Home » Gagasan » Budaya Pop Islam Indonesia
8156727864_7fa57b6f25_z

Budaya Pop Islam Indonesia

3.3/5 (10)

IslamLib – “Menurut kamu, bagaimana arah masyarakat Indonesia dengan tren islam yang sedang popular ini?” Pertanyaan tersebut terlontar dari salah seorang teman kepada saya, mahasiswa Ilmu Sejarah yang diharapkan mampu membaca zaman dan menemukan jawaban dari pertanyaannya barusan.

Saya tersenyum. Jawaban kepada dia akan saya jelaskan melalui artikel ini karena kesibukan dia sebagai staff ahli DPR selalu membuat saya sulit untuk mencuri waktunya dan memaparkan tentang hasil analisa sotoy saya.

Budaya Populer. Saya membaca buku Identitas dan Kenikmatan dari Ariel Heryanto yang diterjemahkan oleh Eric Sasono. Buku ini cukup komperhensif menjelaskan berbagai fenomena masyarakat perkotaan Indonesia dalam mengkonsumsi budaya popular. Buku ini juga menyoroti tentang pengaruh post-islamisme, islamisasi dan ekspansi kebudayaan Asia terhadap anak muda seperti saya.

John Fiske memberikan definisi Budaya Popular sebagai komoditas yang diciptakan oleh masyarakat, bukan hasil industrialisasi. Selain itu, sifatnya pun lebih independent (Fiske, 1995).

Lain halnya dengan Ariel Heryanto yang merumuskan definisi yang lebih inklusif. Ia menggolongkan budaya popular sebagai budaya yang sifatnya mudah diakses dan menarik perhatian orang banyak; relatif murah, mudah, dan akrab bagi masyarakat dengan latar belakang apapun.

Mentor feminisme dan senior peneliti sejarah saya sering sekali meledek saya ‘alay’ karena mengkonsumsi budaya popular. Budaya popular rupanya tidak memiliki daya tarik universal. Kelompok sosial yang bernuansa elitis seperti dari kalangan intelektual, memandang rendah budaya popular yang dianggap sebagai budaya massa ini.

Hal tersebut yang menjadi alasan mengapa budaya popular, sebagai bagian dari kajian cultural studies, baru banyak dibahas akhir-akhir ini, seiring dengan pesatnya pertumbuhan dan penggunaan internet di seluruh dunia.

Dikabarkan, sebanyak 70 juta orang Indonesia pada tahun 2014 mengakses media sosial. Asia adalah wilayah dengan pertumbuhan media sosial tertinggi. Diperkirakan setiap 12 orang di dunia ini memiliki satu akun Facebook. (Koran Tempo, 10 Oktober 2015)

Budaya Pop Islam. Internet tentunya menjadi saluran modernitas. Dan Indonesia sebagai negara yang memiliki pemeluk islam terbesar di dunia, setiap harinya melalui media sosial dan televisi, berhadap-hadapan dengan modernisasi dan derasnya arus informasi. Era reformasi membawa serta keterbukaan informasi ini.

Usainya perang ideologi di seluruh dunia, yang juga sampai ke Indonesia, masyarakat dihadapkan pada kebingungan. Westernisasi, paparan gaya hidup dan budaya popular Amerika yang pada era 2000an gencar melalui tayangan di bioskop dan MTV, kini seolah dituntut untuk taat pada pemurnian agama islam.

Bersamaan dengan itu muncul juga kelas menengah baru yang membawa identitas Islam dalam dirinya. Kalangan ini mulai mensejajarkan dirinya dengan kelas menengah lain di belahan dunia sana.

Namun yang paling menonjol dalam fenomena ini adalah, identitas Muslim yang disandang kelas menengah baru ini kerap membuat mereka merasa berbeda dan lebih baik secara moral dibandingkan dengan kelompok kelas menengah lainnya.

Dalam hal ini, Ariel Heryanto melihat bahwa ketaatan beragama dan modernitas tidak saling bertentangan.

Di sisi lain, gejala ini rupanya dilihat sebagai peluang bagi industri kapitalisme. Melalui fenomena tersebut terjadilah islamisasi dalam ranah budaya populer. Tetapi islamisasi di sini, perlu dibongkar maknanya. Islamisasi dalam budaya popular lebih cenderung pada islamisasi moral, lebih menekankan pada sesuatu yang bersifat simbol.

Ini kemudian melahirkan pemahaman islam yang dangkal. Kita tengok misalnya fenomena kemunculan ustad-ustadzah instan. Mereka dengan mudah mendapat simpati masyarakat karena banyak mengucapkan istilah-islah Arab, misalnya.

Menurut Alina Kokoscha, Islamisasi di lingkup budaya popular kini mengacu pada ekspansi besar-besaran melalui komoditas barang, jasa, dan praktik-praktik lain yang dapat diterima sebagai bersifat ‘islami’.

Menjadi Muslim Penggemar SNSD. Teman saya yang melontarkan pertanyaan tersebut adalah pria Minang tulen dan penggemar girlband Girl’s Generation (SNSD) garis depan. Salat lima waktu tidak pernah ditinggalkannya. Tetapi juga sejalan dengan dosis hariannya memelototi paha-paha mulus dan jenjang milik para personil SNSD yang menari lincah di layar komputernya.

Teman saya ini bukan satu-satunya, dia adalah representasi dari banyak anak muda Indonesia masa kini, yang menganggap gaya hidup Asia (yang terbaratkan) bisa berdampingan dengan gaya hidup islami.

Atau bisa menghasilkan sintesa dari keduanya, seperti memakai fashion ala Korea/Jepang, tanpa meninggalkan identitasnya sebagai Muslim dengan menggunakan jilbab. (Dalam dunia cosplay sekarang muncul tren cosplayer berjilbab).

Penerimaan identitas ini bisa dibaca sebagai proses islamisasi yang kini bersemi di Indonesia. Hanya saja, islamisasi yang terjadi kini tidak lagi mengambil bentuk subtantif sebagaimana terjadi pada tahun 1990an.

Islamisasi masa kini lebih memberikan ruang bagi unsur-unsur non Islam dalam bentuk budaya Pop, yang diadopsi dari peradaban Timur namun (tetap saja) terbaratkan.

Apa ada yang salah dengan memadukan kedua sisi ini?

Saya rasa tidak. Ini merupakan cara anak muda sekarang menunjukan identitasnya, di antara gempuran informasi, dengan tetap memegang teguh identitas dirinya sebagai muslim. Mungkin fenomena Budaya Pop Islam bisa menjadi antitesis dari sekularisasi di dunia hiburan dan keislaman.

Bahwa sekali lagi, modernisasi, kapitalisme, dan islamisasi bisa berpegangan tangan dan berjalan bersama. Dan budaya popular yang menjadi senjatanya.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.