Home » Gagasan » Anjing » Menyayangi Binatang Bagian Dari Iman
(Photo: The Malaysian Insider)
(Photo: The Malaysian Insider)

Menyayangi Binatang Bagian Dari Iman Untuk Para Pecinta Binatang

4.71/5 (7)

IslamLib – Tiga hari lalu, saya keluar dari stasiun Cikini, menyeberang jalan, dan kemudian melihat pemandangan yang mengenaskan. Seekor anak kucing, kira-kira berumur satu setengah bulan, berkeliaran di Jl. Cikini, mengais-ngais makanan di bawah gerobak tukang mie pangsit. Tubuhnya dekil, kurus, lunglai. Matanya seperti mau mengatakan: What is wrong with me? Tanpa berpikir panjang, saya pungut anak kucing itu, saya boyong ke kantor. Karena setiap hal harus bernama (mengikuti teladan Adam dulu), saya namai dia: Ciki. Dari Cikini.

Pemandangan binatang berkeliaran di jalanan, tak terurus, tanpa pemilik, sebetulnya bukan hal baru di ruang publik kita. Anda pasti pernah melihat hal seperti itu. Bukan hanya itu. Kadang binatang mengalami kekerasan yang brutal. Seorang teman yang aktif di kegiatan penyelamatan binatang pernah me-rescue anjing yang dicungkil matanya, dan dipotong ekornya. Kucing juga kerap mengalami kekerasan yang sama: ditendang, dilukai, dihalau dengan batu atau kayu.

Begitu lumrahnya binatang menjadi obyek penelantaraan, hingga muncul istilah “kucing kurap”. Istilah ini pernah dipakai oleh tokoh Masyumi dulu, Muhammad Natsir, untuk menggambarkan nasib yang diderita oleh Partai Masyumi setelah era Orde Baru. Masyumi, kata Natsir, mirip seperti kucing kurap: dimusuhi, dimatikan, dan para aktivisnya terus dicurigai oleh Orba pada saat itu. Seperti kucing kurap. Sebuah analogi yang sangat kuat dan “vivid”.

Kenapa binatang kerap ditelantarkan oleh masyarakat kita? Kenapa kesadaran untuk peduli binatang kurang berkembang? Kenapa masyarakat cenderung cuek, jika malah tidak memusuhi binatang seperti anjing dan kucing?

Sejauh menyangkut anjing, saya rasa penjelasannya sangat terang. Saya pernah menulis esei di ruangan ini mengenai fobia umat Islam terhadap anjing. Alasannya tiada lain berkenaan dengan pandangan keagamaan yang, menurut saya, keliru tentang anjing. Tetapi kucing? Ini agak mengherankan. Dalam Islam, ada ajaran yang kuat bahwa kucing adalah binatang kesayangan Nabi Muhammad. Tetapi kucing sering ditelantarkan dan menjadi sasaran kekerasan di masyarakat Muslim. Kenapa?

Penjelasannya tentu komples. Tidak sekedar berususan dengan soal teologi atau pandangan keagamaan belaka. Ada faktor-faktor budaya yang juga harus kita pertimbangkan. Ada faktor ekonomi, itu jelas sekali. Peduli binatang, selama ini, diidentikkan dengan “new life style” atau gaya hidup baru kelas menengah di daerah perkotaan.

Saya akan menyorot aspek keagamaan dari sikap yang agak cuek pada binatang ini, terutama di kalangan masyarakat Muslim. Saya, sejak peristiwa memungut kucing di Jl. Cikini itu, terus merenung, bertanya, dan berpikir untuk mencari penjelasan. Kenapa binatang cenderung ditelantarkan di masyarakat kita? Saya menduga, ada aspek pandangan keagamaan yang terlibat di sini. Mari kita telaah sebentar.

Islam mengajarkan untuk memandang sesama Muslim sebagai saudara (QS 49: 10). Tetapi NU, ormas Islam terbesar di Indonesia itu, mencoba mengembangkan lebih jauh konsep persaudaraan ini. NU, misalnya, mengenalkan tiga model persaudaraan: ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan Islam), ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan tanah air), dan ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan kemanusiaan).

Dalam Kristen, ada ucapan Yesus yang sangat terkenal: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5: 44) Ajaran moral Yesus ini jelas sangat radikal. Ia bukan saja mengajak kita mencintai orang-orang yang sepaham dengan kita, melainkan juga musuh-musuh paham kita juga.

Semua ajaran ini, tentu saja, baik – berwawasan ekumenis, terbuka. Tetapi, saya kira, masih ada yang kurang. Di sana, persaudaraan dan cinta masih melulu diarahkan kepada sesama manusia. Ini tetap persaudaraan yang eksklusif. Saya ingin memperluas cakupan persaudaraan dan cinta itu sehingga meliputi cinta kepada wujud-wujud lain yang bukan manusia. Misalnya, mencintai binatang. Kucing, anjing – dua binatang yang sering kali menjadi obyek penelantaran.

Tentu saja tak ada ajaran dalam Islam atau agama yang lain untuk memusuhi binatang. Tidak ada. Tetapi, itu belum cukup, menurut saya. Agama-agama perlu mengembangkan suatu pemahaman yang bukan saja tak memusuhi binatang, tetapi juga peduli dan mencintai/menyayangi mereka. Binatang adalah bagian dari wujud ciptaan yang, bersama manusia, menghuni wilayah yang sama: bumi.

Saya ingin menyebut ini sebagai persaudaraan sebagai sesama ciptaan Tuhan, ukhuwwah khalqiyyah. Ini adalah semacam fellowship of beings. Kita semua diikat oleh tali persaudaraan yang sama: manusia, binatang, bumi, lingkungan, kosmos. Semuanya adalah “being” atau wujud ciptaan Tuhan. Semua unit dan satuan dalam wujud itu saling tergantung satu terhadap yang lain. Kita bukanlah ciptaan yang hidup terisolir dari ciptaan yang lain.

Dalam agama-agama semitik seperti Yahudi, Kristen dan Islam, ada pandangan yang justru meletakkan manusia sebagai tuan-penguasa yang diberikan wewenang untuk mengeksploitasi alam dan isinya. Dalam Kitab Kejadian, ada ayat yang menarik: Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala biantang yang merayap di bumi.” (1:28)

Dalam Quran, hubungan manusia dengan alam di sekitarnya digambarkan dengan kata “sahhara” atau menaklukkan (QS 16:14; 22:65; 45:13, dll.). Manusia dipandang sebagai penakluk alam dan lingkungan di sekitarnya. Dalam sosiologi agama, ada sejumlah kritik terhadap agama-agama semitik, karena mereka mengembangkan gagasan yang potensial mendorong eksploitasi alam tanpa batas — atas nama kemaslahatan manusia.

Pandangan semacam ini tampaknya perlu ditafsir ulang. Agama-agama perlu mengembangkan pandangan yang bukan sekedar melihat alam (termasuk binatang) sebagai obyek yang pantas dipakai dan dimanfaatkan. Tetapi juga sesuatu yang layak disayangi dan dirawat. Agama, dengan kata lain, perlu mengembangkan kesadaran tentang peduli binatang.

Bentuk elementer peduli/menyayangi binatang, menurut saya, adalah memastikan bahwa semua binatang piaraan harus memiliki rumah tinggal, dengan pemilik yang jelas. Kita tak bisa membiarkan lagi binatang berkeliaran di ruang umum, tanpa pemilik. Keadaan ini makin mengenaskan karena habitat sosial di daerah perkotaan sudah sama sekali tak menyediakan daya dukung terhadap binatang seperti anjing dan kucing.

Di kampung dulu, saya tentu sering melihat kucing atau anjing berkeliaran tanpa pemilik yang jelas. Tetapi ini masih bisa dipahami. Habitat lingkungan di sana masih memberikan daya dukung yang memadai kepada binatang-binatang itu: terutama untuk urusan makanan. Habitat perkotaan sudah rusak sama sekali, karena terlalu banyaknya campur tangan manusia. Binatang tak bisa “survive” di sana tanpa pemeliharaan manusia.

Dalam habitat yang telah rusak seperti ini, binatang seperti kucing atau anjing bisa menjadi sasaran predator lain (dan umumnya predator ini adalah manusia), atau mati karena sakit dan kelaparan. Tanpa”campur tangan” manusia untuk menolong mereka, binatang-binatang ini akan terus hidup dalam ancaman bahaya yang mengepung dari kiri kanan.

Sudah saatnya, saya kira, konsep kasih, cinta dan rahmat dalam agama diperluas maknanya bukan saja kasih yang tertuju kepada manusia, tetapi juga binatang. Binatang bukan saja obyek yang kita konsumsi, tetapi juga memerlukan perhatian dan kasih sayang.

Yang menarik, mereka yang aktif mengembangkan wacana peduli binatang serta membela hak-haknya, umunya adalah kalangan sekuler. Diskursus mengenai “animal rights“, saya kira, bukan muncul dari komunitas agama, melainkan dari kalangan yang di luar itu. Yang menggelitik saya: Kenapa ajaran kasih agama tidak mencakup kasih kepada binatang? Kenapa wacana hak-hak binatang justru muncul dari kalangan yang selama ini tak dekat dengan lembaga-lembaga agama? Apakah yang salah dengan para pemeluk agama ini? Ini hanya catatan otokritik saja.

Catatan tambahan: Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan salut dan apresiasi yang tinggi kepada mereka yang menjadi relawan untuk memelihara dan menyelamatkan binatang di kota-kota besar seperti Jakarta. Bagi saya, menyayangi binatang, menyelematkan mereka, dan memberi mereka “safe home”, adalah bagian dari iman.[]

.

 

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.