Home » Agama » Kristen » Membangun Toleransi
tolerance

Membangun Toleransi

5/5 (1)

Abu al-Husein adalah seorang sahabat Nabi asal kota Madinah (Anshar) yang sangat taat beragama. Dia mempunyai dua orang anak laki-laki yang bekerja sebagai pedagang minyak.

Suatu hari, kota Madinah kedatangan rombongan pedagang dari Syam (Suriah). Mereka adalah saudagar-saudagar yang biasa memasok barang dagangan ke Mekah dan Madinah. Para saudagar itu beragama Kristen. Sambil berdagang, mereka melakukan tugas misionari (dakwah) kepada penduduk di kawasan Jazirah Arabia.

Kedua anak Abu al-Husein kerap membeli minyak dan kebutuhan lainnya dari para pedagang itu. Dan seperti biasanya, para pedagang itu mengkampanyekan agama mereka kepada para pedagang di Madinah, termasuk kepada kedua anak Abu al-Husein.

Karena khawatir tidak mendapat pasokan barang-barang dari para saudagar itu, kedua anak tersebut akhirnya memutuskan diri masuk Kristen. Mereka dibaptis oleh para saudagar itu, sebelum mereka kembali ke Syam.

Mendengar kedua anaknya masuk Kristen, Abu al-Husein sangat terpukul. Ia pun mendatangi Nabi dan mengadukan perkara yang menimpanya itu. Lalu, turunlah ayat terkenal “la ikraha fi al-din” (jangan ada paksaan dalam beragama) (Albaqarah, 2:256).

Dalam mengomentari ayat itu, Muhammad Baqir al-Nashiri, ahli tafsir asal Iran, menjelaskan bahwa ada lima pendapat berkaitan dengan ayat tersebut. Pertama, pelarangan itu hanya khusus kepada Ahlul Kitab (Yahudi dan Kristen). Kedua, pelarangan itu ditujukan kepada semua orang non-Islam.

Ketiga, orang-orang yang masuk Islam setelah perang tidak merasa dipaksa, tapi mereka masuk secara sukarela. Keempat, ayat tersebut ditujukan hanya kepada kaum Anshar. Dan kelima, pilihan beragama bukanlah sesuatu yang dipaksakan dari Allah, tapi ia merupakan pilihan manusia, karena persoalan agama adalah persoalan keyakinan individual (Mukhtashar Majma’ al-Bayan, hal. 169).

Saya cenderung setuju dengan pendapat kelima. Yakni, bahwa maksud ayat la ikraha fi al-din adalah bahwa tidak boleh ada pemaksaan kepada seseorang untuk menentukan agamanya. Pesan ini bersifat umum (‘am) dan ditujukan bukan hanya untuk kaum tertentu saja.

Mahmud bin Umar al-Zamakhsyari (w. 528) dalam kitab tafsirnya yang terkenal,al-Kassyaf, menjelaskan ayat di atas lewat metode tafsir-ul-qur’an bi’l-qur’an; menafsirkan suatu ayat dengan ayat lainnya.

Menurut mufassir yang terkenal karena keahliannya dalam balaghah dan sastera Arab itu, ayat la ikraha fi al-din merupakan konsekwensi dari firman Allah yang lain, yakni: “kalau Tuhan kamu menghendaki, maka akan berimanlah semua manusia yang ada di muka Bumi. Apakah kalian hendak memaksa manusia agar mereka beriman?” (Yunus, 10:99).

Al-Zamaskhsyari menegaskan bahwa persoalan keimanan adalah persoalan pilihan pribadi manusia, dan tak boleh ada paksaan. Upaya pemaksaan untuk memilih atau beragama bertentangan dengan sunnah Allah yang tercakup dalam surah Yunus di atas.

Tugas umat beragama, bukan berusaha mengubah agama orang lain untuk mengikuti agama yang dianutnya. Jika ini yang menjadi landasannya, maka kekacauan pasti akan timbul. Tujuan dakwah atau misi agama sangat mulia, yakni berusaha membagi keselamatan yang diyakini seseorang kepada orang lain.

Prinsip penghormatan Alquran terhadap keyakinan seseorang tak hanya terbatas kepada kaum beragama saja. Tapi, prinsip itu juga meluas kepada orang-orang yang tidak mau beriman atau orang yang tak mau beragama. “Apakah kalian hendak memaksa manusia agar mereka beriman?” tegas Alquran.

Hemat saya, yang ditekankan di sini, bukan seseorang harus beriman atau tidak, tapi bagaimana menjaga keseimbangan sosial dengan saling menghormati dan menghargai.

Pemaksaan terhadap keimanan akan menimbulkan dua dampak yang kedua-duanya buruk. Pertama, terjadi ketegangan antara pihak yang memaksa dengan pihak yang dipaksa. Kedua, akan muncul kemunafikan (hipokrasi). Seseorang yang beragama karena terpaksa pastilah menjadi orang yang tak ikhlas dan secara diam-diam membenci agama yang dianutnya.

Islam adalah agama yang selalu menganjurkan harmonisasi dan kerukunan. Agama ini membenci kekerasan dan sekaligus kemunafikan. Tak ada jaminan yang lebih jelas untuk menghindari dua hal buruk ini kecuali ajakan Alquran kepada kita semua untuk menghormati keyakinan-keyakinan agama lain, anjuran mencari titik temu, dan membagi saling keselamatan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.