Home » Agama » Minoritas » Metta Dasmasaputra: “Agama-Agama Tak Mungkin Disamakan”
Metta Dharmasaputra (Foto: tempo.co)

Metta Dasmasaputra: “Agama-Agama Tak Mungkin Disamakan”

3/5 (1)

Mas Metta, dalam studi-studi tentang agama Buddha sering dikatakan bahwa Buddhisme adalah agama tanpa dewa-dewa. Bahkan, Sidharta sendiri tidak ingin dirinya disebut dewa. Apakah Buddhisme bisa disebut agama tanpa konsep Tuhan seperti yang dikenal dalam agama-agama semitik?

Menurut saya, sekarang kita harus mulai pengkajian yang lebih serius tentang konsep ketuhanan dalam agama Buddha. Dulu tidak ada ruang untuk melakukan pengkajian seperti itu, karena agama harus diakui oleh pemerintah yang waktu itu dibatasi hanya lima. Dan, prinsip dasarnya harus mengakui adanya Tuhan berdasarkan sila Ketuhanan Yang Mahaesa dalam Pancasila.

Nah, agama seperti Hindu dan Buddha itu tidak mengenal konsep Tuhan dalam pengertian “kata benda” seperti agama-agama samawi. Karena itu, sebetulnya dalam agama Buddha tidak dikenal konsep Tuhan. Cuma celakanya, kalau tidak mengakui itu, dulu dicap atheis, distempel sebagai orang komunis, dan itu akan repot sekali. Saya dan beberapa rekan pernah mengalami bagaimana harus bolak-balik membuat penjelasan buku putih ke badan intelijen negara.

Waktu itu, umat Buddha Indonesia, minimal sepengetahuan saya, berusaha menyiasati ketentuan. Kami memang tidak mengakui adanya konsep Tuhan, tapi mengakui konsep ketuhanan. Itu jalan tengahnya. Dengan konsep ketuhanan, kami tidak mengakui Tuhan dalam bentuk kata benda, tapi mengakui sifat ketuhanan.

Kita mengakui adanya Zat atau sesuatu yang di luar kita, yang dalam pengertian Buddhisme sebetulnya lebih dikenal sebagai hukum yang Mahadahsyat, Mahabergerak sendiri, yang mengatur semua isi alam.

Nah, kita masuk dengan konsep ketuhanan seperti itu. Tapi akhirnya, mau tidak mau, karena diharuskan menyebut personifikasi Tuhan, dalam agama Buddha lalu dikenal nama Sang Hyang Adi Buddha yang dalam literatur-literatur internasional sebetulnya tidak pernah dikenal. Jadi itu adalah personifikasi Tuhan yang hanya ada di kalangan Buddha Indonesia.

Jadi, kita memang harus membongkar betul pola pikir yang sudah dibakukan, yang selama ini harus memandang Tuhan dalam konsep tertentu. Karena itu, mulai saat ini harus ada ruang-ruang diskusi tentang konsep ketuhanan; apa yang disebut konsep ketuhanan, bagaimana sebenarnya konsep ketuhanan itu, dan lain sebagainya?

Tapi yang jelas, banyak sekali buku yang diterbitkan literatur internasional yang menunjukkan sangat besarnya perbedaan konsep tentang Tuhan dalam agama samawi dengan agama bumi, khususnya Buddhisme. Itu tidak bisa disamakan, karena Siddharta sendiri mencapai kesadaran puncaknya dari diri sendiri, bukan dari wahyu. Dari situ saja sudah jelas perbedaan bagaimana nantinya konsep penghayatan keagamaan selanjutnya.

Bagaimana dengan aliran-aliran dan sekte-sekte dalam Buddhisme?

Di dalam Buddhisme, banyak juga sekte-sekte dan aliran-aliran. Semua beranjak dari beragam penafsiran tentang Buddha. Ketika Sidharta meninggal, belum ada yang namanya kitab suci. Setelah 3 bulan, baru diadakan pesamon pertama. Itu dipimpin oleh murid tertua Buddha untuk memulai rekonstruksi apa yang diajarkan Sakyamuni (julukan yang diberikan kepada Buddha) dan apa-apa aturan yang harus dimuat.

Nah, multitafsir itu menimbulkan banyak pemahaman tentang Buddisme. Karena itu, apa yang saya utarakan tentang konsep ketuhanan misalnya, sudah barang tentu tidak mutlak. Tapi sejauh yang saya tahu, memang tidak ada konsep Tuhan dalam artian seperti agama-agama samawi dalam Buddhisme.

Yang ada hanyalah sebuah hukum alam semesta yang kekal dan hukum ini yang mengatur keseluruhannya secara harmoni. Ketika Siddharta mencapai kesadaran sempurna, dia memang sudah inheren dengan alam semesta itu sendiri.

Bagaimana dengan persepsi adanya kekuatan gaib di luar diri manusia yang diasumsikan akan membimbingnya untuk berbuat baik atau jahat?

Yang saya dalami, tidak ada konsep seperti itu. Sebab kesadaran sempurna Siddharta tidak diperoleh melalui wahyu, tapi dari tahap-tahap pencapaian dan peningkatan kesadaran kejiwaan. Nah, di sini memang ada perbedaan antara Theravada dan Mahayana. Di Mahayana, pencapaian kesadaran Buddha atau kebuddhaan itu menjadi ultimate goal atau tujuan utama seseorang. Karena itu dia terus mencari, berusaha seperti Siddharta untuk sampai ke tingkat kesadaran yang paling sempurna.

Bagaimana dengan pandangan Buddhisme tentang surga dan neraka?

Sejauh yang saya tahu, dalam Buddhisme tidak dikenal surga dan neraka seperti yang digambarkan dalam agama-agama samawi. Yang dikenal adalah proses hidup-mati, hidup-mati. Jadi kalau pun digambarkan sebuah surga dalam pengertian nirwana, nirwana itupun banyak tafsirannya.

Tapi yang saya pahami, nirwana bisa diciptakan di dalam kehidupan kita. Karena itu, ketika kita beribadah, tujuannya tidak untuk mencapai surga yang kelak, tapi bagaimana mencapai keadaan surga itu di dalam kehidupan sekarang.

Kalau boleh tahu, berapa perkiraan umat Buddha di Indonesia kini?

Saya tidak punya data statistik yang pasti. Tapi sepengamatan saya, tampaknya umat Buddha kini mulai mengalami penurunan cukup jauh. Dulu, agama Buddha bisa berkembang pesat karena inheren dengan etnis Tionghoa. Perkembangan agama Buddha di Cina sendiri bercampur-baur dengan apa yang disebut agama-agama asli.

Karena itu, orang-orang etnis Thionghoa di sini merasa dekat dan menganutnya. Tapi ketika orang-orang generasi pertama itu beranjak tua, generasi mudanya lebih memilih agama-agama yang dianggap lebih modern seperti Katolik, Kristen, dsb.

Memang harus diakui, Buddhisme di Indonesia yang berkembang di tahun 1952-an itu tidak seperti perkembangannya ketika zaman Sriwijaya. Kini, kesannya seperti barang antik, kuno, dsb. Kini, pusat penyebarannya memang lebih banyak di kota-kota, dan didominasi etnis Thionghoa.

Tapi di desa-desa juga masih banyak, terutama di pucuk-pucuk gunung. Di sana masih banyak umat Buddha dari kalangan pribumi. Namun itu pun rata-rata sudah bercampur dengan Kejawen. Kira-kira penyebarannya seperti itu.

Yang saya tahu, di Indonesia saja minimal berkambang delapan sekte Buddha dari Mahayana dan Theravada. Itulah sekte-sekte yang terbentuk di Indonesia dan tidak ada di negara lain, seperti sekte Kasogata. Itu sebetulnya sekte Buddha yang berkembang di Jawa, kemudian berasimilisi dengan budaya Jawa. Kemudian ada sekte Tridarma; campuran antara Buddha, Konghuchu, dan Laotse. Sekte ini memang lebih terpengaruh Buddhisme di Cina.

Bagaimana dengan konsep misologinya atau dakwah?

Dari awalnya, Buddhisme hampir tidak punya konsep penyebaran agama, sehingga celakanya, ketika diserang, kerajaan-kerajaan Buddha bisa sampai punah. Kerajaan Sriwijaya itu terdesak dan akhirnya hilang.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.