Home » Agama » Kristen » Albertus Patty: “Kekristenan itu Tidak Satu”
Albertus Patty
Albertus Patty

Albertus Patty: “Kekristenan itu Tidak Satu”

4.33/5 (3)

Pasang surut hubungan Islam-Kristen dalam sejarah Indonesia merupakan persoalan yang perlu pengkajian serius. Belakangan, terbit sebuah buku karangan Pdt. Dr. Jan S. Aritonang, yang menyoroti Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Buku ini menyajikan data historis yang cukup komprehensif tetang hubungan dua agama ini di Indonesia.

Dengan merujuk beberapa kutipan dari buku tersebut, Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal (JIL) berbincang-bincang tentang hubungan Islam-Kristen dengan Pendeta Dr. Albertus Patty dari Gereja Kristen Indoneis (GKI) yang juga aktif dalam pelbagai kegiatan dialog antaragama. Berikut petikan perbincangan mereka yang berlangsung Kamis (30 September 2004) itu.

 

Bung Albert, bisa Anda ceritakan kilas balik sejarah hubungan Islam-Kristen di Indonesia?

Saya membaginya dalam dua periode. Pertama, sebelum kemerdekaan; ke dua, sesudah kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, hubungan Kristen-Islam cukup banyak mengalami ketegangan. Itu tentu disebabkan Belanda memasuki Indonesia diiringi para misionaris yang ingin menyampaikan berita Injil.

Pemerintah Belanda itu sebetulnya tidak berniat menyebarkan Injil. Namun, pemberitaan Injil itu adakalanya merupakan strategi politik mereka untuk memudahkan masuk Indonesia.

Mereka sebetulnya datang untuk kepentingan ekonomi dan perdagangan. Tapi untuk menunjang tujuan itu, suatu wilayah mesti dikristenkan lebih dulu, sehingga memunculkan ketegangan-ketegangan antara umat Kristen dan Islam.

Jadi, pada masa kolonial ada sokongan langsung atau tidak langsung pada aktivitas penyebaran Kristen?

Tidak langsung. Artinya aktivitas misionaris itu kadang-kadang membonceng Belanda, dan tak jarang juga mengalami pecah kongsi. Kadang-kadang ada pula aktivis misi yang anti-Belanda. Jadi, tidak selalu mereka merupakan bagian dari kolonialisme.

Tentu sikap gereja terhadap Belanda pada masa kolonial berbeda-beda. Nah, bagaimana sikap gereja lokal—seperti Anda yang dari Ambon—terhadap pemerintah Belanda ketika itu?

Orang Kristen Ambon banyak sekali mendapatkan berkah dari Belanda. Mereka boleh dibilang anak manis Belanda. Makanya, mereka sendiri tidak terlalu bermasalah dengan kehadiran Belanda yang sudah seperti kakak serohani yang memperkenalkan Injil kepada mereka.

Jadi ada semacam perasaan berhutang budi. Itu pandangan dari satu sisi. Pada sisi lain, mereka juga ada yang tidak setuju dengan Belanda. Pemberontakan Pattimura itu kan wujud anti-Belanda di Maluku. Jadi, ada yang setuju dan yang tidak setuju.

Bagaimana dengan daerah lain, misalnya di Sumatera Utara dan Manado?

Pada masa kolonial, di Sumatera umumnya sedang terjadi proses islamisasi yang cukup kuat, khususnya di Sumatera Barat yang mulai naik ke Sumatera Utara. Proses islamisasi itu juga terjadi sebagai respon atas ancaman Belanda.

Makanya, ancaman Belanda itu sebetulnya justru menolong percepatan proses islamisasi. Kalau tidak ada ancaman Belanda yang dirasa begitu kuat, belum tentu di sana akan Islam semua. Justru karena Belanda, proses islamisasi berlangsung lebih cepat.

Melihat kenyataan itu, Belanda lalu masuk melalui tanah Batak. Hanya saja, masuk melalui tanah Batak itu bukan terutama karena Belanda ingin melakukan kristenisasi yang sungguh-sungguh, tapi salah satunya sebagai strategi politik agar mereka bisa punya jejak kaki di Sumatera.

Di Indonesia, banyak persepsi yang mengidentikkan pemerintah kolonial dengan kekristenan. Persepsi itu muncul karena kegiatan kristenisasi dianggap mendompleng pemerintah Belanda. Bagaimana menurut Anda?

Menurut saya salah, karena Kristen tidak selalu mendompleng. Bahkan kadang kala justru Kristen misalnya mendorong berlangsungnya proses politik etis di Indonesia. Proses itulah (politik etis) yang banyak memunculkan tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia.

Proses itu juga berlangsung karena desakan para zending yang melihat perlunya akses pendidikan yang baik bagi orang-orang Indonesia. Proses itu juga terjadi karena perubahan peta politik di Belanda sendiri dengan menangnya partai liberal.

Dengan terjadinya perubahan peta politik di sana, muncullah desakan-desakan agar pemerintah kolonial mendidik rakyat Hindia Belanda supaya cerdas, dan lain sebagainya. Sebagian juga karena desakan para zending. Kalau tidak ada proses itu, saya tidak yakin kita akan merdeka pada tahun 1945.

Menjelang kemerdekaan, bagaimana sikap gereja Kristen umumnya terhadap pemerintahan kolonial?

Sebelum kemerdekaan terjadi, orang-orang Kristen yang sudah mendapatkan didikan Belanda justru berbalik menjadi kritis terhadap Belanda, meskipun mereka tetap mengganggapnya kakak serohani.

Yang menarik juga, ketika itu banyak sekali zending-zending dan orang-orang Belanda yang bekerja di Indonesia yang ikut menopang kemerdekaan Indonesia. Mereka inilah yang kemudian mendidik tokoh-tokoh politik Kristen, terutama dengan mengadakan perkumpulan Bible Kring (Belanda, Red) atau Persekutuan Alkitab.

Di forum itulah mereka membahas Alkitab dengan topik-topik yang bertujuan untuk merdeka dari Belanda.

Kalau diringkas, bagaimana menggambarkan hubungan Islam-Kristen pada periode kolonial itu?

Saya pikir di situ ada juga hal-hal yang positif. Hubungan itu juga dapat dikatakan baik, karena para zending juga berkiprah dalam mendorong Belanda untuk mendidik bangsa ini. Sisi positif lainnya bagi Islam, proses islamisasi berlangsung lebih cepat karena adanya tantangan bernama Belanda.

Tentu saja ada hubungan yang tegang antara Islam dan Kristen karena pemerintah Belanda ketika itu juga membuat kebijakan keras terhadap kelompok-kelompok Islam!

Ya, tentu ada ketegangan-ketegangan di antara Belanda sebagai penjajah dengan kalangan Islam. Tapi saya tidak melihat Belanda sebagai representasi Kristen, tapi sebagai penjajah berhadapan dengan orang-orang Indonesia yang Islam. Perlu dicatat, dalam sejarah kolonial tidak ada gereja yang dibakar atau dirusak oleh umat Islam Indonesia.

Bung Albert, setelah kemerdekaan, adakah peristiwa penting yang menandai hubungan dua agama ini di Indonesia?

Setelah kemerdekaan, orang Kristen Indonesia menerimanya sebagai anugerah, karena kita bisa menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Dan memang waktu itu tokoh-tokoh Kristen melihat, meskipun sudah merdeka, pemikiran orang Indonesia masih terjebak dalam sebentuk etnosentrisme. Jadi masih berpikir berdasar kesukuan yang sangat menonjol.

Karena itu, gereja-gereja saat itu berpikir bagaimana membuat Dewan Gereja Indonesia dengan satu visi, yaitu agar persatuan gereja-gereja Indonesia dari aneka ragam suku bangsa ini menjadi teladan persatuan seluruh bangsa Indonesia. Maknanya, meski kita berbeda suku, tapi kita bisa bersatu. Jadi ketika DGI berdiri tahun 1950, visinya adalah persatuan Indonesia.

Pada tahun 1966 Pemerintah Orde Baru menerapkan kebijakan melarang komunisme, dan mewajibkan mantan aktivis komunis itu untuk memeluk salah satu agama yang dianggap resmi. Kalau tidak salah, ketika itu sekitar dua juta orang berduyun-duyun masuk Kristen. Peristiwa ini dianggap umat Islam sebagai peristiwa yang mesti diwaspadai. Bagaimana Anda melihat peristiwa itu?

Ketika itu, pemerintah berkuasa memang mengharuskan untuk memilih agama tertentu. Tidak ada pilihan lain, kecuali hanya lima yang dianggap resmi. Ketika itu orang-orang berbicara, “Oke kita memilih Kristen!” Jadi tidak ada paksaan dari pihak Kristen.

Pada tahun 1966 itu, pihak gereja atau umat Kristen melihat, peraturan pemerintah itu merupakan anugerah besar, karena adanya booming kekristenan secara kuantitas. Waktu itu dua juta orang masuk Kristen.

Jadi booming Kristen itu sebenarnya juga terjadi karena kebijakan politik waktu itu, ya?

Betul. Jadi bukan karena orang Kristen giat melakukan proses penginjilan. Hanya saja, saya pikir peristiwa itu bisa juga menjadi momen yang memunculkan pelbagai prejudice terhadap Kristen.

Tapi sebetulnya saat itu bukan semua orang masuk Kristen. Ada juga yang lalu masuk Islam. Hanya memang karena begitu banyaknya orang yang masuk Kristen, kemungkinan orang-orang Kristen terlalu senang dan memunculkan rasa iri hati pada pihak lain. Jadi semacam euforia lah!

Bung Albert, dalam buku Sejarah Perjumpaan Islam-Kristen juga dicatat, ketika tejadi arus besar perpindahan ke Kristen, banyak orang yang mulai bicara soal kristenisasi. Selebaran gelap yang mencurigai adanya rencana besar untuk mengkristenkan Indonesia bertebaran di mana-mana. Oleh buku ini dicatat, selebaran itu misalnya mengatakan, dalam tempo 20 tahun pulau Jawa akan dikristenkan, dan dalam tempo 50 tahun seluruh Indonesia akan dikristenkan. Caranya dengan memperbanyak sekolah menengah tinggi Kristen yang hanya menerima murid Kristen, membuka madrasah Alkitab, dan lain-lain. Bagaimana Anda menanggapi selebaran seperti ini?

Saya tidak menanggapinya secara serius. Sebab, faktanya kekristenan itu tidak satu. Jadi sebetulnya tidak pernah ada satu strategi besar Kristen yang tunggal. Kristen itu banyak, dan di antara kekristenan itu sendiri saling menginjili, saling berebut anggota. Jadi hampir sama dengan kemajemukan di dalam Islam.

Terkadang ada 3 gereja dalam satu jalan yang sama, yang saling bertengkar. Karena saling bertengkar, mekanisme mereka untuk mengatasi itu adalah dengan membikin gereja sendiri-sendiri. Jadi selebaran-selebaran itu saya anggap seperti selebaran pemilu yang bertujuan untuk kampanye hitam atau black campaign.

Tapi di kalangan umat Islam, selebaran seperti ini menimbulkan reaksi negatif, banyak dipercayai orang, dan menimbulkan prasangka buruk terhadap Kristen. Bagaimana cara terbaik menangani persoalan seperti itu?

Daripada hidup dalam suasana prejudice dan cuma dipengaruhi selebaran-selebaran gelap, lebih baik kita berdialog. Jadi perlu adanya pertemanan baik antaragama. Pada zaman Orde Lama pertemanan baik antaragama di kalangan elite politik itu terjadi.

Mereka yang datang dari berbagai agama, berdebat keras seperti apapun tetapi tetap saling mengunjungi, saling menegur, dan lain sebagainya. Perlu diingat, pada masa Orde Lama, tidak ada gereja yang dirusak.

Orang sering bicara soal kristenisasi. Pertanyaannya, apakah kristenisasi juga melibatkan orang Katolik atau isu spesifik Kristen (Protestan) saja?

Saya pikir, orang Katolik sudah menghentikan pemikiran tentang kristenisasi. Kalau bicara soal kristenisasi, biasanya lebih banyak menunjuk pada golongan Protestan. Dan sebetulnya, kita juga tidak bisa menyebutnya dominasi Protestan, karena ada sekitar 24.000 denominasi Protestan di dunia ini.

Angka itu akan terus meningkat. Makanya, kita jangan cepat terjebak dalam gebyah uyah atau generalisasi dalam berpikir.

Tapi, sebetulnya apakah Anda setuju kristenisasi?

Sebetulnya saya sendiri tidak setuju dengan istilah kristenisasi, karena seolah-olah ada pengandaian tentang orang yang datang, kemudian dengan mudah menjadi Kristen. Kalau begitu faktanya, sepertinya manusia sudah tidak punya daya kritis lagi. Begitu mudahnya mereka dikristenkan! Makanya, saya sendiri tidak yakin dengan agenda kristenisasi.

Pada zaman sekarang, sudah banyak sekali orang cerdas, dan jadi tidak mudah melakukan itu. Jangan-jangan Anda sendiri justru lebih banyak tahu tentang kekristenan daripada saya.

Saya kira, banyak orang Islam yang tahu banyak tentang Kristen, karena mereka membaca tentang kekristenan dengan baik dan penuh simpati. Buku sudah banyak beredar di mana-mana, untuk itu orang-orang sudah sangat kritis.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.