Home » Aksara » Buku » Politics, Rhetorics, Beauty

Politics, Rhetorics, Beauty Renungan tentang Nahj al-Balaghah

4.42/5 (81)

Nasihat Imam Ali berkaitan dengan pajak sangat menarik untuk kita simak. “Wa tafaqqad amral kharaji bi-ma yuslihu ahlahu.” Berhati-hatilah dalam soal pajak, sehingga pajak itu membawa kebaikan bagi para pembayarnya. Sebab, lanjut Imam Ali, “Li anna al-nasa ‘iyalun ‘ala al-kharaji wa ahlihi.” Rakyat di sebuah negara tergantung pada para pembayar pajak.

Nasihat Imam Ali ini langsung mengingatkan kita pada filosofi modern mengenai pajak: no taxation without representation. Pajak tak bisa dibayarkan secara gratis begitu saja: ia harus membawa manfaat balik (“shalah” dalam istilah yang dipakai oleh Imam Ali) bagi para pembayarnya. Kepentingan mereka harus direpresentasikan dalam kebijakan publik yang menguntungkan mereka.

Tetapi yang lebih mengagumkan bagi saya adalah kesadaran Imam Ali bahwa rakyat dan negara tergantung pada pajak, dan karena itu penguasa harus berbaik-baik kepada pembayar pajak. Kata Imam Ali, “Wa man thalabal kharaja bi ghairi ‘imaratin akhrabal bilada, wa ahlakal ‘ibad.” Penguasa yang hanya peduli dengan urusan menarik pajak belaka, tanpa membangun, maka dia akan pelan-pelan menghancurkan negara dan rakyat sekaligus.

Nasihat Imam Ali ini mengindikasikan kesadaran yang begitu mendalam pada tokoh ini mengenai praktek menyimpang dalam perpajakan yang dilakukan oleh para penguasa dinasti-dinasti sebelum Islam datang – Romawi dan Persia. Pada saat itu, pajak lazim dipraktekkan sebagai intsrumen pemerasan atas rakyat.

Pajak bukan ditarik untuk tujuan membangun yang membawa manfaat bagi orang banyak. Pajak, dalam wawasan politis Imam Ali, berkorelasi dengan penciptaan “public goods”, kemaslahatan umum, bukan untuk memenuhi kas penguasa guna membiayai hidup mewah para raja dan keluarga bangsawan – praktek yang tentu lazim pada zaman itu.

Yang menarik adalah bahwa Imam Ali memiliki kesadaran yang mendalam tentang adanya kelas-kelas sosial dalam masyarakat. “Wa’lam anna al-ra’iyyata thabaqatun la yashluhu ba’duha illa bi-ba’din.” Ini tentu, bagi saya, sangat menakjubkan. Imam Ali bukan saja seorang  bijak yang memiliki banyak perbendaharaan tentang “political wisdom”, tetapi juga seorang pengamat gejala sosial.

Kelas-kelas ini, oleh Imam Ali, tidak dipandang sebagai kelompok yang saling bermusuhan, tetapi harus diusahakan begitu rupa sehingga mereka saling menyokong satu dengan yang lain. Dengan kata lain, kesadaran Imam Ali tentang stratifikasi sosial mendorongnya untuk memandang pentingnya harmoni, bukan konflik sosial.

Bagian dalam petuah Imam Ali yang juga menarik adalah berkaitan dengan pandangannya mengenai kelas pedagang. Dia berpesan kepada gubernur al-Asytar agar memberikan perhatian yang khusus kepada kelas ini, sebab mereka adalah “mawadd al-manafi’i wa asbab al-marafiqi, wa jullabuha min al-maba’idi wal matharihi.” Kaum pedagang adalah sumber kekayaan (devisa?) negeri. Dan merekalah yang membawa barang-barang dagangan dari negeri-negeri jauh yang tak bisa dijangkau oleh semua orang.

Dan simaklah pengamatan Imam Ali yang menakjubkan berikut ini mengenai kaum pedagang: “Fa innahum silmun la tukhafu ba’iqatuhu wa shulhun la tukhsya gha’ilatuhu.” Mereka, kaum pedagang itu, adalah orang-orang yang damai, dan tak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari mereka. Kecuali, mungkin, praktek-praktek penipuan dalam perdagangan mereka (tahakkum fil biya’at).

Kalimat Imam Ali ini ratusan tahun mendahului pengamatan Montesquieu yang menulis dalam bukunya yang terkenal The Spirit of Law (De l’esprit des lois) baris-baris berikut ini: “The natural effect of commerce is to bring peace. Two nations that negotiate between themselves become reciprocally dependent, if one has interest in buying and the other in selling. And all unions are based on mutual needs.”

Dalam pandangan Montesquieu, perdagangan adalah sumber perdamaian. Dua bangsa yang terikat dalam negosiasi perdagangan, mereka akan saling tergantung satu terhadap yang lain. Perdagangan menghindarkan perang antar negara. Meskipun tidak sama persis, pengamatan Imam Ali tentang kegiatan kaum pedagang agak mirip dengan apa yang dikemukakan oleh Montesquieu yang hidup di abad ke-18 di Perancis. Perdagangan, dalam pandangan dua tokoh ini, adalah sumber perdamaian, baik domestik (Imam Ali) maupun antar negara (Montesquieu).

Seluruh isi surat Imam Ali kepada Al-Asytar dan gubernur-gubernur yang lain berisi tentang kesadaran yang kuat tentang politik sebagai kegiatan etis yang diikat oleh norma-norma tertentu. Saya kira ini semua tak mungkin lahir jika tak ada pengaruh ajaran Islam yang dibawa Nabi. Islam tampaknya membawa kepada bangsa Arab sejumlah kesadaran penting.

Pertama adalah kesadaran tentang pentingnya “state formation”, membangun sebuah negara, dan sekilagus juga membangun sebuah ikatan sosial supra-kesukuan yang bisa menopang lahirnya “social-cultural ventures”, penjelajahan menuju sebuah peradaban. Yang berikutnya adalah kesadaran tentang pentingnya norma etis yang akan menjaga kokohnya sebuah negara.

Dan yang tak kurang penting: pentingnya penyelenggaraan politik melalui “rhetorics” yang indah. Ini yang kemudian berkembang menjadi tradisi literer yang belakangan dikenal dengan “adab” dalam sejarah Islam klasik.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.