Home » Gagasan » Islam Liberal » Lima Tesis tentang Quran
Scripture

Lima Tesis tentang Quran

4.54/5 (52)

IslamLib – Bagaimana manusia modern yang beriman harus memperlakukan Kitab Suci? Apakah diktum-diktum yang ada di sana harus dipandang sebagai kebenaran abadi? Ataukah kebenaran Kitab Suci pada dasarnya adalah kebenaran kontekstual yang harus terus-menerus dipahami sesuai dengan semangat zaman?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, saya akan mengajukan sejumlah tesis tentang Kitab Suci. Tesis ini lahir dari pergulatan saya dengan kesulitan-kesulitan yang saya hadapi sebagai seorang Muslim yang harus bekerja dengan dua data sekaligus: yang pertama adalah data iman yang didasarkan pada firman Tuhan; dan kedua adalah data pengalaman modern yang dalam beberapa segi kadang tak bisa seluruhnya klop dengan data iman. Tesis-tesis berikut ini adalah cara saya mengatasi kesulitan semacam itu.

Tesis pertama: amat sulit sekarang ini menjadi Muslim dengan mempertahankan pemahaman yang seluruhnya harafiah tentang Quran, kitab yang menjadi fondasi keimanan seorang Muslim. Seorang yang beranggapan bahwa semua hal yang ada di Quran tetap relevan hingga sekarang tanpa harus mengalami penafsiran baru, memiliki dua kemungkinan: atau orang ini tak mengerti benar kandungan Quran, atau dia pura-pura bersikap “ndableg” atau keras-kepala dengan cara mengabaikan kenyataan-kenyataan baru yang sudah berubah dalam masyarakat.

Kita bisa mengambil contoh beberapa hal dalam Quran yang sudah sulit dipertahankan sekarang ini tanpa penafsiran ulang. Hukuman badan yang kita kenal di Quran sudah sulit diterapkan sekarang ini, sebab berlawanan dengan pemahaman modern tentang konsep hukuman. Contoh: Hukuman potong tangan untuk tindakan pencurian, atau hukuman bunuh dan salib bagi kejahatan perampokan yang disertai pembunuhan (apa yang disebut sebagai hirabah; baca QS 5:33), jelas tak bisa lagi dipraktekkan sekarang ini.

Hukuman qisas seperti dipraktekkan dalam sejarah Islam –yaitu hukuman bunuh dengan cara dipancung di muka umum, dan ditonton oleh banyak orang seperti yang berlaku hingga sekarang di Saudi Arabia—jelas tak bisa lagi diterima di zaman modern. Negeri-negeri Islam sendiri sudah banyak meninggalkan hukuman semacam ini. Ini sebuah indikasi bahwa umat Islam sendiri, secara diam-diam, sudah tak lagi menganggap hukuman semacam itu relevan dengan keadaan sekarang.

Sejumlah ayat dalam Quran yang mengandung potensi untuk menjustifikasi kebencian terhadap orang-orang Kristen dan Yahudi (misalnya QS 2:120)  juga tak lagi bisa diterima apa adanya tanpa pemahaman ulang. Ayat itu sering dikutip sebagai pembenaran untuk membenci orang-orang Kristen. Demikian juga ayat-ayat yang kerap dikutip untuk menutup kemungkinan orang-orang non-Muslim menjadi kepala daerah (misalnya: QS 4:144, 5:51, 60:1). Ayat-ayat ini tak bisa lagi dipahami secara hariafiah.

Saya tahu, banyak orang Islam sekarang ini yang diam-diam menghadapi “masalah” dengan Kitab Suci mereka, meskipun mereka, karena tekanan dan ketakutan terhadap opini publik, tak akan pernah berani mengemukakan perasaan itu di muka umum. Dengan melimpahnya sumber-sumber bacaan, termasuk literatur yang mengenalkan pendekatan yang kritis pada agama, banyak kalangan Islam yang mulai kesulitan mempertahankan pemahaman atas Quran dengan model lama.

Mereka menempuh banyak cara untuk mengatasi kesulitan ini. Ada yang membiarkan kesulitan ini berlalu tanpa sebuah solusi. Ada yang mencoba meninggalkan sama sekali ayat-ayat yang mereka anggap sudah “tak relevan” dengan zaman sekarang, seraya memusatkan diri pada ayat-ayat yang memiliki pesan-pesan yang lebih universal.

Ada yang mencoba memahami ayat-ayat yang “problematis” itu secara kontekstual dengan mengatakan bahwa ayat-ayat itu boleh jadi cocok pada masa lampau, tetapi jelas harus dipahami ulang jika hendak diberlakukan sekarang.

Dengan kata lain, sebenarnya ada “silent liberal Muslim”, orang-orang Muslim liberal yang diam. Mereka tak pernah mengatakan secara terbuka bahwa mereka memiliki pandangan yang liberal terhadap Quran, tetapi dalam hati dan pikiran sebetulnya mereka ini berwawasan liberal. Orang-orang yang seperti ini bukan saja datang dari kalangan “awam” yang tak terdidik dalam ilmu-ilmu Islam. Bahkan di kalangan kiai dan ulama sekalipun, saya yakin ada sejumlah individu yang secara diam-diam mengadopsi cara pandang liberal terhadap Quran dan sumber-sumber keislaman yang lain.

Saya bahkan berani bergerak lebi jauh lagi dan mengatakan bahwa pada sebagian besar umat Islam yang hidup di abad ke-21 sekarang ini, ada kecenderungan liberal dengan derajat yang berbeda-beda. Inti pendekatan liberal terhadap wahyu Islam adalah pandangan bahwa ajaran dalam ayat atau firman Tuhan tak bisa serta merta dianggap berlaku sepanjang zaman. Ada sejumlah ajaran dalam ayat yang sulit diberlakukan, dan karena itu harus dipahami ulang.

Tariq Ramadan, seorang pemikir Muslim dari Swiss dan cucu dari Hasan Al-Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin itu, pernah melontarkan gagasan tentang moratorium atau pemberhentian sementara pemberlakuan hukum hudud (hukum pidana Islam) dalam zaman modern. Sebab, menurut dia, aplikasi hukum ini di zaman sekarang lebih banyak membawa mudarat ketimbang manfaat. Pandangan semacam ini, menurut saya, adalah pandangan liberal.

Meskipun, Tareq Ramadan sudah pasti tak akan mau disebut sebagai seorang Muslim liberal. Buat saya, bukan nama yang penting, tetapi esensi.

Tesis kedua: Quran sebagai teks memang bisa dipandang sebagai entitas yang “fixed”, solid. Teks Quran adalah teks yang itu-itu juga, teks yang tunggal, yang kurang lebih seragam di manapun di seluruh dunia Islam. Tetapi ketunggalan tekstual ini tak menjamin bahwa ada kesatuan pandangan dalam kalangan Islam. Teks yang satu tak akan menggaransi bahwa umat Islam akan bersatu. Keseragaman pemahaman umat Islam atas ayat justeru gejala yang buruk. Sebaliknya, keragaman pemahaman adalah indikasi yang baik dan sehat.

Perbedaan pemahaman di kalangan Islam mengenai ayat justru menandakan bahwa dalam umat Islam berlangsung kehidupan pemikiran yang kreatif dan hidup. Kehendak untuk mematikan keragaman itu dengan memaksakan tafsir tunggal kepada seluruh golongan justru indikasi ke arah matinya kehidupan berpikir di tengah-tangah umat.

Tesis ketiga: dalam sejarah penafsiran Quran berkembang semacam metode penafsiran yang dikembangkan oleh para sarjana Muslim sepanjang zaman. Tetapi harus kita sadari bahwa metode tafsir atas Quran bukan merupakan bagian dari Quran itu sendiri. Kita, sebagai umat Islam, memang sudah seharusnya menaruh hormat dan apresiasi pada metode tafsir yang dikembamgkan oleh para ulama terdahulu. Tetapi itu tidak berarti bahwa kita harus melakukan sakralisasi atas metode itu.

Metode penafsiran atas Quran bukanlah sesuatu yang datang dari Tuhan. Dia bukan merupakan bagian dari wahyu. Quran diberikan oleh Tuhan kepada Nabi sebagai teks saja, sama sekali tak disertai dengan keterangan mengenai bagaimana teks itu harus dipahami dan ditafsirkan. Metode penafsiran atas Quran dikembangkan sendiri oleh umat Islam belakangan, jauh setelah Nabi wafat.

Oleh karena metode bukan sesuatu yang sakral, maka ia bisa bersifat dinamis, progresif, dan terbuka pada pengembangan lebih lanjut. Pintu untuk memperkaya metode tafsir Quran yang dikembangkan oleh ulama klasik Islam terbuka lebar bagi generasi penafsir sekarang. Pengembangan dan pengayaan metode tradisional itu bisa kita lakukan dengan mengadopsi teori-teori pengetahuan yang baru.

Ini bukan sesuatu yang masih berupa impian. Sebagai sebuah praktek intelektual, hal ini sudah dicoba dan dilakukan oleh para sarjana Muslim modern. Sudah banyak sarjana Muslim modern yang mencoba mengembangkan metode tafsir Quran yang baru.

Tesis keempat: kegiatan menafsir Quran bukanlah hal yang menjadi monopoli generasi tertentu. Penafsiran Quran bukan hal yang sepenuhnya menjadi hak prerogatif generasi al-Tabari (w. 923), misalnya. Penafsiran Quran juga bukan monopoli generasi Ibn Kathir (w. 1373). Kegiatan menafsir Quran berlangsung terus hingga sekarang.

Sudah tentu, generasi penafsir yang datang belakangan sudah seharusnya menaruh respek yang tinggi terhadap pendahulu-pendahulu mereka. Sikap ideal yang seharusnya diikuti oleh para penafsir belakangan bisa mengikuti kata-kata bijak dari Isaac Newton ini: If I have seen further than others, it is by standing upon the shoulders of giants. Jika aku bisa melihat sesuatu lebih jauh dari pada orang-orang lain, itu karena aku berdiri di atas pundak para raksasa sebelumku.

Dengan kata lain, para ilmuwan dan penafsir tak bisa mengabaikan para pendahulu yang telah meletakkan landasan intelektual bagi generasi yang datang belakangan. Tetapi ini bukan berarti bahwa penafsiran generasi masa lampau lebih unggul daripada penafsiran generasi sekarang. Boleh jadi penafsiran modern lebih baik daripada tafsir yang ditulis oleh generasi terdahulu karena ia mencerminkan sebuah respon terhadap zaman sekarang.

Setiap tafsir adalah sebentuk respon atas zaman ketika sang penafsir itu hidup. Tafsir Quran yang ditulis oleh generasi al-Tabari, al-Qurtubi, al-Zamakhsyari, al-Baidlawi, Ibn Katsir, al-Suyuti, dll. tentu saja merupakan respon atas zaman mereka masing-masing. Karena itu, setiap tafsir selalu memiliki dimensi “time-boundness”, keterikatan pada waktu tertentu. Dengan cara berpikir demikian kita tak bisa mengatakan bahwa tafsir generasi al-Tabari dengan serta merta lebih baik dari tafsir generasi Qurash Shihab, misalnya, hanya karena al-Tabari hidup di zaman klasik.

Keklasikan tidak menjamin bahwa suatu tafsir atau pemahaman lebih baik dan unggul. Sikap yang sehat dari penafsir Quran modern adalah: tradisionalitas yang kreatif. Ini bermakna penghargaan terhadap tradisi tafsir yang ada, tetapi tidak menganggapnya sakral, suci, tak bisa diperbaharui. Sikap tradisional adalah sikap yang wajar. Tetapi tradisionalisme jelas tidak. Tradisionalisme adalah sikap menyucikan masa lampau.

Tesis kelima: dalam Islam tidak dikenal “mahkamah tafsir” yang tunggal. Tidak ada semacam “Vatican” dalam konteks penafsiran Quran – suatu otoritas tunggal yang berhak menentukan mana tafsir yang benar dan mana yang menyimpang dan harus dilarang. Kegiatan menafsir Quran adalah lapangan yang terbuka.

Ini bukan bermakna bahwa siapa saja boleh memahami Quran. Jika suatu pemahaman atas Quran hendak dianggap serius, tentu dia harus dilandasi oleh pengetahuan yang memadai dan argumen yang kuat. Siapapun boleh menafsir Quran. Tetapi, tafsiran yang dianggap serius dan dipedulikan oleh publik dan komunitas tafsir tentu harus memenuhi syarat-syarat “akademis” minimal.

Dengan tesis-tesis semacam ini, saya berharap sebagian kesulitan yang dihadapi sebagian kalangan Islam dalam menghadapi dilema antara data Quran dan data pengalaman hidup modern bisa diurai dan diberikan solusi yang masuk akal.[]

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.