Home » Gagasan » Islam Liberal » Mencoba Memahami “Kemarahan” Umat Islam
Muslim protest

Mencoba Memahami “Kemarahan” Umat Islam

4.75/5 (4)

IslamLib – Jika Anda aktif di media sosial, Anda akan menjumpai sebuah fenomena menarik: orang-orang, kadang dengan identitas yang disamarkan, mengumbar makian, cemooh, dan kata-kata kotor kepada orang yang ia tak sukai. Anda akan berjumpa dengan segala bentuk agresivitas verbal yang sangat aneh dan di luar kepantasan.

Yang menarik, sikap-sikap agresif ini biasa muncul saat kita mengemukakan pandangan yang berbeda dari opini mayoritas mengenai masalah keislaman/keagamaan. Saya kemudian mencoba merenung: Kenapa hal ini terjadi? Kenapa umat Islam gemar melakukan agresi verbal, umpatan, ketika merespon pandangan keagamaan yang mereka pandang “nyeleneh”?

Sebetulnya, gejala ini tidak saja terjadi di ranah media sosial. Dalam kehidupan riil pun hal seperti itu juga bisa terjadi. Saya masih ingat bagaimana dulu alm. Nurcholish Madjid alias Cak Nur dijadikan sasaran ulasan yang sangat kasar di sejumlah media yang menyebut dirinya “media Islam”. Perkaranya: Cak Nur mengemukakan gagasan-gagasannya yang dianggap “nyeleneh”.

Sekali lagi, saya sedang mencoba mencari penjelasan: Kenapa kenyelenehan pemikiran kerap ditanggapi umat Islam dengan bahasa yang agresif, kadang makian, umpatan, dan kata-kata yang kotor?

Secara normatif, Islam jelas tidak mengajarkan hal demikian. Quran justru memerintahkan umat Islam untuk berpikir, dan mendebat sebuah pendapat dengan “hikmah” (kebijaksanaan) dan nasihat yang baik (mau’idzah hasanah). Perintah untuk berpikir dan bernalar disampaikan berulang-ulang di Quran. Tetapi tak satupun ada perintah untuk memaki atau berkomunikasi secara kasar dan vulgar.

Kenapa umat Islam diperintah untuk bernalar dan berpikir, tetapi kok malah gemar mengumpat? Ini, menurut saya, salah satu hal yang patut direnungkan. Kenapa ada gap antara ajaran dan praktek, antara yang normatif dan yang terjadi dalam kehidupan riil?

Sebetulnya, ini bisa menjadi bahan riset lapangan yang menarik untuk mereka yang tertarik dengan kajian psikologi sosial atau komunikasi  massa.

Saya mencoba mencari penjelasan atas gap ini. Apa yang saya tulis ini hanyalah upaya awal untuk menelaah “psikologi” umat Islam, terutama di era pasca-reformasi. Era di mana kita menyaksikan maraknya konservatisme agama di mana-mana, terutama di kota-kota besar.

Ada beberapa kemungkinan kenapa umat Islam kerap melakukan agresi verbal. Tentu saja, ketika menyebut “umat Islam” di sini, saya tak bermaksud mengatakan semua umat Islam. Ini hanyalah figure of speech, gaya bahasa saja. Ini yang disebut totum pro parte: mengatakan keseluruhan, tetapi yang dimaksudkan adalah sebagian saja. Gaya bahasa ini banyak kita jumpai di Quran. Disebut majaz mursal (ungkapan metaforis yang longgar).

Kemungkinan pertama: agresi verbal ini menandakan bahwa umat Islam (sekali lagi: maksudnya sebagian umat Islam) tidak merasa yakin dan mantap dengan pemahaman keislaman mereka. Ada rasa tak percaya diri. Karena itu, mereka takut pada pemahaman yang berbeda. Caci-maki mereka terhadap orang yang berbeda pendapat, sejatinya, adalah refleksi dari ketakutan dan perasaan “insecurity”.

Karena itu, alih-alih menimbulkan kejengkelan, agresivitas verbal itu jutsru membuat saya merasa iba terhadap para pelakunya.

Kemungkinan kedua: agresivitas verbal ini mungkin menandakan ketidak-berdayaan. Saat menghadapi pandangan “nyeleneh” yang berbeda dengan “tradisi” yang sudah mereka kenal sejak kecil, mereka tak tahu bagaimana cara merespon, membela diri dengan wajar dan rasional. Ketidak-berdayaan itu, akhirnya, muncul ke permukaan dalam bentuk agresi verbal, makian, umpatan.

Kemungkinan ketiga: mungkin mereka tak dibiasakan dengan perbedaan pendapat. Ini, tentu, berkaitan dengan pola pengajaran agama di masyarakat kita yang cenderung merupakan “monolog ustaz”, tanpa membuka kemungkinan kritik atau versi lain. Pengajaran yang monologis ini menyebabkan seseorang selalu mencurigai segala hal yang berbeda. Yang beda dianggap sesat, kafir, antek zionis, merusak Islam, konspirasi jahat, dsb.

Kemungkinan terakhir: mungkin ini semua berkaitan dengan pola keberagamaan kita yang lebih didasarkan pada “fear”, ketakutan, ketimbang penalaran yang sehat. Yang menonjol, seperti kata Prof. Daoed Joesoef, adalah “religion of fear”, bukan “religion of reason”. Yang dominan adalah keberagamaan yang serba takut ini itu. Bukan keberagamaan yang nalariah, rasional.

Inilah sejumlah kemungkinan kenapa kita banyak menyaksikan agresi verbal yang dilakukan oleh umat Islam terhadap gagasan-gagasan yang mereka pandang “nyeleneh”. Atau, meminjam istilah Gus Dur: “nyentrik”.

Sebuah ayat dalam Quran pantas kita kutip di penutup esei ini: Janganlah kalian mengumpat orang-orang yang menyembah selain Allah; nanti mereka justru akan balik mengumpat dan menyerang Allah secara berlebihan, tanpa pengetahuan yang cukup (QS 6:108).

Ayat ini meletakkan sebuah etika dialog yang sangat penting: Bahkan terhadap orang “kafir”-pun, umat Muslim tak diperbolehkan melakukan agresi verbal, umpatan. Apalagi terhadap sesama Muslim.

Seolah-olah ayat ini mengantisipasi psikologi seorang beriman yang mungkin mudah “terprovokasi” oleh lawan, sehingga melakukan komunikasi yang agresif. Iman yang mendalam (true belief) kadang bisa membuat seseorang berusaha membelanya dengan segala cara, termasuk dengan caci-maki.

Ini kerap kali terjadi, bukan dalam hal agama saja, tetapi juga dalam segala bentuk komitmen yang mendalam. Pecinta bola, misalnya, bisa juga terjebak dalam sikap seperti ini: membela tim favorit dengan segala cara; termasuk dengan umpatan dan “bully”.

Mengantisipasi kemungkinan itu, Quran memberikan patokan etis yang jelas: Jangan membela agamamu dengan cara mengumpat. Nanti, orang yang engkau umpat akan balik melakukan hal yang sama. Yang terjadi adalah: tukar-menukar umpatan yang hanya akan berakhir dalam kekonyolan saja.

Saat kita tak menyukai sebuah pendapat, Quran mengajarkan etika “benign neglect” (i’radl), mengabaikan secara murah hati. Jika memakai bahasa anak “gaul” sekarang, jika kita tak suka dengan pendapat atau twit seseorang, abaikan saja.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.