Home » Aksara » Media » Endy Bayuni: “Paham Keagamaan Ditentukan Pengalaman”
Endy Bayuni (Photo: The International Institute for Strategic Studies/youtube.com)

Endy Bayuni: “Paham Keagamaan Ditentukan Pengalaman”

5/5 (1)

Apa pandangan Anda tentang teori kebenaran relatif tiap-tiap agama?

Kita semua memang sedang mencari kebenaran. Saya pikir, agama hanya instumen untuk sampai ke sana. Kalau dalam Islam, Alquran dan hadis yang digunakan untuk mendapat kebenaran. Tapi sebetulnya, kehidupan kita sejak lahir sampai meninggal adalah proses untuk mencari kebenaran. Jadi kalau dibilang relatif, memang benar juga. Tapi kita juga harus punya keyakinan tentang bagaimana harus mengajarkan Islam pada anak-anak.

Apa pandangan Anda tentang keragaman kelompok keagamaan dalam Islam?

Itu merefleksikan kenyataan yang ada dalam kehidupan. Artinya, di tingkat individu sendiri, pemahaman tiap orang tentang agama akan sangat berbeda. Pemahaman saya tentang Islam dengan Anda mungkin berbeda, karena kita telah menjalani pengalaman hidup yang berbeda.

Tapi saya tak bisa mengatakan bahwa Islam saya lebih bagus dari Anda. Kalau mengklaim begitu, itu justru bukan bernama Islam, tapi kesombongan. Yang akan mengatakan bahwa orang itu Islamnya lebih baik daripada yang lain hanya Allah sendiri. Makanya kita dianjurkan berlomba-lomba berbuat lebih baik, agar diterima di sisi Allah.

Adanya organisasi-organisasi keagamaan seperti NU atau Muhamadiyah hanya menggabungkan pemeluk Islam ke dalam kelompok yang kira-kira punya titik kesamaan. NU punya tradisi yang kuat di Jawa pedesaan, sementara Muhamadiyah lebih banyak diikuti orang-orang perkotaan atau kaum pedagang.

Tapi saya yakin, di Muhamadiyah sendiri banyak terjadi perdebatan mengenai pemahaman Islam, demikian juga di NU. Jadi yang ada adalah keragaman pemahaman. Kitabnya sama, Rasulnya sama, Tuhannya pun sama. Tapi dalam soal pemahaman selalu akan didasarkan pada pengalaman hidup masing-masing.

Bagaimana Anda melihat perkembangan corak keberagamaan masyarakat kita saat ini?

Ada beberapa kejadian dalam 5-10 tahun belakangan yang ikut mempengaruhi corak keberagamaan kita di Indonesia. Ada konflik antarkelompok Islam dan Kristen di Maluku, kemudian juga Poso. Di tingkat global juga terjadi kerenggangan hubungan antara dunia Barat dengan dunia Islam. Itu berimbas sangat besar dalam kehidupan keagamaan masyarakat sejak tingkat RT dan desa.

Tapi selain itu, saya juga memperhatikan adanya beberapa pimpinan agama yang ikut mengompori ketegangan antaragama, misalnya dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat Islam terhadap Kristen ataupun sebaliknya. Bagi Indonesia, kalau itu dibiarkan berlarut, akibatnya akan sangat fatal. Indonesia ini dibangun atas dasar prinsip-prinsip yang sangat plural; untuk semua agama, semua etnis, dan semua bahasa. Semua diberi tempat sama; tidak ada yang perlu diperlakuan istimewa.

Kemarin di Aceh ada calon bupati yang dites baca Qur’an dulu… Tanggapan Anda tentang Perda-Perda Syariat?

Itu cuma satu kasus yang mudah-mudahan tak diulangi tempat-tempat lain. Itu karena sistem syariat yang diberlakukan. Masyarakat Aceh lalu berpikir membuat sistem yang lebih islami. Istilahnya begitu. Sehingga calon bupati harus bisa ngaji dan memenuhi persyarakatan lain.

Saya pikir, kalau soal mengaji, keturunan Arab paling pintarlah. Saya takut, nanti semua bupati dari keturunan Arab. Bukan saya anti Arab, tapi kesempatan memimpin negeri ini harus diberikan pada semua orang yang mampu. Saya pikir, sukses kepemimpinan bukan ditentukan oleh kemampuan baca Alqur’an, tapi dinilai lewat banyak kriteria lainnya. Setahu saya, pandai baca Qur’an bulkanlah salah satu kriteria yang digunakan.

Saya melihat kasus seperti ini lebih sebagai bentuk euforia kebebasan dan proses pembelajaran karena sekarang negara sudah cukup demokratis dan menganut prinsip kebebasan dalam banyak aspek. Kalau anak kecil diberi kebebasan, tentu dia akan sangat senang. Awal-awalnya dia mungkin akan sangat nakal atau berbuat hal-hal yang tak seharusnya dilakukan. Tapi lambat laun dia akan belajar. Demikian yang kita harap dari proses demokrasi di Indonesia.

Kita juga berharap, dengan sitem demokrasi, semuanya tetap efisien. Tapi kan harus ada proses pembelajaran di masyarakat. Yang lebih penting lagi adalah proses pembelajaran elit-elit kita yang ternyata belum cukup dewasa walau sudah melewati dua pemilu demokratis. Mungkin kita perlu tiga atau empat pemilu lagi sampai para elit politik kita benar-benar mampu melakukan tugasnya sebagai politikus dengan baik.

Anda setuju kalau agama makin banyak diformalkan dalam tatanan politik kenegaraan?

Saya pikir itu tidak baik, karena pada akhirnya agama adalah sesuatu yang sangat pribadi antara kita dan Sang Pencipta. Memang ada yang bisa kita lakukan sama-sama dalam agama, misalnya salat jamaah. Tapi kalau itupun harus diatur negara dan ada yang mengatur, dengan sudut pandang Islam pun saya pikir itu tak benar. Tidak ada yang berhak mengatakan bahwa saya lebih Islami dan untuk itu saya yang harus memimpin Anda.

Jadi kalau cita-cita adalah membangun Islam, saya pikir caranya adalah dengan menunaikan ajaran Islam sendiri-sendiri. Jangan dibawa-bawa ke persoalan politik kenegaraan. Kita tahulah bahwa politik itu akan kotor dan dapat mengakomodasi yang halal dan yang haram.

Saya khawatir, nantinya pemimpin kita rajin membawa simbol-simbol agama tapi rajin pula melakukan hal-hal yang tak dibenarkan agama. Korupsi misalnya. Dengan begitu, terjadilah kemunafikan. Itu yang saya khawatirkan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.