Home » Gagasan » Anjing » Muslim dan Canine-Phobia
Muslim and dog

Muslim dan Canine-Phobia Anjing Dalam Islam (1)

4.33/5 (9)

IslamLib – Bruce Gilmour adalah warga Kanada yang buta. Ke manapun pergi, ia  membawa anjing sebagai penunjuk jalan. Suatu hari, ia mencegat taksi. Taksi tak berhenti. Besoknya ia protes ke perusahaan taksi itu. Kata pihak manajamen: supir taksi itu seorang Muslim yang menganggap anjing adalah binatang najis.

Ia kemudian mengajukan protes ke Komisi HAM Provinsi British Columbia. Ia memenangkan perkara, dan memperoleh kompensasi sebesar $2500. Kejadian ini berlangsung pada 2007.

Beberapa tahun kemudian, kejadian serupa terjadi pada Mike Simmonds, warga Saskatchewan, sebuah kota di pinggiran padang rumput di Kanada. Seperti Gilmour, ia seorang buta yang selalu membawa anjing. Simmonds pernah ditolak supir taksi Muslim karena alasan yang sama: anjing najis. Ia juga melaporkan kejadian ini ke Komisi HAM setempat.

Sebuah protes bertema “Hari Bawa Anjing ke Depan Masjid” pernah berlangsung di Toronto, Kanada, pada September 2014. Pasalnya: beberapa hari sebelumnya, ada protes anti-Israel oleh warga Muslim setempat. Dalam protes itu seekor anjing ditendang oleh seorang peserta demo. Kabar ini menyebar, bikin warga marah. Mereka memprotes sikap Muslim terhadap anjing.

Di sebagian masyarakat Barat ada semacam persepsi bahwa umat Islam mengidap canine-phobia atau ketakutan pada anjing. Mereka beranggapan bahwa sikap anti-anjing ini tak sesuai dengan kultur masyarakat Barat yang memiliki kegemaran memelihara anjing. Di sana, anjing dianggap sebagai “men’s best friend.”

Apakah benar ada sindrom canine-phobia di kalangan umat Islam?

Saya kira, benar. Suatu hari saya pernah berkunjung ke rumah retreat (tempat meditasi dan beribadah) milik Ordo Jesuit di Jakarta. Saya ditemani seorang tokoh Muslim. Ini terkait dengan kegiatan dialog antar-agama. Begitu kami mendekat pagar rumah, seekor anjing menyalak. Tokoh Muslim tersebut langsung lari. Ia benar-benar takut. Penjaga rumah itu langsung membawa pergi anjing itu, seraya meminta maaf.

Saya berkali-kali menyaksikan kawan-kawan Muslim yang takut pada anjing. Bahkan menyentuh bulu anjing pun mereka takut bukan main. Dulu, saya memiliki ketakutan serupa. Saat kanak-kanak di kampung, saya kerap menyatroni anjing, memburunya, dan melemparinya dengan batu ramai-ramai.

Saat hujan tiba, saya selalu khawatir jika berjalan di jalanan kampung yang saat itu belum di-aspal, dan terkena bekas kaki anjing. Anjing adalah najis. Bukan hanya najis biasa, tetapi najis besar (najasah mughalladzah). Bila kita menyentuh anjing, kita harus menyucikan diri hingga tujuh kali. Bilangan ini menandakan bahwa anjing bukan saja kotor, tetapi kotor sekali. Ini kemudian menciptakan budaya canine phobia, takut anjing.

Kenapa ini semua terjadi? Saya kira, salah satu alasannya adalah karena sebagian besar umat Islam di Indonesia pengikut mazhab Syafii. Bersama mazhab Hanbali (yang dominan di Saudi Arabia), mazhab ini dikenal sebagai mazhab yang paling “takut” dan keras pada anjing ketimbang mazhab-mazhab lain dalam Islam.

Dalam mazhab Syafii, anjing dipandang sebagai binatang yang pada dirinya (fi dzatihi) kotor dan najis. Ini berbeda dengan mazhab Maliki (dominan di kawasan Afrika Utara) dan Mazhab Zahiri yang tak memandang anjing kotor. Saya akan membahas tema ini dalam esei mendatang.

Memang ada beberapa hadis yang bisa menjadi dasar fobia anjing. Sebuah hadis riwayat Abu Hurairah menyebutkan: memelihara anjing bisa mengurangi timbangan amal baik kita seberat satu kirat (dalam riwayat lain: dua kirat) setiap hari. Kita tak tahu, berapa berat satu kirat itu. Ada dua perkecualian di mana memelihara anjing diperbolehkan: anjing untuk memelihara ternak atau kebun.

Yang mengherankan adalah kenapa kami dulu, di kampung, selalu mengejar-ngejar anjing begitu kami melihatnya berkeliaran di jalanan. Rupanya, ada “bawah sadar sosial” yang mungkin dibentuk oleh sebuah hadis berikut ini, riwayat Abdullah Ibn Umar. Hadis itu menyebutkan bahwa Nabi memerintahkan agar membunuh setiap anjing yang berkeliaran di Madinah, kota di mana Nabi tinggal.

Belakangan, Nabi mengoreksi. Hanya anjing hitam legam (al-aswad al-bahim) yang harus dibunuh.  Sebab anjing hitam, dalam hadis itu, dianggap sebagai semacam reinkarnasi setan. Sebetulnya, mitos tentang anjing hitam sebagai “devil” atau setan umum dikenal dalam masyarakat tradisional sebagaimana direkam oleh Barbara Allen Woods dalam The Devil in Dog Form (1959).

Dalam drama terkenal karya Goethe, Faust, iblis Mephisto digambarkan sebagai anjing pudel hitam. Dengan kata lain, mitos anjing sebagai setan bukan khas Islam, tapi warisan dari mitos kuno.

Hadis lain menyebutkan: Malaikat tak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar. Guru-guru saya dulu di kampung memaknai hadis ini sebagai malaikat pembawa rejeki. Memelihara anjing,  menurut persepsi sebagian besar umat Islam, membuat rejeki jauh dari rumah kita. Kalau lah benar, tentu para pemelihara anjing akan jatuh miskin semuanya. Tetapi, kenyataannya kan tidak! Anjing justru identik dengan kelas menengah.

Saya menduga, pandangan tentang anjing yang bisa menghalangi malaikat masuk rumah berasal dari tradisi Yahudi rabbinik. Sophia Menache dalam artikelnya yang menarik di jurnal Society and Animals (vol. 5, no. 1, 1997) berjudul “Dogs: God’s Worst Enemies?” mengutip sebuah tradisi dari Talmud Babilonia: “Barangsiapa memelihara anjing di rumahnya, dia telah menjauhkan kasih-sayang dari rumahnya.”

Diskursus mengenai anjing, buat saya, bukan saja menarik dari segi status hukum fikihnya. Anjing mungkin melambangkan isu besar yang menjadi diskusi saat ini, mengenai hubungan Islam dan Barat, serta upaya membangun identitas yang khas Islam vis-à-vis Barat.

Situs Wahabi bernama Islamqa mengutip pendapat ulama Wahabi yang sangat kondang, Syekh Ibn ‘Utsaimin. Kata dia: Orang-orang kafir Yahudi, Kristen, dan kaum ateis memelihara anjing. Mereka memandikannya setiap hari dengan sabun. Andai mereka memandikannya dengan air seluas laut dan sabun seluruh dunia, anjing itu tak akan jadi bersih dan suci. Sebab anjing adalah kotor pada dirinya. Ia tak akan bisa disucikan kecuali musnah secara total.

Di sini, tampak sekali, wacana mengenai anjing bukan sekedar soal memelihara “pet animal” biasa. Melainkan berkaitan dengan persepsi umat Islam tentang Barat dan peradabannya. Di sana, ada kontras kultural: Islam anti-anjing, Barat pro-anjing. Islam agama suci, sementara Barat memelihara sesuatu yang najis: yaitu anjing.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.