Home » Agama » Pindah Agama
pindahagama

Pindah Agama

4/5 (3)

Dalam konteks masyarakat demokratis, perkara pindah agama bukan fenomena besar bahkan mungkin akan kerap terjadi. Ada banyak faktor yang mendorong seseorang berpindah agama. Mulai dari faktor-faktor teologis-ideologis yang dalam hingga dorongan remeh temeh seperti karena gengsi dan prestise. Mulai dari motif yang bisa dinalar hingga motif yang tidak mudah dikunyah akal sehat. Mulai dari dorongan ekonomi dan politik hingga dorongan cinta kasih.

Seorang teman berani mengambil tindakan pindah agama hanya karena ingin menyesuaikan dengan agama pasangannya. Ada juga yang pindah agama untuk tujuan meningkatkan taraf hidup yang bersangkutan karena diiming-imingi dana dalam jumlah tertentu oleh kelompok agama tertentu.

Namun, pindah agama selalu menjadi fenomena mengguncangkan. Kalau tidak bagi diri yang berpindah agama, maka sekurangnya bagi keluarga dan lingkungan, tempat yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. Orang tua bisa mengambil tindakan kejam dengan tidak mengakui anak yang pindah agama sebagai bagian dari keluarga.

Para agamawan pun sering terpukul dengan perkara pindah agama ini. Sebab, dengan adanya anggota yang “tanggal” atau lepas, maka berkuranglah jemaat si agamawan tadi. Agamawan yang tak jarang tampil bak seorang pengiklan atau salesman dagangan, merasa gagal dalam menyampaikan dakwah dan misinya ketika ada anggotanya yang berpindah.

Pindah agama adalah perkara yang paling dibenci oleh agamawan–maaf, bukan oleh Tuhan karena kebesaran Tuhan tidak akan pernah mengalami defisit hanya karena makhluknya yang bernama manusia ini mondar-mandir dalam menganut agama.

Saya hampir selalu menangkap kesan tentang ketidak-relaan kaum agamawan untuk melepas kepergian anggotanya ke “tempat” atau agama lain. Mereka tampak berat hati. Maka, untuk membentengi agar seseorang tidak keluar dari suatu agama, para teolog sering membuat sejumlah “ancaman”, mulai dari sanksi-sanksi eskatologis seperti neraka hingga sanksi hukum bunuh di dunia.

Tanpa pernah dipahami konteks (sabab al-wurud)nya, maka dirapalkanlah sebuah hadits, “man baddala dinahu faqtuluhu (barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah).

Karena itu, keputusan setiap orang untuk mengkonversi agamanya bukan perkara mudah. Diperlukan tidak hanya keberanian tapi juga kesiapan mental jika suatu waktu mengalami diskriminasi dan ekskomunikasi dari agamawan, keluarga, dan masyarakat sekitarnya.

Sebagai seorang muslim yang pro-demokrasi, saya sendiri cenderung tidak mempersoalkan seseorang untuk melakukan apostasi karena dua alasan. Pertama, tidak ada gunanya seseorang dipaksa berada di dalam suatu agama sementara yang bersangkutan sudah tidak merasa nyaman dan at-home dalam agama itu.

Memeluk suatu agama dengan keterpaksaan ini adalah cara beragama yang pura-pura. Beragama yang fresh adalah beragama yang berangkat dari kesadaran batin yang mendalam dan dengan keyakinan penuh perihal kebenaran ajaran agama itu.

Kedua, setiap orang memiliki hak untuk masuk dalam suatu agama atau keluar dari suatu agama. Itu adalah hak fundamental yang lekat pada setiap orang. Dalam Alquran, setiap orang diberi hak untuk memilih apakah ia akan menjadi theis atau atheis. Allah SWT berfirman, faman sya`a fal yu`min waman sya`a falyakfur. Nah!

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.