Home » Agama » Kristen » Benny Susetyo: “Paus Memberi Teladan untuk Terbuka”
Beny Susetyo (Foto: hidupkatolik.com)

Benny Susetyo: “Paus Memberi Teladan untuk Terbuka”

3/5 (1)

Apa pengaruh dialog antar-agama yang didorong Paus terhadap hubungan Katolik dengan agama-agama lain di Indonesia?

Bagi umat Katolik, figur Paus telah memberi teladan untuk lebih terbuka. Jadi dampaknya dapat dilihat jelas pada aktivitas Paroki-paroki yang ada di Indonesia. Relasi baik umat Katolik dengan umat Islam, misalnya dengan NU dan Muhammadiyah terasa sekali.

Biasanya, Paroki-paroki mengadakan kerjasama lintas agama dalam memerangi kemiskinan. Makanya tema-tema Nota Pastoral dan Surat Gembala yang dikeluarkan banyak diwarnai oleh keprihatinan akan keadilan dan pentingnya membangun habitus baru. Itu semua bagian dari seruan Paus Yohanes Paulus II.

Jadi dia telah memberi inspirasi bagi kami dalam membangun teologi perdamaian. Konsekuensi dari teologi perdamaian itu adalah bagaimana membumikan agama—tidak hanya pada sisi formal-ritualnya saja—menjadi ungkapan nilai-nilai kemanusiaan. Di sini lah sebetulnya baru terjadi proses dialog.

Apakah dalam konteks itu Vatikan membantah keras tesis “Bentrok Peradaban” Samuel P. Huntington dan ikut mempromosikan semangat “Dialog Peradaban” yang digagas Presiden Iran, Muhammad Khatami?

Ya. Vatikan menegaskan bahwa tesis Huntington itu sesungguhnya tidak terjadi. Vatikan mengatakan juga bahwa tidak benar adanya benturan peradaban antara Barat dan Timur. Karena itu, ketika terorisme dicapkan pada Islam, Paus ikut membantahnya.

Paus ikut membela keislaman dan menegaskan bahwa agama selalu mengajarkan cinta kasih dan mengajarkan perdamaian. Tesis Huntington menjadi gugur dan tidak benar di mata Vatikan. Karena itu, ketika terorisme semakin marak dan oleh Amerika Serikat dijadikan dalih untuk perang penaklukan, orang menjadi sadar bahwa ini sebenarnya bukan perang peradaban, tapi perang yang semata-mata bermotif ekonomi.

Bung Trisno, apakah perubahan di Gereja Katolik juga mempengaruhi wacana, pendapat, atau diskusi yang berkembang di kalangan Protestan?

Trisno S. Sutanto

Perubahan doktrin dalam Konsili Vatikan II tahun 1965 itu memang sangat radikal, bahkan bagi sebagian kalangan terlalu radikal untuk zamannya. Sampai sekarang, orang masih mengatakan bahwa pasca-Konsili Vatikan II, telah terjadi semacam “gempa bumi teologis” yang masih terus menerus terjadi di tubuh kekristenan umumnya, dan di Katolik khususnya.

Disebut “gempa bumi”, sebab pandangan-pandangan Konsili Vatikan II memang sangat progresif dan terlalu jauh maju ke depan dibandingkan zaman itu bahkan sampai sekarang. Misalnya pada gagasan tentang keselamatan yang tadi diutarakan Romo Benny. Doktrin itu sesungguhnya berimplikasi luas pada perubahan struktur hirarki di dalam pemahaman tentang hirarki dalam kekatolikan, yaitu hirarki kepausan.

Lalu ada juga gagasan tentang bagaimana menjadikan persoalan-persoalan dunia ini juga sebagai persoalan Gereja. Itu tertuang dalam doktrin Gaudium et Spes (Kegembiraan dan Harapan). Banyak lagi soal-soal lain yang cukup progresif, termasuk soal dominasi globalisasi yang timpang dalam Tatanan Dunia Baru yang juga telah dibahas.

Soal pengaruh besar media massa juga sudah dibahas. Jadi ada banyak poin pembahasan yang sudah sangat radikal terjadi dalam Konsili Vatikan II itu. Makanya, sebagian kalangan menyebut bahwa Paus yang baru saja meninggal itu (2/4/2005) telah berada di ambang batas antara melanjutkan keputusan Konsili Vatikan II atau justru merasakannya sudah kebablasan. Jadi, ketegangan itu sangat mewarnai seluruh karir mendiang Paus Yohanes Paulus II.

Di mana titik radikalnya dan apa pengaruhnya dalam lingkungan Protestan?

Apa yang digariskan Konsili Vatikan II itu memang sangat radikal dan membuka perspektif yang sama sekali baru dalam memandang agama lain. Di lingkungan Protestan sendiri—saya lebih suka menyebutnya Protestan ketimbang Kristen, karena Katolik juga Kristen—sesungguhnya telah terjadi diskusi yang luar biasa sebelum maupun sesudah Konsili Vatikan II.

Tapi sulit mengatakan bahwa semua itu digerakkan oleh Konsili Vatikan II. Tapi memang ada semacam proses perubahan yang berlangsung sangat cepat. Bedanya dengan Protestan yang tidak ada struktur hirarki tunggal, diskusi tentang itu (doktrin atau teologi agama) berkembang sendiri-sendiri dalam berbagai bentuknya. Tapi kalau kita membaca diskursus teologi Protestan yang terjadi antara zaman Karl Barth (1886-1968) yang membuka abad ke-20 sampai masa tahun 1960-an, maka sesungguhnya di Protestan juga telah terjadi proses perubahan yang luar biasa.

Menurut Anda, apa peran signifikan mendiang Paus dalam dialog antar-agama di Indonesia?

Saya tidak bisa mengatakan peran signifikannya langsung ke Indonesia. Tapi pasca-Konsili Vatikan II memang telah terjadi proses perubahan yang mendasar dalam upaya-upaya membangun dialog antar-agama. Makanya saya mengatakan Konsili Vatikan II itu terlalu radikal untuk zamannya.

Sampai sekarang, bagi saya implikasi-implikasi Konsili Vatikan II itu masih menjadi persoalan yang diperdebatkan di dalam keseluruhan tradisi kekristenan. Sebab, dokumen itu telah membuka sebuah cara pandang yang sama sekali baru terhadap agama lain.

Tapi saya kira di dalam sejumlah gereja masih saja ada beberapa kelompok yang konsisten berpendapat bahwa tidak ada keselamatan di luar gereja!

Saya harus menjelaskan dulu duduk perkara doktrin extra ecclesia nulla salusitu. Sebenarnya, doktrin itu berkenaan relasi Katolik dengan Protestan, bukan relasi dengan agama lain. Jadi, inti doktrin keselamatannya tetap sama; jalan keselamatan hanya melalui Yesus.

Saya kira, sebagai umat Katolik juga mengakui doktrin itu. Karena itu, perubahan yang sangat mendasar bagi saya dalam Konsili Vatikan II adalah ketika mengemukakan bahwa persoalan-persoalan agama, atau persoalan kekristenan—karena ini bahasa Kristen—adalah pesoalan di dunia ini.

Jadi pembicaraannya tidak lagi soal apakah Anda nantinya selamat setelah di dunia atau tidak. Makanya, bahasa yang dipakai dokumen Konsili Vatikan II menyatakan bahwa “kegembiaraan dan harapan umat manusia adalah kegembiraan dan harapan gereja dan umat beriman juga”.

Romo, bisa dijelaskan maksud ungkapan “agama sudah menjadi masalah dunia sekarang, bukan lagi persoalan akhirat kelak”?

Benny Susetyo

Doktrin Gaudium et Spes (Kegembiraan dan Harapan) itu hendak menegaskan bahwa agama itu sudah seharusnya membumi. Karena itu, penderitaan manusia selalu dikatakan sebagai penderitaan Gereja. Artinya, kalau Gereja membiarkan ketidakadilan berlangsung, maka Gereja sesungguhnya juga ikut bersalah. Sebab, itu semestinya juga problem Gereja.

Nah, doktrin Gaudium et Spes itu pada akhirnya juga mendorong semangat teologi pembebasan, karena bagi Gereja, duka dunia adalah juga duka Gereja. Bagi saya, inilah yang menjelaskan kenapa dunia internasional segera bekerja ketika bencana Aceh terjadi.

Saya kira, inspirasi doktrin itu ikut menggerakkan dunia Eropa untuk mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Jadi, agama tidak lagi hadir dalam bentuknya yang ritualistik. Agama tidak lagi dilihat sebagai haleluya hari ini dan halelupa besok. Agama memberikan kerangka bagaimana melancarkan gerakan pembebasan manusia yang bergerak lintas batas. Itulah yang diteladani Paus, dan mendiang Paus memang telah bergerak lintas batas.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.