, praktik keagamaan fundamentalis bisa dengan mudah ditemukan. Mulai dari pengesahan berbagai Perda Syariat, serta kelompok-kelompok seperti FPI yang kerap melakukan sweeping terhadap apa saja yang mereka yakini bertentangan dengan kitab suci, seperti judi dan minuman keras. Atau seperti kelompok Hizbut Tahrir yang menolak demokrasi dan menginginkan khilafah.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, pemahaman keagamaan yang fundamental merupakan sesuatu yang umum. Kelompok-kelompok Kristen Evengelis misalnya, kerap menentang berbagai legislasi yang dianggap bertentangan dengan Alkitab, seperti pernikahan sesama jenis maupun aborsi.

Di sekolah-sekolah Kristen, pelajaran mengenai teori evolusi juga kerap ditentang karena dianggap tidak sesuai dengan proses penciptaan semesta sebagaimana dituturkan kitab suci (hal ini juga terjadi di hampir semua sekolah Islam).

Salah satu kasus yang saat ini banyak diperbincangkan adalah kegigihan seorang pegawai negara bagian Kentucky bernama Kim Davis. Ia menolak memberi lisensi pernikahan terhadap pasangan sesama jenis karena dianggap bertentangan dengan ajaran kitab suci yang diyakininya.

Memasuki kata kedua, ateisme, yang dalam cakupan paling luas dan paling umum diartikan sebagai pemahaman yang menolak eksistensi Tuhan. Kata ateisme berasal dari bahasa Yunani, atheos yang berarti ‘tanpa tuhan’. Lawan dari atheos adalah theos (diterjemahkan menjadi teis) yang berarti ‘tuhan’.

Dalam praktiknya, seorang ateis menekankan pentingnya sikap kritis dan rasional terhadap semua aspek kehidupan. Sesuatu baru bisa dipastikan kebenaran dan keberadaanya bila ada pembuktian empiris maupun prediksi yang didapatkan melalui metode saintifik.

Oleh karena itu, seorang ateis pada umumnya menolak adanya sesuatu yang mutlak dan otoritatif, baik berupa teks maupun figur, yang dapat mengatur dan dijadikan panduan bagi kehidupan manusia secara menyeluruh.

Ateisme sendiri bukanlah suatu ideologi atau agama yang memiliki sistem kepercayaan dan teori tertentu. Berbeda dengan Islam maupun Kristen, ateisme tidak memiliki serangkaian doktrin, kitab suci, maupun tokoh-tokoh yang diangkat menjadi setengah dewa.

Sejarah tidak pernah mencatat siapa "pendiri" ateisme, sebagaimana Muhammad diakui sebagai pendiri Islam, Buddha sebagai pencetus Buddhisme. Ateisme tidak memiliki doktrin dan ajaran dasar yang tercantum dalam suatu buku suci sebagaimana Alquran di mata umat Muslim dan Alkitab dalam pandangan kaum Kristiani.

Ateisme tidak mengenal konsep “rukun ateisme” maupun “sepuluh perintah Dawkins”. Ateisme tidak memiliki pandangan mengenai satu figur tokoh yang suci dan otoritatif, di mana seluruh perintah dan perilakunya wajib untuk dijalankan dan diikuti oleh seluruh pengikutnya.

Bila ateisme sendiri tidak memiliki sesuatu yang dijadikan ‘dasar’ baik berupa teks maupun figur, lalu bagaimana label fundamentalisme dapat disandingkan dengan ateisme?

Seseorang dapat disebut fundamentalis apabila ia meyakini doktrin dan mengikuti ajaran seorang figur yang disepakati oleh suatu komunitas keagamaan sebagai dasar dari keyakinan mereka secara menyeluruh.

Akan lebih cocok bila kita menempatkan ateisme bukan sebagai ideologi maupun ‘sistem kepercayaan’, namun lebih sebagai penggambaran terhadap posisi seseorang mengenai eksistensi Tuhan.

Sam Harris dalam bukunya A Letter to a Christian Nation mengatakan bahwasanya ateisme sendiri merupakan sebuah kata yang tidak perlu ada. Kita tidak menyebut seseorang yang tidak percaya terhadap astrologi, unicorn, ataupun Harry Potter sebagai seorang a-astrologis, a-unicornis, atau a-Harry Potteris.

Mitos lain yang kerap diasosiasikan dengan ateisme (atau fundamentalisme ateis) antara lain perbuatan yang dilakukan oleh beberapa tokoh komunis, seperti Stalin dan Mao Zedong. Sebagainama diketahui, rezim Stalin dan Mao merupakan dua rezim yang paling berdarah dan kejam sepanjang sejarah manusia.

Mereka tidak segan menghabisi jutaan nyawa rakyat demi mencapai masyarakat yang dicita-citakan. Sikap anti agama Stalin dan Mao yang terinspirasi dari Marx diwujudkan melalui represi terhadap umat bergama di negara mereka, serta penghancuran tempat-tempat ibadah seperti Gereja dan Kuil Buddha.

Namun apakah dengan menyalahkan atesime atas kebiadaban yang mereka perbuat merupakan langkah yang tepat?

Kekejaman yang dilakukan Stalin dan Mao tidak ada kaitannya dengan ateisme. Bukan karena membunuh serta menyiksa seseorang itu tidak sesuai dengan doktrin dan ajaran ateisme, namun karena ateisme tidak memiliki ajaran dan doktrin.

Mengulangi paragraf sebelumnya, ateisme tidak lebih dari penyebutan mengenai posisi seseorang terhadap keberadaan Tuhan. Berkaitan dengan Stalin dan Mao, agaknya kita mengasosiasikan kekejaman mereka sebagai manifestasi dari taklid buta terhadap Marxisme (kontroversi mengenai perilaku Stalin dan Mao apakah sesuai dengan ajaran Marx bukanlah fokus saya dalam tulisan ini).

Sikap yang dogmatis terhadap Marx ini lebih cocok diasosiasikan dengan agama, bukan dengan ateisme. Sebab, sebagaimana umat beragama, Stalin dan Mao juga menjadikan Marx, dan diri mereka sendiri, sebagai figur yang otoritatif dan kebal terhadap kritik.

Selain itu, label fundamentalis ateis juga kerap digunakan untuk menutup pandangan kritis terhadap agama. Ia dipakai untuk mempertahankan status quo, di mana aspek-aspek keagamaan diberi keistimewaan terhadap aspek-aspek non-agama.

Sudah menjadi rahasia umum bahwasanya selama berabad-abad, bahkan hingga sekarang, agama selalu menempati posisi khusus di masyarakat maupun dalam kehidupan bernegara. Agama diberikan privilege yang tidak dimiliki oleh gagasan dan ide-ide manapun.

Bahkan dalam beberapa kasus di Amerika Serikat yang merupakan negara sekular, seseorang dapat melakukan tindakan melawan hukum apabila hukum tersebut diyakini bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya.

Hal inilah yang ditentang oleh para pengusung ateisme. Tokoh-tokoh seperti Richard Dawkins dan Christopher Hitchens mencoba menunjukkan kepada kita bahwa agama tidak berbeda dengan produk budaya lainnya, yang sangat layak untuk dipertanyakan dan dikritisi.

Bahwa doktrin keagamaan, sebagaimana gagasan lainnya, dapat dianulir apabila terbukti bertentangan dengan sains modern. Keyakinan terhadap ajaran agama tertentu tidak lantas memberi seseorang pass card untuk melakukan tindakan melawan hukum, memaksakan sesuatu kepada orang lain, atau mendapatkan keistimewaan tertentu dari negara.

Posisi ketidakpercayaan terhadap eksistensi Tuhan memang tidak secara otomatis menjadikan seseorang berpikir rasional dan terbuka. Tidak sedikit seorang ateis yang, meskipun mendeklarasikan dirinya tidak mempercayai Tuhan, namun bersikap dogmatis terhadap hal-hal lainnya, seperti ideologi politik, mahzab ekonomi, klub olahraga, maupun bangsa dan negaranya.

Namun memberi label ‘fundamentalisme ateis’ karena sikap dogmatis beberapa tokoh-tokohnya akan suatu hal bukanlah sikap yang tepat. Sebagaimana kita tidak mengkategorisasikan seorang Muslim yang sangat fanatik terhadap klub sepakbola tertentu sebagai Muslim fundamentalis, atau menyebut seorang Kristen sebagai Kristen fundamentalis dikarenakan ia bersikap dogmatis terhadap mahzab ekonomi tertentu.

Label fundamentalisme ateis bukan hanya sebutan yang tidak perlu, namun juga sebutan yang sangat tidak tepat karena ateisme tidak memiliki sesuatu yang dipandang fundamental. []

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.