Home » Gagasan » Ari A. Perdana: “Kesalehan Ritual Tidak Menunjang Pertumbuhan”
Ari A. Perdana (Foto: treespotter.wordpress.com)

Ari A. Perdana: “Kesalehan Ritual Tidak Menunjang Pertumbuhan”

1/5 (1)

Anda melihat posisi umat Islam aktual seperti apa dalam isu di atas?

Saya melihat, sebenarnya dalam aturan-aturan fikih Islam itu jelas ada penghargaan bahkan proteksi terhadap hak-hak pribadi. Dalam agama lain seperti Katolik, aturan seperti itu tidak ada atau tidak cukup tegas. Sehingga yang terjadi di Abad Pertengahan adalah: Gereja atau pemimpin agama memberikan definisi yang kabur tentang hak-hak kepemilikan individu.

Nah, argumen mengenai properti individu inilah yang sering saya pakai untuk menyanggah pendapat bahwa sistem ekonomi Islam tidak mengenal kepemilikan asing, atau aset-aset kekayaan yang besar itu harus diambil-alih negara.

Artinya, ada fase di mana pendapat yang kontradiktif dengan semangat dan aturan-aturan Islam itu lebih dominan. Mungkin poin ini masih bisa kita perdebatkan. Tapi poin saya: di dalam Islam, aspek kepemilikan individu justru sangat dihargai, dan itu sebenarnya merupakan basis penting kapitalisme ekonomi.

Tapi dalam Islam ada juga hadis yang menegaskan terlarangnya penguasaan individual atas properti publik seperti air. Sekarang kita menyaksikan air bukan lagi milik umum. Ia sudah dimonopoli perusahaan besar yang diperjualbelikan. Apa komentat Anda?

Ya, memang sumber daya alam saat ini semakin langka, sehingga harus ada cara yang tepat untuk membuat air lebih steril untuk dikonsumsi. Ini sebenarnya soal kepraktisan saja, dan terkadang memang untuk menjawab kebutuhan. Sebab, walau air yang ada di perut bumi milik publik, tapi kan ada perbedaan antara air yang tetap berada di dalam tanah dengan air yang bisa dikonsumsi. Itu kan dua hal yang berbeda.

Yang jadi masalah adalah: ketika ia dimiliki sebuah perusahaan, seberapa jauh kualitasnya akan meningkat dan sejauh apa akses masyarakat terhadap air itu tidak terganggu. Karena itu, perlu juga aturan mengenai sumber daya air. Seandainya tidak ada aturan, mungkin yang terjadi adalah tragedy of common.Sebab, ketika semua orang menganggap setiap air gratis dan berlimpah adanya, maka akan terjadi konsumsi yang berlebihan.

Secara institusional, di Indonesia ada ormas-ormas keagamaan yang besar seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Dengan jutaaan umat, tentu itu potensi yang besar untuk pemberdayaan ekonomi. Bayangkan kalau semua kopontren NU sukses. Bagaimana Anda melihat kontribusi institusi semacam itu dalam perekonomian Indonesia?

Potensinya bisa berkembang.. NU dan Muhamadiyah itu secara empiris pernah menjadi basis-basis usaha lewat koperasi dan jaringannya yang luas. Tapi tampaknya, kemajuannya masih bersifat individual atau kelompok. Pertanyaannya: bagaimana mentransformasi apa yang berhasil di tingkat individual atau kelompok itu menjadi keberhasilan NU atau Muhammadiyah secara luas di tingkat institusional dan nasional.

Karena itu, kita pada akhirnya terpaksa bicara soal institusi ekonomi dan sistem ekonomi. Kalau bicara soal sistem ekonomi, pertanyaannya adalah seberapa jauh nilai-nilai keagamaan yang dikembangkan di sana membentuk pandangan dan sistem alternatif untuk dijadikan sistem yang dominan.

Tapi sayangnya, apa yang ada di agama bisanya bersifat normatif saja; soal baik dan buruk. Kita bisa bilang bahwa menabung itu baik, karena agama mengajarkan berhemat. Tapi bagi anak ekonomi yang tahu soal ekonomi makro, menabung merupakan lahan investasi yang sangat kecil.

Karena itu, yang penting bagaimana ajaran agama bisa merekonsiliasi pandangan-pandangan itu. Itu berarti mesti ada perkembangan pemikiran menuju tingkatan lebih lanjut: apakah pemerintah mesti menurunkan atau menaikkan pajak, menurunkan atau menaikkan suku bunga, dll. Jadi bukan lagi bicara halal-haramnya bunga. Kita tahu, perdebatan klasik antara pendekatan ekonomi dan agama adalah soal bunga.

Dalam agama, bunga itu riba; sesuatu yang didapat bukan dari hasil kerja atau usaha. Okelah, kita setuju kalau riba dalam konteks itu sesuatu yang buruk. Tapi apakah bunga itu selalu equivalen dengan apa yang kita sebut riba?

Dalam teori ekonomi, ada konsep time of money yang juga dipertimbangan. Antara uang sekarang dengan uang masa mendatang, sudah terjadi opportunity lose (kesempatan yang hilang, seperti investasi yang lebih menguntungkan, Red).

Belum lagi ditambah soal risiko meminjamkan atau memberikan kredit. Jadi, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang harus digali lebih lanjut; seberapa berbeda atau saling melengkapi konsep-konsep dari teori-teori klasik dan neo-klasik ekonomi itu dengan ajaran agama yang bersifat normatif.

Karena ketidaknyamanan psikologis terhadap bunga, di Islam ada usaha-usaha menwujudkan sistem perbankan alternatif seperti bank syariah. Apa perbedaan mendasar sistem perbankan syariah dengan konvensional?

Sebetulnya, bunga itu sesuatu yang wajar. Kalau kita meminjamkan orang uang satu juta saat ini, lalu tetap dikembalikan satu juta dua tahun lagi, itu sesuatu yang tidak adil. Sebab ada devaluasi atau penurunan nilai mata uang yang kita pinjamkan seiring waktu. Mungkin tahun depan ada inflasi dan naiknya harga-harga.

Tapi dalam ekonomi syariah, yang dijalankan bukan bunga, tapi sharingdari profit (keuntungan) atau lose (kerugian) yang bakal terjadi. Tapi pada akhirnya, yang membedakan keduanya, di sistem bunga nilainya sudah ditentukan dari awal, sedangkan di syariah bersifat fluktuatif dan tidak ditentukan sebelumnya. Tapi sistem kedua ini juga berisiko secara ekonomi.

Disamping soal ketidakpastian, saya kira masih ada soal aspek kepercayaan yang masih dipertaruhan dalam transaksi syariah…

Ya, itu tantangan bagi mereka yang ingin mengembangan perekonomian berbasis Islam. Apa yang Anda sebut aspek kepastian dan kepercayaan itu memang betul. Bagaimana orang bisa meminjamkan uang kalau dia tidak melihat sesuatu yang pasti. Sebenarnya apa yang dilaksanakan dalam perekonomian berbasis syariah, baik di Indonesia atau di negara lain yang jauh lebih dulu mempraktikkannya, sebenarnya masih tanda tanya: seberapa murnikah praktek itu mengikut prinsip-prinsip syariah.

Kita kenal, dalam transaksi syariah itu ada istilah mudlarabah, murabahah, dan musyarakah. Nah, mudharabah dan murabahah itu dikatakan konsep bagi hasil yang paling ideal dalam perspektif Islam. Kenyataannya, dari beberapa literatur yang saya baca, di Malaysia dan Kuwait sendiri, transaksi keduanya hanya sekitar 20-30% dari total transaksi syariah; saya belum punya data soal Indonesia.

Yang mayoritas adalah musyarakah atau perkongsian yang oleh teoritisi maupun praktisi ekonomi syariah sendiri masih jadi semacam ganjalan. Jadi kalau kita melihat praktek ekonomi syariah, pertanyaannya: seberapa murni praktek ini dijalankan, dan seberapa mampu ia bertahan kalau yang murni itu benar-benar dijalankan.

Sebab, kalau kita melihat nisbah bagi hasil di perbankan syariah, sebenarnya tidak terlalu jauh dengan bank konvensional. Nisbah sebelum bagi hasil antara nasabah dan bank itu masih tidak jauh beda. Bahkan sekarang masih sekitar 9%.

Teorinya, kalau memang pure profit dan lost sharing yang dijalankan, harusnya nisbah bagi hasil bank syariah itu lebih fluktuatif. Naik turunnya lebih besar dari pada di bank konvensional. Nyatanya tidak, dan itu terjadi di Turki, Pakistan, dan Kuwait.

Anda memprediksi perbankan syariah suatu saat juga bisa mengalami nasib yang sama kalau melakukan kesalahan yang sama dengan perbankan konvensional?

Ya. Kurangnya pengawasan, kalkulasi bisnis yang tidak bagus, dan faktor-faktor lain, bisa saja membuatnya bangkrut. Sebenarnya ada yang mengatakan bahwa sistem perbankan syariah bisa mengoreksi sistem konvensional. Karena dengan sistem bagi hasil, bank akan lebih hati-hati.

Bank akan mencari nasabah benar-benar berdasarkan prospek bisnis, bukan berdasarkan kalkulasi bunga. Tapi argumen saya, bank syariah kini bisa menawarkan hal itu ketika skalanya masih kecil, kurang dari 5% dari total aset bank konvensional.

Bayangan ketika dia sudah tumbuh besar. Perkiraan saya, dia akan terekspos juga dengan hal-hal yang sama dengan bank konvensional. Jadi kenapa bank syariah kini bisa menawarkan kehati-hatian, itu karena mereka masih kecil.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.