Home » Gagasan » Tak Ingin Masuk Surga
3467510_b5c7aa3f

Tak Ingin Masuk Surga

4.34/5 (35)

Surga diciptakan indah. Banyak makanan, kehidupannya tenang, segala kebutuhan terpenuhi, tak usah repot-repot berladang, tak ada gelandangan, tak ada pertengkaran, dan yang terpenting banyak bidadari yang halal bagi kita. Pokoknya, bisa lupa sama istri.

Tapi, tunggu sekejap. Kata Tuhan, surga dipersipakan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Tapi, kebaikan yang bagaimana? Nanti bisa salah paham. Apakah kebaikan berupa salat tak henti-henti hingga jidat menghitam dan sedikit bengkak? Ataukah kebaikan berpuasa setahun penuh hingga kau nampak kurus dan lusuh? Atau kebaikan melakukan sweeping agar tidak ada maksiat? Atau pula kebaikan mengajak semua orang untuk mengikuti Al-Quran dan Hadis secara tekstual, untuk kembali pada jalan yang benar dengan melabrak orang lain seenaknya saja, sehingga kau lupa bahwa kau hidup dalam perbedaan?

Saya rasa semua pilihan kebaikan di atas perlu catatan. Percuma kau beribadah hingga jidatmu hitam, jika salat saja kau tak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Begitu pula, percuma puasamu jika kau tak dapat mengubah nafsumu untuk kebaikan. Percuma kau sweeping, jika sweeping yang kau lakukan malah membuat kerusakan, membuat keonaran, dan malah menjadi maksiat bagimu. Dan apa untungnya kau mengajak kembali kepada Quran dan Hadis, jika kau sendiri tak memahami ‘ruh’ dari perintah yang dikandungnya.

Kau bawa-bawa nama Agung Tuhan untuk melegitimasi pendapatmu. Kau kafirkan semua saudara-saudaramu, kau anggap orang lain yang tak sepaham adalah kafir, dan halal darahnya (mungkin untuk diminum, ya?)

Sungguh kau tak mengajarkan hidup yang damai. Perbuatanmu tak seperti yang Rasulullah contohkan. Kau hanya berbalut jubah ala orang Arab, padahal Abu Jahal juga berpakaian demikian.

Kalau begitu cara kamu, lalu bagaimana nanti jika di surga? Apa kau kira usaha mengkafirkan orang lain akan berbuah kebaikan? Apa kau kira surga hanya akan dipenuhi oleh kelompok-kelompok sepertimu? Surga itu luas, lho. Bukan berbentuk sepetak tanah yang hanya didiami kamu dan kelompokmu saja.

Kalau begini caranya, saya tak mau masuk surga. Percuma saya masuk surga jika harus bertetangga dengan orang-orang yang membuat kehidupan jauh dari rasa damai. Saya tak bisa hidup dengan mereka, karena mereka selalu mengganggu ketenangan saya. Sedikit-sedikit salah, sedikit-sedikit bid’ah, kafir.

Di surga kelak—semoga Allah mengizinkan—saya akan menyetel musik salawat, karena itu kesenangan saya. Apalagi saat bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal, mungkin semalam suntuk tak akan saya matikan.

Kejadiannya akan menyedihkan jika saya harus hidup bersama mereka di surga. Belum lama salawat mengalun, segerombolan orang itu akan mendobrak pintu surga saya. Lalu menceramahi, bahwa maulid dan salawatan itu bid’ah dholalah fin naar. Jadi, terpaksa untuk sementara waktu saya harus mematikan kaset salawat, demi ketenangan bersama.

Jika sudah tanggal 25 Desember, seumpamanya pada hari itu aku bertemu dengan Isa Al-Masih, dan mengucapkan selamat natal padanya, karena saya ingin menghargai beliau juga, tetiba nanti ada yang mendorong saya, lagi-lagi menceramahi, membid’ahkan dan mengkafirkan saya. Jadi, sungguh tak tenang surga ini. Dan bagaimana jika perilaku itu terjadi setiap hari di surga? Tak dapat saya bayangkan keonarannya.

Kesenangan juga tak pernah bisa saya rasakan manakala masuk tanggal 1 Januari, alias tahun baru. Di surga kan juga butuh merayakan tahun baru, tiup terompet, bakar petasan, dan saling mengucapkan “Selamat Tahun Baru”. Tapi, jika saya harus masuk surga bersama mereka, kaum takfiri, jangankan merayakan, mau mengucapkannya saja sudah dihadang dan dilabel kafir.

Kalau begini keadaannya, lebih baik saya masuk neraka saja, asal dapat hidup tenang, bersama mereka yang sama-sama dikafirkan karena maulidan dan salawatan, bersama mereka yang mengucapkan selamat natal pada umat yang berbeda keyakinan. Masuk neraka bersama para ulama yang dikafirkan karena mengajarkan toleransi, ulama yang tutur katanya lebih adem ayem ketimbang mereka kaum takfiri.

Surga terasa neraka jika kehidupan damai malah tak ada di dalamnya. Dan neraka bak surga jika kehidupan damai dapat kita temukan di sana.

Pesan saya terakhir, buat mereka yang selalu mengkafirkan, selamat masuk surga semoga kau leluasa disana, tidak ada kehidupan ramai yang penuh dengan bid’ah dan kekafiran. Kau tak perlu lagi sweeping untuk meberantas kemaksiatan. Kau tak perlu lagi teriak lantang membawa nama Agung Tuhan, karena saya sering merasa prihatin padamu kalau-kalau akan putus urat lehermu. Kau hidup saja dengan kelompokmu. Jadi kau tak perlu repot-repot pakai selendang dan jubah kebesaranmu untuk menceramahi setiap orang.

Selamat maulid Nabi Muhammad dan selamat maulid Isa Al-Masih (Natal), serta selamat Tahun Baru.

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.