Home » Aksara » Buku » Islam Awal Lebih Toleran?
Mohammed_kaaba_1315

Islam Awal Lebih Toleran?

4.75/5 (4)

Judul : Muhammad And The Believers: At The Origins Of Islam
Penulis: Fred M Donner
Penerbit: First Harvard University Press 2012, Amerika Serikat
Tebal   : ix+280 halaman

 

IslamLib – Berbeda dari kaum revisionis radikal seperti Patricia Crone atau Michael Cook yang menolak semua sumber-sumber tradisional Islam dan dari kaum tradisional yang menerima semua sumber-sumber tradisional Islam, Fred Donner dalam membangun argumentasi Islam pada masa awal melakukan seleksi terhadap sumber-sumber tradisional Islam seperti sirah nabawiyah.[1]

Penulis Narratives of Islamic Origins: The Beginnings of Islamic Historical Writing (Darwin Press; 1998) ini mengakui bahwa, sekalipun dalam banyak hal masuk akal, sumber-sumber tradisional Islam seperti sirah nabawiyah tidak dapat sepenuhnya diandalkan karena sumber-sumber tersebut dikompilasi beberapa tahun bahkan beberapa abad setelah periode kehidupan Nabi Muhammad.

Dapat pula diduga beberapa peristiwa pada sumber-sumber tersebut tidak dapat dipercaya dalam menggambarkan peristiwa yang sebenarnya terjadi namun cenderung lebih mendeskripsikan legenda yang dibuat generasi Muslim belakangan untuk memastikan status Muhammad sebagai nabi, membantu membangun preseden bagi ritual, kehidupan sosial atau praktik hukum komunitas Muslim belakangan.

Alasan-alasan tersebut telah menyebabkan beberapa sarjana terutama dari kalangan revisionis radikal menolak seluruh sumber-sumber tradisional tersebut. Bagaimanapun, menurut Donner, pendirian ini terlalu jauh dan sama tidak kritisnya seperti penerimaan kaum tradisionalis terhadap sumber-sumber tradisional.

Dalam buku ini Donner menjadikan Al Quran sebagai sumber utama argumentasi serta tampak mempertimbangkan kisah-kisah yang cukup akurat dan masuk akal dari peristiwa-peristiwa dalam hidup Nabi namun mengesampingkan kisah-kisah yang bias keajaiban, idealisasi yang tidak wajar dan pembenaran yang bersifat relijius.

Pada bab pertama, profesor kajian Timur Dekat di Universitas Chicago ini memaparkan tentang kondisi timur dekat pada masa menjelang munculnya Islam yang mengekplorasi imperium-imperium dari akhir zaman kuno, Arab di antara poros-poros besar kekuasaan serta deskripsi situasi Mekkah dan Madinah

Bab kedua buku ini berjudul Muhammad dan gerakan Kaum Beriman yang membahas biografi Nabi Muhammad dalam tradisi Islam, permasalahan terkait sumber dan karakteristik Gerakan Kaum Beriman Awal.

Ekspansi Komunitas Kaum Beriman menjadi tema di bab ketiga dimana penulis The History of al-Tabari (Vol. 10): The Conquest of Arabia (State University of New York Press; 1993) (terjemahan) ini membahas sumber-sumber sejarah, keadaan komunitas Kaum Beriman pada akhir hidup Nabi Muhammad, suksesi Nabi Muhammad dan Perang Ridda, ciri-ciri ekspansi awal Kaum Beriman, tujuan dan cakupan ekspansi awal, konsolidasi dan lembaga-lembaga era ekspansi awal

Bab keempat membahas mengenai pergulatan kepemimpinan umat yang selanjutnya menguraikan latar belakang perang saudara pertama, jalannya perang saudara pertama, masa di antara perang saudara, perang saudara kedua dan renungan tentang Perang Saudara

Kemunculan Islam menjadi topik utama bab terakhir dimana pada bagian ini Donner menjelaskan restorasi dinasti Umayyad dan kembalinya agenda imperial, redefinisi istilah-istilah kunci, penekanan pada Muhammad dan Al Quran, masalah trinitas, penjelasan praktik ibadat islam, penjelasan kisah islam awal, peleburan identitas politik Arab, kontradiksi perubahan resmi dan perubahan popular.

Penulis The Early Islamic Conquests (Princeton University Press; 1981) ini berpendapat bahwa Islam berawal dari gerakan relijus bersifat ekuminis yang menekankan pada usaha mendapat keselamatan pribadi melalui perilaku yang benar bukan sebagai gerakan sosial, ekonomi, atau bahkan gerakan “nasionalis”.

Perhatian gerakan Kaum Beriman terhadap isu-isu sosial hanyalah sejauh mengenai hal-hal yang terkait dengan konsep kesalehan dan perbuatan baik yang dibutuhkan guna memastikan keselamatan tersebut dimana Islam sebagai agama yang terpisah baru ditegaskan pada masa belakangan

Menurut Donner, Kaum Beriman awal mempunyai kepercayaan dasar berupa keesaan Tuhan, percaya kepada hari akhir, percaya kepada konsep pewahyuan dan konsep kenabian dan percaya pada adanya malaikat, menjalankan shalat, puasa, bersedekah, melakukan perbuatan baik kepada sesama.

Sebuah ide dan praktik yang umum dan wajar di Timur Dekat abad ketujuh. Sejauh mereka meyakini kepercayaan dasar dan melaksanakan praktik-praktik tersebut, Yahudi dan Kristen dapat digolongkan sebagai bagian komunitas Kaum Beriman.

Kaum Beriman mempersepsikan diri mereka sebagai komunitas yang lebih taat pada monoteisme, berkomitmen pada perbuatan baik, yang terpisah dari lingkungan masyarakat sekitarnya baik itu kaum polities ataupun kaum monoteis yang kurang taat dan berdosa.

Namun di sisi lain tidak ada alasan menyatakan Komunitas Orang Beriman sebagai agama terpisah, sebagaimana yang dinyatakan Al Quran Surat 46:9, “Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan”.

Hal ini diperkuat dengan dalil bahwa di dalam Al Quran kata “mukminin” disebut lebih dari 1000 kali dibandingkan kata “muslimun” yang hanya disebut 75 kali dalam Al Quran.

Dasar argumentasi Donner lainnya adalah Piagam Madinah. Piagam Madinah memasukkan kaum Yahudi (dan Kristen) ke dalam komunitas orang-orang beriman, dokumen itu menyebutkan “orang-orang Yahudi dari Banu Awf adalah satu umat (ummatan wahidah) dengan kaum mukmin.

Terkait deskripsi hubungan Muhammad dengan tiga suku Yahudi, Bani Qainuqa’, Nadlir dan Quraidhah, yang bersifat antagonis, penuh konflik hingga mereka diusir dan eksistensi mereka tidak disebut dalam Piagam Madinah, Donner mengajukan beberapa pertanyaan kritis yaitu, apakah dokumen itu ditulis setelah diusirnya ketiga suku tersebut, sehingga penyebutannya menjadi tidak relevan?

Apakah penyebutan suku-suku tersebut tidak ditulis dalam dokumen itu karena mereka sudah tidak ada di Madinah? Ataukah isu konflik antara Nabi dan ketiga suku Yahudi tersebut dibesarkan-besarkan penulis sejarah belakangan?

Setelah Nabi meninggal, karakter komunitas Kaum Beriman ini pun masih berlanjut. Hal ini dapat dilihat dari gelar Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang beriman) bukan Amirul Muslimin (pemimpin orang-orang Islam) bagi para penerus kepemimpinan politik Nabi. Adapun istilah khalifah yang sering disematkan pada pemimpin politik setelah Nabi ternyata tidak didukung oleh adanya penyebutan kata khalifah tersebut dalam bukti-bukti sejarah sebelum abad ketujuh.

Selanjutnya pada masa ekspansi awal Kaum Beriman terdapat bukti sejarah lain yang memperkuat argumentasi Donner diantaranya adalah koin, catatan awal, inskripsi yang ditemukan dengan tahun 685 M hanya menyebutkan bagian pertama syahadat (tiada Tuhan selain Allah) dan tidak mencantumkan “Muhammad adalah utusan Allah”.

Sebuah dokumen tertulis Suryani Timur di Mesopotamia Utara tahun 687 atau 688 M mencatat bahwa Kaum Beriman mengizinkan orang-orang untuk tetap pada keyakinan apapun yang mereka mau. Dalam dokumen tersebut juga dicatat bahwa di antara orang-orang beriman yang terlibat dalam pertempuran terdapat pula orang-orang Kristen.

Surat Patriark Nestorian Isho’yaab III di Iraq kepada salah satu uskupnya pada tahun 647 atau 648 M juga menunjukkan bahwa penguasa baru selain tidak memerangi orang Kristen mereka juga memuji agama Kristen, menghormati pendeta, biara- biara dan orang orang suci Tuhan kita serta memberi hadiah kepada biara-biara dan gereja-geraja.

Ekspansi Kaum Beriman terhenti sementara saat Fitnah Pertama dan Fitnah Kedua melanda. Setelah konflik internal Kaum Beriman selesai, Khalifah Abdul Malik Ibn Marwan mulai dapat mengkonsolidasikan kekuasaannya dan meneruskan ekspansi wilayah secara lebih fokus.

Pada masa Abdul Malik Ibn Marwan inilah terjadi proses pergeseran identitas Kaum Beriman. Tanda-tanda pergeseran identitas itu dapat dilihat setidaknya dari pendefenisian ulang istilah kunci dari Kaum Beriman menjadi Kaum Muslim, pergeseran gelar Amirul Mukminin menjadi Khalifah yang digunakan oleh Abdul Malik Ibn Marwan

Kaum Beriman generasi awal menggunakan istilah muhajirin dan mukminin untuk menyebut diri mereka, istilah muhajirin ditujukan bagi Kaum Beriman yang aktif secara militer dan punya motivasi relijius untuk beremigrasi dari Arabia . Seiring berjalannya waktu, dengan alasan yang belum jelas, istilah muhajirin tidak digunakan lagi.

Penyebab yang dapat diduga adalah karena wilayah yang dikuasai Kaum Beriman semakin luas, setidaknya telah meliputi Arabia, Syiria, Irak, Mesir, sehingga istilah hijrah yang bermakna perpindahan dari masyarakat kafir kepada masyarakat Kaum Beriman tidak lagi relevan.

Satu-satunya istilah yang tersisa dalam Al Quran adalah “muslim”, sebenarnya istilah “muslim’ dapat pula disematkan kepada orang-orang Yahudi dan Kristen namun karena istilah “Yahudi” dan “Kristen” telah mejadi istilah tersendiri untuk orang-orang tersebut, maka tinggal istilah “muslim” yang masih relevan disematkan kepada Kaum Beriman di luar Yahudi dan Kristen.

Sekalipun terdapat pendapat yang menyatakan bahwa gelar “Khalifah” telah digunakan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali namun sebatas dokumen sejarah yang ditemukan dengan tahun sebelum zaman Abdul Malik Ibn Marwan, gelar yang digunakan keempat pemimpin Kaum Beriman tersebut adalah “Amirul Mukminin” bukan “Khalifah”. Gelar “Khalifah” baru ditemukan dalam dokumen-dokumen sejarah pada masa Abdul Malik Ibn Marwan.

Donner berpendapat bahwa gelar “Khalifah” digunakan Abdul Malik Ibn Marwan untuk mempertegas otoritas kekuasaan dinasti Umayyah sebagai penerus Nabi di kalangan Kaum Beriman terutama setelah Perang Saudara Kedua yang menggerus legitimasi dinasti Umayyah. Gelar Khalifah sendiri diperkirakan terinspirasi dari QS 38:26, guna menegaskan status Abdul Malik Ibn Marwan sebagai wakil Tuhan di muka bumi yang dipandu oleh Al Quran.

Contoh lain proses pergeseran identitas Kaum Beriman menurut Donner diantaranya adalah perintah Abdul Malik Ibn Marwan kepada gubernur Irak Hajjaj Ibn Yusuf untuk mempersiapkan teks Al Quran standar lengkap dengan diakritik dan tanda baca dan pencantuman “Muhammad Rasulallah” pada bukti-bukti sejarah yang hanya baru ditemukan pada dokumen-dokumen tertahun 685 M/686M.

Teori Donner ini dapat dijadikan pondasi konstruksi hubungan yang bersifat inklusif antar umat beragama, khususnya antara umat Islam, Kristen dan Yahudi. Dengan menggunakan teori Donner maka semangat untuk mengamalkan ajaran Islam seperti generasi awal dapat diartikan sebagai semangat untuk melaksanakan ajaran Islam yang bersifat ekuminis, inklusif, fokus pada perbuatan baik dan tidak mengeksploitasi perbedaan guna memicu konflik antara umat Islam, Yahudi dan Kristen .

Kelemahan dari teori Donner ini sebenarnya telah diakui penulisnya sendiri. Di halaman 204, Donner mengakui bahwa berdasarkan pengetahuan yang kita dapat sekarang ini, kita hanya dapat berspekulasi mengapa pergeseran identitas Kaum Beriman terjadi.

Mungkin batas yang mengeras, yang berakibat pada pemisahan secara jelas, antara kaum muslim dengan kaum Yahudi dan Kristen adalah reaksi keras kaum Muslim melawan beberapa aspek spesifik seperti keteguhan orang-orang Kristen untuk memeluk doktrin trinitas dan keengganan orang-orang Yahudi untuk mengakui kenabian Muhammad tapi sekali lagi itu hanya spekulasi yang belum dapat dikonfirmasi kepastiannya oleh bukti-bukti sejarah lain.

Secara keseluruhan, bagi para pembaca yang akrab dengan narasi tradisional tentang periode formatif Islam, buku Donner ini dapat mengajak pembaca berpikir kritis tentang persepsi bahwa Islam sebagai agama terpisah telah terbentuk sejak awal dan memberikan perspektif baru tentang periode awal Islam. Sehingga bagi para pembaca, buku ini akan sangat menarik untuk dibaca dan didiskusikan.

[1] Tipologi revisionis radikal, revisionis moderat dan tradisional meminjam tipologi yang dikemukakan Mun’im Sirry dalam Kontroversi Islam Awal (PT Mizan Pustaka, Jakarta, 2015).

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.