Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Aksara » Media » Asrori S. Karni: “Masyarakat Sudah Cerdas dan Perlu Pilihan”
Asrori S. Karni (kanan), bersama Yasraf Amir Piliang (kiri), didampingi moderator Saidiman Ahcmad (tengah), pada acara diskusi bertema "Ekspresi Keislaman: Komersialisasi Agama dan Budaya Pop", di Serambi Salihara (Foto: antarafoto.com)

Asrori S. Karni: “Masyarakat Sudah Cerdas dan Perlu Pilihan”

5/5 (3)

Tapi sekarang tampaknya proses radikalisasi yang berlangsung lebih intensif lewat pemberitaan dan opini yang dikembangkan media-media tertentu?

Ya. Saya kira yang paling menentukan naik turunnya penerimaan dan pasar media adalah mainstream ataukarakter arus utama masyarakat kita. Saya adalah pembaca setia media-media non-liberal dan non-fundamentalis. Di situ saya mencermati, pada isu-isu tertentu.

Keduanya bisa berjalan seiring dengan arus pemikiran Islam pembaharuan, seperti isu sekularisasi politik atau posisi Islam dalam negara. Namun pada isu-isu lain yang lebih spesifik, seperti soal perkawinan beda agama, pasar media cenderung sejalan dengan kelompok yang lebih literalis dan puritan.

Namun demikian, selera keberagamaan arus utama masyarakat Indonesia tetaplah dinamis dan tidak linier. Artinya, kalau saat ini mereka menyetujui RUU Pornografi, itu tidak berarti mereka juga akan setuju konsep khilafah. Jadi, masyarakat bisa setuju soal pornografi diatur sedetil-detilnya, tapi pada isu-isu lain seperti posisi Islam dan negara, mereka berbeda pendapat. Jadi itu dua hal yang berbeda.

Jadi masyarakat juga sangat kritis dan tidak gampang dapat digiring ke opini tertentu?

Betul. Apalagi sekarang referensi orang dalam bermedeia sudah beragam sekali. Mereka tidak hanya membaca satu majalah dan koran, tapi lewat internet, mereka bisa baca apa saja. Apalagi, pasar buku saat ini juga begitu bebas.

Jadi sebenarnya, baik media kelompok moderat ataupun kelompok ekstrem, asalkan bisa bernegosiasi dengan selera mainstream, akan dapat diterima secara luas. Kita ingat, gagasan pembaruan hubungan negara dan agama yang pada awal tahun 1970-an ditentang dan dimulai dari kelompok pinggiran, dengan pola sosialisasi yang khas, kini sudah bisa diterima mainstream.

Bagaimana posisi media yang punya perhatian terhadap isu agama dan budaya lokal, Bung?

Apresiasi terhadap kultur lokal oleh sebuah media, saya kira juga bagian yang dekat dengan selera arus utama masyarakat. Jadi media yang memberi apresiasi terhadap kultur lokal, budaya setempat, dan seterusnya, cenderung akan diterima di tengah masyarakat. Karena itu, sekarang banyak sekali bermunculan media-media komunitas.

Grup Jawa Pos yang membikin lini-lini lokal, saya kira juga dalam rangka memberi perhatian terhadap kultur lokal, budaya setempat, dan dinamika yang dekat dengan pembacanya. Saya kira ini juga salah satu pilihan isu media yang bisa ditempuh di tengah kompetisi bermedia saat ini.

Bagaimana dengan media-media Islam radikal yang hadir dengan pemberitaan yang cenderung vulgar, karena menganggap media-media mainstream tidak memberitakan fakta apa adanya?

Bisa jadi anggapan itu benar. Media yang lebih detil dalam memaparkan fakta biasanya datang dari komunitas yang lebih kecil. Ada beberapa faktor kenapa mereka misalnya lebih vulgar dalam memberitakan konflik. Pertama, mereka belum puas dengan sumber-sumber berita mainstream yang telah menyajikan sebuah kasus. Kedua, itu juga bagian dari strategi kompetisi dalam bermedia. Rumusnya, agar bisa masuk pasar, Anda harus bisa ungggul dan tampil beda.

Tapi yang menarik juga di pentas permediaan Islam di Indonesia di tahun 2000-an, adalah hadirnya majalah seperti Hidayah yang lebih bersifat mistis. Mereka masuk ke dalam polemik lain yang bukan isu politik Islam, tapi fokus dalam menampilkan pandangan-pandangan mistis keagamaan, lengkap dengan sanksi yang kontan.

Misalnya, sanksi duniawi ketika kita mamakan harta anak yatim, dan isu-isu lainnya. Tapi saya menduga, tema-tema seperti itu juga akan menemui titik jenuh. Sebab, media-media seperti itu juga akan mengalami pasang-surut dinamika penerimaan pasar dan publik.

Karena itu, saya melihat semua itu sebagai kebutuhan yang bersifat tentatif, bukan permanen. Ada suatu masa ketika beban keseharian begitu kuat, tingkat tekanan hidup sangat tinggi, dan tantangan begitu ketat, maka cara-cara pelarian ke alam sana bisa menjadi instrumen untuk relaksasi dan sedikit refreshing. Tetapi minat pada sajian keislaman bercorak mistik, saya kira juga tidak akan berlangsung lama. Sinetron-sinetron bercorak mistis kini ratingnya juga sudah mulai menurun.

Dari situ kita tahu perbedaan antara Hidayah versi majalah dengan versi sinetron yang ditayangkan di televisi. Yang versi majalah, nuansa mistisnya sebenarnya tidak terlalu kuat, sementara di sinetron agak kuat. Perbedaan itu berdampak pada tingkat penerimaan publik. Pada versi majalah, Hidayah masih menampilkan tema-tema yang mengungkapkan dampak langsung dari proses keberagamaan kita: kalau Anda pelit, Anda akan mati sengsara; kalau toleran dan dermawan, Anda akan mati bahagia.

Kalau masih sebatas itu, orang masih merasa ingin tahu. Tapi begitu ada dramatisasi dan mistifikasi berlebihan, orang jadi resisten. Terbukti, sekarang tayangan-tayangan hikmah di TV sudah mulai bergeser dari yang mistis ke yang natural dan lebih halus.

Kalau begitu, memang ada ruang kosong di segmen media massa Islam yang saat ini masih terabai?

Saya kira, pembaca atau pendengar media butuh akan spiritualitas yang disajikan dengan cara-cara yang elegan, bukan dengan cara-cara mistis atau provokasi yang keras. Itu yang saya lihat ketika menguatnya kajian-kajian spiritualisme yang disajikan dengan cara-cara ilmiah di awal tahun 2000-an.

Di situ, ada interaksi yang positif antara isu-isu media dengan kebutuhan pembaca atau pendengarnya. Kebutuhan publik akan spiritualitas seakan-akan kini meningkat, karena makin meluasnya kehampaan spiritual di tengah masyarakat. Gayung bersambut tatkala ada sajian-sajian yang elegan tentang spiritualitas dari para agamawan.

Saya kira pola-pola semacam itu harus terus dikembangkan. Karena itu, media-media pengusung Islam moderat pun harus membaca kebutuhan pasar dan memenuhinya dengan pola-pola tertentu, terutama dengan citarasa Islam moderat yang menghargai pluralisme, perbedaan, dan seterusnya.

Bagaimana prospek media-media Islam radikal dalam merebut ceruk pasar dan menentukan corak keberagamaan masyarakat kita?

Saya kira, dia hanya akan berdampak pada komunitas kecil yang memang sudah menjadi pasarnya. Dan sebetulnya, komunitas kecil itu relatif sudah susah menerima pandangan-pandangan baru. Tapi kadang-kadang kita terkecoh juga, karena seolah-olah dampaknya sudah luar biasa, hanya karena suara mereka begitu lantang.

Itulah yang kemudian dicover oleh sejumlah media, sehingga iklim kebencian seakan-akan sudah merebak ke mana-mana. Pada titik ini, media seharusnya melakukan pemotretan yang seimbang tentang wajah masyarakat kita.

Saya sampai kini masih yakin, para pembaca yang disajikan corak keagamaan yang bernuansa kebencian, suatu saat akan jenuh dengan sendirinya. Sebab, karakter masyarakat kita sebenarnya memang seperti orang Melayu yang tidak suka ekstremitas. Karena itu, media-media yang menjual ekstremitas dan kebencian, juga tidak akan berusia lama.

Apa yang perlu dilakukan media untuk merekontruksi citra Islam Indonesia yang kini terkesan keras?

Media pengusung gagasan Islam moderat saya kira perlu tampil lebih interaktif. Artinya, di satu sisi dia membawa misi atau gagasan-gagasan Islam moderat, tapi di sisi lain juga membaca kebutuhan audiens. Jadi tidak monolog. Anda dapat memberi sekaligus membaca apa yang mereka butuh. Itulah yang secara simultan perlu diberikan atau disajikan.

Misalnya, saat ini Anda menyajikan polemik tentang RUU Pornografi, tapi pada edisi mendatang menyajikan bagaimana salat tahajud dapat membantu relaksasi di tengah tingkat stress yang tinggi. Dengan kombinasi sajian semacam itu, saya kira gagasan-gagasan Islam moderat akan lebih mudah diterima. Gagasan-gagasan yang ditampilkan secara lebih konfrontatif akan lebih mudah mengalami resistensi. Masyarakat kita sudah cerdas, dan karena itu mereka perlu diberi banyak pilihan.

Ngomong-ngomong, ketika media tempat Anda bekerja (Gatra) meliput isu-isu keislaman, apa yang diinginkan dari pembaca?

Tema keagamaan yang sering kita angkat adalah tema-tema polemik. Pada tema-tema yang bersifat polemis itu, kita hanya ingin menyadarkan masyarakat bahwa perdebatan pandangan dan sikap merupakan hal yang wajar dalam sejarah pemikiran Islam. Karena itu, silakan Anda beragumen, toh publiklah yang nantinya menilai. Dan yang lebih penting, jangan sampai perdebatan itu selalu ditindaklanjuti dengan otot, batu, dan seterusnya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.