Home » Aksara » Buku » Amerika di Mata Kita
Buku "Benturan Peradaban."
Buku "Benturan Peradaban."

Amerika di Mata Kita

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Judul: Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia terhadap Amerika Serikat
Penulis: Saiful Mujani, Jajat Burhanuddin, et. all.
Penerbit: Freedom Institute, PPIM dan Penerbit Nalar.
Cetakan: Oktober 2005
Tebal: viii + 196

 

IslamLib – Suatu kali, editor Foregn Affairs pernah menyatakan bahwa sejak artikel George Kennan “X” tahun 1940-an, tidak ada artikel-artikel jurnal terkemuka itu yang memicu debat akademik yang panas, kecuali artikel “The Clash of Civilizations” (benturan peradaban). Sebenarnya artikel Huntington itu, secara umum, hanya menegaskan apa yang pernah ia tulis dalam “Will More Countries Become Democratic” (1984) dan “The Third Wave” (1991). Ia menyebut dunia Muslim sulit menjadi demokratis, karena faktor-faktor kultural yang menghalanginya.

Konsistensi Huntington yang menyebut konstruksi budaya yang membentukepisteme yang beraneka rupa, semakin dipertegas dalam, “The West: Unique, Not Universal” (1996b). Dia menolak singularitas kultural. “Esensi budaya Barat adalah Magna Carta, bukan Magna Mac, ”ujar Huntington,” merujuk fenomena Mac Donalisasi di seantero dunia.

Analisis provokatif Huntington itu terjebak narasi besar yang kurang mendapat justifikasi empirik. Untuk itu, PPIM-Freedom Institute-JIL melakukan survei kuantitatif dan kualitatif berskala nasional yang salah satunya ditujukan untuk membuktikan sahih-tidaknya tesa Huntington. Kolaborasi tiga lembaga itu ditujukan untuk mengetahui sikap dan perilaku Muslim Indonesia terhadap Amerika Serikat.

Kita tahu, citra Amerika sebagai epitome Barat, mengalami defisit di dunia Muslim dengan adanya resistensi di negara Islam dalam menyikapi isu terorisme. Data Pew Research Center 2002, 2003, 2004, dan 2005 menunjukkan; dari 10 negara mayoritas Islam yang disurvei (termasuk Indonesia) hanya Uzbekistan yang memberi “lampu hijau” kepada Amerika untuk melanjutkan perang melawan terorisme.

Lantas apakah sikap anti-Amerika di dunia Muslim didorong spirit anti-kapitalisme dan imperalisme global? Apakah sikap anti-Amerika tersebut sebangun dengan aktivis “kiri” yang rajin menggelar aksi anti-Amerika di Eropa, bahkan di Amerika sendiri? Apakah spirit anti-Amerika di masyarakat Muslim memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan dengan Ken Livinstone, Michael Moore, atau Sean Penn? Ya, bila kita memakai asumsi Huntingtonian. Kritisisme orang Islam terhadap Amerika berbeda dengan Walikota London, sutradara Fahrenheit 9/11 dan aktor Holywood yang terkenal itu. Keunikan itu terletak pada dimensi nilai, yakni adanya “suatu pandangan bahwa Islam memiliki semacam pranata yang lebih superior dankaffah ketimbang sistem lainnya untuk diterapkan pada ruang publik.”

Pandangan unik itu disebut Islamisme, yang kemudian diuji korelasinya dengan pembentukan sikap dan tindakan anti-Amerika melalui survei dengan metode multistage random sampling. Buku hasil survei ini membedakan Islamisme pada dua kategori. Pertama, dalam bentuk sikap yang diukur dengan sikap mereka terhadap poligami, hak waris perempuan dan laki-laki, dan implementasi syariat. Kedua, pada tingkat tindakan seperti pemboikotan atas barang atau jasa produk Amerika, sweeping terhadap orang-orang asing maupun tempat-tempat publik yang dinilai bertentangan dengan kaidah Islam (h. 28).

Kontribusi buku ini terletak pada pemakaian variabel efikasi dan alienasi (deprivasi sosial) untuk mengukur keikutsertaan dalam tindakan anti-Amerika (Islamist acts). Efikasi diukur dengan “seberapa yakin Islam akan mengalahkan musuh-musuhnya,” dan “seberapa ingin mereka mati syahid berperang di jalan Allah (jihad).” Di samping efikasi sebagai energi psikologis yang mendorong partisipasi dalam protes sosial, buku ini juga memasukkan variabel alienasi Islamis yang diukur dengan seberapa yakin Islam diperlakukan tidak adil oleh kelompok-kelompok lain (h. 33-34).

Survei ini menunjukkan pengaruh alienasi Islamis atas munculnya Islamist acts yang meski proporsinya kecil, tapi cukup “merepotkan.” Islamist actstidak bisa dilihat dari kecil atau besar, karena protes sosial terkait dengan aspek benefit-cost yang biasa dikenal dalam rational choice. Adalah wajar dalam struktur masyarakat yang menyamai kurva normal, elemen yang bertindak ekstrem memiliki proporsi yang kecil. Untuk itu, survei ini dilengkapi variabel Islamist attitudes yang diukur dengan 17 indikator (h. 43- 46). Secara umum, sentimen negatif terhadap Amerika muncul dalam proporsi yang cukup signifikan, meski variasi anti-Amerika itu lebih besar ditemukan dalam bentuk sikap.

Buku ini juga memasukkan variabel toleransi sebagai salah satu parameter derajat anti-Amerika. Hasilnya, cukup banyak umat Islam yang keberatan kalau orang Kristen menjadi guru di sekolah negeri (24,8%), mengadakan kebaktian (40,8%) atau membangun gereja di wilayah tinggal seorang muslim (49,9%). Buku ini kemudian coba menarik korelasi antara defisit toleransi di kalangan muslim dengan frekuensi anti-Amerika.

Selain itu, afirmasi terhadap agenda Islamis juga dipercaya turut menyumbang besarnya sikap anti-Amerika di kalangan Muslim Indonesia. Cukup besar yang setuju dengan pelaksanaan potong tangan bagi pencuri (40%), poligami (39%), pelarangan bunga bank (41%), pembagian waris (58%), rajam bagi pezina (55%), dan ketidaksetujuan perempuan menjadi presiden (41,1%).

Agenda-agenda Islamis yang inherently incompatible dengan nilai-nilai demokrasi itu menunjukkan defisit kebebasan sipil di tengah keberhasilan kita menyelenggarakan demokrasi elektoral terbesar sepanjang sejarah dunia Islam. Bila dikomparasikan dengan data serupa pada survei nasional tahun 1999, 2001 dan 2003, terjadi kenaikan indeks agenda Islamis.

Buku ini berhasil membuktikan bahwa keempat komponen Islamisme seperti agenda Islamis, efikasi Islamis, dan intoleransi, secara statistik, memiliki pengaruh atas sikap anti-Amerika pada P-value 0,05 atau lebih baik. Di sinilah letak keunggulan buku ini, yakni adanya klaim inferensi atas seluruh umat Islam dari Sabang sampai Merauke dan diikuti penelitian kualitatif mendalam terhadap 60 aktivis Muslim di beberapa provinsi.

Buku hasil survei ini melahirkan varian baru ‘demokrat Islamis,’ yakni Muslim yang mendukung dan menjalankan demokrasi, setidaknya secara elektoral, tapi tetap memperteguh identitas dan agenda-agenda Islam yang eksklusif bagi kehidupan publik. Menilik hasil survei yang menunjukkan afirmasi Muslim atas demokrasi, voters turn-out yang tinggi dalam pemilu 2004, tapi masih defisit pada level kebebasan sipil, maka sulit untuk menepis kenyataan munculnya varian baru ini dalam perpolitikan di tanah air.

Namun, buku hasil survei yang diadakan pada 1-6 November 2004 ini sangat terpaku oleh dimensi waktu. Tiga bulan setelah itu, LSI dan Terror Free Tomorrow mencatat perubahan yang cukup dinamis di mana proporsi yang mendukung atau menentang perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika berubah menjadi 40/36 %. Sentimen negatif terhadap Amerika, secara umum, juga menurun. Setelah dikorelasikan ternyata terkait dengan bantuan Amerika terhadap korban tsunami Aceh yang mendapat publikasi luas dari media di tanah air.

Buku ini juga terlalu “tipis” untuk sebuah survei dengan kuisoner 200-an pertanyaan dan indepth interviews terhadap pentolan-pentolan aktivis Islamis di seluruh Nusantara. Banyak data survei yang belum diulas dan disajikan dalam buku. Data komparatif dengan hasil-hasil survei sebelumnya yang dimiliki PPIM UIN Jakarta dan LSI juga belum nampak. Agaknya, masih banyak “PR” yang menumpuk bagi tim penulis kalau berminat mengelaborasi lebih dalam temuan-temuan survei ini.

Burhanuddin Muhtadi adalah pengajar pada Universitas Islam Negeri Jakarta.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.