Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Agama » Kristen » Kuntadi Sumadikarya: “Generalisasi Berlebihan Berarti Gagap Agama”
Kuntadi Sumadikarya

Kuntadi Sumadikarya: “Generalisasi Berlebihan Berarti Gagap Agama”

5/5 (1)

Ada kritikan bagi kaum moderat Islam agar bersuara lebih lantang sehingga pesan-pesannya lebih terdengar. Bagaimana dengan lingkungan Kristen sendiri?

Saya sangat setuju. Kalangan Kristen moderat bukan hanya lebih menyaringkan suara, tapi juga harus lebih populis, sehingga mudah dimengerti oleh orang banyak. Memang PGI sendiri selama ini belum pernah mengeluarkan statemen-statemen untuk menanggapi persoalan seperti ini. Ada beberapa kesulitan yang dialami PGI sendiri, seperti yang juga saya rasakan. Kita ingin adanya saling pengertian.

Tapi masalahnya, apa yang dipraktekkan kaum Kristen kanan, ternyata tidak terkoordinir. PGI mau berbicara ke siapa? Terlalu banyak kasus yang melibatkan mereka, dan terlalu banyak pula pihak yang terlibat, tapi tak ada orang yang bertanggung jawab secara penuh. Mereka lebih banyak bermain secara parsial.

Di luar PGI, apakah ada yang pernah berinisiatif membuat pernyataan?

Saya kira, pernyataan tidak begitu mempan. Tapi upaya-upaya untuk memberikan alternatif konseptual dalam bentuk pemikiran tetap dilakukan, meski tidak dalam bentuk wacana yang tertulis.

Lantas apa yang selama ini dilakukan? Apakah mereka hanya dianggap sebagai gerakan kecil yang tidak cukup penting saja?

Tidak begitu juga. Yang saya maksud ialah kebanyakan Kristen mainstreamtidak begitu mengikuti perkembangan dalam kelompoknya sendiri. Akibatnya, mereka turut membenarkan tindakan itu. Mereka tidak melihat bahwa di lapangan, tindakan kaum evangelis itu menimbulkan konflik di atas konflik yang belum usai.

Gereja-gereja atau para pemuka di Kristen, tidak henti-hentinya berbicara untuk melakukan penyadaran akan hal itu. Akan tetapi, gregetpenyadaran itu tidak begitu bergema selama ini. Jadi memang perlu ada upaya yang lebih keras lagi. Hanya saja, saya mau menekankan bahwa membuat statemen saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini.

Dalam sejarah, gerakan evangelis datang dan pergi. Sebagian orang melihat ia digerakkan oleh roh Allah, sehingga tak mungkin dibendung. Tanggapan Anda?

Memang gerakan seperti ini seringkali muncul, meski sering juga hilang. Kalau dia dipahami dari persepsi tentang roh Allah, saya anggap itu sebagai sebuah keyakinan. Tapi kita harus lihat konteks: apakah penyiaran Injil yang kalau diterjemahkan berarti kabar baik, akan betul-betul bisa tersalur sebagai kabar baik atau justru menjadi kabar buruk ketika menjadi konflik? Potensi konflik itu akan lebih besar lagi, apalagi bila ditarik dalam skala yang luas.

Gereja mainstream sangat kritis terhadap hal itu, tanpa menghilangkan tugas setiap agama —termasuk Kristen— untuk selalu melakukan penyiaran. Hanya saja, waktunya juga mesti dibimbing roh Tuhan juga. Mestinya semakin lama kita berbuat, maka kita semakin arif.

Konkretnya, bagaimana pandangan gereja-gereja mainstream terhadap gerakan pengabaran Injil dalam konteks keragaman agama yang sudah tak bisa ditolak ini?

Kalau kami dalam GKI, seringkali berkata begini: “Pekabaran Injil itu tidak sama dengan mengkristenkan orang.” Tugas kita hanya menyiarkan, bukan melakukan proselitisme (konversi agama). Kalau kita sudah melakukan proselitisme, maka kita perlu kembali melihat kenyataan sejarah bahwa setiap kegiatan proselitisme selalu berhadapan dengan konsekuensi yang tidak bisa kita tanggung nantinya.

Itulah perbedaan antara proselitisme dengan pengabaran Injil. Penyiaran atau pengabaran itu bermakna menyiarkan kabar baik, tapi tidak memaksa dan menyudutkan orang untuk masuk ke agama kita. Sedangkan proselitisme ada usaha untuk memindahkan orang ke agama kita. Gereja-gereja mainstream mestinya memakai istilah dialog untuk melakukan pengabaran Injil.

Sebagai Ketua Sinode DKI Jabar, saya katakan: “Kalau kita mempunyai kabar baik, dan mau didengarkan oleh orang lain, maka ingatlah pesan Yesus supaya kita juga mau mendengar orang lain.” Jangan cuma mau didengar, tapi tidak mau mendengar.

Ketika saya ingin menyiarkan Injil pada seorang muslim, saya juga mesti bersedia mendengarkan muslim itu melakukan dakwah pada saya. Ada mutualisme yang merupakan inti dialog. Niat saya bukan mengkristenkan orang muslim.

Sebaliknya, kaum muslim mestinya juga tidak mengislamkan orang Kristen. Ada pertukaran kabar baik, dan masing-masing bisa belajar tentang sisi-sisi positif dari pengabaran atau dakwah. Kalau pada akhirnya terjadi perpindahan agama, biarlah itu menjadi hak asasi orang. Syaratnya, tidak dilakukan dengan metode yang melecehkan, menyudutkan, atau membuat orang lain tidak bisa berpikir secara jernih.

Kalau orang pindah agama bukan dengan pikiran penuh, tapi karena manipulasi, itu hanya menurunkan kualitas agama yang ada. Artinya, sekalipun kuantitasnya banyak, tapi kualitasnya akan sangat menurun.

Bagaimana Anda menjawab tuduhan melakukan kristenisasi dengan bantuan sembako?

Itu sangat tergantung pada paradigma atau konsep yang berada di belakangnya tadi. Kalau konsepnya memang ingin melakukan kristenisasi atau mengagamakan orang lain, maka sembako itu akan menjadi alat untuk mengagamakan.

Kristenisasi model itu sama sekali tidak tepat. Dalam istilah kita, disebut spiritual bribery, penyuapan rohani. Apa gunanya orang pindah agama hanya karena makanan, pakaian dan obat-obatan! Inti keberagamaan bukan terletak di situ, bukan?.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.