Home » Aksara » Humor » Quran Sebagai Humor
(Photo credit: Al Hussainy Mohamed).
(Photo credit: Al Hussainy Mohamed).

Quran Sebagai Humor

4.33/5 (6)

IslamLib – Apa yang terjadi saat ini jika kita memakai Quran sebagai bahan “gojegan” atau humor? Salah satu kemungkinan terbesar: kita akan menjadi sasaran “bully” dan serangan dari berbagai kalangan yang merasa sebagai “pembela agama”. Tetapi humor dengan memakai Quran bukan hal baru. Kitab-kitab ulama klasik banyak yang mengisahkan humor-humor Quran ini.

Genre humor dalam literatur klasik Islam disebut nuktah (plural: nukat), nadirah (plural: nawadir), atau mulhah (plural: mulah). Salah satu penulis klasik Islam yang suka humor adalah Abu Utsman al-Jahidz (w. 868 M). Tokoh ini hidup sezaman dengan Imam Bukhari (w. 870 M), kolektor hadis yang masyhur itu. Salah satu daya tarik al-Jahidz adalah karena dia selalu menyisipkan humor dalam bukunya, sehingga orang betah terus membaca karyanya.

Dosen saya dari Sudan yang mengajar ushul fiqh, alm. Dr. Muhammad Al-Khatm, pernah berkisah tentang humor al-Jahidz. Suatu hari, al-Jahidz diajak seorang perempuan ke tukang gambar. “Tuan, bisakah engkau menggambar setan untukku?” kata perempuan itu. Si pelukis tentu saja bingung. “Maaf, seperti apakah setan itu, Nona?” Perempuan itu menjawab dengan cepat sambil menunjuk al-Jahidz, “Seperti laki-laki ini!” (Kamitsli hadza).

Al-Jahidz memang dikenal karena wajahnya yang buruk dan matanya yang menonjol, dan karena itu memiliki ”jejuluk” (julukan) al-jahidz, laki-laki dengan mata yang menonjol. Konon, joke ini diceritakan sendiri oleh al-Jahidz. Tentu saja ini menarik, karena menandakan dia mampu meledek dirinya sendiri.

Salah satu obyek humor dalam literatur Arab klasik adalah Quran. Tak terhitung jumlah humor yang memakai ayat-ayat Quran. Tetapi humor ini bisa membuat Anda ketawa, hanya jika Anda memiliki informasi yang memadai tentang Quran. Jika tidak, tentu saja humor itu akan “garing” dan kehilangan kelucuannya.

Salah satu humor Quran adalah ini. Suatu hari, seorang Arab badui bernama Musa mencuri dompet yang berisi uang dinar (emas). Setelah mencopet, dia langsung pergi ke masjid untuk salat, sambil memegang erat-erat dompet dengan tangan kanannya. Persis pada saat dia tiba di saf (barisan), sang imam sedang membaca ayat ini,  “Wa ma tilka biyaminika Ya Musa” (QS 20:17). Arti ayat itu: Apa yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?

Orang badui itu kaget bukan main. Kok imam tahu dia memegang dompet curian di tangan kanannya? Dia langsung melempar dompet itu, sambil berteriak: Pak Imam, kau ternyata tukang sihir!

Humor Quran yang lain, masih terkait dengan orang Arab badui. Suatu hari, si badui ikut salat. Sang imam membaca ayat ini: Qul ara’aitum in ahlakaniya ’l-Lahu wa man ma’iya au rahimana (QS 67:28). Artinya: Katakan, apa engkau tahu Tuhan akan membinasakan aku beserta orang-orang yang ada bersamaku, atau justru akan memberi kami rahmat?

Si badui itu langsung menyergah sang imam di tengah-tengah salat: Semoga Tuhan membinasakan engkau saja. Apa salah kami sehingga engkau membawa-bawa kami. Begitu mendengar kata-kata si badui ini, seluruh jamaah salat tertawa terpingkal-pingkal, dan batallah salat mereka. Salat harus diulang dari awal lagi.

Khaled Kashtini menulis buku yang menarik, Fukahat al-Ju’ wa al-Ju’iyyat (2011). Isinya mengenai humor yang berkaitan dengan lapar dan kelaparan. Kelaparan, kata Kashtini, adalah fenomena yang lumrah di zaman Islam awal dulu. Juga di zaman dinasti-dinasti Islam di abad pertengahan. Karena itu, dalam literatur Islam ada figur “thufaili” yang kocak. Thufaili artinya orang yang suka nimbrung makan gratis karena miskin dan lapar.

Salah satu figur thufaili yang terkenal adalah Asy’ab Si Tamak (alTamma’). Nama aslinya adalah Asy’ab ibn Jubair. Dia hidup dan tinggal di Madinah di zaman Khalifah Usman ibn Affan. Dia diberkati umur panjang (mungkin karena kesukaanya pada humor), hingga hidup sampai era Khalifah al-Mahdi dari dinasti Abbasiyah.

Kisah tentang ketamakan Asy’ab ini sudah masyhur di Madinah sehingga dia menjadi ledekan anak-anak kota itu. Suatu hari, dia di-“bully” oleh mereka. Karena sewot, dia mencari akal untuk mengusir anak-anak itu. Katanya, “Eh, kalian tahu, di desa sebelah sedang ada pesta perkawinan. Kalian ke sana saja!” Tentu saja tak ada pesta pernikahan. Dia hanya ingin mencari alasan agar anak-anak itu tak mengganggu dia.

Anak-anak itu langsung lari berhambur ke desa sebelah. Tetapi, Asy’ab kemudian ragu sendiri, “Jangan-jangan ada ngantenan beneran. Kalau begitu aku harus ikut ke sana. Siapa tahu ada makanan enak.” Pergilah Asy’ab ke desa sebelah. Di sana ia bertemu dengan anak-anak yang ia bohongi itu. Dia langsung menjadi sasaran bully yang lebih keras lagi.

Asy’ab juga sosok yang lucu dan jenaka. Saat meriwayatkan hadis, dia masih sempat melucu. Misalnya ini: Haddatsana Salim ibn Abdillah – wa kana yabghaduni fi ‘l-Lah. Salim ibn Abdillah, cucu sahabat Umar ibn Khattab, meriwayatkan hadis kepadaku dan dia benci aku karena Allah. Tambahan “dan dia benci aku karena Allah” tentu bukan formula yang lazim dipakai perawi hadis manapun. Kecuali oleh Asy’ab yang jenaka ini. Kenapa Asy’ab dibenci oleh Salim? Karena ada insiden berikut ini.

Suatu hari, Salim ibn Abdillah pergi untuk wisata ke luar Madinah, beserta isteri dan budak-budak perempuannya (jawari). Begitu Asy’ab mendengar kabar itu, dia langsung menyusul. Entah dengan cara bagaimana, dia berhasil menemukan lokasi “wisata” Salim ibn Abdillah.

Asy’ab menuju rumah peristirahatan Salim. Tetapi pintu tertutup. Dia kemudian memanjat tembok rumah. Salim  yang sedang istirahat bersama isterinya dan anak-anak perempuannya, kaget bukan main melihat Asy’ab ada di atas atap rumah.

Kata Salim, “Asy’ab, kurang ajar kau. Tidakkah kau lihat di sini ada isteri dan anak perempuanku?” Dengan spontan, Asy’ab mengutip ayat ini: La qad ‘alimta ma lana fi banatika min haqqin, wa innaka la ta’lamu ma nurid.” (QS 11:79) Artinya: Engkau tahu, aku tak butuh anak perempuanmu, dan tentu kamu tahu apa yang aku inginkan. Yang diinginkan Asy’ab tiada lain ialah mendapatkan makanan.

Ayat itu sebetulnya adalah perkataan Nabi Lut (Lot) terhadap orang-orang yang mengganggu tamu-tamu dia dalam kisah Sodom dan Gomora. Tetapi oleh Asy’ab ayat itu ia pakai untuk konteks yang lain. Dan di sanalah letak kelucuannya. Memelesetkan ayat yang dipakai untuk konteks tertentu dan memakainya untuk konteks yang lain bisa melahirkan efek jenaka.

Setelah Asy’ab menyitir ayat itu, Salim langsung memberi Asy’ab makanan sebanyak yang ia perlukan dan menyuruhnya pergi. Asy’ab, tentu saja, girang bukan main. Dan Salim mungkin saja dongkol. Mungkin juga geli dengan perangai Asy’ab Si Tamak itu.

Kisah-kisah jenaka dengan memakai ayat Quran semacam ini tak terhitung jumlahnya dalam khazanah Islam klasik. Ulama Islam klasik banyak menyitir kisah-kisah lucu seperti itu sebagai bahan untuk membuat pembaca betah membaca buku mereka. Dan saya tak pernah mendengar ada yang marah di zaman itu, lalu menyeru: Kamu telah menghina Quran![]

 

 

 

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.