Home » Aksara » Buku » Sirah Nabi: Tanpa Penistaan, Sonder Idealisasi
Buku "Muhammad Prophet and Statesman" (Foto: Amazon.com)
Buku "Muhammad Prophet and Statesman" (Foto: Amazon.com)

Sirah Nabi: Tanpa Penistaan, Sonder Idealisasi

5/5 (1)

Judul Buku: Muhammad: Nabi dan Negarawan
Judul Asli: Muhammad: Prophet and Stateman
Penulis: William Montgomery Watt
Penerjemah:Djohan Effendi
Penerbit: Mushaf, Depok Cetakan: Pertama, September 2006
Jumlah Halaman: xii + 372

IslamLib – Para penikmat biografi Nabi Muhammad yang dalam nomenklatur Islam disebut sirah, pantas bersuka-cita dengan terbitnya buku sirah berbahasa Indonesia, Muhammad: Nabi dan Negarawan. Djohan Effendi telah menerjemahkan buku William Montgomery Watt (1909-2006) itu dengan baik walau sudah telat lebih dari empat dekade.

Buku yang aslinya berjudul Muhammad: Prophet and Stateman (1961) ini merupakan ringkasan dari dua buku Watt sebelumnya: Muhammad at Mecca(1953) dan Muhammad at Medina (1956). Watt adalah seorang orientalis Skotlandia yang kerap dijuluki the last orientalist. Tapi nada umum uraiannya tentang sirah Nabi bernada sangat simpatik.

Itu tak mengherankan. Meski seorang pastur, Watt mengabdikan hampir seluruh karir akademiknya untuk menjembatani dialog Islam dengan Kristen, bahkan Islam dengan dunia Barat. Karenanya, buku Watt ini ikut menambah koleksi kepustakaan Islam yang berbobot tentang sirah dari sudut pandang seorang bukan Muslim.

Perbandingan. Tak banyak sirah berbahasa Indonesia yang bermutu, tanpa idealisasi yang melebih-lebihkan (praktek umum sejarawan Muslim), sonder penistaan yang tak perlu (dari sebagian penulis bukan Muslim). Orang yang mahir berbahasa Arab tentu mampu menikmati sirah bermutu karangan intelektual besar Arab modern seperti M. Husain Haikal (Hayâtu Muhammad), Thaha Husein (Alâ Hâmisit Târîkh), M. Farid Wajdi (as-Sîrah an-Nabawiyyah), Bintus Syathi (Ma`ar Rasûl), dan karya-karya sejenis lainnya.

Tapi tak banyak dari karya-karya itu yang sudah dialihbahasakan ke Indonesia. Kalaupun diindonesiakan, seringkali hasilnya mengecewakan dan tak sebaik karya aslinya. Nah, terjemahan Watt ini gampang dimengerti walau editornya tampak kurang tekun mengurangi kecacatan tanda baca.

Dibanding buku Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis, yang edisi Indonesianya sudah lebih dulu terbit, buku ini memang terasa lebih kering. Buku Watt mungkin terlalu intelek bagi pembaca yang lebih suka bahan bacaan renyah penuh bumbu dengan teknik bercerita yang andal. Armstong unggul atas Watt di aspek itu. “Buku-buku Watt ditujukan untuk mahasiswa dan mensyaratkan pengetahuan dasar yang belum banyak dimiliki orang,” kata Armstrong (Armstrong, hal. XV).

Kekurangan dan Kelebihan. Watt juga tidak memaparkan aspek metodologi yang ia pakai dalam penulisan buku ini. Rujukan-rujukan dari para sejarawan Islam pun tak tampak dalam catatan kakinya—walau sudah pasti Watt tahu dan hafal semua itu di luar kepala. Dengan begitu, buku ini mungkin kurang meyakinkan bagi sebagian pembaca Islam. Membaca buku ini mungkin akan seperti menikmati fiksi sejarah ala Dan Brown.

Dari aspek pendekatan, Watt pun tak memberi catatan. Tapi setelah membaca, kita segera tahu bahwa Watt telah menerapkan perangkat-perangkat analisis ilmu sosial modern dalam penelusuran sirah Nabi. Namum dia juga menekankan kontekstualisasi: tidak memaksakan cara pandang dan standar modern dalam menilai peristiwa-peristiwa masa lampau itu. Kasus poligami Nabi, ekspedisi dan ekspansinya, penyerangan dan pengusiran komunitas Yahudi, dan beberapa contoh lainnya, tidak diponten Watt dengan standar kelayakan masa kini.

Pendeknya, buku ini berniat mendialogkan IsIam di Barat lewat pengenalan sosok Nabi; tanpa penistaan, sonder idealisasi. “Penistaan oleh penulis-penilis Eropa terhadap Muhammad seringkali diikuti idealisasi romantik tentang ketokohannya oleh orang-orang Eropa lainnya dan orang-orang Islam. Penistaan dan idealisasi bukanlah basis yang kuat untuk hubungan timbal balik dari hampir separuh umat manusia,” tulis Watt (hal 319).

Buku ini juga selektif dalam membedakan antara fakta dan legenda. Itu beda dengan Armstrong yang justru memandang legenda tokoh besar sejarah punya kandungan spiritualitas juga. Armstong tampaknya ingin lebih menyelami pergulatan batin Nabi—dan karena itu juga memasukkan beberapa legenda yang dalam neraca sejarah agak meragukan. Sementara Watt lebih ketat menapis mana yang fakta dan mana yang legenda. Kalau pun sebuah legenda ia nukilkan, dia segera memberi catatan.

Namun jangan kuatir buku ini akan mendatangkan kantuk! Keseluruhan isinya juga sedang berkisah secara apik dengan rentetan kronologis yang memikat. Lewat buku ini, kita tanpa sadar sedang diantar Watt mengarungi situasi zaman Nabi dengan segenap persoalannya. Kita diajak menyelami kepribadian Nabi; watak dan perawakannya, kegundahan dan pengendaliannya, diplomasi dan kebijakannya, kedudukan dan kepemimpinannya. Sangat manusiawi; tanpa mengurangi keagungannya sebagai Rasul dan teladan umat manusia.

Aspek Pendekatan. Jika dipotret lewat kategori intelektual Maroko, M. Abied el-Jabiri dalam al-`Aqlus Siyâsil `Arabî, tentang pentingnya faktor aqidah (ideologi), qabilah(solidaritas sosial), dan ghanimah (insentif ekonomi), untuk kerangka penulisan sejarah Islam, maka Watt sudah menerapkan semua persyaratan itu dengan brilian dan berhasil.

Faktor aqidah tampak dari uraiannya tentang pergulatan batin Nabi dari waktu ke waktu, serta respons wahyu yang tahap demi tahap menyertai perjalan hidupnya. Faktor qabilah tampak paling menonjol dari uraian Watt yang lihai tentang konstelasi kesukuan dan puak-puak di Mekah maupun Madinah.

Adapun faktor ghanîmah yang sering diabaikan banyak orang dalam penulisan sirah, tampak pula dari uraian Watt tentang insentif ekonomi yang diharap dan dipertimbangkan sebagian penganut Islam belakangan jika menganut Islam dan berpihak kepada masyarakat baru yang sedang dibentuk Nabi dengan segenap risiko dan rintangan.

Bagi Watt, “Alasan-alasan kebendaan mestilah memainkan peranan yang cukup besar bagi masuknya orang-orang Arab ke Islam (tentu saat Islam mulai tampak jaya). Faktor lain yang cukup penting adalah iman Muhammad terhadap pesan Alquran, imannya terhadap masa depan Islam sebagai sistem agama dan politik, pengabdiannya yang pantang mundur terhadap tugas yang diyakininya sebagai panggilan Tuhan terhadapnya.” (hal 258).

Beberapa Kontroversi. Untuk pembaca pemula, karya Watt ini mungkin menghadirkan beberapa tanda tanya dan kontroversi. Terhadap legenda cap kenabian di pungung Rasul, Watt meledeknya sebagai ”cerita yang didasarkan pada pikiran-pikiran primitif” (hal. 3). Watt juga memperkirakan Nabi bukanlah seorang ummi dalam artian buta-huruf, sebagaimana jamak dipahami. ”Banyak orang Mekah yang bisa membaca dan menulis. Karena itu, ada anggapan bahwa seorang pedagang cermat seperti Muhammad tentulah mengerti kemampuan tulis-baca ala kadarnya,” catat Watt (hal. 53).

Aspek yang cukup kontroversial adalah pernyataan Watt ”tak ada bukti sudah ditentukannya secara tetap sembahyang lima waktu pada masa Nabi” (hal. 135). Watt juga menerangkan bahwa Abu Sufyan memainkan peran yang jauh lebih penting dalam penaklukan Mekah oleh orang-orang Islam dibandingkan yang umum dicatat.

”Para sejarawan Muslim menyembunyikan kenyataan ini untuk tidak memberi kesan bahwa peranan Abu Sufyan lebih hebat daripada Abbas (hal. 277-278). Sebaliknya, orang Syiah mungkin akan mengurut dada, sebab Watt—dan banyak sumber sejarah lainnya—juga berkata: ”Dia (maksudnya Nabi Muhammad), juga menyadari bahwa Ali bin Abi Thalib tidak mempunyai sifat kenegarawanan yang berhasil” (hal. 317).

Yang paling kontroversial tentulan teori Watt tentang imajinasi kreatif yang mungkin saja diilhami gagasan sufi besar Islam seperti Ibnu Arabi. Menurut Watt, “Pada Muhammad, saya beranggapan, terdapat kedalaman imajinasi kreatif. Gagasan-gagasan yang dilahirkannya, sebagian besar baik dan benar. Tapi, ”…Ada satu soal yang tampaknya kurang sehat, yaitu gagasan bahwa wahyu atau hasil imajinasi kreatif itu lebih tinggi kedudukannya dari tradisi manusia biasa sebagai sumber fakta (hal. 330).

Watt menulis itu dalam konteks sanggahan terhadap daya pukau bibliolatri dalam polemik sejarah umat beragama. Sebab, dalam halaman yang sama, Watt pun berkata, ”…Orang bisa mengakui bahwa imajinasi kreatif mampu memberi interpretasi yang baru dan lebih benar tentang suatu peristiwa sejarah. Akan tetapi, membuatanya sebagai sumber dari fakta telanjang adalah berlebih-lebihan dan tidak benar” (hal. 330).

Dasar Kebesaran. Pada pengujung buku, Watt mengemukakan tiga dasar kebesaran Nabi. Pertama, Nabi dinilainya sebagai orang yang mampu melihat sebelum kejadian. Watt lebih dari sekali menyebut Nabi berpikir intuitif, bukan analitik. Kedua, kearifannya sebagai negarawan. Dalam amatan Watt, struktur konseptual Alquran yang mentah mampu didukung Nabi dengan bangunan kebijakan yang kongkret dan institusi yang kongkret pula. Ketiga, ketrampilan dan kebijaksanaannya sebagai administrator dan kearifan dalam memilih orang yang diberi kepercayaan untuk melaksanakan tugas-tugas administrasi (hal. 326-327).

Karena itu, ”Ketiga Muhammad wafat, negara yang didirikannya sudah seperti perusahaan yang sedang jalan dan mampu menahan kejutan kepergiannya. Dan begitu sembuh dari keterkejutan itu, ia meluas dengan kecepatan yang luar biasa,” pungkas Watt (hal. 327).

Akhirnya Waat memberi saran: mampukah (Muslim) menyaring segi-segi yang universal dari segi-segi yang partikular dari kehidupan Muhammad, dan dengan demikian membuka prinsip-prinsip moral yang dapat memberi sumbangan kreatif terhadap situasi dunia saat ini?! (hal. 324).

Itulah mungkin inti telaah atas buku ini: menyingkap kearifan masa Nabi untuk diaktualisasikan bagiannya yang relevan (saja) di masa kini. Dengan begitu, Islam layak digadang-gadang menjadi rahmat bagi semesta alam, relevan untuk setiap tempat dan segala zaman.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.