Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Agama » Kristen » Ioanes Rakhmat: “Kelahiran Yesus Mengandaikan Harapan”

Ioanes Rakhmat: “Kelahiran Yesus Mengandaikan Harapan”

3/5 (1)

Tapi dalam doktrin kekristenan kini, tradisi itu tentu sudah diterima secara taken for granted. Pertanyaan saya, apakah di lingkungan Kristen masih ada yang keberatan atas perpanjangan “tradisi pagan” itu?

Saya kira, fakta bahwa kekristenan mengambil banyak praktik paganisme, memang harus diakui. Itu terjadi bukan hanya saat orang Kristen merayakan Natal, tapi juga ketika hari Paskah, atau hari kebangkitan Yesus saat orang Kristen mencari telur Paskah yang disembunyikan.

Telur itu secara simbolis bermakna akan lahirnya sebuah kehidupan. Ketika telur itu pecah, anak ayam atau lainnya akan lahir. Itulah metafor untuk menggambarkan Yesus yang mati, lalu bangkit. Pandangan itupun diambil dari praktik kalangan non-Kristiani.

Padahal, dalam kitab suci Protestan maupun Katolik, kisah kelahiran Yesus hanya kita jumpai dalam Injil Lukas dan Matius. Tapi, di sana juga tidak ada sama sekali dasar-dasar untuk merayakan Natal pada 25 Desember. Itu memang perkembangan belakangan.

Rujukannya surut ke masa kekaisaran Konstantinus Agung di abad keempat, ketika agama Kristen menjadi agama resmi negara, karena saat itu diperlukan ideologi religius yang paling kuat untuk memayungi seluruh negara.

Tapi apakah dengan data sejarah ini terasa mengurangi nilai kesakralan Natal bagi orang Kristen?

Di dalam tradisi kultus, sesuatu itu biasanya dapat disebut sakral kalau bisa didasarkan pada sesuatu yang berasal dari dunia ilahi. Karena sesuatu dianggap telah terwahyukan atau diberikan oleh Allah, maka kita memandangnya sakral.

Tapi Natal dalam bentuk perayaan seperti yang kita kenal sekarang, dengan segenap asesoris, acara kebaktian, dan lagu-laginya di hampir di seluruh dunia, memang perkembangan tradisi Kristen belakangan.

Karena itu, kalau kita merujuk pada Injil Lukas dan Matius, penekanan soal Natal bukan pada aspek perayaan atau Chrismast Festivity-nya, tapi pada sebuah berita bahwa Allah sedang melawat umatnya di dalam Yesus sang mesias atau juru selamat itu. Saya kira, inilah yang lebih penting dipahami sekarang ini daripada mempersoalkan akurasi tanggal dan asal usulnya.

Dari sudut sejarah, saya kira kita tak punya kemungkinan apapun untuk bisa tahu secara persis kapan Yesus dilahirkan. Yang saya angkat tadi itu hanya teori-teori yang mencoba menempatkan kelahiran Yesus dalam dunia atau soal sejarah manusia. Tapi dalam kenyataannya, kita memang tidak punyai patokan yang dapat diandalkan untuk menetapkan secara pasti kapan Yesus dilahirkan.

Bagaimana dengan kisah sensus penduduk yang konon diceritakan Injil Lukas. Apakah kisah itu tidak memberi sinyal tentang kapan Yesus terlahir?

Kalau membaca Injil Lukas, memang ada cerita soal sensus yang dilakukan Kaisar Agustus. Masalahnya, itu hanya ada dalam Injil Lukas. Dalam catatan pemerintahan Romawi pada masa itu, tidak terdapat fakta yang menerangkan bahwa sensus itu memang pernah ada.

Jadi sisi kesejarahan sensus itu sendiri diragukan. Sementara itu, kalau membaca teks Injil Lukas sendiri, walau Maria dan Yusuf diceritakan datang meninggalkan Nazaret di Galilea menuju Bethlehem di Yudea untuk ikut sensus, tapi seluruh cerita sesudah itu tidak pernah lagi menyinggung soal sensus.

Jadi sebenarnya, apa yang termuat di Injil Lukas itu bukan bertujuan untuk melaporkan fakta sejarah tentang adanya sensus dan dengan begitu kita bisa tahu tanggal akurat kelahiran Yesus.

Jadi motif penulisan Injil Lukas itu sendiri bukan motif penulisan sejarah. Justru bagi saya, sangat problematis kalau kita membaca kitab suci untuk menjadikannya sebagai sejarah. Sebab, informasinya seringkali sangat tidak lengkap.

Sebab di dalam kitab suci—bukan hanya kitab suci orang Kristen, tapi juga Yahudi, dan mungkin juga agama lain—kitab suci bukanlah dianggap kitab sejarah pertama-tama dan utama, tapi dianggap sebagai kitab keagamaan. Jadi, kitab suci itu menyangkut bagaimana beriman, cara membangun sikap religius terhadap Allah, dan bagaimana membangun kehidupan moral etis yang layak di dalam masyarakat.

Jadi kitab suci lebih banyak menyangkut soal berbudi pekerti terhadap sesama. Itulah tujuan pertama dan utama dari adanya kitab suci di dunia ini. Namun demikian, di dalamnya tentu ada berbagai jenis tulisan, termasuk tulisan berjenis sejarah. Namun, penulisan sejarah di zaman dulu tentu saja tidak bisa kita samakan dengan penulisan sejarah seperti di buku-buku sejarah di abad XXI ini.

Di dalam kitab suci ada banyak jenis tulisan lain selain soal sejarah. Di situ ada narasi, metafor, legenda, epos, kisah-kisah perjuangan orang-orang besar, dan lain-lain. Semua ini tidak boleh kita samakan dengan tulisan sejarah.

Bahwa kitab suci membangun berita-berita mengenai Allah, tentu bisa menggunakan corak penulisan selain sejarah. Itu bisa saja kita jumpai dalam karangan semisal fiksi. Kalau orang melihat Allah berkomunikasi dengan manusia, pengisahannya tentu bisa dituliskan dalam jenis tulisan lain yang nonsejarah.

Apa itu disebabkan dokumen sejarah atau sitem penanggalan di masa lalu belum memungkinkan untuk menetapkan tanggal lahir Yesus secara akurat?

Kalau kita mau mengerti apa sebabnya, kita harus melihat kesaksian yang paling awal dari kelahiran Yesus, seperti yang termaktub dalam Injil Matius dan Lukas. Tapi masalahnya, oleh penulisnya masing-masing, keduanya memang tidak dimaksudkan untuk mempersoalkan sejarah yang pasti kapan Yesus terlahir, tapi terutama untuk menekankan kepentingan yang lain, yaitu soal makna Natal itu sendiri.

Kedua Injil itu berbeda sudut pandang dalam soal natalitas Yesus. Tapi pada keduanya juga ada penekanan yang paralel, yaitu pada padangan bahwa Allah sedang melawat umat manusia dan bekerja di dalam diri seorang yang diberi nama Yesus demi memulihkan umatnya dari keadaan terjajah oleh Kaisar Agustus sebagai Allah dan Injil bagi orang Romawi masa itu.

Nah, oleh Lukas, pandangan itu dibantah dengan tidak menekankan peran Agustus yang kaisar, tapi peran Yesus untuk membebaskan Israel dari penjajahan.

Tampaknya Pak Ioanes mencatat tanggapan umat Islam terhadap perayaan Natal. Apa yang Anda tangkap dari berbagai tanggapan itu?

Kalau kita mundur beberapa tahun ke belakang, misalnya ke tanggal 7 Maret 1981, kita akan tahu bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa yang melarang kalangan muslim Indonesia untuk mengambil bagian dalam acara-acara sosial keagamaan yang diadakan oleh gereja-gereja Kristen dalam rangka Natal.

Tapi di sisi lain, saya menjumpai kalau Alquran sendiri banyak mengisahkan perkara kelahiran Yesus yang sebelumnya didahului oleh kisah kedatangan malaikat kepada Maryam.

Pada bagian kesimpulan, memang yang tampak mau ditekankan adalah doktrin tentang Natal dalam versi Alqur’an itu bukan kelahiran anak Allah yang illahi atau doktrin Tritunggal. Kesimpulan dari banyak surat dalam Alqur’an, tampaknya menolak klaim itu.

Tapi yang juga perlu diketahui, kisah-kisah Natal di Injil Lukas dan Matius sebenarnya sama sekali tidak mengacu pada keillahian Yesus atau doktrin Tritunggal. Penekanan pada Injil Lukas ada pada ihwal kedatangan Yesus sebagai mesias bagi bangsa Yahudi, dan usaha dia membebaskan umat manusia dari situasi yang menjajah mereka.

Artinya, di kedua Injil itu tidak sedang ditampilkan adu atau polemik soal doktrin dan akidah. Soal itu tidak ada di sana dan baru belakangan saja muncul. Tapi yang saya tangkap dari fatwa MUI di atas adalah kehawatiran akan terjadinya pemurtadan umat Islam.

Begitulah istilah yang sekarang sering dipakai. Di situ ada anggapan, kalau setiap muslim bebas ambil bagian dalam ibadah Natal, dikhawatirkan akan muncul keinginan untuk pindah agama. Jadi, barangkali ada semacam kekhawatiran akan terjadinya krisis internal di kalangan muslim sendiri.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.