Home » Agama » Kristen » Ismartono SJ: “Sebaiknya Syariat Dilaksanakan dalam Komunitas Terbatas”
Interfaith tree (Foto: xaviermissionaries.org)
Interfaith tree (Foto: xaviermissionaries.org)

Ismartono SJ: “Sebaiknya Syariat Dilaksanakan dalam Komunitas Terbatas”

4/5 (1)

Salah satu sebab konflik yang terjadi antar agama adalah kesalahpahaman dalam memahami konsep-konsep yang digunakan dalam agama-agama tersebut. Hal ini juga terjadi dalam agama Islam dan Kristen. Sebagian orang Islam menganggap saudara Kristen mereka sebagai bukan monoteis, hanya karena konsep Trinitas yang mereka yakini.

Tapi, penjelasan Kristen sendiri, sesungguhnya, sangat berbeda dari pemahaman orang-orang Islam. Karena itu, mereka tetap menganggap diri mereka sebagai monoteis sejati. “Kami masih merasa monoteis,” tegas Ismartono SJ, Pastor Katolik yang juga menjadi Eksekutif Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi Wali Gereja Indonesia. Kepada Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal, Romo Ismartono menceritakan berbagai persoalan menyangkut hubungan antar-agama, termasuk tentang syariat Islam yang sedang ramai dibincangkan.

 

Sebagai seorang Pastor Katolik yang menangani bidang hubungan antar agama di KWI, bagaimana sebetulnya sikap Gereja dalam hubungan antar agama, khususnya terhadap teman-teman muslim?

Begini, dalam gereja Katholik ada rumusan baru mengenai hubungan dengan agama lain, yaitu dalam dekrit yang disebut Nostra Aitate, sebuah istilah Latin yang artinya “pada zaman kita.” Itu dipublikasikan dalam Konsili Vatikan II pada tahun 1965. Sejak itu, secara lebih terarah, lebih sistematik, umat Katolik diajak untuk ikut melaksanakannya.

Secara garis besar, apa isinya Romo?

Nostra Aitate itu mempunyai beberapa hal pokok. Maksudnya begini, agar lebih cermat melaksanakan pesan cinta kasih karena jaman ini komunikasi begitu penting dalam hidup, maka diajarkan kepada umat Katholik, bila kita melihat perbedaan hendaknya dilihat bagaimana itu menjadi kesempatan untuk saling memperkaya. Jadi bukan sebagai konfrontasi.

Apa perbedaan paling pokok antara sikap Katolik dan Protestan dalam hal ini?

Sebelum Konsili Vatikan II, meskipun tidak selalu ditulis, sepertinya orang berpendapat bahwa di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan. Itu terungkap dari sebuah ungkapan Latin extra eklisium nulla salum. Ini adalah sebuah ungkapan dari abad pertama yang kemudian diabstraksikan dari konteksnya lalu dipakai hampir sepanjang sejarah. Di satu sisi, konsep itu menjadi motivasi untuk melakukan misi. Karena mereka menganggap bahwa di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan, maka orang lain harus diselamatkan.

Setelah Konsili Vatikan II, untuk membawa pesan kasih, kita diajak untuk bersama-sama melihat agama lain. Dan memang ada beberapa persamaan dengan orang dari agama lain, yakni kita mempunyai asal yang sama, mempunyai tujuan sama, hidup di dunia yang sama, hidup dalam masyarakat yang sama. Kita juga menghadapi teka-teki kehidupan yang sama; dari mana asal kita, ke mana langkah kita, lalu kita berusaha mencoba mencari jawaban untuk teka-teki besar ini.

Dalam Nostra Aitate, pada artikel 3 disebutkan tentang Islam secara eksplisit. Kalimat pertamanya: “Kami menghormati saudara-saudara muslim, karena kami mempunyai banyak kesamaan, antara lain: sama-sama monoteis, Allah yang satu, dan yang Rahim.

Allah mewahyukan diri, umatnya mempercayai.” Lalu terhadap kaum Yahudi juga ada, tapi lebih untuk mengatakan akar yang sama dari Abraham. Juga disebutkan: “Orang tidak bisa menyebut Allah sebagai Bapak kalau tidak memperlakukan sesamanya sebagai saudara”.

Itu doa pokok kami. Maka, hukumannya –kalau mau mengatakan hukuman– adalah dalam doa sendiri: “Kita tidak akan bisa berdoa Allah sebagai Bapak kalau tidak memperlakukan teman kita sebagai saudara.”

Bagaimana jika Konsili Vatikan II itu diterapkan dalam konteks Indonesia?

Salah satu yang diambil adalah, dalam KWI ada Komisi Hubungan Antar Agama. Itu dibuat setelah Konsili, sekitar tahun 70-an. Lalu mulai semakin terorganisir. Dalam konteks Indonesia, sebetulnya ada perasaan sedikit lain daripada konteks itu ditulis.

Konteks itu ditulis di Eropa, tapi bahannya diambil dari pengalaman orang-orang Timur Tengah dan sebagainya. Nah, naskah itu ketika sampai di Indonesia sebetulnya masuk dalam sebuah konteks yang tidak bisa menjadi anjuran, karena hidup bersama sudah terjadi di sini.

Maka di banyak tempat ini menjadi afirmasi bahwa apa yang sudah dilakukan kemarin itu sudah benar. Tidak menjadi sesuatu yang menyeleweng dari pusatnya.

Sejauh mana peran pemimpin agama Katolik dalam melihat beberapa kerusuhan antar-agama yang terjadi selama ini?

Saya sendiri belum pernah mendapat laporan atau melihat sendiri ada orang membantai orang dari agama lain. Tapi seandainya itu terjadi, itu tentu juga tidak menjadi kegembiraan bagi kami, karena itu melanggar perintah Allah yang kami pegang secara serius, yaitu: jangan membunuh, eksplisit seperti itu. Maka saya ikut sedih kalau itu memang terjadi. Tapi masalahnya begini, kerap kali setelah itu terjadi, bagaimana kita menanggulangi bersama-sama.

Di Ambon misalnya, saya melihat bahwa kecuali cerita tentang orang-orang yang bertikai, kami juga melihat ada beberapa gerakan orang yang mau mencari perdamaian di antara orang-orang Islam dan Kristen.

Hal ini kurang diungkap atau hanya diketahui secara diam-diam. Maka dari banyak berita menyedihkan itu, bagaimana kalau kita sekarang memberikan dorongan kepada beberapa gerakan yang saling menyatukan, saling mengasihi, saling mengembangkan nilai-nilai luhur agama masing-masing.

Sebagian saudara muslim menganggap umat Katolik bukan lagi penganut monoteisme karena mempercayai Trinitas?

Kami masih merasa monoteis, karena dalam kredo kami disebutkan: “Aku percaya akan satu Allah.” Adapun Bapak, Putera, dan Roh Kudus, secara singkat, bisa saya terangkan, sejauh saya pelajari pengertian yang dilawan oleh ajaran Islam pada waktu itu, itu bukan trinitas yang oleh Gereja Katolik Roma dipercayai.

Jadi itu satu pengertian tentang tiga dewa tidak seperti yang kita pahami. Yang kami pahami adalah bahwa kami monoteis, tapi kami diperbolehkan mengenal Allah itu, dengan satu tindakan Allah, sehingga dia menunjukkan kebaikannya sebagai Bapak.

Begitu terlibat dalam hidup kami menjadi manusia, kami menyebutnya Putra, dan kemudian juga memberikan roh kasihNya melalui Roh Kudus. Karena itu, ini bukannya tiga zat, tapi tetap satu.

Dalam membicarakan persoalan monotheisme, saya kira cara orang menghayati monoteisme berbeda-beda. Salah satunya adalah bahwa Allah berkomunikasi dengan kami dengan sebuah cara, yaitu dengan –istilah kami– terlibat dalam kehidupan kami. Dan untuk terlibat penuh dengan kami sebagai manusia, Allah jadi manusia, yaitu melalui Yesus Kristus.

Jadi sebetulnya Islam dan Kristen menganut monoteisme, tetapi dengan cara pengertian dan penghayatan yang berbeda. Kami merasakan bagaimana Allah yang begitu Agung. Tapi dalam pengertian kami, yang begitu Agung dan Tak Tersentuh itu kemudian berinisiatif untuk menghubungi kami. Dan karena kami manusia, maka caranya ya dengan cara kami.

Lalu ia menjadi salah satu dari kami, lalu kami sebut Putra. Tapi itu sebutan. Lalu roh kuduslah yang membuat kami bisa paham dan memberi semangat untuk hidup sesuai dengan apa yang dikatakan.

Saya melihat umat Islam kesulitan dalam memahami konsep seperti yang Anda jelaskan? Bagaimana Romo mengapresiasi kesulitan ini?

Begini, tentu bahasa kami terbatas, dan maaf kalau ini menyinggung. Menurut kami, Allah yang sama itu sudah menghubungi banyak orang dengan cara yang berlain-lainan. Banyak caranya. Juga dalam sejarah kami, dia menyentuh orang Israel melalui seorang Musa.

Lalu Nabi Anda dalam pengertian kami, itu juga orang yang, seperti Yesus, dipakai untuk menghubungi manusia, tapi caranya berbeda. Tapi kami tidak merumuskan itu dalam kitab suci kami, karena waktu kitab suci kami ditulis realita Nabi Muhammad itu belum ada.

Maka kalau ditanya: “Lho, kami mengakui Isa sebagai Nabi kok kamu tidak mengakui Muhammad,” karena waktu Injil ditulis, belum ada. Tetapi bahwa itu dicintai, ya itu termasuk bagian yang digunakan Tuhan untuk menguhubungi manusia.

Bagaimana persepsi Romo terhadap pandangan yang diajukan oleh sejumlah teman-teman muslim untuk melaksanakan syariat Islam di Indonesia?

Kalau saya pribadi, sebetulnya Katolik tidak asing hidup di dalam negara Islam, di Timur Tengah, Libanon, dan Mesir. Maka kalau membicarakan masalah syariat ini, pertama-tama saya sebagai bangsa Indonesia. Bangsa ini pernah membuat komitmen bersama untuk membuat bangsa, negara Indonesia ini, entah caranya bagimana, kalimat yang tujuh kata tidak dimasukkan.

Yang kedua, sebetulnya kalau boleh saya usul kepada saudara-saudara muslim, apakah tidak lebih baik kalau Anda melaksanakan syariat itu dengan segala kegiatannya, di dalam komunitas sendiri. Jadi seperti kami ini juga punya hukum kanonik, hukum Gereja. Tapi kami tidak minta tolong negara untuk menyelenggarakannya, mengontrol dari luar.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.