Home » Aksara » Kisah Nyata Kekejaman Diskriminasi Ras
16599596096_d36a21a634_z

Kisah Nyata Kekejaman Diskriminasi Ras Resensi Film 12 Years A Slave

4.25/5 (8)

IslamLib – Ini kisah nyata. Benar-benar terjadi. Bukan karangan penulis skenario, bukan pula hasil imajinasi pengarang novel yang diadopsi menjadi film. 12 Years A Slave adalah kejadian yang benar-benar dialami seorang pemusik kelahiran New York, Solomon Northup. Ia manusia bebas yang kemudian dijebak menjadi budak.

Solomon sebenarnya pemain biola terpandang. Ia memiliki keluarga yang bahagia dan hidup berkecukupan. Namun kehidupannya mendadak berubah.  Pada 1481 Solomon ditipu agen musik. Ia ditawari untuk pentas di Washington DC. Di sana  ia diberi racun. Saat Solomon tak sadarkan diri, ia sudah diperjualbelikan dalam perdagangan manusia. Ia dijadikan budak  selama 12 tahun di perkebunan negara bagian Lousiana.

Solomon tentulah berusaha kabur. Namun untuk setiap budak hanya ada dua pilihan: tetap menjadi budak atau mati. Kabur bukan pilihan yang memungkinkan di perkebunan yang teramat luas dan sangat jauh dari pedesaan apalagi perkotaan itu. Maka jadilah Solomon hidup sebagai budak dengan perlakuan sadis majikannya bersama puluhan budak lain.

Ia mengalami masa-masa terburuk sebagai manusia. Ia menyaksikan dan juga mengalami semua kekejaman. Pemukulan tanpa ampun, pelecehan seksual, pemerkosaan dan pembunuhan. Semua itu seolah pemandangan rutin yang sudah biasa di sana. Namun tetap saja merupakan hal mengerikan bagi Solomon. Seperti mimpi buruk yang tak juga ada ujung.

Namun, dalam kelam, kejam dan hinanya dunia perbudakan itu, Solomon masih menanam api keyakinan bahwa akan tiba masa ketika ia kembali meraih kebebasannya. Walau cahaya kebebasan itu tak setitik pun terlihat sejauh matanya memandang.

Setelah 12 tahun, Solomon melihat cahaya harapan. Seorang tukang kulit putih yang baik hati dan tak memandang hina ras kulit hitam sempat mengerjakan bangunan di rumah pemilik perkebunan itu. Ia mendengar cerita Solomon dan merasa iba. Ialah yang akhirnya mencarikan jalan untuk kebebasan Solomon.

Setelah berhasil bebas, Solomon  sempat menuntut penculiknya. Ia juga mengungkapkan bisnis gelap perdagangan manusia di sana. Namun Solomon kalah. Pada masa itu diskriminasi ras di Amerika memang masih parah-parahnya. Warga kulit hitam masih tak bisa mendapatkan perlindungan hukum yang memadai. Apalagi kala itu Solomon menuntut pemilik perkebunan, penculiknya dan pebisnis perdangan manusia yang seluruhnya adalah orang kulit putih. Solomon tak dapat uluran tangan dan pembalasan dari jalur hukum.

Melampiaskan kemarahan dan pengalamannya, Solomon menjadi aktivis yang giat menyuarakan dan memperjuangkan penyetaraan ras, penghapusan perdagangan manusia dan perbudakan seumur hidupnya.

Pengalamannya 12 tahun sebagai budak ia tuliskan menjadi sebuah  buku memoar.  Pada 1853 memoar itu diterbitkan. Sebuah buku yang sempat menjadi salah satu buku terlaris. Penjualannya mencapai 30.000 eksemplar. Jumlah yang cukup fantastis di masa itu.

Sebelum diterbitkan buku itu sempat dicek kebenarannya oleh beberapa peneliti. Terbukti kisah Solomon dalam memoar adalah benar adanya. Sehingga kemudian diterbitkan.

Namun, tak selang beberapa lama setelah memoar itu melejit di pasaran, ia menghilang dari peredaran hampir lebih dari 100 tahun. Besar dugaan ini merupakan upaya meredam gerakan kesetaraan ras dan penghapusan diskriminasi di Amerika.

Barulah pada 1968 buku itu ditemukan kembali oleh peneliti Sue Eakin  dan Joseph Logsdon. Lagi-lagi mereka menelusuri kebenaran kisahnya. Terbukti benar. Maka pada 1968 buku itu dicetak ulang dan kembali diedarkan luas. Memoar cetakan terbaru inilah yang  kemudian difilmkan pada 2013 lalu dan menuai banyak penghargaan.

Tema film diskriminasi ras sebenarnya sudah cukup banyak. Tapi tetap saja film ini layak disebut wajib tonton. ‘Wajib’ sebagai wujud penentangan terhadap diskriminasi. ‘Wajib’ sebagai wujud dukungan agar diskiriminasi ini benar-benar punah dan tak terulang dalam wujud apapun, dimana pun, sampai kapan pun.

Untuk sejarah kelam seperti diskriminasi ras, film mengambil tempat sebagai pengingat. Film menyajikan visual utuh sehingga bisa menghadirkan empati. Sehingga mampu menghadirkan rasa benci pada sejarah yang buruk. Lalu menanamkan doktrin agar keburukan itu ditolak dan diusahakan tak terulang kembali.

Maka pada 12 Years A Slave, dengan visual langsung di depan mata, penonton akan bergidik melihat bagaimana para budak kulit hitam diperlakukan tak lebih mulia dari binatang. Mereka ditampar hingga memar, dipukul tanpa ampun, dilecut hingga kulit melepuh, diperkosa, bahkan dibunuh dengan seenaknya saja. Seolah tak ada harga apa-apa.

Sebagai seorang manusia mereka tak memiliki hak atas dirinya sendiri. Mereka tak berhak pula mengambil keputusan apapun. Bahkan tak berhak memiliki keinginan sekecil apapun pula. Mereka seolah binatang, seolah benda mati.

Dalam sejarah Amerika, diskriminasi ras kulit hitam oleh ras kulit putih memang menjadi borok sejak lama. Sejarah yang sampai sekarang tetap membekas. Apalagi negara itu selalu menggema-gemakan tentang kesamaan hak dan kemanusiaan. Sampai sekarang pun, walau sudah sangat berkurang, diskriminasi atas dasar ras masih terdengar.

Jika pun memang tak ada lagi diskriminasi ras berdasarkan warna kulit, diskriminasi dalam bentuk lain masih terjadi. Apalagi setelah persitiwa 11 September 14 tahun lalu. Diskriminasi terhadap kalangan Muslim dan kecenderungan Islamofobia masih terus berlangsung.

Terakhir adalah kejadian yang dialami siswa muslim berumur 14 tahun yang disangka teroris, Ahmad Mohammed. Jam digital buatannya, disangka bom. Ahmed lalu ditangkap polisi, diborgol di depan teman-teman sekelasnya.

Apa yang terjadi pada Ahmed sempat mengguncang Amerika. Satu lagi fakta bahwa sejarah berulang, negara itu masih belum lepas dari diskriminasi.

Padahal di sisi lain, berbagai film, buku, karya tulis fiksi non fiksi terus diproduksi untuk mengingatkan tentang kekejaman diskriminasi. Salah satunya film ini.

Dari film 12 Years A Slave, dalam singkatnya durasi film yang tak sampai dua jam itu, melalui semua visual kekejaman yang ditayangkan, sudah lebih dari cukup untuk menegaskan diskriminasi adalah perbuatan terkutuk dan tak boleh terulang. Pesan yang harusnya kita terima dengan sepakat.[]

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.