Home » Aksara » Membangun Argumen Nirkekerasan
buku Chaiwat

Membangun Argumen Nirkekerasan

4.33/5 (3)

Barangsiapa Memelihara Kehidupan: Esai-esai tentang Nirkekerasan dan Kewajiban Islam
Penulis: Chaiwat Satha-Anand
Penerbit: Pusad Paramadina 2015, Jakarta
Halaman: v + 246

 

IslamLib – Indonesia merupakan negara yang rawan konflik, entah itu konflik sosial, politik, ekonomi maupun keagamaan. Konflik-konflik seperti ini butuh penyelesaian yang elegan, sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru. Sebab, reaksi kekerasan hanya mereproduksi kekerasan yang lain.

Beragam konflik yang dihadapi semestinya membuat Indonesia belajar mengembangkan metode baru dalam menangani konflik sosial. Misalnya, dengan cara nirkekerasan. Nirkekerasan merupakan alternatif gerakan yang mesti dicoba dan diaplikasikan dalam kondisi sosial-politik yang rawan.

Buku yang ditulis Prof Chaiwat Satha-Anand, “Barangsiapa Memelihara Kehidupan: Esai-esai tentang Nirkekerasan dan Kewajiban Islam” patut ditelaah lebih dalam. Sebab dalam tulisannya, Santha-Anand berpendapat bahwa pemeluk agama wajib berperan aktif dalam melakukan nirkekerasan untuk menangani konflik sosial yang ada. Pasalnya, nirkekerasan merupakan salah satu ciri Islam yang rahmatan lil alamin.

Aksi nirkekerasan akan memungkinkan umat Muslim berpegang teguh pada prinsip dasar Islam, yakni: memelihara nyawa yang tak berdosa, seraya melawan ketidakadilan di dunia. Bukan sebaliknya, melakukan teror dan menyerang kekerasan dengan kekerasan. Kemudian tindakan nirkekerasan jauh lebih efektif dalam menciptakan perdamaian dan menyelesaikan konflik.

Apalagi penduduk mayoritas muslim di Indonesia yang dikenal sangat moderat diwakili oleh Muhammadiyah-NU memiliki pengaruh luar biasa di tengah masyarakat. Tindakan aksi nirkekerasan seharusnya menjadi ciri khas kedua organisasi tersebut dalam menangani konflik agama.

Satha-Anand sangat terinspirasi oleh cerita di dalam Al-qur’an yang menarik seputar kekerasan dan nirkekerasan dalam Islam. Misalnya, cerita dua anak Adam, Qabil dan Habil yang melatari munculnya tindak kekerasan dan tindakan nirkekerasan.

Al-qur’an mengisahkan bahwa ketika salah satu dari mereka mengancam akan membunuh yang lain, saudaranya menjawab bahwa dia tidak akan membalas dengan pembunuhan. Akhirnya, Qabil membunuh Habil (hal: 7). Dari kisah itu betapa wajah kekerasan merupakan wajah manusia, oleh karena itu kita membutuhkan solusinya.

Sangat mungkin seperti pendapat Kurt Schock tentang aksi nirkekerasan yang mengacu pada aksi politik di luar yang rutin dan institusional, yang tidak melibatkan tindak kekerasan atau ancaman kekerasan. Artinya, aksi ini bisa dilakukan oleh infrastruktur politik. Seperti kelompok penekan atau kelompok yang memiliki kepentingan dalam melerai konflik sosial.

Nirkekerasan memiliki ciri utama gerakan sebagai berikut: pertama, memberikan pemahaman terhadap lawan bahwa kekerasan dilawan dengan kekerasan menimbulkan persoalan yang kompleks, dan kedua, nirkekerasan bertujuan untuk menciptakan keadilan di alam semesta.

Semua ini menunjukkan bahwa perjuangan nirkekerasan adalah semacam senjata manusia yang didasarkan pada realitas sosial tentang bagaimana konflik bekerja (hal: 11).

Santha-Anand menelurkan dua argumentasi yang menarik di dalam buku ini. Pertama, nirkekerasan merupakan senjata perlawanan ampuh dalam perubahan sosial. Baginya, aksi nirkekerasan lebih efektif ketimbang aksi kekerasan.

Dalam studi mengenai aksi nirkekerasan yang menganalisis 323 kampanye kekerasan dan nirkekerasan dengan metode kuantitatif dan studi kasus yang dilakukan oleh Chenoweth dan Stephan, mereka menemukan bahwa dalam rentang tahun 1900 sampai 2006, kampanye perlawanan nirkekerasan hampir dua kali lipat berhasil dibanding kampanye perlawanan melalui jalan kekerasan (hal: 12).

Argumen kedua, aksi nirkekerasan sebagai senjata berbeda dari aksi kekerasan dipandang dari pemilihan sasaran. Jika aksi kekerasan melalui senjata tajam, bom bunuh diri dll. bisa memakan korban jiwa yang tak berdosa, maka aksi nirkekerasan yang tak memungkinkan berjatuhannya korban jiwa bisa menjadi solusi jitu dalam menangani konflik.

Tindakan nirkekerasan saat ini telah menjadi perhatian kajian dunia akademik internasional. Sejauh ini, telah hadir empat buku penting yang juga menggagas betapa mendesaknya aksi-aksi nirkekerasan untuk dilakukan.

Buku-buku tersebut adalah: Nonviolence and Peacebuilding in Islam karya Mohammed Abu-Nimer, Crescent and Dove karya Qamar Ul Huda, Islam Means Peace karya Amitabh Pal dan Searching for a King: Muslim Nonviolence and the Future of Islam karya Jeffry R. Halverson.

Upaya ini menunjukkan bahwa aksi-aksi nirkekerasan merupakan modus perjuangan yang bukan hanya diinspirasikan, tetapi juga telah diperintahkan oleh agama. Namun, perintah tersebut kalah pamor dengan aksi kekerasan yang melibatkan banyak manusia.

Akhirnya, buku ini sangat perlu dibaca sebagai referensi alternatif dalam melihat gerakan nirkekerasan sebagai bentuk perjuangan baru masyarakat Islam. Sehingga melalui semangat nirkekerasan inilah kita bisa menciptakan harmoni umat manusia, serta bersedia menyongsong masa depan agama-agama menuju arah yang lebih baik.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.