Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Agama » Hamid Basyaib: “Asumsi Perang Demi Agama Perlu Dikritik”
Hamid Basyaib

Hamid Basyaib: “Asumsi Perang Demi Agama Perlu Dikritik”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Apa yang menarik dari sosok Salahuddin seperti yang digambarkan film ini?

Yang paling menarik adalah adegan peperangan terakhir, tepatnya saat dia bernegosiasi dengan pahlawan muda bernama Balian. Ketika itu, tercapai kesepakatan untuk tidak mencederai rakyat biasa sewaktu Yerusalem diserahkan kepada pasukan Salahuddin.

Balian waktu itu tidak terlalu percaya akan komitmen Salahuddin. Makanya dia pesimis hasil negosiasi itu akan terlaksana. Dia lalu mengatakan, “Orang-orang biasa berjanji begini dan begitu.” Tapi Salahuddin menjawab, “Saya bukan orang-orang sejenis itu. Saya menjamin keselamatan semua harta dan kotamu yang dipenuhi perempuan dan anak-anak. Saya juga menjamin semua warga akan mendapat tanah.” 

Si jenderal muda itu terpana karena sedang menghadapi orang yang berjenis lain. Dia lalu berpikir bahwa orang Saracen itu tidak seburuk yang dia bayangkan selama ini. Akhirnya dia menerima kesepakatan negosiasi itu dan pergi berlalu. Yang penting baginya ketika itu adalah soal keselamatan warganya. Jadi Balian lebih berkepentingan untuk membela jiwa manusia, bukannya formalisme agamanya.

Padahal, Salahuddin juga diprovokasi untuk berperang demi Tuhan, ya?

Ya. Selalu ada pihak yang jadi kompor di tiap agama dan kelompok. Tapi apa hikmah yang bisa kita petik dari film ini? Kira-kira, begitulah state of the art atau posisi pemahaman agama yang umum pada masa itu, atau pada seribu tahun yang lalu.

Karena itu, film semacam ini perlu sekali dan selalu memberi pelajaran bagi kita. Intinya, jangan begitu lagi karena akan jauh lebih banyakmudharat daripada manfaatnya.

Apapun gambaran film ini tentang Perang Salib, sebetulnya pesan apa yang ingin disampaikan Scott?

Saya kira jelas sekali dia mau mengritik asumsi perang atas nama agama. Perang atas nama Tuhan, mungkin pada niat awalnya memang luhur. Hanya saja, selalu ada unintended consecuensess, akibat-akibat yang tidak terniatkan dari semula.

Misalnya, konsekuensi-konsekuensi yang muncul ketika perangnya sudah dibakar oleh nafsu untuk membunuh dan saling mengalahkan dari kedua pihak yang berseteru. Pesan itu kebetulan diwakili oleh sosok Tiberias yang dimainkan dengan bagus sekali oleh Jeremy Iron.

Ketika pasukan Kristen kalah—setelah menguasai Yerusalem selama seratus tahun—Tiberias mengucap pesan penting kepada kesatria muda idealis bernama Balian (Orlando Bloom) bahwa kerajaan surga itu ada di pikiran dan hati. Padahal, pahlawan muda ini sesungguhnya bukan sosok yang religius tetapi seorang spiritualis.

Balian digambarkan sebagai sosok yang tidak terlalu terikat pada simbol-simbol agama, dan dua kali menekankan bahwa Tuhan ada di sini dan di sini (sambil menunjuk otak dan dadanya). Itu dia tegaskan kembali ketika Sang Ratu merasa kalah dan sedih. Di situ dia mengatakan bahwa, “Kerajaanmu ada di pikiran dan di hati, dan ia tidak akan pernah bisa ditaklukkan oleh siapapun”.

Pesan itu seakan-akan menegaskan bahwa klaim-klaim agama untuk menegakkan kerajaan surgawi melalui perang sesungguhnya palsu belaka?

Ya. Sebab di beberapa pimpinan perang, memang selalu ada utopia romantis semacam itu. Tapi di film ini digambarkan bahwa utopia yang romantis seperti itu tidak pernah terjadi. Dari sini kita bisa menangkap pesan Tiberias kepada anak muda bernama Balian itu.

“Dulu kita menyangka bahwa kita berperang demi Tuhan dan demi agama. Sekarang terbukti, kita berperang tidak lain hanya untuk harta dan tanah,” katanya menyesal. Karena itu, Tiberias merasa malu, dan mengatakan, “Mudah-mudahan Tuhan memberkatimu, sebab saya tahu Dia sudah tidak bersama saya lagi.”

Nah, itulah yang mungkin hendak dikatakan film ini. Dan tentu saja itu salah satu bentuk interpretasi pihak Barat atau Scott sendiri atas perang-perang bernuansa agama.

Saya membayangkan, kalau kalangan Islam membuat film serupa, mungkin yang akan dititikberatkan juga interpretasi sudut pandang Islam yang kurang lebih sama. Artinya, soal perang untuk mencari harta dan tanah, di dalam Islam bahkan sudah diingatkan sejak zaman Nabi.

Kita tahu, dalam surat al-Anfal disebut bahwa seperlima harta rampasan perang menjadi hak Rasul, sementara yang empat perlima lainnya dibagi-bagikan kepada kaum muslim. Tapi bayangkanlah, sejak masa Umar bin Khattab, hanya beberapa tahun setelah wafatnya Nabi, Umar telah berhenti membagi-bagikan harta rampasan perang.

Apa makna reinterpretasi Umar atas ayat tentang harta rampasan perang itu?

Itu artinya, Umar paham betul bahwa mereka berperang bukan untuk harta, tapi buat perjuangan agama. Artinya pada masa Umar sudah ada kekhawatiran bila harta rampasan perang dibagi-bagikan terus, maka motif perang Islam pada ekspedisi-ekspedisi selanjutnya, semata-mata akan berubah menjadi urusan harta, uang, dan perempuan.

Makanya dia bertahan untuk tidak membagi-bagikan, walaupun banyak sahabat yang protes, khususnya mereka yang memahami Alquran secara literal seperti Bilal bin Rabah. Kebijakan Umar itu mereka anggap berlawanan langsung dengan bunyi tekstual Alquran. Gambaran ini sama seperti apa yang diungkapkan oleh Tiberias dalam film itu.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.