Home » Aksara » Karakteristik Teks Ulama Nusantara (Abad XV-XXI)
[Foto: kitabklasiknusantara.wordpress.com]

Karakteristik Teks Ulama Nusantara (Abad XV-XXI) Telaah Awal/Umum

3.64/5 (11)

IslamLib - Gairah penelitian dan pengkajian tentang ulama Nusantara dan karya-karyanya, belakangan kian marak. Kegiatan paling mutakhir adalah mega proyek “Ekspedisi Islam Nusantara” oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tahun 2016 dari Jawa (Cirebon, Demak, Lamongan, Tasikmalaya, Jakarta), Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga ke Papua (April-Juni 2016).

Ekspedisi semacam itu mengingatkan kita pada perjalanan panjang ratusan abad yang lalu, seperti Marcopolo, Ibnu Batutah, Cheng Hoo, dan Tomi Pires. Berbagai temuan menarik dapat dibaca dari hasil ekspedisi tersebut, termasuk ekspedisi PBNU belum lama ini (Bisa dilihat di NU Online, Ekspedisi Islam Nusantara, 67 laporan pertanggal 14/06/2016).

Ekspedisi demikian, nampaknya sebagai “lampiran” atau pembuktian bahwa Islam Nusantara itu bukan sekadar wacana, yang sempat riuh rendah jelang dan pasca Muktamar NU ke-33 tahun 2015 di Jombang, tetapi masih ada peninggalan historisnya.

Sebelum ekspedisi di atas, bukti-bukti tentang adanya “Islam Nusantara”, sekurangnya dapat dibaca melalui naskah-naskah kuno yang sudah ditulis dalam katalognya setiap daerah, antara lain Edi S. Ekadjati dan Undang A Darsa (1999), Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 5A, Jawa Barat: Koleksi Lima Lembaga, Achadiati (2001), Katalog Buton Koleksi Abdul Mulku Azhari, dan Oman Fathurahman (2010), Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Besar.

Berangkat dari katalog-katalog semacam itu, para pengkaji Islam Nusantara dapat memulai penelitiannya, baik kajian teksnya maupun lainnya.

Adanya sebuah teks tidak terlepas dari tiga hal; pengarang (penulis, penyalin), pembaca, dan realitas (konteks). Pengarang juga ketika menuliskan suatu karyanya tidak terpisah dari latar belakang dan pengalaman dirinya serta realitas yang dihadapinya.

Pengalaman dan latar belakang ini menjadi hal penting lainnya dari seorang penulis. Termasuk dalam penggunaan bahasa dan aksara seorang penulis juga ditentukan “dari mana dan sedang di mana” saat karya itu ditulis. Naskah kuno yang ditulis dengan tulisan tangan (manuscript) lebih mudah diidentifikasi teks dan konteksnya, antara lain karena hal-hal tersebut.

Bagitu pula dapat diketahui identitasnya, apakah suatu naskah kuno itu ditulis sendiri oleh sang pengarang, dituliskan orang lain, atau salinan dari naskah asalnya? Hal serupa, ketika naskah kuno itu sudah menjadi terbitan, maka suatu karya itu ditentukan pula oleh siapa/apa penerbitnya dan bagaimana tradisi penerbit sendiri. Artinya, karya seorang penulis, acapkali harus melampaui otoritas yang ada di luar dirinya.

Sebagian naskah-naskah kuno di atas juga sudah ada yang dikaji, baik untuk penelitian formal dalam tugas akhir (disertasi, tesis, skripsi), riset filologis, historis, pemikiran Islam, atau hanya diungkap sekilas saja melalui deskripsi katalogus. Selain itu juga, terdapat buku-buku tentang ulama Nusantara, baik kiprah, maupun karya-karyanya sudah beredar di tengah masyarakat dengan keragaman gagasan dan penjelasan singkat arti penting setiap tokohnya.

Buku-buku itu tidak hanya dalam bahasa Indonesia, tapi juga bahasa asing, seperti bahasa Arab, Inggeris, dan Melayu (Malaysia). Lembaga penerbit juga beragam, mulai dari pemerintah, maupun swasta, dari penerbit terkenal hingga penerbit yang biasa saja.

Di antara karya-karya yang dimaksud adalah Hj. W. Mohd. Shaghir Abdullah (1991), Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara; D.A. Rinkes (1996), Nine Saints of Java[2]; Mastuki Hs dan M, Ishom El-Saha [edit.] (2003), Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Pertumbuhan Pesantren; Hj. Wan Mohd. Shaghir Abdullah (2004), Wawasan Pemikiran Islam Ulama Asia Tenggara; KH. Aziz Masyhuri (2008, II), 99 Kiai Kharismatik Indonesia: Biografi, Perjuangan, Ajaran, dan Doa-doa Ulama yang Diwariskan; Nicolas Hee (2008), A Concise Handlist of Jawi Authors and Their Works; Mahmud Sa’id Mamduh (2012), Imta’ Uli an-Nazhar bi Ba’dli A’yan al-Qarn ar-Rabi’ ‘Asyar (Tasynif al-Asma bi Syuyukh al-Ijazah wa as-Sama’[3]; Amirul Ulum (2015), Ulama-Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz.

Namun, dari semua buku tentang ulama Nusantara (Asia Tenggara) tersebut, masih ada juga buku tentang naskah-naskah kuno dalam berbagai teks dan bahasa, antara lain R.M. Ng. Poerbatjaraka, P. Voorhoeve, dan C. Hooykaas (1950), Indonesische Handschriften; Th. Pigeaud (1967), Literature of Java; dan V.I. Braginsky (1998, terj.), Yang Indah, Berfaedah dan Kamal (Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19).

Dalam tulisan pendek ini, saya akan menelaah secara umum atau telaah awal tentang karakteristik teks ulama Nusantara sejak abad ke-15 sebelum kedatangan kolonial, hingga abad ke-21, yang akan memuat era kolonial, pasca kolonial, dan pasca reformasi di Indonesia. Khusus pasca reformasi ini, sejalan dengan kebebasan berekspresi dan berpendapat dari setiap rakyat Indonesia, terutama dalam melakukan “pembelaan” terhadap teks yang “dikritik” oleh para ulama yang visioner.

Jadi, ada teks ulama Nusantara, seperti karya Syaikh Nawawi dari Banten, dibuat kajian tahqiq (filologi Arab), lalu hasil tahqiq tersebut dibantah oleh para ulama lain yang merasa hasil tahqiqnya itu kurang tepat. Sementara itu, para ulama yang visioner tersebut, dengan tanpa menafikan kritik yang ada, tetap melakukan kajian “tahqiq” lanjutannya dengan kajian kontekstualisasinya.

Bagi saya, kajian teks ulama Nusantara yang dialektis dari para pembacanya itu sangat menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Teks karya Syaikh Nawawi itu hanyalah salah satu contoh, teks ulama Nusantara yang sangat dinamis.

Tulisan ini diakhiri dengan sebuah harapan besar dari kajian teks ulama Nusantara melalui salah satu forum anak-anak muda pesantren yang konsen pada teks ulama Nusantara dengan sebutan grupnya, “Turats Ulama Nusantara”. Bahasan terakhir ini, nampaknya mewakili karakteristik ulama Nusantara kelompok Ulama Penulis/Pemikir. Adapun uraian singkat tentang karakteristik ulama Nusantara dibahas sebagai pembuka makalah ini.

Karakteristik Ulama Nusantara dan Konteks Sosial Budaya. Diakui atau tidak, sejak Islam berkembang di Nusantara, terutama sejak abad ke-15 hingga ke-21, para ulama Nusantara melalui karya-karya dan pengaruhnya dalam kehidupan sosial politik, dapat dibuat kategorisasi karakteristiknya.

Kategorisasi itu sekurangnya terbagi dalam tiga karakter ulama, yaitu kerakyatan/perjuangan, ulama kerajaan/birokrat, dan ulama yang hanya menulis dan sebagai pemikir, cenderung independen. Walaupun, sebenarnya untuk menempatkan satu ulama pada karakteristik tertentu juga tidak serta merta dapat dibenarkan, karena seringkali ulama Nusantara itu ulama yang moderat, dan hal itu tidak mudah untuk disebut hanya satu kategori karakteristik.

Ulama pejuang atau yang berpikir untuk kerakyatan (umat) ini pernah terjadi dalam sejarah kelahiran kerajaan Islam di Cirebon pada abad ke-14/15. Saat itu, setidaknya diawali dari beberapa ulama yang sangat terkenal, seperti Syaikh Nurjati dan Syaikh Quro. Pada masa kerajaan Sunda, salah satu isteri Prabu Siliwangi pernah belajar kepada Syaikh Quro di Karawang.

Di beberapa daerah lain juga dikenal karakter ulama demikian, seperti Kiai Mutamakkin, dan Kiai Ahmad Rifai Kali Salak. Beberapa karya ulama rakyat ini, pada masa kolonial, isinya melawan kebijakan-kebijakan kolonial, seperti Nazham Tarekat Kiai Ahmad Rifa’i.

Kiai Rifa’i ini dapat juga disebut ulama penulis/pemikir, karena karyanya dalam aksara pegon dan bahasa Jawa dengan model nazham (puisi) merupakan satu kelebihan tersendiri. Ulama kategori pejuang atau kerakyatan ini memang akan terasa independensinya dibandingkan dengan ulama jenis karakter yang dekat dengan keraton atau pemerintahan.

Ulama keraton/birokrat dapat dijumpai pada beberapa ulama yang berdekatan dengan keraton atau saat ini ulama birokrat atau politisi. Di Cirebon, misalnya, dapat disebut beberapa ulama, antara lain Kiai Muqayyim sebagai penghulu di keraton Kasepuhan, dan Kiai Anwarudin Kriyani, penghulu keraton Kanoman.

Adapun di daerah lain, dapat disebut seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Abdurrauf As-Sinkili dan Nuruddin ar-Raniri pernah menjadi mufti kerajaan Aceh, dan Abdullah bin Abdul Qahhar yang dikenal sebagai penasehat kesultanan Banten. Di antara karya-karya yang mendapat dukungan kerajaan adalah perdebatan tentang gagasan wujudiyah dari Hamzah Fansuri dan Syamsuddin lalu dibantah ar-Raniri.

Adapun karya Abdullah bin Abdul Qahhar antara lain Fath al-Muluk Liyasila ila Malik al-Muluk ‘ala Qa’idat Ahl as-Suluk. Abdullah bin Abdul Qahhar juga dikenal sebagai mursyid tarekat Syatariyah yang berkembang di keraton Cirebon.

Tarekat Syatariyah Abdullah bin Abdul Qahhar di Cirebon memiliki keunikan tersendiri, antara lain, Syatariyah Muhammadiyah, Syatariyah Rifaiyah dan Syatariyah Qadiriyah. Ulama keraton ini nampaknya jauh lebih berkembang dibandingkan dengan kategori ulama-ulama lainnya, terutama ulama yang independen atau lebih dikenal sebagai ulama penulis atau pemikir.

Adapun ulama dengan kategori penulis/pemikir, atau dalam istilah lainnya adalah ulama independen, merupakan para ulama yang mempunyai prinsip untuk tetap tegaknya ajaran Islam, keadilan, dan kemaslahatan manusia, baik ikut aktif berorganisasi, maupun tidak berorganisasi.

Ciri-ciri independensi ulama itu, antara lain tidak bergantung pada pemerintah, tetapi, juga tidak menutup kerja sama dengan pemerintah, atau lembaga apapun, asalkan tetap menjaga prinsip dan konsistensinya sebagai pewaris para Nabi Allah Swt.

Di antara ulama kategori demikian antara lain Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Muhammad Mahfudh at-Turmusi, Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani, Kiai Saleh Darat, Kiai Hasyim Asy’ari, dst. Ulama independen ini, seperti disebut di muka, dapat pula masuk pada ulama pejuang/merakyat.


Karakteristik Teks Ulama Nusantara dan Pengaruh Budaya Lokal. 
Sebagaimana dijelaskan pada awal tulisan ini, teks hadir tidak dapat dilepaskan dari pengarang dan konteksnya. Teks ulama Nusantara hadir di setiap daerah sebagian besar disesuaikan dengan konteksnya, terutama teks dalam naskah-naskah kuno.[4] Secara singkat karakteristik teks ulama Nusantara dapat dilihat pada tiga bagian; aksara dan bahasa, jenis teks, dan kandungan isi teks.

Bagian pertama aksara dan bahasa. Selain aksara dan bahasa Arab, dalam karya-karya ulama Nusantara, terdapat pula aksara Jawa, Pegon, Jawi, Latin, dan Lontaraq. Dari aneka aksara tersebut, ternyata beraneka pula bahasanya, mulai dari bahasa Arab, Jawa, Sunda, Melayu, Inggris/Belanda, dan bahasa Bugis. Namun, dari semua bahasa tersebut, bahasa Arab tetap menjadi bahasa utama ulama Nusantara.

Karya-karya dalam bahasa Arab itu pula yang diakui oleh umat Islam di dunia. Dengan mempertimbangkan konteks budaya lokal, ulama Nusantara sebagian menggunakan bahasa daerah supaya dimengerti umat di daerah tersebut. Bahkan, bukan hanya dengan aksara dan bahasa lokal semata, tetapi juga jenis (genre) teks tersebut disesuaikan dengan kebutuhan umat.

Karakteristik kedua, genre teks ulama Nusantara beraneka ragam pula, mulai dari pantun, syair, puisi, tembang, nazham, serat, babad, hikayat, wawacan, dan primbon. Penamaan semacam itu ternyata sesuai dengan tradisi dan budaya masyarakat setempat. Jika dalam bahasa Melayu menggunakan istilah “hikayat”, maka berbeda lagi dalam bahasa Jawa, dengan istilah “serat” yang digunakan, dan bahasa Sunda dengan istilah “wawacan”.

Begitu juga ketika istilah puisi digunakan, disesuaikan dengan bahasa Arab, yaitu nazham, syair (syiir) sebuah istilah yang lazim digunakan di pesantren. Perbedaan-perbedaan istilah tersebut, senyatanya tidaklah mengubah pesan dari pengarang, sekalipun dengan istilah-istilah itu dapat pula menunjukkan identitas dari konteks kebudayaan tertentu. Braginsky (1998: 435-437) menyebut beberapa istilah untuk naskah-naskah tasawuf, seperti sastra kitab, sastra tasawuf, tasawuf kitab, dan tasawuf puitik.

Karakteristik ketiga, teks ulama Nusantara berisi tentang berbagai hal dalam kehidupan, baik dalam beragama Islam, maupun kehidupan sosial, politik, budaya, dan ekonomi. Sesuai dengan genre di atas, pengarang boleh saja menyampaikannya dalam bahasa lokal, tetapi unsur-unsur keislaman atau pandangan keislamannya tidak dapat dihindari, seperti Hikayat Nur Muhammad. Dari nama teksnya dapat diketahui, berbahasa Melayu, dalam bentuk prosa dan penjelasan tentang asal usul Muhammad dengan perspektif tasawuf.

Pemberian unsur atau nilai lokal serupa diberikan dalam naskah Mushaf kuno Al-Qur’an melalui ilustrasi pada beberapa tempat dalam lembaran mushafnya. Karakteristik teks dari para illustrator mushaf kuno Al-Quran Nusantara sangat kentara perbedaannya dengan mushaf kuno Al-Qur’an di dunia Islam lainnya, termasuk jika ada ilustrasi yang terpengaruh oleh budaya Persi ataupun lainnya.

Ketiga karakteristik di atas, nampaknya tidak akan terlihat dengan jelas kekhasannya, bila dilihat pada beberapa karya ulama Nusantara dalam bahasa Arab dan sudah berkembang di dunia Islam, kecuali beberapa istilah yang digunakan memang khas Nusantara, seperti kitab tentang belut. Kitab ini sebagai respon dari ulama Timur Tengah yang menganggapnya sebagai binatang ular dan haram hukumnya jika dimakan.[5]

Anggapan bahwa teks-teks ulama Nusantara dianggap “teks lokal” dengan karakteristik semacam itu, semestinya terlewati dengan sendirinya ketika kita dapat mengaitkannya dengan teks-teks ulama Arab lainnya sebagai pembeda dan penciri Nusantara. Terlebih dengan adanya 26 ulama Nusantara yang berpengaruh di Hijaz.

Dalam kajian Islam kontemporer, teks ulama Nusantara yang terkesan klasik dan lokal itu, ternyata juga masih dikaji secara rutin hingga saat ini di beberapa pesantren.

Salah satu kitab yang sangat popular dikaji dalam pendidikan pondok pesantren di Indonesia adalah kitab karya Syaikh Nawawi Banten, Syarh Uqud al-Lujjain fi Bayan Huquq az-Zawjain setelah dilakukan kajian ta’liq dan takhrij atau “filologi Arab” oleh Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) Ciganjur Jakarta Selatan, ternyata direspon berbeda oleh para ulama lainnya, antara lain Forum Kajian Islam Tradisional (FKIT) Pasuruan dan Lajnah Bahtsul Masa’il (LBM) PP Lirboyo, Jombang Jawa Timur.

Kenyataan semacam ini, dapat dikatakan telah terjadi pemahaman ulang atas teks ulama Nusantara. Untuk melihat analisis singkatnya, sebagaimana ulasan berikut ini.

Teks Ulama Nusantara Pasca Reformasi Indonesia. Pasca Orde Baru, era reformasi Indonesia, tahun 1998 sampai dengan sekarang, nampaknya masih memberi kebebasan berpendapat dan berekspresi seperti amanat UU. Salah satu buktinya adalah para ulama di Indonesia melalui FK3 di atas telah berani melakukan “koreksi” atas kitab fenomenal di kalangan pesantren, terutama saat pengajian di bulan Ramadan, yaitu kitab Uqud al-Lujjayyn.

Koreksi itu selesai pada tahun 2001, Wajah Baru Relasi Suami-Isteri: Telaah Kitab ‘Uqud al-Lujjayn. Karena itu, oleh FKIT apa yang sudah dilakukan FK3 “pasti” dibantahnya, dengan judul Menguak Kebatilan dan Kebohongan Sekte FK3 dalam buku Wajah Baru Relasi Suami-Istri: Telaah kitab ‘Uqud al-Lujjan (2004).

Hal serupa dilakukan pula oleh LBM PP Lirboyo Jawa Timur, Potret Ideal Hubungan Suami Isteri: Uqud al-Lujjayn dalam Disharmoni Modernitas dan Teks-teks Religius (2006).

Dengan demikian, satu kitab hasil kerjaan “filologi Arab” terhadap kitab Uqud al-Lujjayn telah dibantah atau dikritisi ulang oleh 2 (dua) lembaga. Sementara itu FK3 dengan tanpa menafikan kritikan tersebut, sudah melanjutkan kajian Uqud al-Lujjayn-nya dengan analisis kritisnya berjudul Kembang Setaman Perkawinan: Analisis Kritis ‘Uqud al-Lujjayn (2005).

Tradisi saling membantah atau mendebat semacam itu, sesungguhnya masih dalam batas normal akademik, seperti terjadi perdebatan kritis Imam al-Ghazali dengan Ibn Rusyd terkait dengan kefilsafatan dalam Islam. Sekalipun, masih terlalu jauh jika dikiaskan pada perdebatan soal Uqud al-Lujjayn ini.

Beberapa alasan perdebatan masih dianggap normal itu antara lain: Pertama, kedua/ketiga belah pihak masih tetap menghargai satu karya master piece Syaikh Nawawi al-Bantani. Kerja-kerja akademik terhadap hasil karya ulama Nusantara sudah seharusnya dibangun nuansa dialektis.

Kedua, kajian atas karya Syaikh Nawawi di atas masih belum satu perspektif, terutama terkait dengan wacana “kemanusiaan, keadilan, dan relasi lelaki-perempuan”, sebab bisa jadi, pada saat karya Syaikh Nawawi ditulis, hal-hal itu belum menjadi diskursus ilmu pengetahuan. Tetapi, kelompok lain menganggapnya hal-hal itu sudah terlampaui.

Ketiga, sekalipun berbeda pandangan tentang konteks karya Syaikh Nawawi, para pengkaji tetap mengedepankan nilai-nilai keilmuan dalam Islam yang ingin menunjukkan keadaban suatu karya ulama.

Keempat, perbedaan-perbedaan yang dimunculkan dari ketiga “kritikus” kitab Uqud al-Lujjayn masih cenderung emosional ketika melakukan kerja-kerja filologis plus tersebut. Sekalipun, hal itu sebenarnya berkait kelindan dengan nuansa atau mazhab pemikiran masing-masing pihak.

Berangkat dari pengalaman di atas, oleh karenanya, perlu dipikirkan ada lembaga yang dapat mempersatukan para masyayikh, pecinta teks ulama Nusantara, sehingga tidak saling bantah di depan publik secara tertulis, dan bersedia duduk bersama untuk bermusyawarah pada saat terjadi ikhtilaf.

Belum lama ini, ada satu lembaga yang bernama Turats Ulama Nusantara (TUN). Penggagasnya masih muda-muda. Di antara mereka sudah memiliki karya, seperti Amirul Ulum, The Life & Works of Musnid al-Dunya Syaykh Muhammad Yasin al-Fadani (1916-1990), Muhammad Afifudin Dimyati, Majma’ al-Bahrain fi Ahadis at-Tafsir min as-Sahihain, dst.

Saat ini, aktivitas bersama di TUN masih sebatas WA dan SMS, tetapi diskusinya luar biasa. Salah satu contohnya rencana penerbitan berseri karya-karya ulama Nusantara kerja sama dengan penerbit Beirut.

Dengan adanya TUN, dinamika kajian teks ulama Nusantara yang cenderung bersifat “ideologis” di atas, nampaknya bisa ditutupi TUN dengan harapan baru ke depan, bahwa anak-anak muda dari pesantren dan pecinta naskah kuno atau karya ulama Nusantara tetap giat melakukan berbagai kajian Islam (kontemporer).

Dengan demikian, TUN dapat menjadi “bayangan” lembaga Khazanah Fataniah di Kuala Lumpur Malaysia yang secara rutin melakukan kajian dan penerbitan karya-karya ulama Jawi. Tokoh yang gandrung melakukan itu adalah almarhum Mohd. Wan Shagir Abdullah.

Sekalipun, terlepas dari TUN, sebenarnya sudah ada para peneliti yang secara personal juga melakukan kajian serius tentang teks ulama Nusantara, baik yang tergabung dalam Manassa, perguruan tinggi, ataupun lainnya.


Penutup. 
Dari paparan singkat di atas, tampak jelas bahwa kajian atas teks ulama Nusantara sesungguhnya masih sangat terbuka luas. Keluasan kajian itu sepanjang asal usul naskah kuno di Nusantara. Karya ulama Nusantara tidak hanya dalam bahasa dan aksara lokal semata, tetapi juga dengan aksara dan bahasa Arab, baik yang masih dalam bentuk naskah kuno, ataupun terbitan cetak di Indonesia dan luar negeri.

Peluang kajian ulama Nusantara ini lebih didukung lagi dengan wacana Islam Nusantara yang sudah ditabuh beduknya oleh PBNU, baik melalui Muktamar NU ke-33 maupun pertemuan ulama/intelektual Islam tingkat internasional.

Karakteristik ulama Nusantara identik dengan karakteristik teks ulama Nusantara yang cenderung moderat dan dapat bekerja sama dengan siapa saja dan di mana saja. Keragaman genre adalah contoh teks ulama Nusantara yang moderat. Sekalipun, belakangan ada beberapa kelompok pecinta turats Nusantara yang berbeda ideologinya.

Akhirnya, karakteristik teks ulama Nusantara ini diharapkan bisa mewarnai teks-teks ulama di Indonesia dan dunia saat ini, yang moderat, toleran, dan demi kemaslahatan bersama. []

Wallahu a’lam bish Shawab

 

Catatan:

[1] Tulisan ini sebagai bahan diskusi pada “Tadarus Ramadlan”, MENGKAJI TEKS-TEKS ULAMA NUSANTARA oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) di Utan Kayu Jakarta, 17 Juni 2016.

[2] Tokoh-tokoh yang dikaji Rinkes adalah Syaikh Abdul Muhyi, Syaikh Siti Jenar,  Sunan Geseng, Ki Pandan Arang at-Tembayat, dan Pangeran Panggung. Sunan Gunung Jati dan Sunan Kali Jaga menjadi bagian penjelasan singkat pada bagian terakhir tentang makam dan system kewalian yang semakin pudar.

[3] A. Ginanjar menjelaskan bahwa dalam juz I, disebutkan 26 tokoh ulama Nusantara yang berpengaruh di Timur Tengah: 1. Ibrahim ibn Dawud al-Fatani al-Makki (1320-1413 H), dari Patani, Thailand; 2. Ahmad Marzuki ibn Ahmad Mirshad al-Batawi (1293-1353 H), dari Batavia (Jakarta); 3. Baqir ibn Nur al-Jukjawi al-Makki (1306-1367 H), dari Jogja; 4. Bidlawi ibn Abdul Aziz al-Lasami (?-1390 H), dari Lasem, Jawa Tengah; 5. Jami’ ibn Abdur Rasyid ar-Rifa’i al-Buqisi (1255-1361 H), dari Bugis; 6. Jamaluddin ibn Abdul Khaliq al-Fatani (1278-1355 H), dari Patani, Thailand; 7. Sulaiman ibn Muhammad Husain al-Falambani (1295-1376 H), dari Palembang; 8. Salih ibn Muhammad ibn Abdillah al-Kalantani al-Makki (1315-1379 H), dari Kelantan, Malaysia; 9. Salih ibn Mujian al-Batawi al-Tanqarani (1297-1353 H), dari Betawi-Tangerang; 10. Abdur Rasyid ibn Aslam al-Buqisi (?-1356 H), dari Bugis; 11. Abdul Karim ibn Ahmad al-Khatib al-Minankabawi al-Makki (1301-1357 H), dari Minang; 12. Abdullah ibn Azhuri al-Falambani al-Makki (1279-1357 H), dari Palembang; 13. Abdullah ibn Hasan Bella al-Andunisi al-Makki (1296-1357); 14. Abdul Muhit ibn Ya’qub ibn Panji as-Surabawi (1311-1388 H), dari Surabaya, Jawa Timur; 15. Abdul Muhaimin al-Lasami (1313-1365 H), dari Lasem, Jawa Tengah. Dalam juz II: 16. Alawi ibn Tahir al-Haddad Mufti Johor (1301-1382 H); 17. Ali ibn Abdul Hamid Qudus as-Samarani (1310-1363 H), dari Semarang, Jawa Tengah; 18. Muhsin ibn Muhammad ibn Hasan as-Surabawi (1316-1366 H), dari Surabaya, Jawa Timur; 19. Muhsin ibn Muhammad ibn Abdillah as-Sairani al-Bantani (1277-1359 H), dari Serang, Banten; 20. Muhammad Ahid ibn Idris al-Buquri al-Makki (1302-1372 H), dari Bogor, Jawa Barat; 21. Muhammad Mukhtar ibn Atarid al-Buquri al-Jawi (1287-1349 H), dari Bogor, Jawa Barat; 22. Muhammad Mansur ibn Abdul Hamid al-Falaki al-Batawi (1290-1387 H), dari Batavia (Jakarta); 23. Ma’sum ibn Ahmad ibn Abdul Karim al-Lasami al-Jawi (1290-1392 H), dari Lasem, Jawa Tengah; 24. Mansur ibn Mujahid Basyaiban as-Surabawi (1302-1360 H), dari Surabaya, Jawa Timur. 25. Hasyim Asy’ari al-Jaumbanji al-Jawi (1282-1366 H), dari Jombang, Jawa Timur; 26. Wahyuddin ibn Abdul Ghani al-Falambani (1288-1360 H), dari Palembang.  Lihat www.nu.or.id (29 April 2016)

[4]Teks (nas) dan naskah (makhtutat) mempunyai arti sendiri dalam filologi. Secara singkat, teks adalah apa yang terdapat di dalam suatu naskah. Naskah merupakan bahan tulisan tangan terkandung di dalamnya ungkapan pikiran dan perasaan hasil budaya masa lampau, dan mengandung unsur sejarah. Dalam bahasa bahasa belanda, naskah dikenal dengan handscrift (hs) dan dalam bahasa Inggris disebut manuscript (ms). Dengan kalimat yang berbeda, teks adalah isi naskah atau kandungan naskah, sedangkan naskah itu wujud fisiknya. Dalam satu naskah bisa saja lebih dari satu teks.

[5] Seperti dituturkan A. Ginanjar Sya’ban dalam Public Lecture di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 29 Maret 2016, penulis kitab itu Syaikh Mukhtar ibn Atharid al-Bugur, Ash-Shawa’iq al-Muhriqah li al-Awham al-Kazibah.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.