Home » Gagasan » Islam Liberal » Memenangkan Argumen Nir-Kekerasan:
Aksi preman berjubah (Foto: IslamLib).
Aksi preman berjubah (Foto: IslamLib).

Memenangkan Argumen Nir-Kekerasan: Menakar Gagasan Chaiwat Satha-Anand

4.42/5 (19)

IslamLib – Menisbahkan kekerasan pada Islam sekarang ini bukan hal yang asing bagi kita. Kaitan Islam dan kekerasan menjadi salah satu pengertian yang diterima secara umum tanpa diteliti lebih jauh.

Pikiran-pikiran yang ditulis oleh Chaiwat Satha-Anand, pemikir dan aktivis Muslim dari Thailand, dalam bukunya yang diterbitkan PUSAD Yayasan Paramadina mengajak kita untuk menelaah kembali secara kritis kaitan Islam dan kekerasan yang sudah dianggap benar dengan sendirinya itu. Upaya yang dilakukan Satha-Anand adalah langkah yang cukup keras kepala di tengah-tengah publik, baik di dunia Islam atau bukan, yang mulai menerima kebenaran kaitan tersebut.

Tesis Satha-Anand dalam bukunya yang berjudul “Barangsiapa Memelihara Kehidupan…” itu sangat sederhana: Islam bisa menjadi sumber inspirasi untuk gerakan nir-kekerasan. Contoh nir-kekerasan, menurut Satha-Anand, ditemukan dalam sunnah atau teladan Nabi, terutama melalui dua contoh yang secara khusus ia ulas: yaitu peristiwa sengketa peletakan batu hitam (al-hajar al-aswad) saat pembangunan Kabah di era pra-kenabian Muhammad, dan peristiwa penaklukan Mekah di mana Nabi memberikan pengampunan umum kepada penduduk setenpat.

Satha-Anand bahka bergerak lebih jauh dengan mengatakan bahwa dalam ide dan gerakan nir-kekerasan yang dicetuskan oleh Mahatma Ghandi (sosok yang kerap disebut sebagai rasul gerakan nir-kekerasan modern), ada pengaruh Islam, meskipun jarang diketahui.

Satha Anand juga berpandangan bahwa antara gagasan nir-kekerasan Ghandi dan Islam ada kesesuaian yang rapat. Ide Quran dalam ayat ke-32 dalam Surah al-Maidah yang menginspirasikan judul bukunya ini, menegaskan kesucian nyawa (nafs) manusia. Dalam Quran, nyawa seorang individu dianggap mewakili seluruh spesies manusia. Membunuh satu nyawa sama saja dengan membunuh seluruh manusia. Sementara tindakan menahan diri dari kekerasan (alias pembunuhan) terhadap satu nyawa sama dengan memberikan kehidupan kepada seluruh manusia.

Kisah Kabil dan Habil (Kain dan Abel) yang menjadi latar ajaran Quran dalam ayat di atas, juga dikutip oleh Satha-Anand sebagai paradigma untuk gerakan nir-kekerasan yang berjangkar langsung pada Quran sendiri.

Sebagaimana kita tahu, kisah itu memperlihatkan kepada kita dua model aksi sosial: yang pertama adalah aksi Kabil yang menghendaki kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah (ketidak puasannya terhadap penolakan korban persembahannya oleh Yahweh atau TUHAN); yang kedua adalah penolakan yang nyaris kategoris dari pihak saudaranya, Habil, atas aksi kekerasan itu. Dengan tegas Habil membuat suatu deklarasi pasifis: Aku tak akan membunuhmu.

Sebagaimana dikisahkan di Quran, Habil memakai ungkapan yang cukup menarik sebagai berikut: Andai engkau (Kabil) merentangkan lebar-lebar tanganmu untuk membunuhku, aku tak akan merentangkan tanganku untuk membunuhmu. Aku takut pada Tuhan. (QS 5:28) Istilah yang dipakai di sana adalah “basatha”: merentang sesuatu.

Yang menjadi pembicaraan di ayat ini adalah tindakan membunuh yang dilakukan dengan kesengajaan dan melibatkan usaha yang terencana, bukan pembunuhan yang berlangsung secara tak sengaja. Dengan kata lain: contemplated murder. Istilah “basatha” yang dipakai dalam ayat ini memberikan isyarat ke sana.

Dalam studi-studi tentang gerakan nir-kekerasan ada kecenderungan untuk meremehkan peran tokoh agama dalam gerakan tersebut. Karena itu, Satha-Anand mencoba mencari figur-figur dalam agama yang bisa menjadi inspirasi gerakan nir-kekerasan. Dalam pandangannya, tiga sosok nabi (dua dari agama semitik, satu dari luar lingkungan semitik) bisa menjadi contoh gerakan ini, yaitu Buddha, Yesus dan Muhammad.

Meskipun Satha-Anand menyadari bahwa menyebut Muhammad dalam daftar sosok yang mengilhami gerakan nir-kekerasan memang agak problematis, sebab aksi perang merupakan faktor penting dalam karir kenabiannya sepanjang dua puluh tiga tahun, terutama setelah kepindahannya ke Madinah.

Satha-Anand mencoba melakukan “interpretasi ulang” atas doktirn jihad dalam Islam yang menjadi landasan perang-perang yang dilakukan oleh Nabi. Menggaungkan pandangan yang sudah sering dikemukakan oleh pemikir Muslim lain, Satha-Anand memahami jihad sebagai perjuangan internal melawan tendensi-tendensi jahat dalam diri manusia. Jihad semacam ini jauh lebih mulia kedudukannya daripada jihad eksternal melawan musuh-musuh agama.

Yang menarik adalah cara Satha-Anand “menerjemahkan” ayat 2:193 yang kerap dijadikan sebagai pembenaran oleh kaum jihadis. Istilah “fitnah” dalam ayat itu ia terjemahkan/tafsirkan sebagai “huru-hara dan penindasan”, sehingga dengan demikian bunyi lengkap ayat itu dalam terjemahan versi Satha-Anand: Perangilah mereka itu sehingga tak ada huru-hara lagi dan penindasan, dan yang ada hanya keadilan dan keimanan kepada Allah.

Yang juga menarik adalah Satha-Anand bukan saja menggali sumber-sumber ajaran nir-kekerasan baik dalam Quran atau pun praktik Nabi, melainkan juga menunjukkan bahwa opsi nir-kekerasan itu mungkin dalam praktik kehidupan sehari-hari di dunia modern. Ia menyebut beberapa contoh aksi-aksi nir-kekerasan dari komunitas Muslim di Thailand.

Ada tiga contoh yang ia kutip: aksi komunitas Mitraparb (secara harafiah artinya “persahabatan”) di pinggiran Bangkok untuk melawan sindikat narkoba yang beroperasi di perkampungan mereka; aksi komunitas Ban Krua melawan pembangunan jalan tol yang menerjang kampung hunian mereka; dan aksi nelayan Muslim di Phangnga Bay melawan kapal-kapal penangkap ikan besar. Seluruh aksi itu dilakukan dengan cara nir-kekerasan, dan secara efektif mencapai tujuannya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.