Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Agama » Kristen » Kuntadi Sumadikarya: “Generalisasi Berlebihan Berarti Gagap Agama”
Kuntadi Sumadikarya

Kuntadi Sumadikarya: “Generalisasi Berlebihan Berarti Gagap Agama”

5/5 (1)

Agenda agama-agama propagandis-misionaris acapkali ditentukan oleh seberapa besar kesuksesan yang dicatat dalam mengkonversi agama orang lain. Paradigma yang diusung tak pernah beranjak dari konsepsi lama bahwa “Tak ada keselamatan di luar Kristus.” Doktrin kuno yang sudah ditanggalkan oleh banyak kalangan Kristen mainstream ini justru dipakai oleh kaum evangelis Kristen untuk menjustifikasi penyuapan rohani (spiritual bribery).

Berikut petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan Pdt. Kuntadi Sumadikarya M. Th, Ketua Sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jawa Barat, pada 24 Juli 2003.

 

Pak Kuntadi, Anda tentu sudah membaca laporan Majalah Time tentang maraknya gerakan evangelisme Amerika di beberapa negara muslim. Apa komentar Anda tentang laporan tersebut?

Gerakan Kristen kanan yang punya paradigma seperti pada masa abad-abad lampau itu memang ada. Tapi, tidak semua orang Kristen adalah evangelis dan kanan. Sebab penganut tiap-tiap agama, termasuk Kristen, sudah terdiferensiasi sedemikian rupa, sehingga tidak bisa lagi dilihat sebagai entitas tunggal.

Dalam Kristen juga banyak golongan atau aliran. Secara pokok, bisa dikelompokkan dalam tiga kategori: pertama, golongan konservatif atau fundamentalis; kedua, moderat atau mainstream (golongan mayoritas); dan ketiga, kelompok liberal yang dalam konteks Kristen berbau kekiri-kirian.

Diferensiasi ini harus dibedakan. Kalau tidak, tindakan satu kelompok yang tidak disetujui oleh kubu lain, akan berimbas, paling tidak secara opini, pada kubu lain.

Gerakan kaum konservatif ini tak bisa menggambarkan pandangan semua orang Kristen?

Sama sekali tidak! Gereja-gereja Kristen yang mainstream, berkumpul di Persatuan Gereja Indonesia (PGI). Tapi dalam rangka merangkul yang lain, PGI juga melibatkan beberapa gereja non-mainstream. Tetap saja PGI mewakili pandangan-pandangan moderat.

Bisakah Anda menyebutkan contoh gereja dari ketiga kelompok tadi?

Kelompok liberal mungkin belum sampai pada bentuk gereja, tapi masih berupa pandangan individu-individu. Kalau gereja yang konservatif, maaf saya tidak bisa menyebut nama gerejanya langsung, katakanlah berada dalam denominasi Kristen juga, seperti denominasi Pantekosta dan Kharismatik. Mereka ini berasal dari Amerika, sebagian dari Korea, dan sudah beroperasi di Indonesia.

Umumnya mereka bergerak di kota-kota besar. Sebab di kota-kota kecil, meski sudah ada, tetap tidak terlalu menjadi perhatian. Mungkin juga karena massa mereka berkumpul di kota besar. Bisa juga karena kota lebih bebas karena adanya kemajemukan ketimbang di kota kecil.

Bisakah Anda sebutkan ciri-ciri mereka yang paling menonjol?

Yang paling mendasar, mereka masih menganut pemikiran-pemikiran para orientalis zaman dulu, yang melihat agama lain sebagai agama yang lebih rendah derajatnya dan kurang berharga. Pandangan seperti inilah yang dalam sejarah Kristianitas disebut sebagai gerakan atau pikiran Triumphalistik, selalu merasa lebih dan unggul ketimbang yang lain.

Nah, pandangan itu tentu akan sangat mempengaruhi “metodologi” pekabaran Injil mereka. Misalnya, ketika melakukan pelayanan atau penyiaran, maka paradigma seperti ini akan menimbulkan anggapan bahwa kebenaran dan keselamatan hanya milik mereka saja (truth claim). Sementara itu, di luar mereka dianggap salah dan tidak mengerti apa-apa.

Dalam ulasan Majalah Time, mereka lebih banyak bergerak pada golongan menengah ke atas. Apakah betul demikian?

Sebagian, betul. Itu lebih cocok untuk gambaran golongan Kharismatik. Denominasi yang Kharismatik, memang mempunyai target orang-orang menengah ke atas. Tapi bukan berarti bahwa segmen masyarakat menengah ke bawah dilepaskan. Tetap saja ada program dan sasaran ke situ.

Ini menunjukkan bahwa di antara denominasi-denominasi yang satu kubu sekalipun juga terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan antara satu dengan lainnya.

Bagaimana proses sejarah masuknya gerakan evangelisme di Indonesia?

Kalau kita melakukan kilas balik sejarah, akan ditemukan bahwa pada abad ke-18 dan ke-19, semangat penyiaran agama Kristen dari Barat ke Timur sangat tinggi. Pada abad ke-20 memang terjadi revitalisasi, mungkin sejak sekitar tahun 1960-an atau 1970-an. Yang dulu bersemangat tapi mengalami luntur, kemudian dibangkitkan lagi dalam semangat dan kekuatan baru.

Intinya, sebetulnya sama dengan apa yang terjadinya pada abad ke-18 dan ke-19: mereka bersemangat untuk menyiarkan agama Kristen sebegitu rupa agar orang-orang menjadi tertarik.

Hanya saja, mereka yang hidup pada abad ke-18 dan ke-19, memang tidak berpikir tentang kemajemukan agama dan lain-lain, seperti yang kita pikirkan di abad ke-20 dan ke-21. Oleh karena itu, gereje-gereja mainstream, yang sangat sadar akan perubahan dari abad ke abad, melakukan adaptasi dan peralihan paradigma atas kenyataan kontekstual itu. Kita tidak bisa lagi menggunakan pendekatan atau metodologi yang digunakan pada abad ke-18 dan ke-19.

Bagaimana sikap kalangan Kristen mainstream terhadap gerakan evangelisme?

Hal ini tidak selalu bisa diungkapkan secara gamblang. Kebanyakan Kristenmainstream tidak setuju dengan cara-cara, paradigma, dan konsep yang dipakai oleh gerakan-gerakan pengabaran atau penyiaran Injil ini.

Sikap itu tidak berarti bahwa kita meninggalkan apa yang diembankan dalam agama Kristen sebagai misi penyiaran. Hanya saja, kita merasa perlu memperbaiki metodologi, paradigma dan pendekatan kita, sehingga aktivitas ini tidak menjadi sumber konflik baru di abad ke-21 ini. Dengan demikian, menjadi ajang sharing spiritual antarumat beragama.

Apa saran Anda pada umat beragama lain dalam menyikapi persoalan ini?

Menurut saya, harus ada pembedaan yang jelas terlebih dulu. Aksi sebuah denominasi, gereja, atau individu yang mempunyai ciri-ciri demikian, tidak otomatis mewakili seluruh kekristenan. Kesalahpahaman untuk memukul rata semua orang Kristen ini cukup banyak terjadi. Memang bersifat timbal balik; orang Kristen juga sering menunggalkan umat Islam.

Generalisasi berlebihan antara satu sama lain ini bisa kita sebut dengan istilah gagap agama. Kalau ada tindakan ekstrim yang mengganggu masyarakat, maka teguran-teguran untuk dialog tentu sangat diperlukan.

Dialog menjadi perlu, bukan hanya pada mereka yang menjadi sasaran, tapi juga bagi mereka yang mau melakukan penyiaran. Mereka perlu menyadari bahwa dialog-dialog diperlukan untuk melakukan penyiaran agama tanpa menimbulkan konsekuensi kesalahpahaman dan konflik. Sikap itu tentu saja perlu dilengkapi dengan paradigma dan konsep yang inklusif ketimbang yang eksklusif.

Ada kritikan bagi kaum moderat Islam agar bersuara lebih lantang sehingga pesan-pesannya lebih terdengar. Bagaimana dengan lingkungan Kristen sendiri?

Saya sangat setuju. Kalangan Kristen moderat bukan hanya lebih menyaringkan suara, tapi juga harus lebih populis, sehingga mudah dimengerti oleh orang banyak. Memang PGI sendiri selama ini belum pernah mengeluarkan statemen-statemen untuk menanggapi persoalan seperti ini. Ada beberapa kesulitan yang dialami PGI sendiri, seperti yang juga saya rasakan. Kita ingin adanya saling pengertian.

Tapi masalahnya, apa yang dipraktekkan kaum Kristen kanan, ternyata tidak terkoordinir. PGI mau berbicara ke siapa? Terlalu banyak kasus yang melibatkan mereka, dan terlalu banyak pula pihak yang terlibat, tapi tak ada orang yang bertanggung jawab secara penuh. Mereka lebih banyak bermain secara parsial.

Di luar PGI, apakah ada yang pernah berinisiatif membuat pernyataan?

Saya kira, pernyataan tidak begitu mempan. Tapi upaya-upaya untuk memberikan alternatif konseptual dalam bentuk pemikiran tetap dilakukan, meski tidak dalam bentuk wacana yang tertulis.

Lantas apa yang selama ini dilakukan? Apakah mereka hanya dianggap sebagai gerakan kecil yang tidak cukup penting saja?

Tidak begitu juga. Yang saya maksud ialah kebanyakan Kristen mainstreamtidak begitu mengikuti perkembangan dalam kelompoknya sendiri. Akibatnya, mereka turut membenarkan tindakan itu. Mereka tidak melihat bahwa di lapangan, tindakan kaum evangelis itu menimbulkan konflik di atas konflik yang belum usai.

Gereja-gereja atau para pemuka di Kristen, tidak henti-hentinya berbicara untuk melakukan penyadaran akan hal itu. Akan tetapi, gregetpenyadaran itu tidak begitu bergema selama ini. Jadi memang perlu ada upaya yang lebih keras lagi. Hanya saja, saya mau menekankan bahwa membuat statemen saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini.

Dalam sejarah, gerakan evangelis datang dan pergi. Sebagian orang melihat ia digerakkan oleh roh Allah, sehingga tak mungkin dibendung. Tanggapan Anda?

Memang gerakan seperti ini seringkali muncul, meski sering juga hilang. Kalau dia dipahami dari persepsi tentang roh Allah, saya anggap itu sebagai sebuah keyakinan. Tapi kita harus lihat konteks: apakah penyiaran Injil yang kalau diterjemahkan berarti kabar baik, akan betul-betul bisa tersalur sebagai kabar baik atau justru menjadi kabar buruk ketika menjadi konflik? Potensi konflik itu akan lebih besar lagi, apalagi bila ditarik dalam skala yang luas.

Gereja mainstream sangat kritis terhadap hal itu, tanpa menghilangkan tugas setiap agama —termasuk Kristen— untuk selalu melakukan penyiaran. Hanya saja, waktunya juga mesti dibimbing roh Tuhan juga. Mestinya semakin lama kita berbuat, maka kita semakin arif.

Konkretnya, bagaimana pandangan gereja-gereja mainstream terhadap gerakan pengabaran Injil dalam konteks keragaman agama yang sudah tak bisa ditolak ini?

Kalau kami dalam GKI, seringkali berkata begini: “Pekabaran Injil itu tidak sama dengan mengkristenkan orang.” Tugas kita hanya menyiarkan, bukan melakukan proselitisme (konversi agama). Kalau kita sudah melakukan proselitisme, maka kita perlu kembali melihat kenyataan sejarah bahwa setiap kegiatan proselitisme selalu berhadapan dengan konsekuensi yang tidak bisa kita tanggung nantinya.

Itulah perbedaan antara proselitisme dengan pengabaran Injil. Penyiaran atau pengabaran itu bermakna menyiarkan kabar baik, tapi tidak memaksa dan menyudutkan orang untuk masuk ke agama kita. Sedangkan proselitisme ada usaha untuk memindahkan orang ke agama kita. Gereja-gereja mainstream mestinya memakai istilah dialog untuk melakukan pengabaran Injil.

Sebagai Ketua Sinode DKI Jabar, saya katakan: “Kalau kita mempunyai kabar baik, dan mau didengarkan oleh orang lain, maka ingatlah pesan Yesus supaya kita juga mau mendengar orang lain.” Jangan cuma mau didengar, tapi tidak mau mendengar.

Ketika saya ingin menyiarkan Injil pada seorang muslim, saya juga mesti bersedia mendengarkan muslim itu melakukan dakwah pada saya. Ada mutualisme yang merupakan inti dialog. Niat saya bukan mengkristenkan orang muslim.

Sebaliknya, kaum muslim mestinya juga tidak mengislamkan orang Kristen. Ada pertukaran kabar baik, dan masing-masing bisa belajar tentang sisi-sisi positif dari pengabaran atau dakwah. Kalau pada akhirnya terjadi perpindahan agama, biarlah itu menjadi hak asasi orang. Syaratnya, tidak dilakukan dengan metode yang melecehkan, menyudutkan, atau membuat orang lain tidak bisa berpikir secara jernih.

Kalau orang pindah agama bukan dengan pikiran penuh, tapi karena manipulasi, itu hanya menurunkan kualitas agama yang ada. Artinya, sekalipun kuantitasnya banyak, tapi kualitasnya akan sangat menurun.

Bagaimana Anda menjawab tuduhan melakukan kristenisasi dengan bantuan sembako?

Itu sangat tergantung pada paradigma atau konsep yang berada di belakangnya tadi. Kalau konsepnya memang ingin melakukan kristenisasi atau mengagamakan orang lain, maka sembako itu akan menjadi alat untuk mengagamakan.

Kristenisasi model itu sama sekali tidak tepat. Dalam istilah kita, disebut spiritual bribery, penyuapan rohani. Apa gunanya orang pindah agama hanya karena makanan, pakaian dan obat-obatan! Inti keberagamaan bukan terletak di situ, bukan?.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.