Home » Aksara » Film » Osama dan Distopia Islam
osama

Osama dan Distopia Islam

3/5 (1)

Saya baru usai menonton Osama, film Afghanistanyang menyabet penghargaan emas dalam festival film di Perancis tahun lalu (2003). Film ini sangat menyentuh dan mengandung pesan amat kuat. Dengan setting Afghanistan pada masa pemerintahan Taliban yang singkat, Osama bercerita tentang sulitnya hidup yang dijalankan kaum perempuan di bawah tekanan rezim Taliban yang memerintah atas nama agama.

Osama adalah sebuah kisah nyata tentang seorang gadis mungil yang baru berangkat dewasa. Dengan penuh keterpaksaan, dia berusaha membanting tulang untuk menyambung hidup keluarganya yang semuanya perempuan (ibu dan neneknya). Dia lantas menyamar sebagai anak laki-laki bernama Osama. Di masa itu, kaum perempuan dilarang bekerja.

Osama berhasil mendapat pekerjaan di sebuah warung roti sangat sederhana. Dengan pekerjaan itu, ia pun dapat membawa pulang roti setiap sore untuk ibu dan neneknya yang “terpenjara” di rumah (karena tak punya muhrim untuk keluar rumah). Tapi, pekerjaan tersebut tak lama berlangsung, karena seorang agen Taliban tiba-tiba mengambilnya secara paksa untuk dikirim ke kamp pelatihan para mujahidin.

Di dalam kamp, Osama berusaha menyesuaikan diri menjadi seorang anak laki-laki. Ia berusaha berbaur dengan anak-anak lain, berlari-lari di lapangan, memanjat pohon, dan bersama teman-teman lakinya lain belajar praktek mandi junub; sebuah praktikum wajib yang diberikan langsung oleh seorang mullah di sebuah tempat pemandian umum.

Berawal dari tempat pemandian itulah, jati diri Osama mulai diselidiki. Ia dicurigai teman-teman lakinya sebagai perempuan. Dan benar saja, akhirnya jati diri Osama pun terungkap. Ia lalu dihukum; dikirim ke penjara untuk menunggu keputusan hukum apa yang akan dijatuhkan padanya.

Dalam prosesi pengadilan syariah di sebuah tanah lapang, bersama tertuduh lain yang kebanyakan perempuan, Osama menunggu nasib. Setiap nama yang dipanggil selalu mendapat vonis mati, baik dengan cara ditembak atau dirajam. Osama harap-harap cemas dan takut bukan main menghadapi prosesi itu. Ketika namanya dipanggil, ia pun pasrah.

Beruntung Osama! Hakim syariah yang berwenang memberi vonis hukum kepadanya, tidak mengirimnya ke regu tembak atau lubang rajam. Dengan pertimbangan usia dan statusnya yang yatim, ia dibebaskan. Tapi malang tak dapat ditolak, ia lantas dikawinkan paksa dengan seorang mullah: kakek tua berkepala tujuh yang pernah mengajarnya praktikum mandi junub.

Sebuah Distopia

Osama bukanlah sebentuk potret kisah ekstrem tentang bagaimana Islam diterapkan dalam kehidupan nyata. Ia benar-benar sebuah ekspresi tentang bagaimana bentuk pemahaman teks-teks agama yang umumnya diajarkan di sekolah-sekolah Islam sampai saat ini. Taliban pun bukan sekelompok orang yang mengada-ada atau dalam bahasa agama disebut penggemar bid’ah: orang yang menjalankan sesuatu yang tidak punya pijakan dalam Islam.

Semua yang dilakukan Taliban nyaris merupakan refleksi dari doktrin-doktrin Islam yang sangat gampang ditemukan rujukannya dalam kitab-kitab klasik manapun. Larangan bekerja atau keluar rumah bagi kaum perempuan, dominasi laki-laki yang kelewatan, larangan penyamaran, hukum rajam, otoritas mullah (ulama) yang mutlak, kursus mandi junub, semua dapat dicari pijakannya dalam buku-buku fikih.

Sebagian orang merasa bangga dengan itu semua. Sebab Islam dengan demikian dianggap memiliki aturan amat lengkap tentang setiap lini kehidupan manusia. Dalam ungkapan yang sangat terkenal, Islam selalu dipersepsi sebagai agama sekaligus dunia.

Semua hal –baik kecil maupun besar– telah diatur agama ini; sejak ihwal pengaturan negara, menjalankan hukum, menertibkan masyarakat, mengontrol keluarga, mengatur diri, hingga hal-hal kecil seperti berangkat tidur, bersetubuh dengan isteri, keluar masuk kamar mandi, dan tata cara mandi junub.

Saya kira, orang-orang Taliban telah berusaha amat keras untuk memahami dan mengamalkan apa yang mereka pelajari selama ini. Pada mulanya, mereka ingin membentuk sebuah tatanan masyarakat Islam yang tertib dan teratur; sebuah masyarakat ideal sebagaimana digambarkan buku-buku fikih.

Buku-buku fikih atau karya-karya klasik Islam itu memang memiliki gambaran yang khas tentang bagaimana mestinya sebuah masyarakat Islam dibangun. Tapi sayangnya, sebagian besar persoalan-persoalan fikih yang menyangkut tatanan politik dan kemasyarakatan tak lain pandangan-pandangan teoritis yang belum pernah dilaksanakan secara kongkret dalam sejarah Islam.

Para ulama atau penulis buku-buku fikih tersebut, kebanyakan berangkat dari pengandaian berdasarkan pemahaman mereka tentang kehidupan masyarakat yang ideal. Acuan utama atau bahkan satu-satunya acuan yang menjadi model yang mereka contek adalah model kehidupan Nabi di Madinah yang berlangsung amat singkat. Dapat dikatakan, model yang mereka rujuk tak lain sebuah kehidupan masa-masa awal Islam; sebuah peradaban yang sama sekali belum matang.

Dalam teori politik dijelaskan, gambaran atau angan-angan akan sebuah sistem masyarakat yang ideal disebut “utopia.” Orang-orang Taliban di masa Osama, berusaha menerapkan utopia itu ke dalam kehidupan nyata. Niatnya mungkin baik, tapi sumber-sumber yang mereka pilih tak lagi sesuai dengan sebuah model negara yang benar-benar ideal.

Akibatnya, model negara Islam yang diterapkan Taliban berubah menjadi distopia; yakni semacam tempat dan situasi yang senantiasa hendak dijauhi dan dihindari orang, karena amat buruknya. Distopia dengan demikian merupakan lawan dari utopia yang merupakan gambaran tentang sebuah negara ideal yang tak putus-putus diimpikan manusia.

Kaum Muslim kerap sekali mengandaikan negara Islam atau sistem pemerintahan Islam sebagai sebuah utopia; sebuah model negara yang ideal. Tapi sayang seribu sayang, pada negara-negara yang menerapkan konsep ini, seperti Arab Saudi, Iran, Sudan, dan Pakistan, model negara atau sistem pemerintahan Islam yang mereka klaim, rupanya lebih dekat pada distopia ketimbang utopia.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.