Home » Agama » Slamet Gundono: “Toleransi Akan Lestari Kalau Tak Ada Politisasi”
Slamet Gundono (Foto: tempo.co)

Slamet Gundono: “Toleransi Akan Lestari Kalau Tak Ada Politisasi”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Cerita Mas Slamet tadi, selain menunjukkan kontrasnya perbedaan antara budaya santri dengan budaya Tayub, juga menunjukkan adanya bentuk-bentuk kearifan dan toleransi dalam menyikapi perbedaan. Apakah bentuk-bentuk kearifan dan toleransi semacam itu kini masih lestari di tengah masyarakat kita?

Budaya itu akan tetap lestari kalau tidak dipolitisasi. Tapi kalau dipolitisasi terus-menerus, yang ada adalah konflik kepentingan, keinginan untuk berkuasa, kehendak menjadi yang paling kuat dan paling gigih. Jarang sekali orang punya konsep politik yang rahmatan lil `alamin.

Padahal dalam sejarahnya, Islam bisa masuk ke Jawa karena punya nilai toleransi. Kalau tidak, yang terjadi adalah perang. Islam misalnya, masuk lewat tangan Sunan Kali Jaga dengan konsep-konsep sekaten. Kita harus ingat bahwa Islam yang masuk ke sini memang banyak versinya. Ada yang versi ekspansi, dan ada juga dengan versi yang lebih besar seperti lewat sekaten, dengan mengakomodasi nilai-nilai Jawa. Itu jangan dilupakan.

Karena itu, kebudayaan lokal tidak bisa dihilangkan dan dilenyapkan sedemikian rupa. Dia tetap punya andil luar biasa untuk mengangkat Islam ke dataran Jawa ini. Sebetulnya, saya tidak melihat adanya kekuatan-kekuatan politik yang coba menyingkirkan kebudayaan lokal dari Indonesia.

Sharing atau tawar-menawar antara Islam dan budaya lokal, saya lihat sebagai suatu kemesraan, selama itu tidak dipolitisasi menjadi konflik yang hanya membuang-buang energi saja. Sebab, setiap orang beragama, dengan aliran apapun juga, sesungguhnya kepingin hidup damai berdampingan.

Dalam pelbagai pentas wayang atau yang Anda bawakan, selalu ada nuansa protes terhadap agamawan, karena agamawan tiba-tiba hadir sebagai pembeda identitas kita yang beragam. Siapa yang Anda lihat berperan dalam politisasi agama selama ini: agamawan yang berpolitik atau atau justru petualang-petualang politik biasa?

Ya, kesenian itu kan tugasnya mengkritik, tidak mencari data. Kalau saya mengejar data, tentulah sangat sulit bagi saya untuk berkarya. Tapi yang saya lihat, seluruh politikus, baik politikus agama maupun politikus yang nasionalis, selalu melakukan apapun untuk meraih kemenangan dalam kegiatan politiknya.

Dan ketika berbicara dengan beberapa teman, saya memang menangkap adanya kyai-kyai atau orang-orang beragama yang bersemangat menegaskan perbedaan identitas kita di tengah-tengah masyarakat. Mereka menegaskan perbedaan, bukan menebar cinta kasih.

Padahal ketika lakum dinikum waliyadin atau bagimu agamamu dan bagiku agamaku itu ditegaskan dalam Alqur’an, semangatnya masih berada dalam bungkus cinta kasih, bukan dibungkus sesuatu yang menyakitkan.

Kenapa Anda selalu mengangkat tradisi dan ekspresi keberagamaan yang sedikit heterodoks dalam karya-karya dan pementasan Anda, seperti kisah Syekh Mutamakkin yang diangkat dari Serat Cebolek itu?

Ketika saya menggarap Serat Cabolek Syekh Mutamakin, saya mencoba menawarkan dan mengingatkan sejarah tentang jejak yang cukup jelas dan cukup menyakitkan kita semua dalam kisah Syekh Mutamakkin yang dibunuh itu.

Di situ saya hendak menggambarkan bagaimana akibatnya jika perbedaan-perbedaan pemahaman keagamaan itu tidak diselesaikan dengan semangat cinta kasih, atau tidak dikembalikan kepada pengadilan Allah saja nantinya. Padahal, hakim yang paling segala-galanya kan adalah Allah di akhirat nanti.

Sebab bagaimana pun juga, seluruh tafsir kita tentang Allah dan agama, tidak akan bisa tuntas betul. Kita hanya diberi sisi kecil pengetahuan untuk menafsirkan Allah itu siapa. Karena itu, kita sesungguhnya tidak bisa memaksakan tafsiran dan pandangan kita.

Nah, kisah Syekh Mutamakin itu memberi gambaran tentang jejak sejarah ketika konflik itu cukup berdarah-darah karena diselesaikan secara politis. Waktu itu ada pertautan kepentingan antara Ketib Anom dengan Raja Amangkurat yang ingin melenyapkan Syekh Mutamakkin.

Di situ ada dialog-dialog yang lebih detail tentang bagaimana Syekh Mutamakin mengajari santrinya Alquran, Barzanji, sekaligus Serat Dewaruci. Nah, Serat Dewaruci itu kan sebetulnya menggambarkan proses orang bersembahyang.

Di situ ada yang namanya Butoloro yang menggambarkan dua hidung. Simbol ular yang di laut mengambarkan tentang nafsu manusia. Artinya, Serat Dewaruci ingin menggarap secara sastrawi dan puitis bagaimana cara orang salat dan bagaimana mereka sampai pada wassalam. Itu semua proses yang cukup berat dan harus dilalui dengan keihlasan.

Bagi saya, serat itu merupakan sebuah karya seni, dan ajarannya berangkat dari substansi Islam itu sendiri. Tapi karena ia memakai bahasa Jawa dan bahasa Sanskerta, ia dianggap kurang Islam, karena orang selalu memahami bahwa Islam itu Arab.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.