Home » Gagasan » Fundamentalisme dan Neoliberalisme
18807276195_217f12a256_z

Fundamentalisme dan Neoliberalisme

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

IslamLib – Fundamentalisme dan Neoliberalisme adalah dua kata yang berbeda. Keduanya bisa bertentangan dan bisa saling bertemanan. Secara umum, fundamentalisme berarti gerakan sosial-politik yang ingin mengembalikan suatu kondisi pada nilai-nilai yang asasi, yang fundamental.

Kendati istilah ini bisa dikenakan kepada gerakan apa saja, tapi ia lebih sering disematkan kepada gerakan keagamaan. Dari sini kita mengenal istilah “Fundamentalisme Kristen,” “Fundamentalisme Hindu,” dan “Fundamentalisme Islam.”

Sementara itu, neoliberalisme adalah sebuah fenomena sosial-politik yang biasanya dialamatkan kepada sekelompok penguasa dan intelektual di Barat yang mendukung dan ingin menghidupakan kembali gagasan-gagasan liberalisme klasik. Neoliberalisme adalah kata lain dari “liberalisme baru.” Neoliberalisme kerap dianggap sebagai pendukung pasar bebas, ekspansi modal, dan globalisasi.

Saya tidak tahu kapan mulanya dua istilah itu disandingkan dan didiskusikan secara bersamaan. Tapi, akhir-akhir ini banyak sekali pembicaraan tentang dua konsep itu.

Umumnya, pembicaraan mengarah kepada satu penilaian, yakni bahwa fundamentalisme dan neoliberlisme merupakan ancaman bagi kehidupan manusia. Secara simplistik, ancaman itu diteriakkan dengan menciptakan slogan seperti “fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar.”

Sebenarnya, meletakkan fundamentalisme dan neoliberalisme dalam satu keranjang tidaklah terlalu tepat. Seperti dikatakan di atas, dua istilah ini bisa saling bertentangan dan bisa juga saling bertemanan.

Di Amerika, fundamentalisme Kristen dapat berkolaborasi dengan rezim neoliberalisme pimpinan George Walker Bush. Kelompok-kelompok fundamentalis Kristen seperti Moral Majority dan Evangelistic Association merupakan pendukung setia presiden Bush.

Namun di negara-negara berkembang, fundamentalisme (baik Kristen maupun lainnya) cenderung bersikap kritis terhadap neoliberalisme. Gerakan keagamaan di Amerika Latin, yang biasa dikenal dengan sebutan “Teologi Pembebasan” adalah kelompok yang paling rajin mengecam neoliberalisme.

Karena itu, orang sering mengatakan bahwa kritik-kritik dan kecaman terhadap liberalisme baru atau neoliberalisme sesungguhnya datang dari sisa-sisa semangat Marxisme, baik yang hidup dalam gerakan-gerakan sosial kiri, maupun gerakan-gerakan keagamaan.

Perlu dicatat, ketika Marxisme dan pemikiran sosialis masih berjaya (sekitar tahun 1960-an), kaum agamawan adalah salah satu kelompok yang paling bersemangat mendukung gagasan sosialisme.

Dari sundut pandang ini, pertentangan agama/fundamentalisme dengan neoliberalisme merupakan rejuvenasi dari pertentangan klasik antara Liberalisme dengan Marxisme. Kendati Marxisme semakin tidak populer pasca runtuhnya Uni Soviet, semangatnya masih terus tumbuh dalam kelompok-kelompok keagamaan dan kelompok-kelompok sosial berhaluan “kiri.”

Bagi kelompok-kelompok fundamentalisme agama (Islam khususnya), anti-neoliberalisme bisa juga dijadikan argumen dan semangat baru untuk menghidupkan gagasan “ekonomi syari’ah.” Sementara bagi kelompok-kelompok kiri, ini adalah momentum untuk menghidupkan sisa-sisa Marxisme yang semakin dilupakan orang.

Karenanya, sungguh tepat apa yang dikatakan David Horowitz, bahwa kaum fundamentalis dan kelompok kiri bisa saja saling bersatu dalam sebuah “persekongkolan yang kotor” (unholy alliance).

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.