Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Gagasan » Islam Liberal » Budhy Munawar-Rachman: “Cak Nur Itu Seorang Teolog Yang Visioner”
Budhy Munawar-Rachman

Budhy Munawar-Rachman: “Cak Nur Itu Seorang Teolog Yang Visioner”

5/5 (1)

Artinya dia perlu menjadi garam dan tidak perlu menjadi wadah?

Yang menjadi wadah kehidupan keagamaan itu sebenarnya komunitas. Tapi bukan komunitas di ruang publik. Biasanya, dalam sekularisme ditegaskan soal pembedaan itu. Di Prancis, kita tidak boleh menggunakan atribut-atribut keagamaan di jalanan.

Pastur tidak boleh mengenakan jubah pastoralnya di jalan. Karena itu masih ada masalah perempuan muslim yang memakai jilbab di sekolah menengah ke bawah di Prancis. Nah, yang Cak Nur bayangkan tentang sekularisme tidak seekstrim itu, melainkan tetap dapat memberi kontribusi terhadap kebajikan hidup publik.

Paling tidak atau level apa kontribusinya?

Pada level etika individu yang meluas menjadi etika publik. Tapi menurut Cak Nur, sayangnya orang Islam justru kurang di level ini. Jadi antara aspek doktrinal orang Islam dengan perilakunya jauh berjarak seperti bumi dan langit. Di sini Cak Nur membedakan antara keberagaman simbolik dengan keberagamaan substansial.

Cak Nur menentang simbolisme yang berlebihan dalam keberagamaan, walaupun dia juga tidak menegasikan pentingnya simbolisme. Tanpa simbol, orang tidak mungkin bisa mencapai yang Ilahi.

Tapi, Cak Nur juga sangat prihatin akan makin kuatnya formalisme agama, terlebih kalau menjadi radikalisme atau fundamentalisme. Ketika dia membuat paper mengenai pesan-pesan kepada generasi muda di tahun 1992, salah satu pesannya adalah perlunya mengemukakan suatu paham dan praktik keislaman sebenarnya.

Dia memakai istilahhanifi’atus samhah ataucorakkeberagamaan yang toleran dan penuh kelapangan. Corak keberagamaan di Indonesia yang selalu dikemukakan Cak Nur adalah Islam yang lapang dan penuh toleran itu. Islam untuk semua yang berlawanan dengan berbagai formalisme, fundamentalisme, dan termasuk di dalamnya pengkultusan.

Mas Budhy, nampaknya Cak Nur tidak banyak berbicara soal kesetaraan gender?

Ya. Saya jadi teringat ketika peluncuran buku yang memang secara khusus ditulis Cak Nur, Indonesia Kita. Di dalamnya ada sepuluh platform mengenai reformasi yang dulu sempat dijanjikan akan diimplementasikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kalau dia jadi presiden. Ketika peluncuran buku itu, kaum feminis mengritik Cak Nur karena dari sepuluh platform itu tidak ada isu gender. Bagi mereka, mestinya satu dari sepuluh platform itu adalah soal kesetaraan gender.

Ini satu kritik yang saya kira ada benarnya. Kalau kita menelaah pikiran-pikiran Cak Nur, memang sangat sedikit yang berbicara isu gender. Padahal, perkembangan kesadaran kritis kalangan feminis muslim saat ini berkembang paling pesat dari semua isu yang diusung lainnya. Gagasan-gagasannya juga paling berani dan paling maju dengan bermacam terobosan pembaharuannya.

Saya kira, Undang-Undang Anti Kekerasan di Dalam Rumah Tangga (UU-KDRT) merupakan salah satu contohnya?

Betul. Nah, orang sering mengritik Cak Nur dalam soal ini. Tapi menurut saya, kalau kita adil terhadap Cak Nur, kita dapat memaklumi bahwa Cak Nur menganggap isu itu taken for granted saja.

Maksudnya, dia sangat yakin, seperti para modernis Islam umumnya, bahwa pemikiran kalangan modernis jelas akan membela kesetaraan gender. Problemnya, Cak Nur tidak mengelaborasinya lebih lanjut dan itu tidak bisa diterima kalangan feminis.

Artinya, Cak Nur menganggap isu itu sudah tersirat dalam paket pembaruannya?

Analoginya seperti kalangan modernis menerima ilmu pengetahuan modern, demokrasi, dan paham kemajuan sebagai satu paket. Dalam paket itu, kesetaraan gender jelas termuat. Tapi sebenarnya Cak Nur juga punya beberapa pandangan soal gender di dalam beberapa papernya di Klub Kajian Agama (KKA) Paramadina.

Dia pernah mengemukakan, kesetaraan gender memang diakui di dalam Islam. Cuma seperti biasa, Cak Nur tidak mengatakan kepada kita bahwa di banyak dunia muslim, kesetaraan gender nyatanya tidak ada atau kurang tampak.

Jadi Cak Nur tampak selalu berkutat dengan visi-visi besar?

Dia fokus pada visi-visi besar Alquran mengenai kesetaraan gender dan lain-lain. Dalam visi besar itu, Cak Nur bisa bertemu dengan kaum feminis. Tapi perbedaannya, Cak Nur tidak menjelaskan problem-problem nyata yang muncul dalam soal ini dan soal-soal lainnya. Di dalam pembahasan tentang pluralisme, Cak Nur misalnya tidak mengungkap kenyataan-kenyataan diskriminatif atas kalangan non-muslim.

Apakah dapat dikatakan bahwa gagasan-gagasan Cak Nur kurang sosiologis?

Dia memang seorang visioner. Menjadi visioner itu yang justru tempat dan peran Cak Nur sebenarnya. Dia sebenarnya menggariskan paham Islam yang shâlihlikulli zamân wa makân (Islam yang relevan untuk tiap masa dan tempat—Red).

Jadi, yang dia gali adalah Islam universalnya. Dia menunjukan bahwa apa yang utama dan apa yang hebat dalam pandangan-pandangan zaman sekarang, serta penemuan-penemuan jenius kemanusiaan modern, sebenarnya tidak asing di dalam khazanah Islam. Dia mau menunjukkan itu dalam soal sains, dan demokrasi. Dia ingin menunjukkan akarnya di dalam Islam.

Menurut penilaian pribadi Anda, apakah itu bukan bentuk apologisme?

Ya. Itulah kritik kalangan neo-modernis terhadap kalangan modernis atau kalangan neo-revivalis terhadap kalangan modernis lama seperti Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, dan sebagainya. Mereka seolah-olah mau mengatakan bahwa apa yang baik di Barat sana adalah Islam.

Tapi sebetulnya hal seperti itu juga dilakukan para neo-modernis seperti Fazlur Rahman, gurunya Cak Nur. Dia coba mengaitkan semua itu dengan dasar Qur’anik dan tradisi Islam yang kuat. Jadi dia sebetulnya juga memperhatikan sejarah dan kenyataan, tetapi yang selalu dilihat adalah kenyataan yang positif mendukung keagungan Islam.

Misalnya klaim bahwa Islam itu sejak dulu sangat menghargai pluralisme. Fakta sejarahnya dia kemukakan dari sarjana-sarjana Barat seperti Bernard Lewis, dan salah satu kutipan kesayangan Cak Nur lainnya, Bertrand Russel. Dia juga mengutip Cyril Galsse yang menulis The New Encyclopedia of Islam.

Di situ, Cyril mengatakan bahwa pada zaman itu (abad ke-7 M) untuk pertama kalinya sebuah wahyu (Alquran) menegaskan tentang kebenaran agama lain. Sebuah bentuk inklusivisme yang paling awal.

Jadi Cak Nur mampu membangun paham keagamaan inklusif dari khazanah Islam?

Ya. Dalam soal ini, Cak Nur boleh dikatakan sebagai seorang teolog. Memang pekerjaan teolog seperti itu; membuat visi teologis, tapi kadang-kadang tidak historis. Artinya, banyak problem-problem nyata yang tidak dikemukakan langsung. Dan mungkin, Cak Nur memang ingin meninggalkan hal-hal yang problematis di masa lalu Islam. Dia ingin berangkat dari Alquran yang visioner.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.