Home » Agama » Mengapa Kita Perlu Berterima Kasih Pada Ateis?
celebrate_reason111

Mengapa Kita Perlu Berterima Kasih Pada Ateis?

3.32/5 (19)

Apa yang langsung terbesit dalam benak Anda ketika mendengar kata ateis? Bagi mereka yang telah lama bersinggungan dengan Filsafat, barang tentu tidak kaget lagi mendengar kata ini. Namun, agaknya stigma mayoritas masyarakat Indonesia hingga kini masih mengganggap bahwa ateis adalah paket lengkap penerima azab dari Tuhan. “Di dunia menjadi musuh bersama, di akhirat menjadi penghuni permanen neraka,” begitulah kira-kira.

Untuk mereka yang tertutup akan kritik kemapanan agama, kaum ateis terasa liyan, asing dan bengis karena berani-beraninya mengoyak-ngoyak iman seseorang dan dignity akan Tuhan.

Terkait pendapat di atas, muncul pertanyaan: Benarkah ateis tidak memiliki kontribusi sama sekali dalam kehidupan beragama seseorang? Benarkah keberadaan mereka malah semakin membuat sendi-sendi beragama kian goyah, bukan sebaliknya? Tulisan ini hendak memberikan sedikit jawaban atas pertanyaan tersebut, sekaligus melengkapi tema-tema tulisan ateis yang banyak diulas pada situs islamlib.com.

Jika menelaah filsafat post-Renaisans di abad 17 dan 18, akan kita dapati tiga filsuf yang banyak mendongkrak eksistensi Tuhan dan Agama semisal Immanuel Kant (1724-1804), Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) dan Martin Heidegger (1917-1976). Ketiga filsuf ini yang akan membantu kita menjawab pertanyaan di atas dengan sebuah quote yang ditegaskan oleh ilmuan Herwig Arts tahun 1992.

Pemilihan ketiga filsuf tersebut tentu bersifat subyektif, namun tidak dipungkiri bahwa ketiganya dapat memberikan gambaran singkat untuk meyakinkan mereka yang beragama demi ‘berpikir ulang’ jika hendak melabelisasi kaum ateis dengan sudut pandang negatif.

Tulisan ini tidak akan menyelami terlalu dalam mengenai pemikiran ketiga filsuf terpilih, sebab yang diperlukan hanyalah sedikit pemikiran mereka untuk dijadikan sebagai pisau refleksi bagi seorang yang beragama (teis). Untuk itu, adapun alasan ‘mengapa kita perlu berterima kasih kepada ateis’ termaktub dalam tiga pernyataan singkat yang di antaranya:

Pertama, ateis membantu kita “bangun dari tidur dogmatisme” [Immanuel Kant]

Tidur dogmatisme dapat didefinisikan sebagai sebuah keadaan, di mana seseorang yang beragama terkungkung dalam pemikiran-pemikiran yang monolitik serta final. Sama seperti halnya tidur yang kerap berkepanjangan, tidur dalam dogmatisme juga memberikan implikasi seperti kecenderungan untuk larut dalam sebuah ilusi. Kaitannya dengan agama, iman/percaya/teis perlu hadir dengan keadaan yang ‘prima’ dan ‘bugar’ setiap harinya.

Ketika Kant mengibaratkan keimanan pasif terhadap agama laiknya tidur, secara implisit ia menegaskan bahwa ‘mereka yang terjaga’ dalam kemapanan agama cenderung lesu, lemas dan tidak kritis akan fenomena yang ditangkap oleh indra. Demikian, kaum ateis mengambil sikap berbeda. Ateis yang kerap menyangsikan eksistensi Tuhan dan keberlangsungan agama, sebetulnya menjadi fondasi bagi mereka yang teis untuk ‘bangun dari tidur panjang dogmatisme’ itu. Bangun dari tidur berarti bahwa para teis perlu kembali mengaji bangunan-bangunan pemikiran dalam sebuah agama yang selama ini dianggap final dan tidak perlu diganggu gugat.

Kedua, ateis membantu kita untuk mengatakan “Ya” pada dunia ini [Friedrich Wilhelm Nietzsche]

Jika Immanuel Kant mengibaratkan kepatuhan akan agama sebagai tidur dogmatisme, lain halnya dengan Friedrich Nietzsche. Filsuf yang kritis terhadap ajaran Kristiani ini, hendak menarik nalar manusia untuk tidak larut dalam memikirkan dunia setelah kematian.

Apa yang kita tengah jalani saat ini, di kehidupan ini dan dalam waktu ini, adalah nyata. Manusia, tidak perlu mencari kehidupan lain. Yang perlu diperhatikan serta ditekankan yaitu kehidupan ini. Pernyataan Nietzsche agaknya relevan dengan perilaku beragama yang masih banyak dijumpai dalam masyarakat kita.

Mereka yang kerap menyandarkan kehidupan paska mati lebih memilih nrimo dunia tanpa usaha maksimal akan suatu hal. Akibatnya, kaum beragama menjadi kurang progresif karena sikap njeh seraya berharap bahwa pada kehidupan setelah dunia ini, akan ada kehidupan lain yang lebih baik, dengan ganjaran berlipat ganda dsb.

Nietzsche berpendapat lain. Baginya, entah kehidupan paska kematian niscaya ada atau tidak, kehidupan yang tengah berlaku saat ini yang perlu kita upayakan dan perjuangkan. Kita tidak perlu larut dalam dunia yang belum hadir di hadapan kita, tetapi mutlak untuk mengatakan “ya” pada hari ini, masa kini (Ja Sagen!)

Kaitannya dengan seorang beragama, sikap menyangsikan terhadap kehidupan paska kematian (yang menjadi jargon utama tudingan seorang teis pada ateis) dirasa perlu untuk kita refleksi.

Doktrin agama yang bertumpu pada kehidupan di masa nanti, bukan di masa kini, turut memberi perhatian bagi kita apakah itu artinya tidak haruskah ada usaha keras untuk mengupayakan dunia ini? Bagi mereka para ateis, jawabannya tentu tidak. Dunia ini nyata dan benar adanya.

Ketiga, ateis membantu kita untuk “kembali memikirkan Ada-nya” [Martin Heidegger]

Melalui filsuf ketiga ini, kita akan renungkan keberadaan para teis dan ateis dengan cara yang khas, yaitu, sadar akan ‘Ada’. Meskipun Heidegger tidak secara spesifik menyebutkan bahwa pertanyaan akan ‘Ada’ ini ditujukan kepada agama (karena Ada bagi Heidegger mencakup apapun), namun pemikirannya dalam menanyakan Ada menjadi penting dalam hal eksistensi Tuhan dan kemapanan agama itu sendiri.

Bagi para teis, pertanyaan ‘Ada’ perihal Tuhan dan kehidupan beragama seolah-olah tidak signifikan untuk dipertanyakan. Melalui Heidegger, sifat kesangsian akan ‘Ada’ ini perlu terus dipelihara. Sebab, Heidegger berpendapat bahwa sejatinya fitrah manusia memang perlu untuk selalu bertanya akan ‘Ada’.

Mereka yang secara logika menyangsikan ke-Ada-an akan sesuatu, lambat laun akan kritis dan siap dalam menerima segala kemungkinan yang timbul dari kehidupan. Sikap ini, seharusnya tidak hanya dimiliki dan dipelihara oleh seorang ateis, tetapi juga bagi para teis. Mereka yang beragama, tentunya pun perlu mempertanyakan ‘Ada’ dalam konteks beragama saat ini.

Kasus yang paling mendasar, jika melihat bagaimana 9/11 atau Bom Paris luput dari pandangan kita selaku teis, yang membuat tersentak begitu saja, kontribusi Heidegger turut berperan di mana mereka yang mengaku beragama seringkali luput akan ‘Ada’nya.

Kontribusi Heidegger terlihat pula pada bagaimana manusia seringkali memperlakukan manusia lainnya tanpa substansi, ia menyebutnya Zuhandenes (alat-alat). Sementara, manusia sejatinya adalah Mitdasein yang dalam hal ini bersifat memelihara dan menjaga. Sama halnya ketika mereka yang teis bagaimana memperlakukan para ateis. Terkadang, ada kecenderungan reflek untuk ‘mengurangi substansi’ ateis itu sendiri sebagai sesama manusia. Heidegger menyingkap kekusutan itu dengan cara mempertanyakan Ada secara substantif dan luhur.

Kontribusi Ateis Bagi Teis. Bila mereka yang percaya, meyakini ajaran agama sebagai sebuah konsep yang terus berevolusi, seharusnya keberadaan ateis bukanlah hal yang patut dicemooh, dibenci ataupun ditakuti. Lebih dari itu, ateis memberikan kontribusi tidak langsung bagi pengetahuan dan agama seseorang.

Dari kacamata mereka yang open minded dalam beragama, kiranya ketiga filsuf yang disinggung di atas dapat membuka simpati kita akan pemikiran mereka. Keberadaan pemikiran dan argumen mereka (meskipun awalnya terasa getir dan mencengangkan,) turut membuka mata para teis untuk senantiasa hidup rukun dan berdampingan dengan ateis. Dengan begitu, oleh mereka yang beriman, ateis tidak perlu dimaknai sebagai liyan atau yang terasing dari kehidupan ini. Mengutip Heidegger, sudah sepantasnya memaknai Ada dari kehidupan ini sebagai sesama manusia. Sudah sepatutnya untuk tidak melakukan pengurangan substansi maupun esensi antar individu.

Demikian, tidaklah berlebihan jika menutup tulisan singkat ini dengan sebuah pernyataan mahsyur dari Herwig Arts—yang saya parafrase—menjadi: “Terima kasih Ateis…”

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.