Home » Agama » Kristen » Trisno S. Sutanto: “Dalam Kristen, Fantasi Kiamat Luar Biasa”

Trisno S. Sutanto: “Dalam Kristen, Fantasi Kiamat Luar Biasa”

3/5 (1)

Kontroversi tentang 300-an orang jemaah Sekte Pondok Nabi pinpinan Pendeta Mangapin Sibuae yang mengikrarkan kiamat pada 10 November lalu belum berakhir. Meski kiamat gagal terjadi --Pendeta Sibuae menyebutnya “digagalkan” Pendeta Simon Timorason, ketua Crisis Center Forum Komunikasi Kristen Indonesia-- tapi sebagian jemaah Sekte Pondok Nabi masih percaya dengan petuah Pendeta Sibuae yang mengaku sebagai Rasul Paulus II itu.

Di Indonesia, menurut Trisno S Sutanto, intelektual dari generasi muda Kristen, fenomena ini kali pertama terjadi. Meski dalam sejarah kekeristenan hal seperti ini terus menerus ada. Untuk mengetahui konsep kiamat dalam ajaran Kristen dan sejauhmana fenomena sekte yang berkembang dalam sejarah kekeristenan, berikut wawancara Novriantoni Kahar dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) dengan Trisno yang juga Direktur Majelis Dialog Antaragama (MADIA) Jakarta pada hari Kamis, 13 November 2003.

 

Bung Trisno, apa komentar Anda menanggapi kasus Sekte Pondok Nabi yang menghebohkan kemarin itu?

Sesungguhnya ini merupakan fenomena yang lazim terjadi dalam sejarah kekristenan, khususnya dalam sejarah Protestantisme atau gereja-gereja Protestan. Kalau Anda membaca sejarah kekristenan, fenomena semacam ini terus-menerus terjadi. Mulai abad awal sampai pertengahan Eropa, sejarah kekristenan penuh dengan peristiwa seperti ini.

Peristiwa seperti ini kemudian menular sampai ke Amerika, dan seterusnya. Tapi kalau di Indonesia, fenomena sekte yang memprediksi tentang hari kiamat, setahu saya merupakan yang pertama kali terjadi. Hanya saja, bentuk-bentuk prediksi seperti itu, sudah berulang kali terjadi dalam sejarah kekristenan.

Anda menyebut ini fenomena yang lazim dalam sejarah Kekristenan. Apa yang menjadikan hal itu menjadi lazim?

Mungkin, bagi kita yang hidup dalam dunia modern atau post-modern ini, agak sulit memahami fenomena seperti itu. Dalam bahasa sosiolog Peter L. Berger, kita ini memiliki struktur-struktur kemasukakalan yang tersendiri. Tapi, kalau kita kembali sejenak kepada tradisi kekristenan, paling tidak kita harus melihat tiga sumber struktur kemasukakalan yang disebutkan Berger tadi.

Pertama, struktur teologis. Artinya, ajaran tentang hari kiamat dan perasaan bahwa dunia sudah mendekatinya sangat ditekankan sekali dalam tradisi teologi Kristen. Mungkin ini berbeda dengan tradisi teologi yang lain, saya tidak tahu. Di Kristen, doktrin itu sangat kentara dan kental sekali.

Ketika Yesus pertama kali muncul di muka umum, ajaran pertama kali adalah anjuran agar umat bertobat karena kerajaan Allah sudah mendekat. Artinya, kiamat sudah dekat, maka Anda harus bertobat. Doktrin ini terus-menerus ada dalam sejarah gereja.

Dalam kitab suci orang Kristen, Alkitab misalnya, ada satu kitab yang bernama Kitab Wahyu, yang biasanya paling akhir diletakkan dalam Perjanjian Baru. Kitab ini dipenuhi dengan cerita mengenai dunia kiamat.

Dengan segala fantasinya yang luar biasa, tidak kalah dengan fantasi yang digambarkan sekuel seperti Harry Potter. Itu catatan pertama. Jadi, ada struktur teologis yang terus-menerus diperdengungkan. Di dalam ajaran Kristen, doktrin itu disebut doktrin eskatologis, harapan akan hari akhir.

Kedua, pembedaan yang dibuat oleh teolog Jerman bernama Ernest Troeltsch. Dia membedakan antara dua bentuk organisasi keagamaan, khususnya Kristen. Yang pertama disebut organisasi gereja. Cirinya utamanya: selalu berjumlah pengikut yang besar, sangat teratur, berstruktur hirarkis yang sangat teratur dan formal, mempunyai pendeta dan pimpinan, dan seterusnya.

Lalu ciri lainnya: ajarannya juga sangat rasional karena --biasanya-- sistematis. Punya teologi dan doktrin-doktrin tersendiri, dan orang akan menjadi angota di situ sejak lahir. Makanya, ada pembaptisan untuk menjadi anggota.

Bentuk kedua adalah bentuk sekte. Biasanya anggotanya berjumlah kecil, hubungan antaranggota sangat intim. Mereka biasanya masuk ke dalam sekte setelah dewasa, tidak melalui pembaptisan sejak lahir, dan ikatan emosionalnya sangat kuat. Nah inilah faktor-faktor yang menyebabkan sekte-sekte tumbuh subur.

Ketiga, kita juga harus berbicara tentang srtuktur psikologis anggota sekte tersebut. Mungkin ada di antaranya yang frustrasi, mengalami tekanan hidup yang dahsyat, dan tidak tahan menghadapi tekanan hidup dan persaingan modern yang begitu tajam, dan seterusnya. Biasanya, penjelasan psikologis ini yang sangat dominan kita dengar.

Dan kita mendengar, setiap kali muncul gejala sekte, para komentator selalu mengaitkan kemunculannya dengan problem pada struktur psikologis anggotanya ini. Orang-orang itu dicap mengalami rasa frustrasi.

Anda keberatan dengan analisis demikian?

Saya menolak itu karena saya melihat bahwa dalam sejarah kekristenan, fenomena itu terus-menerus muncul di berbagai negara dan dengan pelbagai kondisi sosial yang berbeda pula.

Dalam pemberitaan pers dikatakan bahwa sekte ini termasuk dalam denominasi Pantekosta. Bagaimana hubungan sekte ini dengan denominasinya?

Biasanya sulit mencari hubungan yang bersifat formal. Mungkin secara teologis ada hubunganya. Artinya, Pendeta Maningan Sibuea juga punya kaitan secara teologis dengan gerakan-gerakan Pentakostal. Tapi secara formal saya kira tidak ada hubungan, karena dalam riwayat hidupnya diterangkan kalau dia sempat dikeluarkan dari gereja-gereja Pentakosta. Dari situlah kemudian dia membentuk sekte sendiri.

Nah, salah satu fenomena lain yang menjadi ciri khas sekte adalah selalu adanya figur yang kharismatik dan sangat sentral peran dan kedudukannya. Ini sangat jelas dalam kasus Sibuea ini. Dia menyebut dirinya sebagai Rasul Paulus II. Klaim itu masih lumayan, karena ada yang bahkan menyebut dirinya Tuhan. J

adi, memang selalu ada klaim-klaim seperti itu; bahwa saya keturunan Tuhan, punya hak previlese, dan seterusnya. Ke semua klaim-klaim itu dimaksudkan untuk mengukuhkan ketokohan figur yang kharismatik tadi.

Dan sayangnya, anggota sekte-sekte, biasanya sama sekali tidak memiliki kemampuan dan kesempatan untuk mempertanyakan klaim-klaim seperti itu secara kritis. Jadi nalar kritis mereka seperti dibungkam sama sekali.

Untuk menanggulangi suburnya fenomena sekte-sekte, banyak yang mengusulkan perlunya perubahan paradigma khutbah keagamaan atau bahkan paradigma keberagamaan itu sendiri. Apa tanggapan Anda?

Usulan itu pas sekali. Tadi saya mengatakan secara sekilas bahwa dalam tradisi kekristenan, harapan eskatologis itu adalah bagian yang sangat esensial dalam doktrin kekristenan. Dan ini tidak bisa dihilangkan sama sekali. Karena itu, sangat keliru kalau ada yang mengira bisa menghilangkan seluruh fenomena sekte. Mungkin kali ini terjadi di Bandung, besok di Bekasi, dan seterusnya.

Nah, sekarang bagaimana cara menghadapi masalah ini? Di sini ada yang memberikan usulan menarik, yaitu dengan cara menggeser pusat perhatian penganut agama itu sendiri untuk tidak lagi tertuju pada dirinya sendiri (inward looking), tapi mulai memperdulikan masyarakat luas dan kepentingan bersama (outward looking). Karena, kalau saya lihat dari kasus sekte Pondok Nabi ini, klaim yang mesti dipertanyakan adalah kenapa hanya sekolompok dari mereka saja yang nantinya diangkat ke surga?

Nah, memang selalu ada kesan inward looking dalam sebuah sekte. Yaitu, bagaimana mereka selalu terus-menerus memuliakan diri sendiri, meningkatkan kesalehan dan keselamatan pribadi semata. Padahal, yang dimaksud oleh dimensi eskatologis dalam doktrin agama menurut saya adalah semacam pedang yang bermata dua.

Di satu cabang dia menunjuk pada harapan tentang sebuah utopia, sesuatu yang berada di luar sejarah, tapi di pihak lain dia merupakan kritik terhadap dunia yang tidak memungkinkan harapan itu untuk dicapai.

Sebetulnya, harapan eskatologis ini merupakan sumber kekuatan penyeimbang yang luar biasa bagi dunia yang fana ini, kalau saja agama-agama mau memakainya sebagai energi kritik yang kemudian bisa menjadi gerakan bersama.

Menurut Anda, apakah ada hubungan antara kemunculan klaim-klaim eskatologis seperti yang kita bincangkan tadi dengan menurunnya tingkat rasionalitas masyarakat Indonesia yang selalu dicekoki tayangan misteri, misalnya?

Ya, kita bisa saja menarik hubungan antara keduanya dalam konteks Indonesia sekarang.. Tapi apa yang terjadi di Amerika dengan dengan kelompok Jim Jones di tahun 70-an, dan David Koresh pada tahun 90-an, mungkin agak lain. Ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan persoalan rasionalitas.

Tapi bahwa realitasnya sekte-sekte selalu memadamkan dan menutup ruang bagi pengembangan nalar kritis anggotanya memang fakta. Sebuah sekte selalu memiliki kaitan yang kuat dengan proses indoktrinasi yang terus-menerus.

Kita bisa membaca dari berbagai media, bagaimana para anggota Sekte Kiamat misalnya harus bangun dari pagi hari sampai tengah malam, terus-menerus mendengarkan khutbah, dan berpuasa selama berhari-hari tanpa makan dan minum. Mereka mendengar khutbah yang semua bercerita tentang hari kiamat. Terang saja, kalau digituin selama seminggu, orang bisa saja percaya bahwa kiamat akan datang.

Bung Trisno, Departemen Agama Jawa Barat, melalui Kabid Binmas Kristen meminta aparat bertindak tegas terhadap sekte-sekte seperti ini. Mereka sudah dianggap sesat begitu saja. Apa komentar Anda tentang klaim-klaim seperti itu?

Pertama, apa hak seseorang atau suatu kelompok untuk mengatakan kelompok lain sesat? Dalam Protestantisme klaim itu susah sekali bisa diterima. Data terbaru dari Dewan Gereja sedunia mengatakan bahwa Protestantisme saat ini telah memiliki sekitar 28.000 aliran atau denominasi. Jadi, kalau Anda mau mencari aliran jenis apa saja akan tersedia. Lalu, mana yang benar dan mana yang sesat? Jadi, bagaimana membuktikan klaim-klaim seperti itu?

Kedua, apa yang dilakukan Departemen Agama menurut saya terlalu berlebihan dengan meminta aparat untuk bertindak tegas. Bertindak tegas itu dalam artian apa? Tidak bisa sekadar membubarkan. Kelompok sekte seperti ini membutuhkan lebih dari sekadar pembubaran.

Harus ada proses conseling, pendampingan, dan kemauan orang untuk menerima mereka dengan segala cacat-celah mereka, untuk kemudian diarahkan kembali pada sikap kritis. Akhirnya, dengan begitu mereka sendiri yang akan menentukan diri mereka. Ataupun, kalau Pendeta Sibuea yang mengakibatkan mereka begitu, dia juga yang harus membetulkannya.

Artinya, harus timbul kesadaran dari dalam diri kelompok itu sendiri. Tidak bisa aparat membubarkan mereka seperti membubarkan para demonstran. Sebab, ini menyangkut soal keyakinan.

Dan, soal keyakinan tidak bisa dilenyapkan dengan cara paksaan dan larangan setegas apapun, kecuali kalau mau membunuh mereka semua. Pencekalan mereka juga tidak bisa dilakukan dengan pasal-pasal tentang penodaan agama. Semua itu kan pasal karet yang bisa dikenakan pada semua hal?!

Tapi kabarnya sekte ini sudah dilarang sejak tahun 2000 dengan menggunakan pasal 156 A KUHP tentang Penodaan Agama dan Penghasutan. Jadi, polisi dan Forum Komunikasi Kristen Indonesia (FKKI) terkesan hanya meneruskan larang tersebut. Nah, apakah pendekatan pelarangan ini perlu dievaluasi atau bagaimana?

Ketimbang melarang, menurut saya lebih baik mengajak mereka untuk berdialog. Pendekatan melarang hanya memadamkan aktivitas mereka secara sesaat. Sebab justru ketika mereka mengahadapi tekanan, solidaritas antarmereka semakin meningkat. Dan Anda membaca sendiri bagaimana mereka mengatakan bahwa kiamat tidak jadi karena kelakuan Pendeta Simon yang menyabotase ritual mereka, bukan karena prediksi Pendeta Sibuae yang keliru.

Ini kan suatu bentuk self fulfilling prophecy (pembuktian ramalan sendiri) yang terus-menerus akan berlangsung. Dengan kelompok seperti ini, kita tidak mungkin mendekatinya dengan pendekatan kekerasan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.