Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Agama » Eddy Kristiyanto: “Perlu Kearifan Memberi Waktu”
Romo Eddy Kristiyanto (Foto: parokisantolukas.org)

Eddy Kristiyanto: “Perlu Kearifan Memberi Waktu”

3/5 (1)

Di Indonesia sendiri, apakah Gereja Katolik atau Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pernah menghadapi kasus-kasus seperti ini?

Akhir-akhir ini, KWI memang sering mendapat surat dan informasi tentang sejumlah kelompok yang konon mendapat bisikan dari santa perawan Maria atau Siti Maryam. Ada buku yang menyebutkan kalau salah seorang dari ketua kelompok ini merasa telah mendapat bisikan terus-menerus dari Ibunya Yesus itu.

Dari bisikan itu dikabarkan kalau akan ada nabi atau penghibur yang hadir di tengah-tengah mereka. Bisikan itu terus-menerus dialami oleh ibu yang tidak perlu saya sebutkan namanya itu.Kasus inisudah menjadi rahasia umum di kalangan KWI. Lantas ibu itu selalu menuliskan buku yang berisi nasihat-nasihat.

Pada awal tahun 2000 lalu, di Surabaya juga ada kelompok Bapak Thomas yang konon dianggap memperoleh penglihatan-penglihatan dari sang perawan Maria. Dalam bisikan-bisikan itu misalnya disebutkan bahwa pada suatu ketika nanti, antara jam 2 lebih 3 menit misalnya, dia akan menampakkan diri. Kita bertanya-tanya: ”Santa Maria kok dikencani !?” Tapi justru ada banyak orang yang berbondong-bondong keheran-heranan untuk melihat mukjizat itu.

Nah, dalam kasus-kasus seperti ini, KWI biasanya sangat berhati-hati dengan cara membiarkannya. Kearifan membiarkan dalam artian tetap memantau sekaligus memberi waktu itu, pedomannya ada di dalam Injil Lukas pasal 6 ayat 40-an. Di situ dinyatakan, segala sesuatu diukur atau dapat dilihat dari buahnya. Kalau sesuatu itu baik, ia akan mendatangkan hal yang berguna bagi orang lain.

Atau, kebijakan ini bisa juga dilandaskan pada kisah para Rasul. Di situ jelas sekali dikatakan bahwa ketika Yesus sudah wafat, ada seorang Gamalail yang menyatakan: ”Jangan-jangan ini kelompok yang direstui Tuhan yang punya hidup ini?!”

Artinya, lihat saja nanti; kalau suatu kelompok itu memang benar, pasti mereka akan bertahan lama dan mendatangkan arti atau makna bagi orang lain. Tapi kalautidak benar, nanti mereka akan hilang dengan sendirinya.

Bagaimana kalau suatu kelompok itu berpotensi membahayakan pengikutnya, atau sudah menjurus pada tindak-tindak kriminal dan hal-hal lain di luar jalur hukum?

Makna kearifan membiarkan itu intinya mencoba memberi waktu; mungkin dia benar dan arus umum itulah yang sudah sesat. Jadi, kemungkinan-kemungkinan itu perlu dihidupkan terus. Dalam konteks ini, KWI tidak segera mematahkan bulu yang sudah terkulai atau memadamkan lampu yang nyalanya temaram. Jadi tangguhkan dulu.

Sebab, kehidupan ini justru menarik ketika segala sesuatu tidak serba terang, tetapi ada sesuatu yang bersifat misteri. Kebijakan itu juga ditempuh agar kita tidak seakan-akan sedang berperan sebagai Tuhan yang berhak memutuskan suatu kelompok itu sesat atau tidak.

Setelah memberi tenggat waktu, kapan saatnya KWI mulai bertindak?

Pertimbangan utamanya adalah ketika semakin banyak orang yang bergabung dalam kelompok itu, atau kalaupun tidak bergabung, tetap terpengaruh oleh pandangan-pandangan yang dikeluarkan atau dilansir mereka.

Atau ketika pandangan mereka tidak sejalan dengan logika umumnya, dan sering seperti tahayul dan terlalu magis, dan mampu menghimpun massa untuk mengarah pada tindak-tindak kekerasan atau bunuh diri. Singkatnya, ketika praksis kehidupan kelompok itu sudah dipandang mulai meresahkan.

Tapi kita juga harus bersikap kritis soal klaim meresahkan dan tidak meresahkan ini. Sebab banyak juga orang Katolik yang fanatik alias kolot, lantas merasa kelompok tertentu tidak lagi sesuai dengan keyakinan mereka. Mereka lalu melapor kepada pimpinan.

Karena itu, perlu ditinjau juga apa yang dianggap meresahkan itu, sebab tidak semua orang yang bergabung di dalam suatu kelompok itu otomatis menghasilkan hal-hal yang buruk. Mungkin saja mereka menjadi semakin saleh, baik, dan sumarah di dalam proses berserah diri kepada Tuhan. Jadi ukurannya sangat berbeda.

Karena itu,kalau orang berbicara tentang batasan mana yang benar dan mana yang salah, saya kira jawabannya adalah prinsip-prinsip umum yang dijunjung tinggi oleh manusia beradab, dan prinsip itu diakui oleh semua agama.

Misalnya nilai-nilai universal yang dikemukakan oleh setiap agama. Bukan hanya universal, tapi juga abadi, seperti soal keadilan dan bonnum commune ataukesejahteraan umum. Jadi, ada prinsip-prinsip yang diakui secara umum oleh umat manusia, dan itu berlaku umum tanpa memandang agama apapun.

Namun ketika soal ini telah masuk ke lembaga tertentu, tentu akan ada ketentuan-ketentuan sendiri, misalnya soal moralnya. Moralitas di sini dapat didefinisikan sebagai sikap menjunjung tinggi asas-asas kebaikan hidup bersama dan biasanya sesuai dengan ajaran kitab suci.

Tapi tak jarang semua itu sulit untuk dilihat dari standar ortodoksi kitab suci, Romo…

Ya, itu memang persoalan yang sangat kompleks, karena itu tidak sembarang orang berhak menentukannya. Tapi minimal, ada ketentuan itu, karena kalau tidak, nanti pegangannya hanya teologi dan kurang bersentuhan dengan kitab suci.

Tapi di luar itu, kita misalnya juga bisa menggunakan standar psikologi agama seperti yang dikemukakan William James. Yaitu dilihat dari sudutvarieties of religious experience atau keragaman pengalaman beragamanya.

Dari situ dapat diketahui bahwaada banyak ragam pengalaman insani dalam beragama ketika orang sedang menghadapi hidup dan bersikap terhadap sesama. Ini saya kira salah satu unsur yang terpenting untuk melihat kasus-kasus pengalaman beragama yang tidak umum.

Dan biasanya, standarnya juga tidak pernah lepas dari kitab suci, seperti soal larangan mencuri. Kita tahu, mana ada kitab suci yang mengajarkan mencuri atau membunuh diri.

Romo, berdasarkan pengalaman Katolik, apakah cara-cara represif masih dipandang efektif dan dianjurkan dalam menangani kelompok sempalan?

Teknik-teknik represif atau cara menekan itu tidak banyak manfaatnya. Gereja Katolik universal sudah banyak belajar dari kasus-kasus yang muncul setelah Konsili Vatikan Kedua dengan kasus Uskup Agung Levebredi tahun 70-an yang menjadi kelompok tersendiri.

Kalau dilihat dari perspektif Abad Pertengahan atau sebelum renesance, mereka pasti sudah akandilibas atau disingkirkan sama sekali. Tapi perlu diingat, ketika Anda tidak setuju dengan jargon atau hal-hal yang merupakan pakem dalam sebuah lembaga, Anda akan mengambil jalan lain. Dan biasanya, jalan untuk berdamai itu memang cukup alot dan cukup lama.

Pertentangan panjang itulah yang dialami Gereja Protestan dengan Katolik sejak lama. Tapi kemudian, Konsili Vatikan Kedua mengatakan, bagaimanapun juga, kalian adalah saudara. Padahal dulunya, salah satu kelompok selalu dikecam sebagai gerakan anti-Kristus atau setan.

Tapi lama-lama, salah satunya juga membawa makna, meskipun kesatuan gereja antar keduanya tidak terwujud. Artinya, dalam kasus-kasus seperti itu, biarkan orang secara sendiri-sendiri melakukan pemilahan berdasar keyakinan nurani, tingkat pendidikan, dan latar belakang kehidupannya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.