Home » Agama » Ateisme » Tiga Jenis Ateisme di Indonesia
Para Tokoh Ateisme Baru (Foto: freethoughtblogs.com)

Tiga Jenis Ateisme di Indonesia

4.01/5 (78)

2. Ateisme Spiritual (Atheism 2.0)

Tuhan dan spiritualitas adalah dua hal yang terpisah. Spiritualisme bisa berkembang tanpa ide penciptaan. Seseorang bisa meyakini adanya sesuatu yang “spiritualistik” tanpa berpretensi menganggapnya sebagai sesuatu yang “adikodrati” (Tuhan).

Spiritualitas tidak mesti muncul dari agama, tapi bisa dari kegiatan apa saja yang menimbulkan kegairahan hidup, seperti mendengarkan musik, melukis, memotret, membaca, menolong orang, dan melakukan hal-hal yang membangkitkan efek transendental kejiwaan seseorang.

Alain de Botton, seorang penulis Inggris, menyebutnya “Ateisme 2.0.“ Berbeda dari “ateisme lama” dan “ateisme baru” yang cenderung terperangkap dalam perdebatan tak berujung seputar keberadaan Tuhan, Ateisme 2.0 mengajak kita untuk move-on dari perdebatan itu.

Ketiadaan Tuhan adalah sesuatu yang sangat clear dan tak perlu diperdebatkan lagi. Yang harus dilakukan sekarang adalah memisahkan ide tentang Tuhan dari agama. Manusia modern bisa beragama tanpa Tuhan, yakni agama spiritual di mana kegairahan menjadi kata kuncinya.

Alain de Botton berbicara tentang Mozart, Beethoven, Shakespeare, dan Einstein, sebagai “nabi-nabi” kaum Ateis Spiritual. Kegiatan-kegiatan dalam agama seperti “doa,” “sembahyang,” “mengaji,” dan sejenisnya bisa digantikan dengan “membaca,” “mendengarkan musik,” “melukis,” dan “bersemedi.” Semua kegiatan “spiritualistik” ini bisa dilakukan tanpa harus percaya pada Tuhan.

Di Indonesia, beberapa penulis dan pegiat sosial mengaku lebih senang disebut sebagai seorang “spiritualis” ketimbang seorang ateis. Ayu Utami, seorang novelis terkenal, misalnya, mengembangkan suatu gerakan yang dia sebut “spiritualisme kritis” yang intinya sebetulnya adalah ateisme spiritual.

Sama seperti Alain de Botton, Ayu tidak mempersoalkan Tuhan. Baginya, membangun spiritualisme yang kritis (yakni spiritualisme yang mengandalkan nalar) jauh lebih penting ketimbang berdebat tentang Tuhan.

3. Ateisme Pragmatis (Religious Atheism)

Ini adalah jenis ateisme yang paling banyak terdapat di Indonesia. Setidaknya, ini yang saya amati lewat bergaul dengan banyak orang, dari politisi, tokoh agama, pemimpin organisasi, pendeta, kiai, pekerja seni, penulis, dan intelektual.

Beberapa literatur menyebutnya sebagai “ateisme religius,” tapi saya lebih suka menyebutnya dengan “ateisme pragmatis.” Disebut demikian karena pada dasarnya mereka adalah seorang ateis tapi tetap menjalankan ritual-ritual keagamaan. Kok bisa?

Seperti sudah saya jelaskan di atas, menjadi ateis di tengah masyarakat yang religius adalah sebuah kutukan. Apalagi jika Anda lahir dan tumbuh dalam lingkungan agama. Lebih musykil lagi jika karir Anda terkait dengan agama. Mengaku ateis jelas sebuah tindakah bunuh diri.

Seorang ateis pragmatis tidak percaya dengan keberadaan pencipta. Tuhan adalah ide yang absurd untuk dipahami. Alam raya dan kehidupan manusia bisa bekerja tanpa Tuhan. Namun demikian, ateis pragmatis tidak menganggap agama sebagai sesuatu yang harus dimusuhi. Sebaliknya, agama harus didekati dan dimanfaatkan.

Orang ateis pragmatis adalah kelompok yang paling pandai dalam memanfaatkan agama. Saya memperhatikan ada beberapa tokoh Islam yang sebenarnya ateis tapi menjadi pimpinan di organisasi-organisasi besar Islam, seperti Muhammadiyah dan NU. Tentu saja, kalau mereka ditanya, mereka menolak disebut ateis.

Bagaimana mungkin menyatukan antara keyakinan yang ateistik dengan agama? Jawabannya adalah survival. Dorongan untuk bertahan hidup dan mencari status sosial jauh lebih penting ketimbang menunjukkan keyakinan diri yang sebenarnya. Tidak ada gunanya mengaku ateis kalau hanya akan menjerumuskan diri kepada kebangkrutan.

Tapi, bukankah sikap semacam itu disebut “hipokrit” atau bahasa agamanya “munafik”? Kaum ateis pragmatis punya istilah sendiri untuk menyebut sikap mereka, yakni “kecerdasan sosial” (social intelligence). Manusia dituntut cerdas secara sosial untuk bertahan hidup di tengah kompetisi yang sengit. Dorongan untuk terus hidup (survival) adalah insting paling azali dalam diri manusia.

Lingkungan yang tidak bersahabat adalah alasan utama mengapa seseorang menganut sikap “ateisme pragmatis.” Ketiadaan pilihan dan keterpaksaan juga merupakan alasan lain mengapa orang mengambil jalan ateisme pragmatis.

There is no harm to do religious rituals. Tak ada salahnya menjalankan (dan kalau perlu mempertontonkan) kegiatan-kegiatan agama (shalat, puasa, haji, pergi ke gereja), sejauh kegiatan ini bisa melancarkan karir seseorang dan mendukung keberlangsungan hidupnya.

Ateisme adalah keyakinan yang tampaknya semakin banyak digandrungi orang. Di negara-negara Muslim, jumlah ateis terus bertambah, atau setidaknya semakin berani menunjukkan diri. Berbagai laporan menyebutkan terjadinya peningkatan jumlah pemeluk ateis di Arab Saudi.

Salah satu alasan mengapa orang-orang Islam berubah menjadi ateis karena alasan kemuakan luar biasa dan kebencian yang begitu mendalam terhadap agama dan cara agama dipraktikkan. Di Arab Saudi, sebagian besar pemeluk ateis adalah kaum terdidik yang selama ini kecewa dengan pemerintah dan masyarakat mereka.

Di Indonesia, gejala serupa juga terjadi. Anak-anak muda yang dikepung oleh kehidupan agama yang absurd biasanya mencari pelarian dengan meninggalkan ajaran-ajaran agama dan secara diam-diam menganut keyakinan ateistik (atau paling tidak agnostik). Di luar rumah mereka menjadi ateis tapi di dalam rumah mereka berpura-pura menjadi seorang yang religius.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.